Share

Bab 24

Author: Hiro Sayank
last update publish date: 2026-07-29 12:44:51

Keesokan harinya...

Savana berdiri mematung tepat di depan pintu jati berukuran besar yang menuju ruang kerja Direktur Utama. Kedua tangannya mencengkeram erat gagang troli kebersihan. Beberapa saat lalu, Pak Kus baru saja menugaskan bahwa mulai hari ini, tugas membersihkan ruang kerja Hanggara sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadinya setiap pagi.

Dada Savana berdebar kencang tak beraturan. Bayangan janji panas Hanggara semalam, tentang kelanjutan hukuman yang menunggunya, berputar-putar me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
apa hanggara sakit benran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 97

    "D-dokter serius akan seperti itu?" suara Savana bergetar hebat, matanya menatap Hanggara dengan binar ketakutan dan luka yang nyata.Hanggara mendadak tertawa kecil. Kekehannya terdengar renyah sewaktu ia menepuk pelan paha Savana. "Tentu saja saya hanya bercanda. Kenapa wajahmu sampai sepucat itu?"Savana menghela napas lega, namun kebingungan masih melingkupi benaknya. "Bercanda? Tapi suara Dokter tadi sungguh terdengar serius..."Hanggara mengikis jarak, menatap manik mata Savana dengan binar pekat yang sarat akan dominasi dan kepemilikan. "Jika kamu benar-benar hamil anak saya, itu justru hal paling bagus. Hal yang memang sangat saya nanti-nantikan sejak awal. Saya memang sengaja menyemburkannya di dalam rahimmu tanpa pengaman."Dahi Savana berkerut makin dalam. "Kenapa, Dokter?""Karena dengan begitu, saya punya alasan mutlak untuk secepatnya menikahi kamu," bisik Hanggara dengan intonasi rendah yang mengikat. "Agar kamu bisa lekas bebas dan terlepas dari Bara."Jantung Savana b

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 96

    Savana melangkahkan kakinya menembus pintu ruang khusus cleaning service yang terletak di lantai dasar rumah sakit. Udara pagi itu menyambutnya dengan riuh rendah suara rekan-rekan kerjanya yang sedang bersiap-siap sebelum memulai sif. Lemari-lemari loker terbuka lebar, menampilkan kesibukan para petugas yang sibuk merapikan seragam dan menyiapkan alat pembersih.Savana menghampiri lokernya sendiri, membuka pintunya, lalu perlahan melepas kemeja kasualnya untuk digantikan dengan seragam cleaning service berwarna biru muda. Saat kancing atas seragamnya ia sematkan, bayangan memar kemerahan di balik kain sutra tadi pagi sempat berkelebat di benaknya, membuat pipinya kembali merona hangat."Savana!"Sebuah tepukan pelan di bahunya membuyarkan lamunan wanita itu. Valerie, rekan sesama cleaning service yang paling heboh, menyenderkan tubuhnya pada barisan loker di samping Savana dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Savana menoleh seraya mengulas senyum tipis. "Ada apa, Valerie?""K

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 95

    Pagi harinya, cahaya matahari menyusup samar menembus celah gorden. Savana perlahan terbangun dari tidur lelapnya. Tubuhnya terasa pegal dan lelah usai pergulatan panas sepanjang malam, namun kepuasan bersisa hangat di dadanya. Saat meraba sisi tempat tidur yang kosong, Savana tersadar bahwa Hanggara sudah tidak berada di sampingnya.Savana perlahan merubah posisinya menjadi terduduk. Pandangannya tak sengaja tertuju pada meja nakas di samping kasur, di mana secarik kertas putih tergeletak disangga oleh botol parfumnya. Dengan jemari yang masih sedikit lemas, Savana meraih kertas tersebut dan membaca tulisan tangan dengan goresan tegas dan rapi milik sang direktur:Saya harus pergi lebih awal karena ada jadwal operasi mendadak pagi-pagi sekali. Jangan lupa periksa cermin. Saya meninggalkan banyak noda merah di payudaramu sebelum pergi tadi.Mata Savana membelalak seketika. Ia buru-buru menyibakkan selimut dan menatap area dadanya sendiri. Benar saja, beberapa bekas gigitan dan bercak

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 94

    Beberapa saat sebelumnya... Hanggara perlahan menegakkan tubuh tegapnya dari posisi berjongkok, bergerak merayap naik menelusuri lekuk tubuh Savana yang gemetar pasrah. Bibirnya mendarat hangat di atas permukaan kulit perut Savana yang rata, menyapukan kecupan-kecupan halus yang meninggalkan jejak panas, sebelum akhirnya naik merambati dada wanita itu.Dengan dominasi yang intens, mulut Hanggara melahap salah satu puncak payudara Savana yang mengeras. Lidahnya menyapu licin, menyesap dan mengulumnya penuh gairah, sementara jemarinya yang bebas meremas lembut kelopak dada sebelahnya. Savana membusungkan dadanya refleks, membiarkan jemarinya meremas kuat bahu kokoh Hanggara seraya meloloskan desahan napas yang makin memburu dan tak berdaya.Setelah memuaskan dahaganya di sana, Hanggara menarik wajahnya naik, menyergap bibir Savana dalam lumat melingkar yang menuntut. Di sela tautan bibir mereka yang kian memanas, tangan Hanggara bergerak cekatan melepas kemeja mewahnya sendiri, melempa

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 93

    Setelah meninggalkan warung pecel lele pinggir jalan, mobil mewah Hanggara membelah malam yang makin sepi menuju kawasan perumahan tempat Savana tinggal. Keheningan menguasai kabin belakang sedan tersebut, hanya menyisakan deru halus mesin yang menemani perjalanan mereka.Tak berapa lama, mobil Hanggara berhenti tepat di depan gerbang rumah Savana.Savana menoleh pada pria tegap di sampingnya, menguraikan senyum tipis yang memendam ragu. "Dokter Hanggara... saya pamit turun ya?"Hanggara hanya mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. "Mmm. Hati-hati."Savana tertegun sejenak. Dahi mulusnya berkerut tipis menahan keheranan. Biasanya, Hanggara selalu menahannya, mencium bibirnya secara paksa dan dominan sebelum membiarkannya pergi dari jangkauannya. Namun kali ini, pria itu tampak begitu tenang dan acuh tak acuh.Merasa ada yang mengganjal, Savana mencoba sekali lagi seraya menyentuh gagang pintu mobil. "Sa-saya masuk dulu, Dokter."Hanggara tetap diam, sama seka

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 92

    Bara masih menyusupkan setengah tubuhnya di kolong tempat tidur pasien. Tubuhnya kaku, sementara debu tipis yang beterbangan membuat tenggorokannya gatal tak tertahankan. Sudah berjam-jam ia merayap di lantai dingin, berputar-putar di celah sempit yang menguras tenaga dan meremukkan harga dirinya. Namun, bolpoin kustom edisi terbatas milik Hanggara sama sekali tidak menunjukkan keberadaannya.Bara menarik tubuhnya keluar dengan napas memburu. Jas dokter yang dikenakannya kini kotor berjelaga, kemeja putihnya lusuh, dan dahinya dipenuhi keringat bercampur debu. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang, menatap telapak tangannya yang hitam kotor dengan tatapan putus asa.Jam di dinding sudah menunjukkan larut malam. Tubuhnya lelah luar biasa, sementara rasa jengkel dan hina bergolak di dalam dada."Bangsat! Ke mana sebenarnya bolpoin sialan itu?" gumam Bara parau seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.Dengan sisa tenaga dan gengsi yang kian merosot, Bara merog

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status