Share

#44. Pengakuan

Author: azzurayna
last update Last Updated: 2025-10-18 15:10:40

“Bisakah kita melewati adegan ciumannya? Kau bisa beralih mencium pipiku saat orang tak melihat.”

Ekspresi Zac mengeras lantaran merasa marah atas usul tersebut.

Pria tinggi itu hanya diam, mendelik sebentar. Sebelum berbalik pergi mengambil bahan-bahan untuk toping Bruschetta.

Serena menggaruk pipinya, berkedip heran. “Kenapa kau diam saja? Aku salah bicara?”

Pria yang tengah mencuci tomat di sana lagi-lagi diam membisu. Lalu tiba-tiba menyahut merajuk, “Pikir saja sendiri!”

“ .... ” Bukankah pihak lain terlihat marah? Namun karena alasan apa? Serena hanya bilang untuk melewati ciuman—

Tunggu ... jangan-jangan ...

Sedetik kemudian, Serena Moonstone hampir lunglai jatuh ke lantai. ‘Pria gila ini sudah menyukaiku sejauh itu?’ pikirnya takjub.

“Tuan muda, jangan bilang anda ingin berciuman dengan saya?” bertanya ragu-ragu, Serena memandang Zac aneh.

Fakta bahwa Zac tertarik padanya saja sudah aneh, apalagi tertarik begitu jauhnya padanya— ini bahkan lebih aneh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #69. Pengungkapan

    Indisen memergoki Demian mencium tangannya berhasil terlewat meski disela banyak rintangan. Hambatannya tak lain ialah Zachery dan Roderick. Memang mau siapa lagi? Mereka berdua hampir mengeroyok Demian. Tempo hari, Daniel pamer dengan sombong didepan kedua pria tersebut tanpa pamrih. Akibatnya perang dunia ketiga nyaris pecah. Serena amat berterima kasih pada Daniel, karena ulahnya, hidupnya mulai tak tenang. Lebih bersemarak, membuat Serena bingung harus tertawa atau menangis. “Kakak, kamu tidak pulang? Kakak sudah lama tinggal bersamaku di sini ...” Serena bertanya penuh kehati-hatian. Pria di sofa panjang bergeming, sibuk berkutat bersama tab serta laptop hitamnya. Dia diabaikan, lagi. Tiga hari lalu, ketika Serena sadar dari pingsan. Serta ketahuan bahwa tangannya sudah dicium oleh Demian, sang kakak berubah dingin. “Kakak,” panggilnya sekali lagi, masih mencoba keberuntungannya. “Marah padaku?” Berbeda dari masa lalu, kemarahan Roderick saat ini tampaknya

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #68. Kepergok Mencium

    “Kakak, ayo!” Daniel meloncat kegirangan, menarik lengan tebal Demian ceria. “Nanny bilang, putri tidur akan terbangun ketika diberi ciuman oleh pangeran tampan! Kakakku pasti bisa!” Di luar pintu, Zac masih bisa mendengar lontaran omong kosong barusan. Lantaran kesal, dia berbalik hendak kembali masuk untuk menyeret paksa Daniel. “Tenangkam dirimu,” sergah pria berkacamata di kursi tunggu. Dibalik kaca lensa, pupil merahnya mendingin. “Rumah sakit ini milik D’Angelo. Selagi Serena belum pulih, lebih baik bersikap tenang.” “Sialan,” umpatan Zac mengalun rendah. Kebencian menggali dadanya hingga berlubang. “Satu saja masih sulit disingkirkan, apalagi jika bertambah satu bajingan lagi!” monolognya, amat lirih. Berhubung lokasi Roderick cukup dekat, kalimat umpatan barusan pun terdengar jelas olehnya. Roderick mendorong gagang kacamata kerja dibatang hidungnya, menatap sebal ke Zac. “Kau sebut aku apa tadi?” Punggung Zachery tersentak, terkejut karena bisikannya berhasil dide

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #67. Jauhi Adikku!

    “Bagaimana kondisinya, Dok?” Roderick bertanya ketika sang dokter keluar dari ruang rawat, meski khawatir, dia tetap terlihat sopan. “Adikku baik-baik saja, ‘kan?” Dokter mengangguk sekali. “Nona baik-baik saja. Namun tubuhnya melemah secara signifikan karena suhu dingin dan pendarahan, lebih baik gunakan kursi roda selama masa pemulihan nanti.” “Dokter, cucuku ...” suara getir Guina menyahut dari kursi tunggu. Wanita paruh baya itu perlu topangan Jeremy untuk berdiri kokoh. “Cucuku tidak selamat?” “Maafkan saya, nyonya.” “Cucuku ... cucuku ...” Guina jatuh ke pelukan suaminya, kepalanya terasa berat ketika memikirkan calon cucunya meninggal dunia. “Sialan! Aku harus membuat gadis-gadis itu membayar harganya!” “Ibu,” panggil Zachery. Pria itu sebelumnya berakting menjadi pendiam agar tidak dicurigai. “Salah satunya adalah putri Seraphine.” “Memangnya kenapa?!” berteriak marah, hati Guina bergemuruh setiap kali mengingat kematian sang cucu. “Sekalipun dia putri Seraphin

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #66. Maaf, Serena

    Jika Cecillia membuangnya, lantas siapa lagi yang bisa membantunya keluar dari masalah?! Lili meronta, ingin berteriak meminta tolong kepada Cecillia terang-terangan. Tapi urung karena tidak berani. Ia hanya bisa melirik sesekali sosok Cecillia, memohon belas kasihan. Cecillia menahan diri semaksimal mungkin, memberi kode diam-diam ke Lili supaya tenang. Melihatnya masih merespon, rasa takut Lili berkurang walau sedikit. Sisanya, dia masih gemetar saat membayangkan harus berhadapan dengan kekuasaan Moonstone serta Waverly. Dua keluarga berkuasa dari jajaran Lima Keluarga Top. Sayang sekali, seakan takdir juga enggan berpihak pada Lili. Kelompok tuan muda telah kembali bersama Glen. Kericuhan kembali meledak. Hujatan terlempar satu demi satu ke Lili seperti hujaman petir. Membuatnya jatuh lemas tak berdaya. “Brengsek, pelacur itu sungguh berani menampar Nona Waverly!” “Nona Waverly berbaik hati tidak membalas tamparan kurang ajarmu, beraninya semakin tidak tahu

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #65. Musuh Tersudut

    Hujaman tatapan kebingungan menusuk kepala Lili secara tak kasat mata. Menghantarkan perasaan merinding, dia tahu dia terpojok. Jadi dia menangis sedih, “Nona, mana mungkin saya berani melukai anda!” Kerumunan nona muda dan tuan muda setuju pada perkataan Lili. Melihat latar belakang rendahnya, seberapa besar nyalinya untuk melawan Moonstone? Lili bernafas lega karena berhasil menipu orang-orang. Sialnya, dia lupa bahwa dia telah meninggalkan bukti tindak kejahatannya. Yakni pada paras cantik Serena. “Kau berani berbohong di depan banyak orang?” Mata ruby Serena terlihat kian memerah, membuat orang merasa sakit melihat kesedihannya. “Sebelum mendorongku, wajahku juga ditampar olehmu! Bekasnya masih ada, dan kau berani berbohong?!” Sophia menyentuh wajah Serena sepersekian detik, melihat sisi wajah cantiknya memang sedikit bengkak. Gejolak darahnya naik hingga membuatnya marah dan ingin menjambak Lili. Sophia menatap benci ke arah Lili, “Berani berbohong padahal

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #64. Dimulainya Drama Utama

    “Cecillia berjanji akan memberikan posisi nyonya Waverly jika berhasil menghancurkanku, begitukah?” Tebakan akurat Serena berhasil menghantarkan perasaan gentar terhadap lawan. Lili berteriak panik, “Jangan bicara omong kosong!” “Omong kosong?” tandas si bungsu Moonstone. Hinaan tersungging pada smirk singkatnya. “Jujur saja, untuk apa berpura-pura? Posisimu sudah tidak bagus sejak awal.” “Jalang!” teriak Lili, bertambah panik. Ini artinya Serena telah menunggunya untuk datang? Seharusnya dia yang akan menjebak Serena, bukannya Serena yang menjebaknya! Serena menambahkan solar ke dalam percikakan api, ingin membuatnya semakin berkorbar. “Jalang itu kamu, Lili. Siapa yang tidak tahu status ibumu sebagai pelacur yang menggoda Tuan Felton?” “Diam!” “Kenapa kau boleh bicara, sedangkan aku tidak?” Paras cantiknya murung sedih, Serena menutupi sudut bibirnya. Namun sia-sia, karena senyum mengejeknya masih terlihat. “Aku dengar, ibumu pelacur terkenal di masa lalu. Aku tiba-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status