LOGINSambil menunggu makanan yang kupesan dari restoran, aku memutuskan untuk mampir ke mal dan membeli beberapa hadiah untuk Trinity.Aku tahu dia akan menyukainya. Trinity menyukai tas, jadi aku pergi ke butik mewah dan membeli koleksi termahal mereka, yang kutahu sesuai dengan seleranya. Aku juga mampir ke toko perhiasan dan membeli satu set perhiasan berlian.Harga sama sekali tidak penting bagiku. Yang kuinginkan hanyalah melihat senyum kembali menghiasi wajahnya dan mendapatkan maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan kepadanya.Setelah selesai berbelanja, aku pergi ke toko bunga dan membeli bunga kesukaan Trinity. Setelah semuanya siap, kami mengambil makanan dari restoran lalu pulang. Aku berharap semua ini bisa menjadi awal untuk memperbaiki hubunganku dengan istriku.Aku turun dari mobil dengan penuh semangat begitu kami tiba. Hatiku dipenuhi harapan bahwa suasana hati Trinity akan membaik dan akhirnya dia mau berbicara denganku.Aku sangat merindukannya. Aku merindukan saa
Setelah berbicara dari hati ke hati dengan Ibu, aku langsung pergi ke kondominium tempat Mindy tinggal.Sebenarnya, kondominium itu milikku. Aku hanya mengizinkannya tinggal di sana. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Trinity, jadi aku memaksa diriku meninggalkan semua kebiasaan burukku. Salah satunya adalah menyingkirkan Mindy dari hidupku untuk selamanya.Dalam pernikahanku dengan Trinity, aku mengakui bahwa aku sudah melakukan begitu banyak kesalahan.Aku mulai meragukan diriku sendiri. Mungkin aku mengidap gangguan bipolar. Sulit bagiku untuk menjauh dari wanita. Aku mudah tertarik kepada wanita cantik dan terus-menerus menginginkan seks. Setiap kali tubuhku terbakar oleh hasrat, aku akhirnya tidur dengan siapa pun yang ada di dekatku.Kadang di kantor. Di dalam mobil. Di pantai. Di mana saja.Namun, aku tidak pernah benar-benar merasa puas dengan wanita-wanita itu. Satu-satunya orang yang membuatku bahagia hanyalah Trinity. Itulah sebabnya aku menikahinya.Aku benar-benar men
Sudut Pandang Dante:Tiba-tiba aku merasa seluruh tenagaku seakan terkuras habis saat perlahan menjauh dari Trinity. Aku tidak pernah menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari mulutnya.Dirinya yang dulu sudah tidak ada. Seberapa keras pun aku berusaha mendekatinya, dia terus menjauhkan diriku. Sedalam apa kemarahannya padaku?Aku tahu betapa buruknya perlakuanku kepadanya ketika dia mengalami keguguran, tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa inilah harga yang harus kubayar. Dia benar-benar menjadi dingin kepadaku. Cinta yang dulu selalu kulihat di matanya setiap kali dia menatapku sudah menghilang. Trinity yang dulu sudah tidak ada.Dia sudah sepenuhnya menyerah terhadapku. Dia ingin meninggalkanku. Semua yang kulakukan kepadanya pasti sudah membuat kesabarannya mencapai batas. Sekarang, yang bisa kulihat di matanya hanyalah kemarahan, bahkan mungkin kebencian."Biarkan aku kembali ke Kota Marina dan jangan pernah menggangguku lagi. Ajukan perceraian dan buat seolah-olah ak
"Dante, kenapa kamu malah membelanya? Lihat apa yang dia lakukan pada rambutku! Dia hampir membuatku botak dan dia bahkan masih memegang buktinya!" rengek Mindy sambil memegangi pipinya yang bengkak.Dante tidak menjawab. Sebaliknya, aku merasakan dia meraih tanganku dan dengan lembut mengambil gunting dapur dari genggamanku."Bukannya aku sudah bilang jangan pernah kembali ke rumah ini? Apa yang kamu lakukan di sini? Dan apa yang kamu lakukan pada pipi istriku?" Suara Dante terdengar dingin dan tajam.Aku mengangkat sebelah alis. Jadi, sekarang aku kembali menjadi istrinya? Kukira dia sudah memutuskan ikatan itu sejak aku mengalami keguguran. Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?Namun, aku tidak akan memercayainya. Tidak lagi. Suasana hati Dante berubah-ubah seperti angin dan aku sudah terlalu sering tertipu olehnya."Aku cuma ingin berhubungan baik dengannya," Mindy mulai menjelaskan, tetapi Dante langsung memotongnya dengan bentakan."Cukup. Aku nggak mau dengar alasanmu," bentaknya.
Aku tak kuasa tersenyum ketika dua pelayan menghampiri Mindy yang tergeletak di lantai dan menahan kedua bahunya agar dia tidak bisa bergerak.Mindy yang murka terus meronta, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan dua wanita itu. Dugaanku benar, kesetiaan mereka ada padaku dan majikan mereka.Dalam hati, aku berjanji akan memberikan bonus yang besar kepada mereka berdua. Rekeningku masih dipenuhi uang saku yang terus dikirim Mama dan Papa bahkan setelah aku menikah dengan Dante. Jadi, aku bukan hanya berencana menyenangkan diriku sendiri, tetapi juga akan memastikan kedua pelayan ini mendapatkan imbalan yang pantas."Pegangi dia yang benar. Aku cuma mau ambil gunting," kataku sambil tersenyum lalu berjalan menuju dapur.Aku menemukan gunting dapur dan segera kembali ke ruang makan.Gunting ini bahkan bisa dengan mudah memotong sirip ikan. Rambut Mindy tentu bukan masalah.Ketika kembali ke ruang makan, aku mendengar Mindy berteriak dengan marah sambil mengancam kedua pelayan yang mena
"Juli, apa Dante sudah pergi?" tanyaku saat turun ke lantai bawah.Sudah tepat satu jam sejak pertengkaranku dengan Dante di kamar. Aku perlu makan sesuatu, jadi aku menuju dapur."Dia sudah pergi dari tadi, Nyonya. Dia bahkan nggak makan siang. Sepertinya dia memang membawa makanan itu hanya untuk Nyonya," katanya.Aku mengangguk lalu berjalan menuju ruang makan untuk melihat apa yang dibawa Dante. Meja makan dipenuhi semua makanan kesukaanku.Namun, aku sama sekali tidak berniat memakannya. Kalau mau, aku bisa keluar dan memesan makanan yang sama sendiri."Juli, apa ada makanan siap santap di kulkas?" tanyaku sambil memaksakan senyum.Dia melirik makanan di atas meja yang sama sekali belum tersentuh, tampak jelas kebingungan."Nyonya nggak suka makanan yang dibawa Tuan, Nyonya? Dia bilang semua ini makanan kesukaan Nyonya," katanya.Aku kembali melihat hidangan di atas meja lalu menggelengkan kepala."Nggak. Aku lebih suka makan yang lain. Mi instan juga nggak masalah. Pokoknya janga







