Share

Bab 394

Author: Cathy
Sudut Pandang Trinity:

Aku sedang berbicara dengan Carlos melalui telepon ketika Dante tiba-tiba menerobos masuk ke kamar.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia merebut ponsel dari tanganku lalu melemparkannya ke seberang kamar. Aku langsung diliputi ketakutan ketika melihat amarah yang membara di matanya.

Kami sempat saling melontarkan kata-kata kasar sebelum dia mendorongku dengan paksa ke atas tempat tidur. Ketakutan dalam diriku semakin besar, tetapi aku memaksa diriku untuk tetap berani. Aku bur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 397

    Sudut Pandang Dante:"Tuan, Nyonya masih belum pulang," lapor salah satu staf saat aku turun dari mobil. Itu adalah kabar buruk yang tidak tahu bagaimana harus kuhadapi.Setelah beberapa kali rapat di pagi hari, aku terus disibukkan oleh pekerjaan di kantor. Rencanaku untuk pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama Trinity pun tidak terlaksana.Pagi tadi, aku meninggalkannya dalam keadaan tertidur lelap. Aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa dia berencana pergi. Dia terlihat benar-benar kelelahan setelah malam kami bersama.Aku pulang dengan perasaan senang, tetapi yang kudengar justru kabar buruk. Trinity sudah pergi dan belum juga pulang."Maksudmu dia belum pulang? Dia pergi ke mana?" tanyaku, mulai panik.Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa takut. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?Tidak mungkin dia meninggalkanku untuk selamanya. Hubungan kami baik-baik saja semalam. Aku bisa merasakan dirinya menyerah kepadaku saat aku terus menguasai tubuhnya."N

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 396

    Sudut Pandang Trinity:Aku terbangun tanpa Dante di sampingku. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur, dan perhatianku pun tertuju pada buket bunga cantik yang diletakkan di nakas. Ada secarik catatan di sampingnya. Aku mengambilnya dan membacanya.[ Untuk istriku yang cantik, terima kasih banyak. Aku mencintaimu. ][ Dengan penuh cinta, Dante. ]Pesannya sederhana, tetapi berhasil menyentuh hatiku. Aku tersenyum sedih sambil perlahan turun dari kasur.Apa yang terjadi antara aku dan Dante semalam memang indah, tetapi aku merasa mungkin hanya itu yang akan tersisa. Aku akan membawa kenangan itu bersamaku ke mana pun aku pergi.Aku segera menuju kamar mandi, mengabaikan rasa pegal di sekujur tubuhku. Aku harus cepat. Aku tidak ingin Dante melihatku masih berada di rumah. Aku harus pergi.Setelah mandi, aku berganti pakaian santai. Celana jin, kaus longgar, dan sepatu karet. Aku merias wajah sedikit dan memakai lipstik, lalu mengambil ransel kecil dan memasukkan barang-barang penting sep

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 395

    Setelah momen penuh gairah antara aku dan Dante, dia langsung tertidur. Mungkin karena pengaruh alkohol, dia tidak menyadari ketika aku perlahan mengangkat lengannya yang memelukku lalu bangun dan duduk.Aku melirik jam di meja samping tempat tidur. Sudah hampir pukul sebelas malam. Aku bangkit, berjalan menuju sofa, lalu meraih laptopku. Aku mengetik sesuatu dengan cepat, mematikannya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.Ketika keluar, aku mendengar dengkuran pelan Dante. Aku berbaring di sampingnya lalu memeluknya.Aku memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang masih kumiliki bersamanya. Hanya untuk saat ini, aku ingin menyimpan beberapa kenangan bahagia dalam pelukannya.Aku bahkan tidak sadar kapan tertidur. Aku terbangun karena merasakan sensasi aneh di antara kedua kakiku. Tubuhku kembali telanjang dan aku melihat wajah Dante yang tersenyum tepat di atasku."Kamu sedang apa? Sekarang jam berapa?" tanyaku terkejut.Kedua kakiku terbuka lebar dan aku me

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 394

    Sudut Pandang Trinity:Aku sedang berbicara dengan Carlos melalui telepon ketika Dante tiba-tiba menerobos masuk ke kamar.Sebelum aku sempat bereaksi, dia merebut ponsel dari tanganku lalu melemparkannya ke seberang kamar. Aku langsung diliputi ketakutan ketika melihat amarah yang membara di matanya.Kami sempat saling melontarkan kata-kata kasar sebelum dia mendorongku dengan paksa ke atas tempat tidur. Ketakutan dalam diriku semakin besar, tetapi aku memaksa diriku untuk tetap berani. Aku buru-buru bangkit lalu menjauh darinya.Aku tidak tahu apa yang mungkin dia lakukan selanjutnya. Aku harus bersiap untuk membela diri. Aku tidak akan membiarkannya menginjak-injak harga diriku lagi."Apa masalahmu?" bentakku meskipun jantungku berdebar kencang karena takut.Aku tahu dia baru saja minum. Matanya merah dan aroma alkohol tercium dari tubuhnya."Apa masalahku? Kamu masih perlu bertanya? Setelah kamu berbicara dengan pria lain di kamar kita, sekarang kamu malah bertanya apa masalahku?"

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 393

    Sudut Pandang Dante:Aku tidak bisa menahan diri untuk mengepalkan kedua tangan saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Trinity.Perkataannya menghantam tepat di bagian yang paling menyakitkan. Seandainya aku tidak menyakitinya, semua ini tidak akan terjadi. Seandainya aku tidak berselingkuh, kami tidak akan berada dalam situasi seperti ini.Aku ingin berteriak karena rasa sakit yang mengoyak dadaku. Ini pertama kalinya seorang wanita menolakku. Hanya Trinity yang pernah melakukan itu.Apa lagi yang bisa kulakukan agar dia memaafkanku? Aku sudah mencoba segalanya, tetapi jarak di antara kami justru semakin lebar.Setiap kali aku berusaha mendekat, dia semakin menjauh. Dia membuatku merasa seperti seorang suami yang tidak berguna.Kami memang makan bersama, tetapi aku bisa merasakan sikap dinginnya kepadaku. Aku merasa seolah-olah diriku sudah tidak berarti lagi baginya.Dia sudah banyak berubah. Dulu, kami bahkan hampir selalu saling menyuapi saat makan. Meskipun ada pelayan di

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 392

    Ketika aku dan Dante memasuki ruang makan, aku terkejut melihat begitu banyak makanan yang memenuhi meja."Ada acara apa?" Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya sambil mengamati hidangan yang tersaji di hadapanku. Hanya dengan mencium aromanya, perutku semakin keras berbunyi."Kamu nggak makan makanan yang kubawakan tadi, jadi kupikir aku akan membeli sedikit dari setiap jenis makanan," katanya.Suasana hatinya tampaknya sudah kembali normal sekarang, seolah-olah pertengkaran kami sebelumnya tidak pernah terjadi. Dia bahkan menarik kursi untukku dan aku membiarkannya.Hanya karena kami makan bersama bukan berarti kami sudah berdamai. Aku sudah membuat keputusan dan akan tetap berpegang teguh pada keputusan itu. Tidak ada yang akan berubah."Kuharap kamu menyukainya. Tubuhmu semakin kurus, jadi kamu harus makan yang banyak," katanya sambil memenuhi piringku dengan makanan.Aku membiarkannya. Semua hidangan di meja terlihat menggiurkan, dan aku tahu aku akan menikmatinya. Lagi pula,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status