Share

Bab 185

Penulis: Namorae
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 13:59:48

Suara Laras pecah memenuhi ruangan. Ia mengguncang tubuh pria itu dengan tangan yang berlumuran darah, berharap Reno akan kembali membuka matanya.

"Tolong... buka matamu..." bisiknya dengan napas tersengal. "Kau bilang kau tidak akan pergi. Kau janji padaku..."

Namun, Reno tidak menjawab. Wajah Laras semakin pucat. Seluruh tubuhnya gemetar saat ia memeluk pria itu lebih erat, seolah dengan begitu ia bisa menahan Reno agar tetap berada di sisinya.

Gunawan berdiri dengan pistol yang masih b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 231 End

    Beberapa bulan setelah persidangan Gunawan berakhir, Wulan akhirnya mengerti satu hal. Kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang, kebahagiaan hanya berupa duduk di atas rumput bersama keluarganya, mendengar tawa anak-anaknya, dan melihat Baskara yang kini selalu berada di sisinya. "Ma, dimana sih sandwich tadi?" tanya Raka. Wulan mendengus, ia segera mengeluarkan satu kantong plastik yang berisi banyak sekali cemilan. "Ini, jangan dihabisi kasih juga yang lain," ujarnya. Raka hanya mengangguk, ia kembali berjalan ke arah Zevran dan yang lainnya berada. Seira, Nerlina dan Melati tengah asyik bercanda riang. "Eh kalian, sini dulu deh," teriak Raka yang membuat tiga gadis itu segera berjalan mendekat. Raka membuka kantong plastik yang dibawanya dengan senyum bangga. "Aku bawa banyak makanan. Tapi jangan diambil semua, harus dibagi bagi, " katanya sambil mengeluarkan beberapa bungkus sandwich dan cemilan. Melati langsung mengambil satu bungkus d

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 230 Selesai

    Gunawan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi kesombongan seperti biasanya. Tidak ada lagi senyum meremehkan yang selalu ia tunjukkan setiap kali berhasil menjatuhkan orang lain. Yang tersisa hanya seorang pria yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semua yang ia bangun selama ini runtuh di depan matanya sendiri. "Selesai, semua selesai," gumam Gunawan. Wulan yang melihat itu segera menatap ke arah Gunawan yang mulai diajak polisi untuk pergi. "Sebentar pak, saya ingin berbincang dengan Gunawan sebentar," jelasnya. Polisi itu mengangguk, ia membiarkan Gunawan dan Wulan untuk berbincang. "Bagaimana? Apa keluarga tidak akan menolongmu?" Gunawan masih menunduk, ia benar benar salah karena membiarkan wanita seperti Wulan berkeliaran. Seharusnya ia membunuh Wulan lebih dahulu. "Bagus, bagus sekali Wulan. Kau wanita licik yang berhasil menghancurkanku begitu saja. Kau memang layak disebut ibu yang begitu menyayangi keluarganya." Gunawan t

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 229 Kalah

    Gunawan terdiam. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara napas berat dari Baskara, Zevran, dan Jonathan yang masih terdengar di antara ketegangan yang semakin meningkat. Tatapan Gunawan yang sebelumnya penuh kemenangan perlahan berubah menjadi dingin. Namun, ia masih berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahnya. "Jadi..." gumamnya pelan. "Akhirnya kau tahu juga." Bagas menatapnya tajam. Ia benar benar tidak menyangka pria yang dulu selalu ia patuhi adalah orang yang sudah menghancurkan keluarganya. "Aku ingin tahu satu hal," lanjut Gunawan sambil melangkah mendekat. "Siapa yang memberitahumu? Siapa yang cukup bodoh untuk membuka semua rahasia itu kepadamu?" Bagas yang ingin menjawab pertanyaan itu, segera ditahan oleh Wulan. Wulan berdiri di depan Gunawan dengan senyum miringnya. "Semua bukti kejahatanmu diberikan oleh putri kandungmu sendiri. Oh ya, aku harus mengatakannya." Wulan menatap ke arah Gunawan tanpa rasa takut sedikitpun. "Putri

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 228 Aku tahu

    Bagas segera menarik tangan Wulan untuk masuk lebih dalam ke ruang bawah tanah. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin Wulan merasa tempat itu berbeda dari bayangannya. Ia mengira mereka akan menemukan ruangan gelap dan kotor seperti gudang terbengkalai. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Lorong panjang itu memiliki lampu dinding berwarna hangat yang menyala sempurna. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Di sepanjang dinding terdapat kamera keamanan, lukisan mahal, dan beberapa pajangan antik yang terlihat bernilai tinggi. Wulan mengerutkan kening. "Ini... bukan ruang bawah tanah biasa," gumamnya. Bagas mengangguk pelan. Tatapannya tetap waspada. "Gunawan sudah bersembunyi disini cukup lama, bahkan jika bukan orang kepercayaan Gunawan. Tidak ada yang menyangka bahwa gedung tua itu dihuni oleh orang kejam." Wulan hanya mengangguk, mereka segera menyusuri lorong itu sambil mengendap endap. Bagas yang dulu merupakan orang kepercayaan dari Gunawan sudah paham

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 227 Khawatir

    Bagas menatap Raka cukup lama. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu. Bukan lagi kemarahan atau kebencian, melainkan rasa kehilangan yang berusaha pria itu sembunyikan. "Raka, apa kamu tidak mau menutup mata Reina? Untuk terakhir kalinya," ujar Bagas, pelan. Namun Raka tidak menoleh. Ia masih menatap tubuh Reina yang kini telah ditutupi oleh kain putih yang telah dibawa pengawal. Ia menatap Seira yang tengah me genggam tangannya. "Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi bagian dari hidupmu," lanjut Bagas. Raka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Entah kenapa menatap mayat Reina, membuatnya kembali merasa kesal. "Dia melakukan banyak kesalahan," ucap Raka dengan suara rendah. "Dia menyakiti banyak orang." Bagas mengangguk pelan. "Tapi dia juga orang yang menyerahkan bukti untuk menghancurkan Gunawan. Dia bisa saja membawa semua itu dan melarikan diri. Dia bisa saja menyimpan dendamnya sampai akhir. Tapi dia memilih memberikannya kepada kita," uj

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 226 Maaf dan Terimakasih

    Bagas segera mengangguk. Ia bisa melihat amarah yang selama ini disimpan Wulan akhirnya meledak. Wanita itu bukan hanya marah karena kejadian hari ini, tetapi karena luka dari kehidupan sebelumnya yang masih membekas di hatinya. Semua penderitaan yang ia lalui akhirnya ia bisa bayarkan karena berhasil menangkap pembunuhnya di kehidupan masa lalu. "Baik, Wulan," ujar Bagas pelan. Namun sebelum Bagas sempat mengambil ponselnya, Reina tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang sudah tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan apa pun lagi. Ia menatap dingin ke arah Wulan. "Kalian benar-benar berpikir semuanya akan selesai hanya dengan menangkapku?" ucap Reina sambil menatap mereka. Wulan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Reina mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin. "Aku memang bekerja untuk Gunawan. Aku mendekati Raka karena dia memerintahkanku. Aku membuat Raka percaya padaku, aku mencari informasi tentang keluarga kalian, d

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 1 Pengkhianatan

    “Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.Namun, meskipun kesadaran Wulan nyar

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 7 Permintaan maaf

    Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 6 Mama atau Sarah

    Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 5 Zevran Suryani

    Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status