LOGINBeberapa saat sebelumnya... Hanggara perlahan menegakkan tubuh tegapnya dari posisi berjongkok, bergerak merayap naik menelusuri lekuk tubuh Savana yang gemetar pasrah. Bibirnya mendarat hangat di atas permukaan kulit perut Savana yang rata, menyapukan kecupan-kecupan halus yang meninggalkan jejak panas, sebelum akhirnya naik merambati dada wanita itu.Dengan dominasi yang intens, mulut Hanggara melahap salah satu puncak payudara Savana yang mengeras. Lidahnya menyapu licin, menyesap dan mengulumnya penuh gairah, sementara jemarinya yang bebas meremas lembut kelopak dada sebelahnya. Savana membusungkan dadanya refleks, membiarkan jemarinya meremas kuat bahu kokoh Hanggara seraya meloloskan desahan napas yang makin memburu dan tak berdaya.Setelah memuaskan dahaganya di sana, Hanggara menarik wajahnya naik, menyergap bibir Savana dalam lumat melingkar yang menuntut. Di sela tautan bibir mereka yang kian memanas, tangan Hanggara bergerak cekatan melepas kemeja mewahnya sendiri, melempa
Setelah meninggalkan warung pecel lele pinggir jalan, mobil mewah Hanggara membelah malam yang makin sepi menuju kawasan perumahan tempat Savana tinggal. Keheningan menguasai kabin belakang sedan tersebut, hanya menyisakan deru halus mesin yang menemani perjalanan mereka.Tak berapa lama, mobil Hanggara berhenti tepat di depan gerbang rumah Savana.Savana menoleh pada pria tegap di sampingnya, menguraikan senyum tipis yang memendam ragu. "Dokter Hanggara... saya pamit turun ya?"Hanggara hanya mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. "Mmm. Hati-hati."Savana tertegun sejenak. Dahi mulusnya berkerut tipis menahan keheranan. Biasanya, Hanggara selalu menahannya, mencium bibirnya secara paksa dan dominan sebelum membiarkannya pergi dari jangkauannya. Namun kali ini, pria itu tampak begitu tenang dan acuh tak acuh.Merasa ada yang mengganjal, Savana mencoba sekali lagi seraya menyentuh gagang pintu mobil. "Sa-saya masuk dulu, Dokter."Hanggara tetap diam, sama seka
Bara masih menyusupkan setengah tubuhnya di kolong tempat tidur pasien. Tubuhnya kaku, sementara debu tipis yang beterbangan membuat tenggorokannya gatal tak tertahankan. Sudah berjam-jam ia merayap di lantai dingin, berputar-putar di celah sempit yang menguras tenaga dan meremukkan harga dirinya. Namun, bolpoin kustom edisi terbatas milik Hanggara sama sekali tidak menunjukkan keberadaannya.Bara menarik tubuhnya keluar dengan napas memburu. Jas dokter yang dikenakannya kini kotor berjelaga, kemeja putihnya lusuh, dan dahinya dipenuhi keringat bercampur debu. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang, menatap telapak tangannya yang hitam kotor dengan tatapan putus asa.Jam di dinding sudah menunjukkan larut malam. Tubuhnya lelah luar biasa, sementara rasa jengkel dan hina bergolak di dalam dada."Bangsat! Ke mana sebenarnya bolpoin sialan itu?" gumam Bara parau seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.Dengan sisa tenaga dan gengsi yang kian merosot, Bara merog
Sore harinya....Savana berdiri di halte bus yang sepi, mengusap kedua telapak tangannya untuk mengusir lelah usai menyelesaikan jam kerjanya.Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela bagian belakang perlahan menurun, memperlihatkan figur tegap Hanggara yang duduk santai di kursi penumpang."Masuk," perintah Hanggara singkat tanpa basa-basi.Savana tersentak panik, matanya melirik ke sekeliling khawatir ada staf rumah sakit yang melihat. "Tapi, Dok...""Ini perintah, Savana. Masuk sekarang," potong Hanggara dengan nada suara dingin yang menuntut kepatuhan mutlak.Tak ingin memicu perhatian orang lain, Savana terpaksa patuh. Ia membuka pintu dan duduk di samping sang direktur. Begitu pintu tertutup rapat, mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Hanggara langsung melaju membelah jalanan kota.Savana menoleh cemas pada Hanggara. "Dokter, saya harus langsung pulang. Nanti kalau Mas Bara sampai di rumah lebih dulu__""Dia sedang sibuk berada di kolon
Hanggara beranjak dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya yang tegap dan berbobot mengikis jarak ke arah Karin, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat hingga Dokter cantik itu mendadak kesulitan bernapas. Hanggara mengepalkan jemarinya, mengatupkan rahang keras-keras. Amarah yang membakar dadanya hampir saja membuat pria itu menembakkan kebenaran secara gamblang di hadapan Karin, bahwa wanita yang dituduhnya sebagai pencuri adalah orang yang sama dengan pemilik cincin tersebut.Namun, tepat sebelum kata-kata tajam itu lolos dari bibirnya, Savana memotong cepat dengan nada suara gemetar yang dibuat-buat."Maafkan saya, Dokter! Mohon maafkan saya!" celetuk Savana seraya membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di depan Hanggara dan Karin.Mata Savana menatap Hanggara lekat-lekat, menyalurkan isyarat memohon yang teramat sangat agar direktur rumah sakit itu menahan diri dan tidak membocorkan rahasia mereka.Savana menarik napas panjang, lalu melanjutkan kebohongannya demi menyelamatkan
Bara duduk bersandar di kursi kerjanya di ruang dokter, menghela napas lelah usai menyelesaikan rangkaian operasi yang menguras tenaga. Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk pelan dan seorang perawat melangkah masuk."Dokter Bara, maaf mengganggu. Dokter Hanggara memanggil Anda untuk segera menyusulnya ke ruang rawat pasien nomor 402 di bangsal VIP," ujar perawat tersebut sopan.Bara berkerut dahi, merasa heran. "Ruang 402? Ada masalah apa di sana?""Saya kurang tahu, Dok. Dokter Hanggara hanya berpesan agar Anda segera ke sana," sahut perawat itu sebelum pamit mundur.Meski diliputi kebingungan, Bara tetap berdiri dan merapikan jas dokternya. Ia tidak ingin membuat impresi buruk di depan sang direktur utama. Langkah kakinya membawa Bara menyusuri koridor VIP hingga tiba di depan kamar nomor 402. Begitu mendorong pintu, ia mendapati Hanggara sedang berdiri tegap di samping ranjang pasien yang kebetulan sedang kosong."Selamat siang, Dokter Hanggara. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bara







