Share

Bab 422

Author: Cathy
Aku membuat dua cangkir kopi, satu untuk Dante dan satu lagi untukku. Setelah memastikan rasanya sudah pas, aku segera kembali menghampirinya sambil membawa kedua cangkir itu.

"Ini kopimu," ujarku seraya meletakkan secangkir kopi panas di hadapannya. Aku melihat senyum bahagia terukir di bibirnya sebelum dia mendekatkan wajah untuk menghirup aroma kopi yang mengepul. Dia menyesapnya sedikit.

"Sempurna. Kopi buatanmu selalu enak, Trinity. Nggak pernah mengecewakan," pujinya sambil tersenyum.

Itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 425

    Malam begitu sunyi, meski sebenarnya hari sudah menjelang pagi ketika Dante akhirnya berhenti. Aku berbaring sambil melamun, berusaha memahami kebodohanku sendiri.Aku kembali menyerahkan diriku kepada Dante. Dia bahkan bercinta denganku berkali-kali sebelum akhirnya kelelahan dan tertidur di sampingku dengan wajah bahagia.Dia langsung terlelap, tetapi bagaimana denganku? Meski tubuhku kelelahan, aku sama sekali tidak mengantuk. Entah kenapa aku hanya terus melamun. Rasanya membuat frustrasi.Bisa kembali bersamanya memang terasa luar biasa karena aku mencintai Dante. Namun, aku tidak tahu apa konsekuensi dari kelemahanku ini nantinya.Seluruh tubuhku terasa lelah. Tubuhku pegal-pegal dan pinggangku terasa nyeri.Memalukan sekali. Apa aku masih punya muka untuk bertemu orang tuaku? Atau orang-orang yang mengenalku?Berkali-kali aku berjanji kepada diri sendiri bahwa aku tidak akan kembali bersama Dante, tetapi pada akhirnya hal ini tetap terjadi. Hanya dengan satu sentuhan darinya, ak

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 424

    "Emmhh, Dan ...." Aku tak kuasa menahan desahan saat Dante bergantian memainkan kedua putingku. Dia seakan tidak pernah bosan, seperti bayi kehausan yang mengisap kedua puncaknya secara bergantian."Ya, desahkan namaku, Sayang," katanya seraya menyelipkan tangan ke dalam celana piyamaku.Aku tahu apa yang ingin dia lakukan, jadi aku segera mencengkeram pergelangan tangannya dan menatap matanya."Jangan di sini. Nanti ada yang melihat kita. Memalukan," kataku.Apa yang dia lakukan benar-benar membuatku kehilangan kendali dan aku ingin melanjutkannya. Malam ini, aku ingin merasakan dirinya di dalam tubuhku. Aku ingin bersamanya, meski hanya sesaat.Dia langsung mengerti dan menurunkan kembali blusku. Dia melihat sekeliling sambil tersenyum."Aku mengerti. Maaf, tadi aku sampai lupa diri. Ayo kita pergi ke tempat yang nggak akan terlihat oleh siapa pun," katanya sambil menggendongku.Aku tidak menolak. Aku melingkarkan kedua tangan di lehernya saat dia berjalan menuju mansion.Aku lega ka

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 423

    "Tunggu sebentar. Sudah malam. Aku mau tidur," kataku sambil melepaskan diri dari Dante.Aku benar-benar lemah. Aku hampir saja menyerah padanya. Kalau tadi aku tidak segera menjauh, entah ke mana percakapan kami akan berlanjut.Kami benar-benar tidak seharusnya melakukan ini. Aku tidak ingin mengingkari semua janji yang pernah kubuat kepada diriku sendiri. Kalau bisa, aku tidak ingin kembali bersamanya karena takut terluka lagi."Tolong, tetaplah di sini. Ini masih belum terlalu malam. Aku masih ingin bersamamu," katanya cepat seraya meraih tanganku.Aku tidak sempat pergi karena dia menarikku kembali dan mendudukkanku di pangkuannya.Jantungku berdegup semakin kencang, terutama saat Dante menyandarkan pipinya di bahuku. Sensasi menggelitik menjalari tubuhku ketika napas hangatnya menerpa kulitku."Tetaplah di sini. Sekali ini saja. Sebentar saja. Biarkan aku bersamamu seperti ini," katanya.Aku menelan ludah. Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa rasanya dia mulai menggunakan cara-cara

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 422

    Aku membuat dua cangkir kopi, satu untuk Dante dan satu lagi untukku. Setelah memastikan rasanya sudah pas, aku segera kembali menghampirinya sambil membawa kedua cangkir itu."Ini kopimu," ujarku seraya meletakkan secangkir kopi panas di hadapannya. Aku melihat senyum bahagia terukir di bibirnya sebelum dia mendekatkan wajah untuk menghirup aroma kopi yang mengepul. Dia menyesapnya sedikit."Sempurna. Kopi buatanmu selalu enak, Trinity. Nggak pernah mengecewakan," pujinya sambil tersenyum.Itu hanya pujian sederhana, tetapi rasanya aku seperti melayang di atas awan. Hatiku dipenuhi kebahagiaan. Aku benar-benar lemah terhadapnya."Aku senang kamu menyukainya," jawabku.Saat aku hendak duduk di seberang meja, dia kembali berbicara."Kurasa lebih enak minum kopi di taman, gimana menurutmu? Mau temani aku?" ajaknya sambil tersenyum. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerima ajakannya.Aku mengajak Dante menuju gazebo. Tempat itu memang nyaman untuk duduk pada malam hari. Pencahayaanny

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 421

    Sudut Pandang Trinity:"Nyonya, sudah waktunya makan malam," ujar seorang asisten rumah tangga begitu aku membukakan pintu untuknya. Aku sampai tidak menyadari waktu karena tadi sempat tertidur."Oke, aku akan segera ke sana," jawabku, lalu segera menutup pintu untuk bersiap-siap.Aku melirik jam dan terkejut saat melihat hari sudah hampir pukul sembilan malam. Ternyata sudah waktunya makan malam.Aku tidak kembali ke kamar bayi setelah memberi tahu Dante bahwa aku hendak berganti pakaian. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa mengantuk. Jadi, setelah berganti pakaian, aku berbaring di tempat tidur dan langsung tertidur.Aku segera merapikan diri. Di rumah ini ada aturan bahwa semua orang harus berpenampilan rapi saat berada di meja makan. Mama Abigail selalu bilang bahwa tidak semua orang mampu makan tiga kali sehari, jadi kami harus menghargai makanan yang tersaji di hadapan kami.Setelah penampilanku cukup rapi, aku turun menuju ruang makan. Aku terkejut melihat Dante sedang mengobrol

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 420

    Aku tidak bisa menahan rasa gugup ketika senyum perlahan terukir di bibir Ryan. Entah kenapa, senyum itu terasa penuh arti dan membuatku gelisah.Sepertinya ketakutan terbesarku akan menjadi kenyataan. Mungkin dia akan melarangku mendekati putrinya lagi."Dante, sepertinya kamu sudah banyak berubah. Aku bisa melihatnya dari matamu," katanya sambil tersenyum.Aku tidak mampu menjawab."Iya, Carlos memang sudah meminta izin padaku untuk mendekati Trinity. Aku ayahnya, tapi aku nggak bisa mencampuri keputusan putriku. Aku nggak mau menjadi penghalang dalam urusan perasaannya. Siapa pun yang dia cintai, kami nggak akan menentangnya," kata Ryan.Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar ucapannya.Bagaimana kalau Trinity jatuh cinta kepada Carlos? Lalu bagaimana denganku? Apa aku sanggup menahan pahitnya patah hati seperti itu? Tuhan, mungkin aku tidak akan sanggup."Aku mengakui kalau aku bukan orang yang sempurna. Di usiamu dulu, aku juga melakukan banyak kesalahan. Aku berusaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status