Se connecterAlarm digital di atas meja berkedip menyilaukan. Angka 06.55 tertera di sana.Suara bip-nya yang melengking menembus keheningan ruang kerjaku seperti jarum panjang. Aku sudah duduk tegak di kursi kulit ini sejak satu jam lalu.Secangkir kopi hitam mengepul di sudut meja. Uapnya menari lambat di udara pagi yang beku.Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Perutku menolak menerima apa pun.Sisa waktu lima menit lagi. Lima menit sebelum jurnalis itu menekan tombol rilis dan mengubah hidup kami menjadi sirkus publik.Aku menatap layar monitor yang kosong. Ruangan ini terasa semakin menyusut. Udara pendingin ruangan terasa seperti menusuk langsung ke sumsum tulangku.Tepat saat angka berganti menjadi 07.00, ponselku bergetar pelan.Getarannya menggetarkan permukaan meja kayu. Pesan dari Hendra. Hanya dua kata, namun efeknya seperti bom hidrogen di dadaku.Sudah live.Tanganku sedingin es saat mengklik tautan biru di bawah pesan tersebut. Tautan itu membawaku ke salah satu portal berita invest
Jarum jam dinding berdenting pelan menunjuk angka sebelas malam. Suaranya bergema di ruang kerja berdinding kedap suara ini.Suhu pendingin ruangan terasa membekukan pori-poriku.Di atas meja mahoni raksasa ini, belasan lembar dokumen draf rilis pers berserakan berantakan.Kertas-kertas itu berisi skenario pembelaan dari tim humas. Semuanya belum tersentuh.Tinta penaku bahkan sudah mengering sejak satu jam yang lalu.Atmosfer di ruangan ini terasa sangat berat dan mati. Seperti menghirup udara di dalam peti mati yang tertutup rapat.Aku meletakkan penaku ke atas meja. Bunyi ketukan logamnya memecah kesunyian dengan sangat keras.Arjuna duduk di seberang meja. Layar laptopnya menyala, tapi matanya tidak membaca satu kata pun di sana."Ceritakan soal Laras."Kalimat itu meluncur tajam dari bibirku. Tanpa basa-basi. Tanpa jeda keraguan.Pria itu tidak terkejut. Garis rahangnya tetap keras, tapi bahunya turun beberapa milimeter.Dia sudah menunggu kalimat ini keluar dari mulutku sejak pa
Getaran konstan di atas nakas menghancurkan sisa tidurku. Benda pipih itu berderak marah melawan kayu jati.Angka digital di layar menunjukkan pukul 06.00 tepat.Jadwal terlarang untuk siapa pun menghubungi ponsel pribadiku. Kecuali dunia sedang kiamat. Atau lebih buruk lagi, Diwangsa sedang runtuh.Satu notifikasi pesan pendek terpampang di layar yang menyilaukan. Dari Hendra."Bu Alea. Ada update. Bisa telpon sekarang?"Udara pagi di kamar ini seketika terasa menyusut. Paru-paruku menolak bekerja.Arjuna masih tertidur pulas di sebelahku. Dada bidangnya naik turun dalam ritme teratur. Lengannya yang berat melingkari pinggangku, menahanku dalam kepemilikan mutlaknya.Aku menyingkirkan lengan itu pelan-pelan. Beringsut turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara.Lantai marmer terasa membekukan telapak kakiku saat aku berjalan cepat menuju balkon.Panggilan tersambung pada dering pertama. Hendra sudah menunggu di ujung sana."Katakan," tuntutku tanpa membuang waktu. Suaraku serak dan b
Pagi ini aroma kopi tubruk terasa terlalu pekat.Elang memukul-mukul meja kursi tingginya. Dia meminta potongan roti panggang dengan gumaman tidak jelas yang biasanya membuatku tertawa.Hari ini, suaranya terdengar seperti diputar dalam kecepatan lambat. Nol koma tujuh lima.Semuanya terasa terlalu pelan. Terlalu sepi.Aku berdiri di depan wastafel dapur. Air mengalir membasahi cangkir porselen di tanganku.Satu cangkir. Aku sudah menggosoknya selama hampir tiga menit penuh.Perang sudah selesai. Gugatan Raka resmi dicabut kemarin. Surat-surat sialan itu sudah ditandatangani dan disegel secara hukum. Musuh yang selama berbulan-bulan menguras kewarasan kami, mundur teratur.Tapi kenapa dadaku masih sesak? Kenapa tanganku masih menegang setiap kali mendengar langkah kaki di koridor?Aku menoleh ke meja pulau. Arjuna duduk di sana. Kemeja putihnya tergulung hingga siku, menampilkan urat nadinya yang menonjol.Biasanya, jemarinya sudah menari liar di atas keyboard laptop sebelum kopinya d
Angka digital hijau berpendar terang di dinding. Pukul 11.58 malam.Ruang kerja Arjuna terasa menyusut seperti ruang hampa udara. Suhu pendingin sentral membekukan kulit, tapi tidak ada satu pun dari kami yang memedulikannya.Hanya terdengar tarikan napas lambat di ruangan raksasa ini. Ritme konstan dari dua orang yang sedang menunggu vonis eksekusi.Tujuh puluh dua jam terakhir adalah penyiksaan mental paling brutal.Tidak ada serangan balik dari kubu Raka. Tidak ada manuver kotor dari jaringan media. Musuh kami membungkam seluruh jalur komunikasinya."Ini jauh lebih menyiksa dari baku hantam di ruang rapat," keluhku memecah kesunyian. Suaraku terdengar serak.Arjuna menoleh dari arah jendela kaca. Pria itu berdiri dengan kemeja yang sudah kusut."Dia sedang bertarung dengan egonya sendiri di dalam sana, Alea.""Tujuh puluh dua jam penuh." Aku mengetuk sandaran sofa kulit. "Hendra melaporkan tidak ada pergerakan satu sentimeter pun secara digital. Raka tidak menghubungi pengacaranya.
Nada dering nyaring memecah keheningan apartemen tepat pukul tujuh pagi.Layar ponselku berkedip terang di atas meja makan marmer. Aku baru saja meletakkan cangkir espreso ganda pertamaku. Sisa kehangatan ciuman Arjuna tadi malam menguap seketika digantikan oleh insting korporat yang siaga.Sebuah nama tertera jelas di layar kaca tersebut. Raina Pratama.Aku melirik Arjuna yang duduk di seberang meja. Suamiku menghentikan kunyahannya. Mata pekatnya menatap lurus ke arah benda pipih yang terus bergetar itu.Jari telunjukku menekan tombol hijau. Aku mengaktifkan mode pengeras suara."Halo," sapaku datar.Terdengar tarikan napas panjang dan tidak teratur dari ujung telepon.Ketenangan artifisial sang konsultan telah hancur lebur pagi ini. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada basa-basi manipulatif untuk menjaga penyamarannya."Dia datang semalam, Lea." Suara Raina bergetar hebat."Raka?" tembakku presisi."Ya." Nada suara wanita itu terdengar luar biasa parau. "Raka mendobrak masuk ke apart
Napas Arjuna masih memburu, namun tatapannya perlahan berubah dari api yang membakar menjadi es yang membekukan. Dia melepaskan cengkeramannya di rahangku dengan kasar, membuat kepalaku tersentak ke samping.Dia tidak bicara lagi. Dia bergerak cepat, menyambar tas ranselku yang tergeletak di lantai
Keheningan yang menyesakkan di Penthouse pecah oleh suara dering ponsel.Bukan ponsel Arjuna, melainkan ponselku. Ponsel retak yang baru saja dikembalikan Arjuna pagi ini setelah "masa isolasi"-ku berakhir. Dia meletakkannya begitu saja di meja makan sebelum berangkat kerja, seolah benda itu tidak
Waktu kehilangan artinya di dalam kegelapan ini.Aku tidak tahu sudah berapa jam berlalu sejak Arjuna mematikan lampu dan meninggalkanku terikat seperti hewan kurban. Satu jam? Dua jam? Atau mungkin semalaman?Tanganku mati rasa. Pergelangan tanganku terasa perih, tergesek kain sutra yang mengikatk
Arjuna berbalik badan.Dia melangkah menuju meja nakas untuk meletakkan nampan yang isinya sudah tandas masuk ke perutku. Gerakannya santai, punggungnya lebar dan terbuka, seolah dia tidak merasa terancam sedikit pun oleh keberadaanku.Dia lengah.Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh otakku yang







