MasukInilah yang tidak kuinginkan terjadi. Aku begitu lemah kalau berhadapan dengan Orson. Kenapa ciumannya terasa begitu nikmat?Itulah hal pertama yang kusadari ketika bibir kami saling menempel. Seharusnya aku meronta dan melawannya, tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Kenapa rasanya seluruh tenagaku menghilang?Alih-alih mendorongnya menjauh, kenapa bibirku justru mengikuti setiap gerakannya? Kenapa tanpa sadar aku malah membalas ciumannya?"Uhhh ...." Aku tak kuasa mengerang ketika merasakan telapak tangannya perlahan merayap naik ke dadaku. Aku sampai lupa kalau kami sedang berada di dalam mobilnya. Akan sangat memalukan kalau ada orang yang melihat apa yang sedang kami lakukan."Sekarang katakan padaku ... kenapa kamu nggak bisa belajar mencintaiku?" kata Orson.Aku begitu hanyut sampai tidak menyadari ciuman kami ternyata sudah berakhir. Rasanya aku ingin menjambak rambutku sendiri karena dia memergokiku masih memejamkan mata.Ketika membuka mata, jarak wajah kami begitu dek
"Aku nggak mengganggunya dan aku juga nggak peduli dengan Dante. Pergi saja dulu karena aku mau bicara dengan bos kalian," sela Orson dengan kesal.Dia meninggikan suara dan bersikap kasar. Kalau aku tidak segera menghentikannya, para pengawalku bisa saja menghajarnya. Tubuh mereka besar-besar dan kekar."Mundur dulu. Aku bisa mengatasi ini sendiri dan Orson nggak akan menyakitiku," kataku.Aku melihat mereka ragu sebelum akhirnya mundur. Aku mengembuskan napas panjang lalu kembali menatap Orson. "Apa yang kamu mau? Kenapa kamu keras kepala sekali?" tanyaku kesal.Tatapannya langsung melembut dan lututku mendadak terasa lemas karena perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam diriku."Kita bicara. Kumohon, hanya kita berdua, tanpa ada yang mengganggu," jawabnya."Orson, berapa kali aku harus bilang kalau nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan? Apa pun yang pernah terjadi di antara kita, lupakan saja. Aku nggak mau seperti ini. Aku ingin hidup dengan tenang."Aku langsung melihat waj
Sudut Pandang Felicia:Saat berbicara dengan Orson, aku merasa air mataku hampir jatuh. Kenapa begitu sulit menatap pria yang kamu cintai? Kukira aku sudah berhasil melupakannya, tapi ternyata belum.Untungnya, dia tidak mengikutiku ketika aku berbalik meninggalkannya. Aku berhasil menahan diri agar tidak menangis di hadapannya karena kalau aku kembali menyerah pada perasaanku, pada akhirnya akulah yang akan kalah.Tanpa menoleh lagi, aku langsung menuju kantor Dante. Hari ini bahkan belum berakhir, tapi aku sudah merasa benar-benar kehabisan tenaga. Hatiku begitu lelah dan aku hanya ingin mengurung diri di kamar lalu menangis sepuasnya."Dante masih belum datang?" tanyaku kepada sekretarisnya ketika kembali ke kantor."Belum, Bu," jawabnya.Aku mengembuskan napas pelan lalu melirik jam tangan. Sudah hampir pukul satu siang dan dia masih belum datang? Memangnya sesibuk apa Dante sampai tidak bisa datang menemuiku?Aku menunggu hampir satu jam, tapi Dante masih belum muncul. Dengan kesa
"Lepaskan aku, Orson. Sekarang sudah nggak ada hubungan apa pun lagi di antara kita, jadi kumohon, jangan ganggu aku lagi," pinta Felicia dengan nada penuh kekesalan.Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Felicia."Apa katamu? Felicia, kamu sadar dengan ucapanmu sendiri? Kamu mau memutuskan semua hubungan dengan keluarga kami?" tanyaku.Aku langsung melihat kebingungan di wajah cantiknya. Dia mengerjapkan mata, lalu berusaha melepaskan diri, jadi aku melepaskan genggamanku dari lengannya."Orson, apa pun yang pernah terjadi di antara kita dulu, lupakan saja. Seharusnya semua itu memang nggak pernah terjadi. Aku ingin melanjutkan hidup dan melupakan semuanya," katanya.Aku tidak mampu menjawab. Kata-katanya terasa seperti pukulan bertubi-tubi yang menghantamku."Katakan padaku, apa kamu benar-benar nggak pernah belajar mencintaiku, Felicia? Apa semuanya nggak berarti bagimu? Semua yang pernah terjadi di antara kita?"Aku tidak pernah menyangka bahkan sampai sekar
Sudut Pandang Orson:Siapa sebenarnya pria berengsek itu bagi Felicia? Kenapa dia bersama pria itu, bukannya Dante? Apa ada sesuatu yang belum kuketahui?Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalaku, tapi aku bahkan tidak bisa mengutarakannya.Felicia duduk tepat di sebelahku dan makan dengan tenang. Namun, dia sudah tidak seperti dulu lagi. Felicia yang ceria dan suka melawan sudah tidak terlihat. Sekarang dia bersikap begitu formal di hadapanku dan itu justru membuat hatiku semakin sakit.Aku mati-matian menahan diri agar tidak memeluknya dan memohon supaya dia tidak meninggalkanku lagi. Aku siap memperjuangkannya melawan apa pun.Namun, aku takut mendengarnya kembali mengatakan bahwa dia tidak menginginkanku. Bahwa dia tidak pernah mencintaiku sebagai pria yang ingin dia jadikan pasangan hidup."Setelah selesai makan, kita bicara sebentar, ya?" tanyaku lagi.Kami tidak boleh berpisah sekarang sebelum semuanya menjadi jelas. Dia sudah berada dalam jangkauanku dan aku tidak mau meny
Sudut Pandang Felicia:Devon menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan, tapi Orson tidak menyambutnya. Untungnya, Devon tidak mempermasalahkannya dan hanya menarik kembali tangannya perlahan."Jadi, kamu memang ada di sini? Kenapa kamu nggak menemui kami?" tanya Orson.Sejak tiba di meja kami, seluruh perhatiannya terus tertuju padaku. Aku hanya semakin menundukkan kepala."Kurasa kita sebaiknya makan dulu. Setelah selesai makan, baru kita mengobrol," kata Marceline.Aku meliriknya dengan canggung sambil berusaha memusatkan perhatian pada makanan di atas meja.Aku semakin terkejut ketika Orson duduk di sebelahku. Padahal ada kursi kosong lain di samping Marceline, tapi dia justru memilih duduk tepat di sebelahku. Jantungku langsung berdebar semakin kencang karena gugup."Kamu mau makan apa, Bu Felicia?" tanya Devon padaku.Aku tak bisa menahan diri untuk memejamkan mata. Kenapa dia harus begitu formal? Panggil saja aku Felicia."Apa saja. Aku nggak pilih-pilih makanan," jawabku.De







