Masuk"Tuan... Kita semakin dekat dengan lokasi yang dibagikan Nyonya Raline. Kita akan turun menggunakan Rope Ladder karena saya tidak menemukan tempat pendaratan," ucap sang pilot."Area tersebut terlalu padat oleh pepohonan.""Ya. Lakukan."Saat ini Matthias berada di dalam helikopter bersama beberapa orang dari tim keamanan proyek sementara Ando akan menyusul dengan bala bantuan. Matthias tidak ingin bertindak gegabah sendirian. Dia hanya punya satu nyawa sementara dia sama sekali tidak tahu berapa banyak lawan yang akan ia hadapi. Membawa orang sebanyak mungkin adalah langkah yang menurutnya paling rasional apalagi tubuhnya sedang terluka."Tuan... Anda tidak apa-apa? Biar kami saja yang turun. Anda terluka.""Aku masih bisa menahannya. Persiapkan diri kalian, kita akan mendarat."Mereka semua mengangguk serempak. Dari mulai kaca mata, masker wajah, dan radio khusus atau mikrofon yang menempel di leher untuk menyaring kebisingan suara mesin helikopter.Tangan Matthias mengepal sambi
"A-apa kau bilang?"Matthias bangun terlalu cepat hingga kepalanya langsung berdenyut hebat. Dokter yang baru masuk ke sana segera menghampirinya dan membantunya duduk lagi."Tuan, jangan bangun dulu, luka di tubuh Anda masih..."Matthias mengangkat satu tangannya. Tatapan tajamnya terhenti pada Ando yang gemetar. "Di mana Raline sekarang?" Suara Matthias terdengar rendah sementara Ando hanya mampu menggeleng pelan. "Saya tidak tahu. David hanya menyuruh saya seperti itu, tidak memberitahukan rencana sebenarnya. Saya pun tidak terlalu mengerti kenapa dia menargetkan Nyonya Raline."Tangan Matthias refleks mencengkeram sisi tandu. Sambil menarik napas panjang, dia mendongak sambil berusaha berpikir jernih. "Tuan..." Ando bersuara lagi, kali ini sangat pelan. "Kita harus menyelamatkan Nyonya Raline, David adalah orang yang lebih gila dari yang kita pikirkan. Saya takut Nyonya Raline akan..."Matthias memejamkan matanya. Raline... Raline... Kepalanya dipenuhi oleh wanita itu. Bag
"Kenapa lama sekali sadarnya?""Obat biusnya kebanyakan kali.""Cepat bikin dia sadar, Bos udah mau marah lagi."Mereka menoleh ke belakang, di mana David tengah duduk dengan ekspresi wajah ditekuk. "Mana bisa. Kita harus nunggu. Lihat... Kelopak matanya gerak-gerak."Benar saja, tak lama kemudian kedua mata Raline terbuka. Karena efek bius itu, tubuhnya terasa dua kali lipat lebih dingin dan perutnya mual. Matanya mengerjap pelan sambil mengumpulkan kesadaran karena otaknya mendadak linglung."Di mana ini?" lirihnya. "Bos dia sudah sadar!" teriak seseorang pada David. Dia yang telah menunggu hampir satu jam langsung berdiri sambil membuang dan menginjak rokoknya. Semua orang memberi jalan, membiarkan David berhadapan langsung dengan Raline yang saat ini terikat di sebuah sofa di dalam sebuah gudang nelayan terbengkalai dekat pelabuhan. David menarik dagu Raline lalu mencengkeramnya erat sampai wanita itu merintih kesakitan. "Tak kusangka aku dipermainkan oleh wanita sepertimu.
"Ah, omong-omong siapa nama bapak? Wajah Anda tidak asing." Raline duduk tenang di samping sang supir yang sedari tadi tak menoleh sedikitpun. Wajahnya kaku dan ada atmosfer aneh yang membuat Raline cemas tanpa sebab. "Saya Petrus. Kita memang pernah beberapa kali berpapasan di lokasi proyek." Petrus... Ia hafal beberapa orang dari tim proyek, tapi tak merasa ada nama Petrus dalam ingatannya. "Petrus... Anda bukan dari tim proyek, yah? Apa Anda ditempatkan di tempat lain?" Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. "Ingatan Bu Raline ternyata tajam yah." Petrus tertawa kecil. "Benar. Saya bukan dari tim proyek tapi berasal dari Darmawangsa. Anda mengenal David Wadu? Dia bos saya." Deg. "A-apa?" Alarm bahaya seketika berbunyi di kepalanya. "Jangan terlalu terkejut, Bu Raline. Saya bukan orang jahat." 'Mustahil,' pikir Raline. Firasatnya mengatakan yang sebaliknya. Ia merasa telah masuk ke dalam sebuah jebakan. "Apa yang kau inginkan? Turunkan aku sekarang!"
"Ada apa, Ando? Ekspresimu sepertinya tidak baik."Pria itu terkejut setengah mati ketika Matthias tiba-tiba ada di sampingnya. "A-ah... Tidak. Istriku menelepon, katanya anak pertama kami tiba-tiba demam tinggi."Matthias terdiam sejenak dan mengangguk kecil. Dia lantas berjalan kembali ke lokasi reruntuhan. "Ayo, pergi. Masih banyak yang harus kita bahas.""Ya, Tuan."Tak bisa dipungkiri, dalam hati Pak Ando dia masih memikirkan ucapan David. Ancaman David bukanlah omong kosong belaka. Pria itu benar-benar hidup untuk berbuat jahat. Istrinya... Orang yang dia dambakan setengah mati sampai rasanya mau gila kalau sampai kehilangannya. David bisa melakukan apa saja. Terbukti selama lima belas tahun ini dia terus hidup dalam bayang-bayang perintah pria itu meskipun dia tak masuk dalam kelompok mereka. Ditengah kebingungannya, sebuah pesan masuk. Lagi-lagi dari David, isinya sontak membuat wajah Ando memucat. 'Ya... Saya akan melakukannya.'Balas Ando pada David. Dia lantas mema
Untuk menghindari hal tak terduga, sepanjang hari ini Raline hanya berdiam diri di kamar sambil memeriksa dokumen-dokumen itu. Sesekali dia membalas pesan dari Nando yang mengabarkan tentang kondisi Nina yang sudah dibawa ke rumah sakit dan mendapat pengobatan baik di tubuhnya maupun jiwanya. Matthias sudah mengatakan akan membayar semua pengobatan Nina karena bagaimana pun, yang wanita itu lakukan sungguh membantu. Ketenangan Raline berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi di rumah David. Rumah besar yang biasanya bersih dan tertata rapi kini berubah seperti rumah yang baru saja terkena gempa bumi. "Sebenarnya bagaimana kalian bekerja! Waktu kita tidak banyak, kalau dokumennya sampai ke tangan pria Jerman sialan itu, kalian orang pertama yang akan aku dorong ke neraka."Kedamaian David hanya ilusi. Sepanjang hari dia berusaha menahan dirinya untuk tidak meledak. Semalam, kesabarannya bahkan hampir habis karena menghadapi Raline yang sulit ditebak. "Aku yakin asisten i







