Share

Bab 201

Author: Cathy
"Terima kasih banyak! Aku cuma ingin satu hal, yaitu menjauh dari Dante dan anak buahnya. Mereka bakal bunuh aku kalau ketemu aku dan aku benar-benar ketakutan. Bar itu melarang siapa pun yang melawan mereka. Sejak bibiku menjualku kepada mereka, mereka sudah menguasaiku," kata Trinity dengan tubuh yang masih gemetar.

Mungkin dia benar-benar trauma dengan semua yang telah dialaminya. Aku menggenggam tangannya dan memberinya sebuah senyuman.

"Aku janji, Dante bukan tandinganku. Aku akan melindung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 255

    "Mal ini milik Keluarga Sargio. Aku membawamu ke sini supaya kamu nggak bosan di rumah," jawab Dante sambil mulai berjalan masuk. Aku segera mengikutinya dari belakang."Aku lagi nggak ingin jalan-jalan. Kamu juga tahu aku kabur dari rumah. Mal ini adalah tempat yang selalu didatangi Keluarga Baskoro. Mereka mungkin ada di sini dan bisa saja melihatku," jawabku.Dia berhenti berjalan, lalu berbalik menghadapku."Memangnya kenapa? Kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri apa yang ingin kamu lakukan, 'kan?" jawabnya sebelum merogoh saku jasnya. Dia menyerahkan sesuatu kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung."Gunakan ini. Kata sandinya adalah tanggal ulang tahunmu. Kamu bisa beli apa saja yang kamu mau dengan kartu ini. Aku harus urus sesuatu di kantor, tapi aku akan segera kembali," katanya sebelum berbalik dan pergi. Para pengawalnya langsung mengikuti dari belakang.Pria itu benar-benar aneh. Dia memberiku kartu begitu saja, lalu pergi. Aku harus pergi ke mana? Aku sebenarnya

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 254

    Sudut Pandang Felicia:Aku tidak bisa menahan rasa cemas memikirkan ke mana Dante membawaku hari itu. Dia hanya mengatakan bahwa kami akan pergi ke suatu tempat, tetapi tidak memberitahuku ke mana."Aku boleh tanya sesuatu?" Aku memecah keheningan di antara kami. Dia melirikku sebelum mengangguk."Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Maksudku, kamu 'kan orang yang dulu membeli Trinity. Cerita yang kudengar tentang apa yang kamu lakukan kepadanya benar-benar berbeda dengan caramu memperlakukanku sekarang.""Dulu, kamu hampir membuatnya terbunuh. Sekarang, kamu malah merawatku. Kenapa? Kami sama-sama perempuan, 'kan? Mereka bilang kamu menyukai perempuan," tanyaku dengan berani.Aku melihat keningnya berkerut. Seketika, aku langsung merasa gugup. Dia mungkin akan marah dan tiba-tiba mengusirku dari mobil. Namun, aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku takut padanya.Aku mendengar dia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Karena kamu berbeda dariny

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 253

    Sudut Pandang Orson:Kepalaku berdenyut-denyut, jadi aku memutuskan turun ke ruang makan untuk minum kopi. Seluruh vila masih sepi. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan tanpa ada yang menggangguku."Selamat pagi, Tuan," sapa seorang pelayan ketika aku masuk ke ruang makan. Dia sedang sibuk mengelap sesuatu. Aku hanya mengangguk sebelum duduk di meja."Aku mau kopi. Kopi hitam saja. Tolong buatkan," perintahku.Dia mengangguk, lalu bergegas pergi menyiapkannya.Aku duduk diam sambil menunggu. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa secangkir kopi yang masih mengepul."Apa Tuan ingin makan sesuatu?" tanyanya lagi.Aku meliriknya sebelum menjawab, "Nggak usah. Aku nggak lapar. Ngomong-ngomong, di mana semuanya?"Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan berangkat kerja pagi-pagi. Nona Trinity pergi ke sekolah. Nyonya sedang berada di taman."Aku tidak menjawab. Aku segera berdiri sambil membawa kopi, lalu berjalan keluar dari vila. Aku melihat Mama dan Marceline sedang asyik

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 252

    Aku segera melepas jubah mandiku dan masuk ke bak mandi yang dipenuhi air yang harum.Suhunya pas, jadi aku kembali tersenyum. Aroma lilin aromaterapi membuatku ingin berendam di sana selamanya. Tiba-tiba, perasaan tenang dan aman menyelimutiku.Aku sebenarnya tidak ingin mengakhiri waktu berendamku, tetapi rasa lapar mulai menyerang. Jadi, aku tidak bisa terlalu lama berada di kamar mandi.Aku segera membilas tubuh menggunakan pancuran air. Setelah itu, aku mengeringkan tubuh dengan handuk lembut yang harum, sebelum kembali mengenakan jubah mandi. Aku juga mengeringkan rambut sebelum buru-buru keluar dari kamar mandi.Aku mengambil gaun tadi dan langsung mengenakannya. Panjangnya sedikit melewati lutut dan ukurannya benar-benar pas. Dugaanku tadi benar. Pakaian yang dibelikan Dante sesuai dengan ukuranku.Aku berputar di depan cermin meja rias sebelum mengambil sandal jepit yang kulihat di salah satu paper bag.Tepat ketika hendak keluar dari kamar, aku mendengar ketukan pelan di pint

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 251

    Sudut Pandang Felicia:Aku masih tertidur lelap ketika mendengar pintu kamarku terbuka dan seseorang memanggil namaku dengan lembut.Awalnya aku hendak mengabaikannya, tetapi kemudian aku tiba-tiba teringat bahwa aku bukan sedang berada di rumah tempatku dibesarkan. Aku langsung terbangun dan melihat seseorang berjalan mendekat sebelum menepuk bahuku dengan lembut."Nona, selamat pagi. Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.Aku berbalik dan melihat wajah Lorey yang dipenuhi kekhawatiran."Aku baik-baik saja. Kamu hanya membuatku kaget," jawabku sambil menguap. Aku refleks melirik jam di meja samping tempat tidur dan terkejut melihat waktu sudah hampir pukul 9 pagi. Aku benar-benar tidur seperti babi di kamar milik orang asing.Mungkin karena beberapa hari terakhir aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sejak aku menyerahkan keperawananku kepada Orson pada ulang tahunku yang ke-18, aku tidak pernah bisa beristirahat dengan baik. Semalam adalah pertama kalinya aku benar-be

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 250

    "Cukup, Ryan. Kenapa kamu nggak bisa berhenti bersikap kasar? Apa kamu nggak lihat betapa terlukanya putramu?" teriak Mama dengan marah.Aku kembali tersenyum getir sambil mengusap darah dari hidungku. Aku berdiri dan kembali berbicara."Baiklah, Pa. Aku ini putramu, 'kan? Jadi lakukan apa pun yang kamu mau. Bunuh aku sekarang. Aku sudah lelah menjalani hidup seperti ini," kataku dengan suara yang dipenuhi amarah.Tatapan Papa semakin tajam. Mama menahannya dengan sekuat tenaga ketika dia kembali menerjang ke arahku."Orson, kumohon. Cukup. Kembalilah ke kamarmu. Kita akan bicara lagi setelah kamu sadar," teriak Mama dengan panik."Jangan khawatir, Ma. Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuat Papa bahagia. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau kepadaku. Aku putranya. Dia bisa membunuhku sekarang kalau itu yang dia inginkan," jawabku.Amarah Papa semakin memuncak. Aku berjalan ke arahnya tepat ketika dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Mama. Aku merasakan tinjunya mengha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status