Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lusuh dan segenggam uang koin sen yang nilainya tak seberapa.Ia menghitungnya perlahan. Sekali, dua kali, seolah berharap angka-angka itu akan bertambah secara ajaib jika dihitung berulang kali. Namun, kenyataan tetaplah pahit. Uang itu nyaris tidak cukup untuk membeli beras, apalagi protein untuk sepuluh anak yatim yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Mata Dyah memanas, ia menatap nanar koin-koin itu.Raut wajahnya yang biasanya tegar sekarang tampak layu, dipenuhi oleh gurat kesedihan. Jika tiga hari lagi panti ini digusur, uang ini bahkan tidak cukup untuk menyewa gerobak guna mengangkut barang-barang mereka.Dyah menghela napas panjang, merapikan kebayanya y
더 보기