MasukSudut Pandang Trinity:"Mama, aku baik-baik saja. Aku bisa kok," jawabku segera sambil bersiap di depan cermin.Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kantor sejak pulang dari Amestria.Aku akan menepati janjiku kepada Papa, mengambil alih Perusahaan Logistik Baskoro setelah berhasil pulih dari patah hati akibat perlakuan Dante."Mama cuma khawatir, Sayang. Papa juga nggak protes kalau kamu nggak mulai kerja hari ini. Kamu baru saja pulang, tapi sudah langsung mikirin pekerjaan. Kamu bisa santai dulu sama anak-anak. Jangan khawatir soal perusahaan. Papa bisa mengurusnya," kata Mama.Aku tersenyum."Aku tetap bisa santai sama anak-anak meski sambil bekerja. Jangan khawatir, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak enak sama Papa. Dulu aku minta waktu setahun, tapi malah molor jadi tiga tahun gara-gara harus mengurus anak-anak," sahutku sambil tersenyum."Kamu ini ngomong apa? Mama sudah bilang, nggak usah dipikirkan. Papa nggak masalah," kata Mama.Aku menyelesaikan riasanku, lalu men
Sudut Pandang Dante:"Nyonya sudah pulang ke Philvania, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Ruben.Dia satu-satunya saksi atas semua yang telah kulalui selama beberapa tahun terakhir, jadi aku menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku berterima kasih kepadanya karena selalu menjagaku.Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut akibat beberapa malam tidak bisa tidur.Sejak melihat Trinity dan anak-anak kami di bandara, aku tidak bisa tidur. Insomniaku makin parah. Setiap kali memejamkan mata, wajah lembut Trinity terus menghantui pikiranku.Aku membuka mata dan menatap bingkai foto di atas meja. Itu adalah foto Trinity dan anak kembar kami.Ya, aku tahu semua tentang kehidupan Trinity di Amestria berkat saudari tiriku, Dorothy.Dorothy adalah putri ibuku dari pria lain. Aku baru mengetahui keberadaannya belum lama ini. Aku pun senang kami bisa menerima satu sama lain sebagai saudara.Dia satu-satunya saudara perempuanku. Tidak ada alasan bagiku untu
Sudut Pandang Trinity:Setelah menginjakkan kaki di Philvania, kebahagiaan yang sulit dijelaskan langsung memenuhi hatiku.Aku benar-benar merindukan negara ini. Kini, aku tahu aku bisa menghadapi rintangan apa pun. Pengalaman dan anak-anakku telah membuatku menjadi lebih kuat.Saat keluar dari bandara, kami disambut sebuah spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang. Senyumku semakin lebar ketika melihat bukan hanya Mama dan Papa yang menungguku, tetapi juga Felicia dan Orson.Tiba-tiba, aku merasa malu di depan Felicia. Aku meninggalkan tanah air tanpa berpamitan kepadanya. Setiap kali kami berbicara lewat telepon, dia selalu mengungkitnya. Aku bersyukur dia mau menerima penjelasanku dan tak lagi merasa kecewa."Trinity, selamat datang ya," kata Mama sambil bergegas menghampiri untuk memelukku.Air mataku mengalir ketika Papa, Orson, dan Felicia ikut mengerumuni kami.Setelah memeluk Mama, aku berjalan menghampiri Papa. Dia memelukku erat sambil berbisik, "Selamat datang di rumah
Sudut Pandang Trinity:Tiga tahun pun berlalu."Kamu yakin dengan keputusanmu? Nggak ada lagi yang bisa membuatmu berubah pikiran?" tanya Dorothy saat aku sibuk mengemasi barang-barangku.Siang ini, aku akan terbang kembali ke Philvania. Aku masih tidak percaya sudah tiga tahun aku tinggal di negara ini."Ya, Papa dan Mama terus mendesakku. Mereka ingin mengurus cucu-cucu mereka," kataku sambil tersenyum dan melirik kedua anak yang sedang tertidur.Ya, waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku mengetahui bahwa diriku hamil.Aku bersyukur Mama selalu berada di sisiku saat aku berada di titik terendah. Dia menemaniku selama proses persalinan hingga melewati masa depresi setelah melahirkan.Aku juga berterima kasih kepada sahabatku, Dorothy, yang selalu ada untukku. Dia sudah resmi menjadi seorang dokter dan berencana kembali ke Philvania minggu berikutnya untuk mengambil alih rumah sakit milik keluarganya di Vistablanc.Dunia memang sempit. Dorothy juga berasal dari Vistablanc
Sudut Pandang Trinity:Lingkungan baru, kehidupan baru. Itulah yang terlintas dalam pikiranku saat melihat-lihat apartemen tempat tinggalku di Amestria.Aku tersenyum getir. Kalau bukan karena Dante, aku tidak akan pernah terpikir untuk meninggalkan Philvania. Aku sebenarnya lebih memilih tetap tinggal di sana bersama semua orang yang kusayangi. Namun sekarang, aku tahu aku akan hidup sendirian.Aku membereskan barang-barangku sebelum keluar untuk mencari makanan. Aku juga perlu membeli beberapa peralatan dapur. Beberapa hari ke depan pasti akan cukup sibuk.Minggu-minggu pertama di Amestria berjalan lancar. Karena perkuliahan belum dimulai, aku menghabiskan waktu di apartemen dengan menonton film.Setidaknya, itu sedikit membantu mengurangi rasa rinduku kepada Dante dan kedua orang tuaku.Suatu pagi, aku bangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Entah kenapa, tiba-tiba kepalaku pusing dan perutku terasa mual.Aku berlari ke kamar mandi dan berlutut di depan toilet, lalu muntah cuk
Sudut Pandang Dante:"Pergilah. Apa pun yang kamu lakukan, kami nggak akan membiarkanmu kembali bersama putri kami."Aku bisa melihat amarah yang membara di mata Ayah saat dia berbicara. Aku keluar dari kantor itu dengan bahu terkulai. Aku tidak bisa menyalahkannya meski menurutku keputusannya terlalu keras. Semuanya baru saja terjadi, jadi aku tidak akan memaksakan apa pun.Aku akan mengikuti nasihat ibu mertuaku, menemui psikolog terlebih dahulu dan mengatasi masalah pengendalian amarahku. Aku harus berubah, supaya ketika aku dan Trinity bertemu lagi, dia bisa melihat Dante yang berbeda.Aku berjalan dengan lesu menuju lift. Aku sudah menerima kenyataan bahwa semua orang marah kepadaku.Siapa yang tidak akan marah setelah apa yang kulakukan kepada Trinity? Sialan. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku baru menyadari betapa pentingnya dia ketika dia sudah menyerah kepadaku?Ketika pintu lift terbuka, Carlos berjalan ke luar. Aku bisa melihat tatapannya berubah tajam saat melihatku."Eh,







