로그인Suasana kabin SUV terasa mencekik. Pendingin udara menyala maksimal, tapi keringat dingin tetap membasahi pelipisku. Aku memandangi foto polaroid usang di tanganku.Cahaya lampu jalan tol yang berkelebat menyorot inisial pudar di balik foto itu secara bergantian.R.W."R.W." Aku mengeja huruf itu keras-keras. "Raka Wibisana?"Arjuna menoleh sekilas. Dia kembali fokus pada jalanan sepi di depan kami."Bukan," bantahku cepat. "Raka tidak pernah tinggal di panti asuhan. Keluarga Wibisana tidak pernah jatuh semiskin itu.""Wibisana punya banyak kerabat.""Raka dan Raina adalah anak tunggal dari cabang utama. Tidak ada R.W. lain di lingkaran mereka." Aku membalik foto itu lagi. Menatap wajah bayi malang di dalam inkubator. "Ini anak orang lain."Arjuna menginjak rem mendadak di lampu merah. Tubuhku terdorong ke depan, tertahan keras oleh sabuk pengaman.Dia menyambar ponsel di atas dasbor. Jempolnya menekan layar dengan kasar.Panggilan tersambung pada dering kedua."Hendra, bangun." Suara
Aku menolak menunggu matahari terbit."Putar mobilnya sekarang, Juna.""Ini sudah lewat tengah malam, Alea. Kita bisa mengirim tim hukum besok pagi." Arjuna masih mempertahankan kemudinya di jalur lurus menuju penthouse."Tim hukummu akan memfilter laporannya!" bantahku keras. "Mereka akan mencari cara melindungi nama Prasetyo. Aku mau dengar sendiri dari mulut pengurus panti. Sekarang."Arjuna menatapku sesaat. Dia melihat kemarahan murni yang membakar mataku.Dia tidak membantah lagi. Arjuna membanting setir ke kiri. SUV hitam itu memutar balik secara agresif di tengah jalan tol yang sepi. Suara ban berdecit keras beradu dengan aspal.Aku mencengkeram sabuk pengaman. Napasku pendek dan cepat."Kenapa yayasan itu, Juna?" tanyaku tanpa menoleh padanya. "Ada ratusan panti asuhan di Jakarta. Kenapa Prasetyo harus memilih Cahaya Mentari?""Kita cari tahu malam ini.""Aku tahu tempat itu dengan sangat baik." Suaraku terdengar sedingin es. "Prasetyo sendiri yang mengenalkan yayasan itu pad
"Ini bukan sirkus moral."Suaraku memotong keheningan ruang rapat. Dingin. Final.Marcus meletakkan tabletnya di atas meja kaca. Investor berambut perak itu sama sekali tidak terlihat terintimidasi. Dia menatapku dengan kalkulasi penuh."Ini bukan sirkus, Bu Alea," bantah Marcus tenang. "Ini manajemen krisis tingkat tinggi.""Ini eksploitasi.""Ini transparansi." Marcus mencondongkan tubuh ke depan, melipat tangannya di atas meja. "Dunia bisnis sedang berubah. Investor tidak lagi mencari perusahaan yang sempurna. Mereka mencari perusahaan yang jujur.""Kejujuran punya batasan," balasku cepat. "Akun rahasia almarhum ayah mertuaku itu masalah hukum. Area privat perusahaan. Bukan bahan tontonan.""Diwangsa tidak punya privasi lagi sejak skandal Wibisana mencuat beberapa bulan lalu."Kalimat Marcus menamparku. Aku mencengkeram lengan kursi rapat-rapat hingga buku jariku memutih. Rasa panas menjalar di leherku. Insting protektifku meronta."Kita butuh solusi, Pak Marcus," kataku tajam, men
Tanganku baru saja menyentuh gagang pintu gedung penerbitan saat ponsel di saku kemejaku bergetar hebat.Getaran itu bukan notifikasi media sosial biasa. Itu adalah ritme peringatan untuk email prioritas tinggi dari sistem internal Diwangsa Corp.Aku tertegun di depan pintu kaca yang memantulkan bayangan wanita yang tampak siap berperang, namun sekaligus rapuh.Aku menarik napas, mencoba menenangkan debar jantung yang belum juga reda sejak balasan editor kemarin. Aku merogoh ponsel, jempolku menyapu layar dengan cepat.Subjek email itu membuat suhu tubuhku mendadak turun beberapa derajat.Update Kebijakan Prasetyo — Perlu Keputusan Segera.Nama itu. Prasetyo Diwangsa.Ayah Arjuna. Pria yang sudah terkubur, namun dosanya seolah memiliki akar yang terus merayap naik untuk menyeret kami kembali ke kegelapan.Satu hantu lagi, batin kecilku berbisik sinis.Aku menoleh ke arah mobil Arjuna yang masih terparkir di pinggir jalan. Dia belum pergi. Dia masih mengawasiku dari balik kaca film yan
Malam ini, kesunyian di penthouse terasa seperti pisau yang baru saja diasah. Tajam dan dingin.Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap, tapi mataku tidak mau terpejam. Setiap kali aku mencoba menutup mata, kalimat-kalimat dalam email balasan dari editor itu muncul kembali, berpijar di kegelapan seperti neon yang rusak.Terlalu nyata.Dua kata itu terus berputar, menciptakan lubang di perutku. Aku merasa mual, jenis mual yang muncul saat kau menyadari bahwa rahasia paling memalukan dalam hidupmu baru saja diserahkan kepada orang asing.Jam digital di nakas menunjukkan pukul dua dini hari. Suara detiknya terdengar seperti palu hakim yang diketukkan ke atas meja kayu berkali-kali.Aku menarik selimut hingga ke dagu, tapi rasa dingin itu tidak berasal dari suhu ruangan. Ia berasal dari dalam tulangku sendiri. Rasa dingin karena ketelanjangan yang luar biasa.Seseorang yang tidak aku kenal sedang membaca tentang bagaimana aku dulu gemetar di bawah tatapan Arj
Minggu pagi di penthouse biasanya berisik oleh tawa Elang yang mengejar bayangan di lantai marmer.Tapi hari ini, Arjuna memutuskan untuk membawa anak itu ke taman. Dia ingin memberiku ruang, katanya. Dia tahu ada sesuatu yang sedang mendidih di balik keningku sejak pembicaraan kami semalam tentang rasa lelah.Suara pintu lift yang tertutup meninggalkan kesunyian yang hampir memekakkan telinga.Aku duduk di meja kerja, menatap layar laptop yang masih gelap. Di balik permukaannya yang hitam, ada sebuah dokumen yang sudah mendekam selama berbulan-bulan.Dokumen itu kuberi nama: Mungkin Suatu Hari.Judul yang pengecut. Sebuah nama yang kupilih agar aku punya alasan untuk tidak pernah menyelesaikannya. Karena "suatu hari" bisa berarti selamanya, dan aku bisa terus bersembunyi di baliknya tanpa harus menghadapi kenyataan.Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan mengisi paru-paruku. Jari-jariku gemetar sedikit saat menekan tombol power.Layar menyala, memun







