MasukPukul tiga pagi. Kegelapan di dalam kamar tidur ini terasa sangat pekat dan menekan.Aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Mimpi buruk yang bentuknya tidak kuingat baru saja memaksaku membuka mata secara paksa.Tanganku secara naluriah meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong.Seprai sutra di sana terasa sangat dingin di bawah telapak tanganku. Tidak ada sisa kehangatan tubuh yang tertinggal.Arjuna belum kembali sejak pembicaraan keras kami di ruang makan berjam-jam yang lalu.Aku duduk perlahan. Menyingkirkan selimut tebal yang membebat kakiku dengan perasaan waswas. Rasa cemas langsung merayap naik, mencengkeram dadaku dengan erat.Lantai marmer mengantarkan suhu beku ke telapak kakiku saat aku melangkah turun dari ranjang. Lorong penthouse ini dibiarkan gelap gulita.Hanya suara dengung pelan dari mesin pendingin sentral yang menemani langkahku.Namun di ujung koridor, ada satu garis cahaya kuning pucat yang membelah kegelapan.Cahaya tipis itu merembes dari bawah celah pi
Ruang makan penthouse ini tidak pernah terasa sedingin malam ini.Mesin pendingin sentral berdengung pelan, mengirimkan udara beku yang menusuk langsung ke permukaan kulitku. Di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip tanpa suara.Di dalam sini, kesunyian terasa begitu pekat hingga membuat telingaku sakit.Elang sudah lelap di kamarnya sejak satu jam yang lalu. Anak itu tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang menghancurkan kewarasan kedua orang tuanya.Meja makan kayu jati raksasa ini bersih tanpa hidangan apa pun. Tidak ada makan malam. Tidak ada nafsu untuk menelan makanan.Hanya ada dua cangkir teh chamomile yang diletakkan tepat di tengah meja.Uap panasnya menari pelan ke udara, perlahan-lahan menipis sebelum akhirnya menghilang sama sekali. Teh itu mendingin tanpa disentuh.Sama seperti sisa-sisa kehangatan di antara kami.Aku duduk bersandar kaku di ujung meja. Jemariku bertaut erat di atas pangkuan, menyembunyikan getaran halus yang sejak pagi menolak reda.Arj
Hari keempat pasca-artikel. Pukul enam pagi.Gedung Diwangsa Corp masih terasa lengang seperti kuburan mewah. Aku sengaja datang lebih awal. Menghindari kerumunan wartawan lapar yang sudah memblokade lobi utama sejak matahari terbit.Ruang kerjaku menyambut dengan aroma lemon sintetis dari cairan pembersih dan dinginnya mesin pendingin udara. Sepi. Terlalu sepi.Aku meletakkan tas jinjingku di atas sofa. Berjalan menuju meja kerja mahoniku untuk menyalakan komputer.Langkahku terhenti seketika.Di atas permukaan meja yang biasanya bersih tanpa noda, ada satu kejanggalan. Selembar kertas putih tergeletak miring di dekat asbak kristal.Kertas itu tidak seharusnya ada di sana.Semalam, Arjuna mampir ke ruanganku. Dia memakai mejaku sebentar untuk menandatangani beberapa berkas krisis sebelum kami pulang.Satu lembar kertas ini pasti terlepas dari map kulit hitam sialannya.Aku mendekat perlahan. Ujung jariku menyentuh permukaan kertas yang tebal dan dingin.Firasat buruk langsung melilit
Hari kedua krisis. Udara di ruang kerjaku masih terasa sama beracunnya dengan kemarin.Layar laptop di depanku memantulkan wajahku sendiri. Pucat, dingin, dengan kantung mata yang mulai menghitam akibat kurang tidur.Di layar itu, kursor berkedip statis di akhir sebuah paragraf panjang. Ini sudah draf keenam.Aku menyorot seluruh teks tersebut. Menekan tombol hapus dengan tenaga berlebihan.Layar kembali putih bersih. Cahayanya menyilaukan dan menyakitkan mata.Belum cukup tajam. Terlalu defensif.Ketukan pelan di pintu kaca memecah konsentrasiku yang sudah setipis benang.Kepala PR, Anton, melangkah masuk ke ruanganku. Pria paruh baya itu membawa map tabletnya dengan postur yang sangat ragu.Seolah dia sedang memasuki kandang harimau dan takut aku akan melempar asbak padanya."Bu Alea," panggilnya pelan. "Tim IT saya melaporkan ada draf pernyataan publik yang sedang disiapkan dari IP komputer Ibu."Anton menelan ludahnya lambat-lambat. Dia berdiri agak jauh dari mejaku."Ibu tidak pe
Sore hari. Langit Jakarta mulai meremang di balik dinding kaca ruanganku.Sudah dua belas jam sejak artikel investigasi itu mengudara. Dua belas jam sejak identitas suamiku dikuliti habis-habisan di depan publik.Ponselku tergeletak begitu saja di atas meja kerja. Benda pipih itu terus bergetar tanpa henti. Persis seperti mesin rusak yang lupa cara untuk mati.Layar yang menyala menampilkan puluhan notifikasi dalam hitungan detik. Nomor tak dikenal, sebutan di media sosial, dan rentetan email masuk.Aku membiarkan semuanya. Mengabaikan ribuan kebisingan yang menuntut panggung.Jariku yang terasa dingin dan kaku hanya menggulir layar lambat-lambat. Aku sedang memilah mana yang nyata bertahan di sisiku, dan mana yang hanya parasit saat kami berjaya.Pesan pertama yang benar-benar kubuka berasal dari ibuku.Pagi tadi, pesannya membuat darahku membeku karena ketakutan. Kini, rentetan kalimat terbarunya justru meruntuhkan pertahananku."Ibu sudah baca semuanya, Nduk. Kamu baik-baik saja? I
Ruang rapat darurat di lantai delapan belas ini berdinding kaca lapis ganda. Kedap suara, berpendingin maksimal, dan dirancang untuk memisahkan dewa-dewa korporat dari pekerja biasa.Siang ini, ruangan mewah ini terasa seperti peti kemas yang kehabisan oksigen.Angka di layar tablet milik Kepala Tim Public Relations terus melompat naik secara brutal.Artikel investigasi itu sudah menembus dua ratus ribu tayangan dalam waktu empat jam.Itu belum menghitung jutaan impresi dari utas Twitter yang kini menjadi bola salju raksasa, menggilas apa pun yang berani membela nama Diwangsa.Anton, sang Kepala PR, berdiri di ujung meja mahoni. Wajah pria paruh baya itu sepucat kertas HVS.Dasi sutranya sudah dilonggarkan secara paksa. Jemarinya mengetuk layar tablet dengan ritme panik yang menularkan mual ke perutku."Kita butuh pernyataan standar, Pak Arjuna," desak Anton dengan suara bergetar. "Paling lambat dalam dua jam ke depan."Dia menyorongkan sebuah draf cetak ke tengah meja kaca."Format k
Pintu lift terbuka dengan denting halus yang biasa, namun bagiku hari ini suaranya terdengar seperti lonceng dimulainya babak baru penyiksaan.Arjuna berdiri di tengah ruang tamu.Dia tidak menyapaku. Dia tidak bertanya bagaimana hariku di kampus.Dia hanya berdiri di sana dengan satu tangan di dal
Napas kami berdua perlahan kembali normal, mengisi keheningan yang tersisa di ruang tamu Penthouse yang luas ini.Aku berbaring menyamping di sofa, kepalaku berbantal dada bidang Arjuna.Tangan besarnya yang hangat melingkar di bahuku, mengusap lengan atasku dengan gerakan ritmis yang menenangkan—k
"JANGAN!"Aku terbangun dengan napas tersentak, paruku terasa seperti diremas tangan tak kasat mata.Gelap.Kamar ini gelap gulita. Hening.Hanya suara napasku yang memburu, memecah kesunyian yang mencekam. Keringat dingin membasahi punggung dan keningku, membuat piyama satin tipis yang kupakai men
"Al, tunggu! Kita perlu bicara, tapi nggak di sini."Rian menarik pergelangan tanganku, membawaku menjauh dari keramaian kantin fakultas yang bising. Langkahnya cepat dan bertekad, menyeretku menuju koridor Gedung D yang jarang dilewati mahasiswa jam segini.Koridor ini sunyi. Hanya ada deretan lok







