เข้าสู่ระบบDi tempat lain di dalam rumah yang sama, keheningan melingkupi kamar tidur utama yang dihuni oleh Bara. Pria itu bersandar santai di kepala ranjang, memegang ponsel pintarnya dengan tatapan fokus. Jemarinya bergerak lincah menelusuri menu pengaturan, lalu membuka sebuah folder rahasia bermateri terkunci yang ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun.Di dalam folder tersembunyi itu, tersimpan puluhan koleksi foto kebersamaannya dengan Alex. Bara menggeser layar satu per satu, memperhatikan jepretan kenangan mereka, mulai dari momen kemesraan biasa saat berlibur, hingga foto-foto vulgar dan adegan hubungan intim yang pernah mereka lakukan bersama secara tersembunyi.Bara menatap layar itu dengan dalam, mencoba memancing kembali gairah dan hasrat yang belakangan ini mendadak padam. Ia berharap rekaman visual kenangan liarnya bersama Alex bisa membakar kembali gairahnya yang kian mendingin. Namun, sebanyak apa pun foto syur Alex yang ia pandangi, tubuhnya tetap bergeming. Tidak ada senga
Perintah dingin yang dilontarkan Hanggara dengan tatapan penuh intensitas itu membuat dada Savana berdebar tak karuan. Keraguan mendalam menahannya untuk bergerak. Bibirnya menyunggingkan senyum canggung, bermaksud mencari celah untuk menghindar."D-Dokter... aku takut. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat?" bisik Savana pelan, jemarinya meremas selimut erat-erat."Aku tidak menerima penolakan, Savana. Lepas pakaianmu sekarang," titah Hanggara tanpa memberi ruang untuk negosiasi, suaranya berat dan mengikat.Savana menggigit bibir bawahnya, akhirnya meluluh pada dominasi pria yang amat dicintainya itu. "B-baiklah... tapi aku melepaskan pakaianku di kamar ganti saja ya, Dokter.""Tidak. Jangan coba-coba bersembunyi. Lepas di depanku, di depan kamera ponselmu," potong Hanggara tegas, mengunci fokus pandangannya pada layar.Tak punya pilihan lain, Savana akhirnya patuh. Dengan tangan sedikit gemetar, ia beranjak dari ranjang dan berjalan pelan menuju meja rias. Ia menyandarkan ponselny
"Maaf, Mas. Jangan membicarakan hal itu," bisik Savana parau di sela-sela batuknya.Bara dengan sigap menggeser duduknya mendekat, menepuk-nepuk pelan punggung Savana seraya menyodorkan gelas air. Dahinya berkerut dalam, memancarkan rasa heran sekaligus kebingungan. "Kenapa, Savana? Kenapa aku tidak boleh membicarakan hal ini? Bukankah wajar jika sepasang suami istri merencanakan kehadiran seorang anak? Lagipula, Mama dan Papaku menginginkannya."Savana meneguk air putihnya hingga tandas, berusaha membasuh rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menepis pelan tangan Bara dari punggungnya, lalu menatap pria itu dengan pandangan dingin."Sejak kamu menolakku berkali-kali, aku sama sekali sudah tidak memiliki rencana seperti itu, Mas," tegas Savana, suaranya terdengar begitu berjarak. "Tidak untuk saat ini, dan tidak juga di masa depan."Bara terbelalak kaget. "Savana, dengar dulu__""Aku sudah kenyang, Mas. Permisi, aku mau ke kamar," potong Savana cepat.Tanpa menunggu balasan ata
Sore harinya...Savana turun dari bus kota. Ia melangkah perlahan menyusuri trotoar menuju kediamannya, merasakan sisa-sisa kelelahan fisik akibat rutinitas pekerjaan dan gejolak emosi sepanjang hari di rumah sakit. Namun, begitu langkah kakinya menapak di halaman depan, langkah Savana seketika terhenti kaku. Sedan hitam milik Bara sudah terparkir rapi di garasi.Dada Savana mendadak dihinggapi kepanikan halus. Bara sudah pulang jauh lebih cepat dari biasanya. Pikiran buruk langsung melintas di kepalanya; ia membayangkan akan disambut omelan, tatapan dingin, atau teguran keras karena belum menyiapkan makan malam untuk suaminya. Mengingat statusnya yang masih terikat pernikahan dengan Bara, rasa cemas itu muncul secara alami.Dengan napas agak tertahan, Savana mendorong pintu depan dan melangkah masuk.Namun__"Mas Bara?" Savana terkejut dengan keberadaan Bara. Bara yang sedang duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri begitu melihat kehadiran istrinya. Bukannya menampilkan wajah masa
Sentuhan paksa di telapak tangannya seketika memicu gelombang amarah dan kejijikan luar biasa di dalam dada Hanggara. Rahangnya mengeras kaku, manik matanya memancarkan kilat ketajaman yang sanggup membekukan siapa saja. Bagi Hanggara, keputusasaan dan tindak lancang Karin telah melampaui batas toleransinya."Tapi bagiku... kamu sangat menjijikkan, Karin!" desis Hanggara dengan suara bass yang berat, dingin, dan penuh penekanan.Tanpa keraguan sedikit pun, Hanggara menyentak kasar pergelangan tangannya dari cengkeraman Karin. Sentakan bertenaga itu membuat tubuh Karin terhuyung ke samping. Tak memberi kesempatan sedikit pun bagi sang dokter anastesi untuk memulihkan posisinya, Hanggara mengibaskan lengannya, mendorong bahu Karin secara kasar ke arah samping hingga wanita itu menabrak dinding ruangan.Tanpa menoleh lagi, Hanggara menyenggol pintu kayu hingga terbuka lebar dan melangkah keluar meninggalkan Karin yang terpaku shock dengan napas memburu.Pikiran Hanggara berkecamuk hebat.
Savana panik, bibirnya bergetar saat menyahut secara refleks, "Wanita itu bukan aku, Val."Valerie seketika tertawa geli hingga mendongak, lalu menepuk bahu Savana cukup keras. "Aduh, Savana! Siapa juga yang menuduh kamu? Lagian mana mungkin Dokter Hanggara seleranya staf cleaning service kaya kita?" ujar Valerie dengan kekehan renyah yang disambut tawa tipis beberapa OB di sudut ruangan. "Lagipula, waktu kejadian heboh itu kan kamu lagi sibuk beresin gudang penyimpanan di lantai dua."Dahi Savana berkerut halus, ada sengatan terkejut yang melintasi pikirannya. Padahal, waktu itu ia sama sekali tidak berada di gudang; ia sedang bersembunyi dalam dekapan hangat Hanggara di bawah lindungan jas dokternya yang harum."Siapa yang bilang aku sedang ada di gudang?" tanya Savana memastikan, suaranya dipaksa senormal mungkin meski dadanya berdesir cemas."Kata pimpinan cleaning service kita tadi waktu itu di grup koordinasi. Katanya kamu dapat tugas khusus dari jam sepuluh sampai siang di guda







