ログインRuang rapat darurat di lantai delapan belas ini berdinding kaca lapis ganda. Kedap suara, berpendingin maksimal, dan dirancang untuk memisahkan dewa-dewa korporat dari pekerja biasa.Siang ini, ruangan mewah ini terasa seperti peti kemas yang kehabisan oksigen.Angka di layar tablet milik Kepala Tim Public Relations terus melompat naik secara brutal.Artikel investigasi itu sudah menembus dua ratus ribu tayangan dalam waktu empat jam.Itu belum menghitung jutaan impresi dari utas Twitter yang kini menjadi bola salju raksasa, menggilas apa pun yang berani membela nama Diwangsa.Anton, sang Kepala PR, berdiri di ujung meja mahoni. Wajah pria paruh baya itu sepucat kertas HVS.Dasi sutranya sudah dilonggarkan secara paksa. Jemarinya mengetuk layar tablet dengan ritme panik yang menularkan mual ke perutku."Kita butuh pernyataan standar, Pak Arjuna," desak Anton dengan suara bergetar. "Paling lambat dalam dua jam ke depan."Dia menyorongkan sebuah draf cetak ke tengah meja kaca."Format k
Alarm digital di atas meja berkedip menyilaukan. Angka 06.55 tertera di sana.Suara bip-nya yang melengking menembus keheningan ruang kerjaku seperti jarum panjang. Aku sudah duduk tegak di kursi kulit ini sejak satu jam lalu.Secangkir kopi hitam mengepul di sudut meja. Uapnya menari lambat di udara pagi yang beku.Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Perutku menolak menerima apa pun.Sisa waktu lima menit lagi. Lima menit sebelum jurnalis itu menekan tombol rilis dan mengubah hidup kami menjadi sirkus publik.Aku menatap layar monitor yang kosong. Ruangan ini terasa semakin menyusut. Udara pendingin ruangan terasa seperti menusuk langsung ke sumsum tulangku.Tepat saat angka berganti menjadi 07.00, ponselku bergetar pelan.Getarannya menggetarkan permukaan meja kayu. Pesan dari Hendra. Hanya dua kata, namun efeknya seperti bom hidrogen di dadaku.Sudah live.Tanganku sedingin es saat mengklik tautan biru di bawah pesan tersebut. Tautan itu membawaku ke salah satu portal berita invest
Jarum jam dinding berdenting pelan menunjuk angka sebelas malam. Suaranya bergema di ruang kerja berdinding kedap suara ini.Suhu pendingin ruangan terasa membekukan pori-poriku.Di atas meja mahoni raksasa ini, belasan lembar dokumen draf rilis pers berserakan berantakan.Kertas-kertas itu berisi skenario pembelaan dari tim humas. Semuanya belum tersentuh.Tinta penaku bahkan sudah mengering sejak satu jam yang lalu.Atmosfer di ruangan ini terasa sangat berat dan mati. Seperti menghirup udara di dalam peti mati yang tertutup rapat.Aku meletakkan penaku ke atas meja. Bunyi ketukan logamnya memecah kesunyian dengan sangat keras.Arjuna duduk di seberang meja. Layar laptopnya menyala, tapi matanya tidak membaca satu kata pun di sana."Ceritakan soal Laras."Kalimat itu meluncur tajam dari bibirku. Tanpa basa-basi. Tanpa jeda keraguan.Pria itu tidak terkejut. Garis rahangnya tetap keras, tapi bahunya turun beberapa milimeter.Dia sudah menunggu kalimat ini keluar dari mulutku sejak pa
Getaran konstan di atas nakas menghancurkan sisa tidurku. Benda pipih itu berderak marah melawan kayu jati.Angka digital di layar menunjukkan pukul 06.00 tepat.Jadwal terlarang untuk siapa pun menghubungi ponsel pribadiku. Kecuali dunia sedang kiamat. Atau lebih buruk lagi, Diwangsa sedang runtuh.Satu notifikasi pesan pendek terpampang di layar yang menyilaukan. Dari Hendra."Bu Alea. Ada update. Bisa telpon sekarang?"Udara pagi di kamar ini seketika terasa menyusut. Paru-paruku menolak bekerja.Arjuna masih tertidur pulas di sebelahku. Dada bidangnya naik turun dalam ritme teratur. Lengannya yang berat melingkari pinggangku, menahanku dalam kepemilikan mutlaknya.Aku menyingkirkan lengan itu pelan-pelan. Beringsut turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara.Lantai marmer terasa membekukan telapak kakiku saat aku berjalan cepat menuju balkon.Panggilan tersambung pada dering pertama. Hendra sudah menunggu di ujung sana."Katakan," tuntutku tanpa membuang waktu. Suaraku serak dan b
Pagi ini aroma kopi tubruk terasa terlalu pekat.Elang memukul-mukul meja kursi tingginya. Dia meminta potongan roti panggang dengan gumaman tidak jelas yang biasanya membuatku tertawa.Hari ini, suaranya terdengar seperti diputar dalam kecepatan lambat. Nol koma tujuh lima.Semuanya terasa terlalu pelan. Terlalu sepi.Aku berdiri di depan wastafel dapur. Air mengalir membasahi cangkir porselen di tanganku.Satu cangkir. Aku sudah menggosoknya selama hampir tiga menit penuh.Perang sudah selesai. Gugatan Raka resmi dicabut kemarin. Surat-surat sialan itu sudah ditandatangani dan disegel secara hukum. Musuh yang selama berbulan-bulan menguras kewarasan kami, mundur teratur.Tapi kenapa dadaku masih sesak? Kenapa tanganku masih menegang setiap kali mendengar langkah kaki di koridor?Aku menoleh ke meja pulau. Arjuna duduk di sana. Kemeja putihnya tergulung hingga siku, menampilkan urat nadinya yang menonjol.Biasanya, jemarinya sudah menari liar di atas keyboard laptop sebelum kopinya d
Angka digital hijau berpendar terang di dinding. Pukul 11.58 malam.Ruang kerja Arjuna terasa menyusut seperti ruang hampa udara. Suhu pendingin sentral membekukan kulit, tapi tidak ada satu pun dari kami yang memedulikannya.Hanya terdengar tarikan napas lambat di ruangan raksasa ini. Ritme konstan dari dua orang yang sedang menunggu vonis eksekusi.Tujuh puluh dua jam terakhir adalah penyiksaan mental paling brutal.Tidak ada serangan balik dari kubu Raka. Tidak ada manuver kotor dari jaringan media. Musuh kami membungkam seluruh jalur komunikasinya."Ini jauh lebih menyiksa dari baku hantam di ruang rapat," keluhku memecah kesunyian. Suaraku terdengar serak.Arjuna menoleh dari arah jendela kaca. Pria itu berdiri dengan kemeja yang sudah kusut."Dia sedang bertarung dengan egonya sendiri di dalam sana, Alea.""Tujuh puluh dua jam penuh." Aku mengetuk sandaran sofa kulit. "Hendra melaporkan tidak ada pergerakan satu sentimeter pun secara digital. Raka tidak menghubungi pengacaranya.
"Satu jam."Kata-kata itu bergema di kepalaku, berpacu dengan detak jarum jam dinding yang tak terlihat namun terdengar jelas di telingaku.Aku berbalik dan berlari keluar dari ruang kerja Arjuna. Bukan untuk kabur, tapi untuk mencari sisa napas terakhir sebelum tenggelam.Aku berlari menuju balkon
Pintu kamar mandi tertutup di belakangku, memisahkan aku dari tatapan lapar Arjuna—setidaknya untuk sementara.Aku menyandarkan punggung ke pintu kayu mahoni yang kokoh itu. Napasku berhembus panjang dan gemetar, menciptakan kabut tipis di udara yang dingin.Ini bukan sekadar kamar mandi. Ini adala
AC ruangan disetel di suhu terendah, membuat udara terasa kering dan membekukan.Aku duduk di barisan tengah, berusaha mati-matian untuk fokus mencatat.Pena di tanganku bergerak di atas kertas, menyalin grafik yang ada di papan tulis. Tapi pikiranku melayang jauh.Melayang ke makan malam "romantis
Hujan turun lagi malam ini.Bukan gerimis romantis yang menenangkan, melainkan badai yang marah. Air menghantam dinding kaca raksasa di kamarku dengan bunyi buk-buk-buk yang tumpul, seolah langit sedang berusaha mendobrak masuk untuk menyelamatkanku—atau mungkin untuk menertawakan nasibku.Suara it







