Home / Romansa / Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita / 51. Rasa Bersalah yang Mendalam

Share

51. Rasa Bersalah yang Mendalam

Author: CeliiCaaca
last update publish date: 2026-09-26 12:07:50

Suara sirine ambulans meraung-raung membelah kemacetan jalanan kota yang padat.

Di dalam kabin medis yang sempit dan berbau steril, julia terduduk kaku di samping brankar.

Wajahnya yang biasa tenang kini pucat pasi, dipenuhi linangan air mata yang tak berhenti mengalir. Jemari tangannya yang gemetar meremas kencang telapak tangan Steve yang terasa dingin dan berlumuran darah segar.

"Steve... tolong, bertahanlah..." bisik Julia dengan suara parau bercampur isak tangis yang tertahan. "Jangan sepe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   81. Pertanyaan dari Steve

    "Tadi kamu bilang apa, Steve?" ucap Julia lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan ruang kerja yang mendadak membeku. "Maaf?"Steve menelan ludahnya yang terasa pahit. Kehangatan dekapan pria itu perlahan melonggar, membiarkan jemari kokohnya bertengger lembut di kedua bahu Julia.Iris kelam sang CEO menatap lurus tepat ke dalam mata bening Julia yang masih berkaca-kaca.Tanpa ada sedikit pun selubung keangkuhan yang biasanya membentengi dirinya, Steve menganggukkan kepalanya pelan."Ya, Julia. Aku minta maaf," ulang Steve dengan suara bariton rendah yang bergema amat jujur.Pria tegap itu menghela napas panjang, merendahkan posisinya agar sejajar dengan tatapan sang wanita."Aku tahu selama ini aku terlalu memaksakan kehendakku. Tapi kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku akan menurunkan seluruh egoku, Julia.“Aku akan menahan segala batasanku, asalkan kamu mau memberiku izin untuk menemui dan menghabiskan waktu bersama anak-anak kapan pun aku rindu pada mereka."Julia terdiam

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   80. Permintaan Maaf?

    "Maya! Tolong antar anak-anak ke pantry. Beri mereka makan siang dulu," titah Julia pada sang asisten dengan nada suara yang tertahan kaku, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan getaran panik di hadapan para karyawannya.Maya yang sadar akan ketegangan aneh di udara bergegas mengangguk cepat."Baik, Nyonya Julia. Mari, Dek Elea, Dek Leon... ikut Kakak ke dalam ya, kita makan es krim dan camilan enak di sana."Elea dan Leon yang polos tanpa curiga langsung bersorak gembira, menyambut uluran tangan Maya lalu mengekor masuk menuju area belakang butik.Usai meminta stafnya membawa si kembar ke ruangan bermain dan memastikan pintu lobi terkunci rapi, Julia memutar tubuhnya.Ia menatap Steve dengan pandangan tajam, lalu memberi isyarat agar pria itu mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.Klek.Pintu kayu jati ruang kerja itu tertutup rapat, mengunci segala kebisingan butik di luar.Julia berbalik cepat, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah kencang membentengi d

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   79. Hal yang Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar, menyinari paras Julia yang kini memancarkan aura keteguhan baru.Usai melewati hari-hari yang menghimpit dada dan dipenuhi ketegangan berantai bersama Steve, Julia akhirnya mengambil keputusan bulat.Wanita itu bangkit dari bangkunya, memilih untuk menimbun rapat-rapat seluruh masalah pribadi, kekacauan emosi, serta trauma masa lalu yang sempat melumpuhkan logikanya.Di depan cermin besar, Julia merapikan blazer krem mewahnya dengan gerakan mantap.Ia memoles lipstik merah tipis di bibirnya, menatap bayangannya sendiri dengan binar mata yang tajam.Hari ini, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap sangat profesional.Urusan perasaan dan dinamika rumitnya dengan Steve Anderson harus dipisahkan secara tegas dari impian besarnya.Sindiran pedas dan intrik gila dari pria arogan itu kemarin hanyalah angin lalu yang tak boleh sedikit pun merusak fokusnya menjelang peluncuran koleksi busana terbaru.Satu jam kemudian, langkah kaki Jul

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   78. Cemburu?

    Berbeda jauh dengan Julia yang panik setengah mati dan berantakan, Justin justru tetap bersikap amat tenang.Pria itu tidak menunjukkan raut terkejut atau rasa takut sedikit pun atas kehadiran sang CEO Anderson Group.Justin hanya menghembuskan napas perlahan, memperbaiki posisi duduknya, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Julia.Matanya menatap lembut wanita itu, memastikan bahwa Julia tidak makin terguncang oleh kedatangan Steve yang mendadak."Tenanglah, Julia. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun," bisik Justin amat lembut, mengusap bahu Julia sebentar sebelum berpaling menatap Steve.Tanpa memedulikan ketegangan yang membeku kaku di dalam udara ruangan tersebut, Steve mulai mengambil langkah maju.Setiap pijakan sepatu kulitnya di atas lantai kayu menyuarakan tekanan intimidasi yang teramat mencekam.Pria arogan itu bersikap seolah kedatangannya murni hanya untuk urusan profesionalisme pekerjaan, sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menyaksikan wanita yang di

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   77. Pikiranku Kacau

    "Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan isi kepalaku sendiri, Justin," bisik Julia dengan suara yang bergetar hebat.Setetes air mata yang sejak tadi membendung di pelupuk matanya akhirnya meluncur menelusuri pipinya yang pucat.Jemari wanita itu gemetar kaku saat meremas ujung meja kayu di hadapannya, menatap tumpukan kertas sketsa yang baru saja digesernya dengan pandangan berembun penuh nestapa."Pikiranku kacau... benar-benar tidak menentu," lanjut Julia, mengusap bekas air mata di pipinya dengan telapak tangan yang dingin."Bahkan tanpa sadar, jemariku melukis gaun pengantin itu. Untuk apa, Justin? Untuk siapa?! Kenapa bayangan masa lalu dan kehadiran pria itu terus-terusan menggerogoti logikaku sampai seperti ini?"Justin tidak memotong.Pria itu tetap mematok pandangannya dengan lembut, mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Julia dengan kesabaran yang amat dalam.Julia menghembuskan napasnya yang putus-putus, menundukkan kepala hingga helai rambu

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   76. Bukan itu yang Julia Khawatirkan

    Justin melangkah pelan membelah keheningan ruang tengah rumah Julia.Langkah kakinya mendekat ke arah meja kayu tempat Julia yang tampak begitu tekun menggerakkan pensilnya di atas lembaran kertas sketsa."Julia?" panggil Justin pelan dengan suara baritonnya yang hangat.Julia tersentak kecil, lalu menoleh mendongak. Senyum tipis yang tampak dipaksakan mengembang di paras cantiknya yang agak pucat."Justin? Astaga, maafkan aku," sahut Julia seraya merapikan letak duduknya. "Aku benar-benar tidak sadar kamu sudah ada di sini sejak tadi."Justin menyunggingkan senyum lembut, memaklumi. Pria itu menarik kursi kayu lalu mendudukkan dirinya tepat di samping wanita tersebut.Matanya bergulir perlahan, mengamati dengan saksama goresan pensil yang mengarsir indah di atas kertas putih di hadapan mereka.Kening Justin berkerut kaku saat mengenali siluet detail dari lukisan tersebut. "Gaun pengantin?"Gerakan tangan Julia seketika terhenti kaku di udara. Pensil sketsa di jemarinya mendadak teras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status