LOGINSetelah kehilangan orang tuanya, menikah demi membalas budi, dan diceraikan setelah melahirkan putrinya. Dalam keadaan tanpa rumah, tanpa pekerjaan, dan hanya membawa bayi kecilnya, Elara menerima satu-satunya pekerjaan yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya—menjadi ibu susu bagi seorang bayi laki-laki dari keluarga Beaumont, salah satu keluarga kaya dan berpengaruh di Inggris. Di sana, Elara bertemu Adrian Lucien Beaumont, ayah dari bayi yang harus ia rawat. Awalnya, hubungan mereka hanyalah antara seorang ibu susu dan seorang ayah. Namun tinggal di bawah satu atap membuat batas-batas itu perlahan berubah. Di antara dua anak yang mulai tumbuh bersama, masa lalu yang kembali menghantui, keluarga yang memiliki kepentingan sendiri, dan cinta yang tidak pernah mereka rencanakan, Elara dan Adrian harus menemukan jawaban atas satu pertanyaan: Bisakah dua orang yang sama-sama tidak mencari cinta justru menemukan keluarga yang selama ini mereka butuhkan?
View More"Nona, Anda tidak apa-apa?"
Mona segera menopang tubuh Elara yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan. "Aku tidak apa-apa." Elara menarik napas pelan. Satu tangannya berpegangan pada lengan Mona, sementara tangan lainnya mengusap bagian bawah perutnya yang sudah sangat besar. Sembilan bulan. Ia sudah berada di penghujung kehamilannya. "Anda terlihat pucat, Nona. Sebaiknya duduk dulu." "Aku hanya sedikit pusing." "Justru karena itu." Mona menuntunnya menuju sofa di ruang tamu dan membantu Elara duduk dengan hati-hati. Elara menyandarkan punggungnya. Rumah itu terasa begitu sunyi pagi ini. Ia menoleh ke sekeliling. "Ke mana semua orang, Mona?" "Tuan dan Nyonya Besar pergi pagi-pagi sekali. Sepertinya ada urusan." Elara mengangguk. "Kalau Tuan Marcus..." "Aku tahu." Mona terdiam. Elara menatap lurus ke depan. "Dia tidak pulang." Tidak ada nada kecewa dalam suaranya. Seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. Mona akhirnya hanya menghela napas. "Anda sebaiknya kembali ke kamar dan beristirahat, Nona. Jangan terlalu banyak berjalan. Kandungan Anda sudah sembilan bulan. Bayinya bisa lahir kapan saja." "Aku baik-baik saja, Mona." "Nona..." Elara tersenyum kecil. "Jangan terlalu khawatir." Mona tampaknya masih belum puas dengan jawabannya. Namun, sebelum kembali berbicara, pandangannya jatuh pada meja makan yang masih kosong. "Anda belum sarapan, kan?" Elara tidak menjawab. Mona langsung tahu jawabannya. "Tadi saya membuat sandwich dengan isian daging." Ia berdiri. "Saya ambilkan untuk Anda." "Mona, tidak perlu repot." "Tidak repot, Nona." Mona segera berjalan menuju dapur. Selagi rumah sedang sepi, ia mengambil dua potong sandwich yang sengaja disisakannya untuk Elara. Ia juga mengambil segelas susu sebelum kembali ke ruang tamu. "Silakan." Mona meletakkan makanan itu di meja. Elara menatap sandwich di hadapannya. "Terima kasih." Ia mengambil satu potong dan mulai makan. Rasa lapar yang sejak tadi diabaikannya baru terasa setelah makanan berada di hadapannya. Mona kemudian berjongkok di depan Elara dan memijat kakinya perlahan. "Mona, tidak perlu." "Tidak apa-apa." "Kau masih punya banyak pekerjaan." "Pekerjaan bisa menunggu." Mona tersenyum. "Anda pasti lelah." Elara tidak lagi membantah. Ia membiarkan Mona memijat kakinya sambil melanjutkan sarapan. Namun, pandangan Elara perlahan berubah sendu. Di rumah sebesar ini, tidak banyak orang yang benar-benar memperhatikannya. Mona adalah salah satunya. Sarah juga. Mereka mungkin hanya pelayan, tetapi justru merekalah yang paling sering memastikan Elara makan, beristirahat, dan merasa baik-baik saja. "Setelah melahirkan, Anda harus pergi dari rumah ini, Nona." Ucapan Mona membuat tangan Elara berhenti sesaat. Ia menundukkan pandangan. "Bukankah aku memang akan keluar dari rumah ini?" Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak pula terkejut. Seolah ia sudah mempersiapkan dirinya untuk hari itu sejak lama. Tangannya perlahan mengusap perutnya. "Kalau anak ini perempuan..." Elara berhenti. Senyumnya menghilang. "Mereka pasti tidak akan membutuhkanku lagi." Mona menatapnya. "Nona..." "Aku tidak menyalahkan mereka." Elara berusaha tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. "Mereka memang punya alasan sendiri." Satu tetes air mata jatuh di pipinya. "Yang aku takutkan hanya satu." Elara mengusap air matanya. "Kalau aku benar-benar pergi dari sini, aku harus ke mana?" Mona terdiam. Elara menatap perutnya. "Aku tidak punya rumah." Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih pelan. "Satu-satunya rumah yang pernah kumiliki sudah tidak ada." Mona menggenggam tangan Elara. "Rumah itu dijual oleh mereka tanpa sepengetahuanku." Elara tertawa kecil, getir. "Aku bahkan tidak tahu apa-apa." Ia menarik napas. "Dulu mereka bilang akan merawatku." Tatapannya kosong, seolah pikirannya kembali pada masa lalu. "Mereka mengatakannya di hadapan polisi." Elara mengusap perutnya kembali. "Saat itu aku percaya." Ia terdiam beberapa saat. "Mungkin aku memang terlalu polos." "Ini bukan salah Anda, Nona." Mona berkata lembut. "Anda masih terlalu kecil saat itu." Elara tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. "Menyesal pun tidak akan mengubah apa pun." Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, Elara mengambil sandwich yang tersisa dan melanjutkan makan. Mona berdiri. "Saya akan membawa ini ke dapur." Ia mengambil piring dan gelas yang telah kosong. Ketika sampai di dapur, seorang pelayan wanita bernama Sarah baru saja keluar dari ruang penyimpanan. "Nona Elara sudah makan?" "Sudah," jawab Mona. "Baru saja." Sarah mengangguk lega. ***** Elara keluar dari kamar setelah beristirahat dan tidur siang. Rumah masih sepi. Mertuanya belum kembali. Ia berjalan perlahan menuju dapur dan mendapati Mona serta Sarah sedang menyiapkan makan siang. "Mereka belum pulang?" tanya Elara. "Belum, Nona," jawab Sarah. "Nona, duduklah. Sebentar lagi makan siangnya siap." Elara mengangguk dan duduk di kursi meja makan. Ia memandang sekeliling. Sudah lama ia tidak merasakan suasana rumah setenang ini. Tidak ada suara teguran. Tidak ada pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah. Tidak ada tatapan yang membuatnya merasa harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Bahkan jika aktivitasnya dipantau melalui CCTV, Elara tidak terlalu memikirkannya. Petugas keamanan yang berjaga pun tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Mereka hanya mengawasi rumah dari balik layar. Tidak lebih. "Syukurlah mereka belum pulang juga," celetuk Sarah. Mona meliriknya. "Sarah." "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Sarah kembali mengaduk masakannya. "Aku harap mereka pulang besok." Mona menghela napas. "Jangan bicara begitu." Namun, ekspresi Mona mengatakan hal yang berbeda. Ia pun menginginkan rumah itu tetap tenang selama mungkin. Tak lama kemudian, makan siang selesai. Mona menyajikan makanan di hadapan Elara. "Terima kasih." Elara tersenyum kecil. "Kalian tidak makan?" "Kami sudah makan," jawab Sarah. Elara mengangguk. Ia mulai makan dengan tenang. Tidak ada yang menyuruhnya terburu-buru. Tidak ada yang mengomentari makanan di piringnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, makan siang terasa begitu sederhana. Dan menyenangkan.Keesokan paginya, seorang perawat datang bersamaan dengan petugas rumah sakit yang membawa sarapan.Namun, Elara tidak ada di tempat tidurnya.Yang ada hanya bayinya yang sedang tertidur pulas di dalam tempat tidur bayi transparan.Petugas rumah sakit meletakkan nampan sarapan di atas nakas.Sementara itu, perawat langsung menghampiri bayi Elara untuk mengecek kondisinya.Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.Elara keluar.Ia menutup pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu berjalan sedikit demi sedikit menuju tempat tidurnya.Perawat menoleh kepadanya.“Bagaimana keadaan Anda pagi ini?”“Jauh lebih baik. Hanya masih terasa nyeri.”Elara kemudian duduk di tepi tempat tidur sebelum perlahan menaikkan kedua kakinya ke atas kasur.“Itu masih wajar,” jawab perawat. “Anda baru tiga hari menjalani operasi Caesar. Rasa nyeri atau tidak nyaman bisa bertahan selama beberapa minggu dan biasanya akan berangsur-angsur berkurang.”Elara mengangguk.Ia kemudian berbaring, sementara pera
Sudah dua hari Elara berada di rumah sakit.Dan selama dua hari itu pula, tidak ada satu pun anggota keluarga Ellington yang datang untuk melihat keadaannya ataupun putrinya.Tidak ada Diana.Tidak ada Richard.Bahkan Marcus pun tidak kembali.Satu-satunya orang yang datang hanyalah Mona, Sarah, dan beberapa pelayan lainnya.Mona bahkan datang lagi malam tadi setelah selesai bekerja. Ia membawa makanan untuk Elara dan memastikan perempuan itu memiliki sesuatu yang layak untuk dimakan.Elara tidak pernah berharap mereka datang untuk dirinya.Namun, setidaknya ada darah daging keluarga Ellington yang berhasil lahir dengan selamat.Meski bukan cucu laki-laki yang selama ini mereka harapkan.Elara tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari rumah sakit.Ia tidak tahu bagaimana keluarga Ellington akan memperlakukannya.Ia juga tidak tahu apakah Marcus akan membiarkannya tetap tinggal di rumah itu bersama putrinya.Yang Elara tahu, tiga hari terakhir memberinya sedikit waktu unt
Setelah kondisi Elara dinilai cukup stabil, ia dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan pascapersalinan.Kamar itu tenang dan tidak terlalu besar.Sebuah ranjang rumah sakit berada di tengah ruangan.Di sampingnya terdapat meja kecil dan kursi.Sebuah tempat tidur bayi transparan diletakkan di dekat ranjang Elara.Tidak ada kemewahan seperti kamar besar di rumah keluarga Ellington.Namun, anehnya, kamar sederhana itu terasa jauh lebih nyaman.Karena kali ini, Elara tidak sendirian.Putrinya ada di sana.Seorang perawat membantu mengatur posisi tubuh Elara.“Perutmu mungkin masih terasa cukup sakit setelah operasi,” jelasnya. “Kami akan memberikan obat pereda nyeri secara teratur.”Elara mengangguk.Setiap gerakan kecil membuat bagian bawah perutnya terasa nyeri.Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana dirinya akan turun dari tempat tidur.“Untuk sementara, kamu masih perlu beristirahat,” lanjut sang perawat. “Kami akan membantumu ketika sudah waktunya untuk bangun.”El
Cahaya terang dari lampu ruang operasi terasa menyilaukan. Elara nyaris tidak mampu membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu berat. Suara-suara di sekelilingnya terdengar samar, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. “Tekanan darah masih rendah.” “Infus tetap berjalan.” “Detak jantung janin kembali menurun.” “Baik. Kita lanjutkan.” Elara berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia ingin bertanya. Ia ingin memastikan bayinya baik-baik saja. Namun, tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekadar berbicara. Seorang dokter anestesi berdiri di dekat kepalanya. “Elara, kami akan memberikan anestesi agar Anda tidak merasakan proses operasi.” Elara hanya mampu mengangguk lemah. Sebuah masker ditempatkan di wajahnya. “Tarik napas perlahan.” Elara mencoba mengikuti instruksi tersebut. Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. Kelopak matanya terasa semakin berat. “Bayiku…” Itulah kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya. Kemudian pandangannya perlahan menghilang. Dan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.