Se connecterLima tahun lalu, Julia dibuang dan difitnah tanpa diberi kesempatan membela diri. Ia memilih menghilang, mengubur rasa sakitnya, dan membangun hidup baru demi buah hatinya. Namun, takdir memutar balik keadaan. Pertemuan tak sengaja menyeretnya kembali ke dalam jangkauan Steve Anderson—pria arogan yang dulu menghancurkannya. Di saat Steve sibuk menggunakan kekuasaan untuk menahannya dan menuntut kesempatan kedua, Julia hanya punya satu ketegasan: ia tak akan pernah sudi ditarik kembali ke masa lalu!
Voir plusJulia Estella tidak menyangka jika pelanggan yang ia layani kali ini adalah calon istri mantan kekasihnya sendiri.
Jika tahu ia akan bertemu dengan Steve Anderson di sini, ia tidak akan menerima klien itu.
Di dalam ruang konsultasi VIP Maison de Julia, tumpukan kain sutra premium dan sketsa gaun adibusana terhampar di atas meja kaca.
Julia berdiri tegap di samping manekin, mengenakan blazer hitam berpotongan tegas yang menonjolkan profesionalismenya.
Namun, jemarinya yang memegang pensil sketsa sedikit mendingin saat matanya beradu dengan pria yang duduk di sofa kulit di depannya.
Steve Anderson.
Pria itu duduk dengan posisi tubuh dominan, satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain, menyandarkan punggung dengan gaya khas penguasa yang tak tersentuh.
Kemeja putihnya yang tergulung hingga siku memperlihatkan jam tangan mewah, sementara rahang tegasnya mengeras, memancarkan aura dingin yang membekukan ruangan.
"Konsep yang saya rancang untuk Nona Celine adalah strapless ballgown dengan potongan sweetheart neckline dan aksen sheer tulle di bagian punggung," ujar Julia dengan suara yang tetap tenang dan terkontrol saat mempresentasikan sketsa di tangannya. "Siluet ini akan menonjolkan bentuk bahu dan pinggang Nona Celine secara sempurna."
"Aku suka sekali, Julia! Ini cantik banget!" Celine, yang duduk di samping Steve, bertepuk tangan ceria.
Wanita itu kemudian melingkarkan lengannya di bahu Steve dan bersandar mesra.
"Sayang, lihat deh. Bagian belakangnya agak terbuka, kan? Tren gaun pengantin Paris sekarang memang seperti ini. Aku mau yang ini, ya?"
Steve tidak langsung menjawab.
Matanya yang tajam bak elang bergulir dari sketsa di tangan Julia, naik menatap wajah mantannya. Tatapan itu membuat jantung Julia berdegup kencang, dan ia buru-buru mengalihkan tatapan ke arah lain.
"Tidak," potong Steve singkat. "Potongannya terlalu terbuka. Seluruh punggungmu akan tersingkap di depan ratusan tamu undangan."
Pria itu menjawab calon istri di sampingnya, tapi Julia bisa merasakan tatapan tajamnya masih menghunus lurus ke arahnya.
“Kamu nggak suka ya, sama gaunnya?” ucap Celine tampak menahan ingin bersuara kembali, namun dia tahan.
Sebab, jika Steve sudah mengatakan tidak, Celine tak bisa membantah lagi.
Julia menahan napasnya sejenak melihat pemandangan di hadapannya ini. Di balik wajah profesionalnya, pikirannya berspekulasi.
‘Pria ini pasti cemburu jika calon istrinya dilihat oleh banyak orang dengan busana terbuka. Sejak dulu dia memang selalu protektif dan posesif terhadap apa yang ditandainya sebagai miliknya.’
Steve mengabaikan rengekan Celine di sampingnya.
"Ini busana yang buruk," cercah Steve tanpa ampun. "Desain seperti ini terkesan murah dan tidak memiliki kelas. Aku tidak menyangka standar butik dengan akreditasi Paris hanya sejauh ini."
Dada Julia langsung berdenyut perih mendengarnya, namun ia menolak menunjukkan luka itu.
Ia tahu betul, Steve mencerca desain ini bukan murni karena potongan kainnya, melainkan karena kebencian pribadi atas hubungan masa lalu mereka yang berakhir tragis.
Steve membencinya, dan pria itu menggunakan kekuasaannya untuk menjatuhkan harga diri Julia di tempat kerjanya sendiri.
Julia menarik napas halus lalu menyunggingkan senyum formal yang amat tipis.
"Tuan Anderson, sebagai desainer, tugas saya adalah mewujudkan impian calon pengantin. Nona Celine meminta gaun yang modern dan berani, dan sketsa ini disesuaikan dengan keinginan klien saya," ujar Julia dengan nada tenang namun profesional.
Steve mengangkat sebelah alisnya, seraya menatap sketsa di meja lalu beralih menatap Julia dengan tatapan merendahkan.
"Jika Anda merasa konsep awal ini masih belum sesuai," lanjut Julia, "sesuai prosedur di butik kami, saya akan membuatkan beberapa opsi revisi desain hingga menemukan yang pas untuk Nona Celine."
Mendengar ucapan Julia barusan, Steve perlahan menyunggingkan senyum miring.
"Revisi?" kekeh Steve meremehkan. "Kamu bukan cuma tidak kompeten memahami selera kelas atas, Julia, tapi juga membuang waktu saya."
Steve lantas berdiri dari sofa sembari merapikan kancing jasnya dengan gerakan sempurna tanpa cela. Pria itu kemudian menatap Julia dari ketinggian postur tubuhnya dengan tatapan datarnya.
"Aku kasih kamu waktu sampai Jumat ini. Buat revisi yang pantas," ucap Steve dengan datar.
"Kalau sampai hasil akhirnya masih terlihat seperti sampah ini, bukan cuma kontrak ini yang kubatalkan, aku pastikan nama butikmu di-black-list dari seluruh relasiku.”
Mendengarnya, kaki Julia nyaris bergetar. Seluruh relasi Steve Anderson berarti nyaris seluruh bisnis di negara ini. Dan pria itu terkenal jarang memberikan ancaman kosong.
Pria itu tidak sudi membuang waktu lagi. Ia lalu menoleh sekilas pada tunangannya.
"Urus sisanya, Celine. Aku tunggu di mobil."
Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Steve melangkah lebar keluar dari ruang VIP, meninggalkan keheningan yang mencekam di sana.
Julia memejamkan matanya rapat-rapat begitu punggung Steve menghilang di balik pintu. Tangannya yang memegang tablet terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Lima tahun lalu, Julia berniat memberi kejutan dengan membawa kabar kehamilannya ke kantor Steve.
Namun, di balik pintu ruang kerja pria itu yang sedikit terbuka, kalimat dingin Steve kepada ibunya menghantam Julia tanpa ampun.
"Menikahinya? Ibu terlalu berlebihan," ucap Steve dengan suara dinginnya.
"Julia itu cuma selingan. Aku cukup berakal untuk tahu wanita seperti apa yang pantas menyandingkan nama Anderson di altar."
Belum sempat Julia mencerna rasa kebas di dadanya, keesokan harinya kabar meledak di seluruh media bisnis: Steve Anderson resmi dipertunangkan dengan putri dari keluarga konglomerat. Sebuah aliansi bisnis sempurna yang dirancang oleh keluarga Anderson.
Steve tak pernah menolaknya, seolah keberadaan Julia selama ini memang tak pernah masuk dalam perhitungannya.
Namun, Julia tidak ingin melabraknya. Ia hanya memegang perutnya yang masih rata dan bertekad tidak akan membiarkan Steve mengetahui keberadaan anaknya yang sedang dia kandung.
Malam itu, di tengah kemeriahan pesta pertunangan megah Steve, Julia mengirimkan satu pesan singkat: ‘Terima kasih untuk segalanya, Steve. Hubungan kita dan semua hal di antaranya, resmi berakhir di sini. Jangan pernah cari aku lagi.’
Sejak saat itu, Julia memilih menghilang ke Paris sambil menanggung luka. Sambil melanjutkan kuliah desain dan mulai membangun bisnisnya, Julia membesarkan anak-anaknya sendirian.
Dan kini, pria yang menghancurkan hidupnya itu kembali berdiri di depannya dengan keangkuhan yang sama.
Sementara itu, di luar butik, Steve berjalan menuju mobil sedan hitam yang terparkir di bahu jalan.
Langkahnya terhenti di samping pintu penumpang. Seorang pria berjas rapi, Rian, asisten pribadinya segera membukakan pintu dan membungkuk hormat.
Steve tidak langsung masuk. Ia berdiri menyandarkan sebelah tangannya di atap mobil, matanya menatap tajam ke arah papan nama Maison de Julia.
"Informasi apa yang kamu dapatkan?" tanya Steve dingin dan tanpa basa-basi.
Rian menunduk sedikit sembari merapikan dokumen di tangannya sebelum menjawab dengan nada hati-hati.
"Saya sudah menggali informasi dari beberapa karyawan di butik tersebut, Tuan Anderson. Mengenai latar belakang Nyonya Julia selama lima tahun terakhir di Paris..."
Steve melirik asistennya melalui sudut mata, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan rahang yang menegang.
"Menurut keterangan karyawan butik," Rian melanjutkan dengan suara pelan, "Nyonya Julia saat ini sudah menikah."
Malam semakin larut ketika koridor lantai atas Anderson Group sudah sepi dari aktivitas para karyawan.Suasana riuh kantor pusat telah menghilang, menyisakan ruang kerja pribadi Steve di mana Julia masih harus merampungkan revisi tata letak pameran terakhir sebelum tenggat waktu esok hari.Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan luas bernuansa monokrom yang kini hanya diterangi pendar lampu temaram meja kerja.Keheningan canggung yang sarat akan ketegangan emosional tak kasat mata merayap pekat di antara jarak meja kerja mereka yang tidak terlalu jauh.Julia tengah fokus menatap layar laptopnya, berusaha keras mengabaikan keberadaan pria yang duduk beberapa meter di hadapannya.Suara jemari Julia yang menari di atas kibor menjadi satu-satunya bunyi yang memecah sepi.Namun, fokusnya mendadak terganggu ketika terdengar gesekan kursi kulit.Steve beranjak dari kursinya untuk mengambil dokumen referensi di rak buku dinding.Pria itu melangkah melintasi meja kerja Julia dengan gerakan te
Ruang rapat utama di lantai atas Anderson Group dipenuhi oleh jajaran direksi, investor penting, serta para kolega elit yang duduk tegap menyimak paparan proyek dari sang desainer muda.Suasana ruangan yang megah dan terkesan formal itu mendadak terfokus sepenuhnya pada panggung presentasi.Julia berdiri di depan layar proyektor dengan sangat anggun.Sembari memegang pointer, Julia menjelaskan setiap detail filosofi busana rancangannya menggunakan intonasi suara yang tegas, tenang, dan penuh percaya diri.Tidak ada sedikit pun rasa terintimidasi di wajahnya, meski puluhan pasang mata tokoh-tokoh berpengaruh di kota itu mengarah lurus kepadanya."Konsep koleksi adibusana kali ini menggabungkan ketegasan siluet modern dengan kelembutan detail tekstur sutra," ujar Julia dengan artikulasi yang amat jelas."Setiap potongan dirancang untuk menonjolkan karakter kemandirian tanpa mengorbankan sisi kemewahan."Di barisan kursi paling depan, Steve Anderson duduk dengan satu kaki bertumpu di ata
Pagi itu, hubungan profesional antara Maison de Julia dan Anderson Group akhirnya resmi terjalin lewat penandatanganan kontrak kerja sama eksklusif.Kesepakatan bernilai fantastis ini memaksa Julia untuk lebih sering datang langsung ke gedung kantor pusat Anderson Group demi mematangkan konsep pameran koleksi busana adibusana mendatang.Julia berjalan menyusuri lorong lantai logistik bersama seorang staf pendamping.Di tengah kesibukan mengurus berkas-berkas penting dan sampel kain yang tercecer, Julia melangkah masuk ke ruang arsip lantai logistik yang dipenuhi tumpukan kotak dokumen dan rak besi tinggi.Namun, kepanikan mendadak menyergap dada Julia ketika ia merogoh saku blazernya.Sebuah flashdisk krusial berisi master desain orisinal dan seluruh berkas rahasia koleksi terbarunya raib entah ke mana."Astaga, di mana benda itu?" bisik Julia panik.Napasnya memburu akibat rasa cemas yang membakar. Flashdisk itu berisi seluruh karya yang ia siapkan selama bertahun-tahun.Tanpa memedu
Suasana apartemen terasa begitu senyap malam itu. Setelah memastikan pintu kamar Leon dan Elea tertutup rapat dan kedua buah hatinya tertidur pulas, Julia melangkah pelan menuju meja kerjanya.Di bawah pendar lampu meja yang remang, ia memandangi helai demi helai sketsa gaun pengantin yang terhampar di hadapannya.Sketsa yang menjadi awal mula dari segala kekacauan ini.Jemari Julia bergerak pelan, mengusap tepi kertas sketsa itu dengan helaan napas berat yang tertahan."Kenapa harus sekarang, Steve...?" bisik Julia lirik pada kegelapan ruang kerjanya.Pertemuannya kembali dengan Steve di kantor pusat siang tadi menyisakan teka-teki psikologis yang terus membayangi pikirannya.Di balik sikap arogan, dingin, dan kata-kata penuh tuduhan keji dari sang mantan kekasih, Julia tahu ada hal lain di sana.Kilatan sorot mata Steve, kilatan penasaran mendalam dan ketidakrelaan yang disembunyikan rapat-rapat di balik topeng angkuhnya.Julia menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata rapat-r
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.