Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!

Tuan Beaumont, Ini Hanya Pekerjaan!

last updateLast Updated : 2026-09-16
By:  RimkuynUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah kehilangan orang tuanya, menikah demi membalas budi, dan diceraikan setelah melahirkan putrinya. Dalam keadaan tanpa rumah, tanpa pekerjaan, dan hanya membawa bayi kecilnya, Elara menerima satu-satunya pekerjaan yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya—menjadi ibu susu bagi seorang bayi laki-laki dari keluarga Beaumont, salah satu keluarga kaya dan berpengaruh di Inggris. Di sana, Elara bertemu Adrian Lucien Beaumont, ayah dari bayi yang harus ia rawat. Awalnya, hubungan mereka hanyalah antara seorang ibu susu dan seorang ayah. Namun tinggal di bawah satu atap membuat batas-batas itu perlahan berubah. Di antara dua anak yang mulai tumbuh bersama, masa lalu yang kembali menghantui, keluarga yang memiliki kepentingan sendiri, dan cinta yang tidak pernah mereka rencanakan, Elara dan Adrian harus menemukan jawaban atas satu pertanyaan: Bisakah dua orang yang sama-sama tidak mencari cinta justru menemukan keluarga yang selama ini mereka butuhkan?

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Nona, Anda tidak apa-apa?"

Mona segera menopang tubuh Elara yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

"Aku tidak apa-apa."

Elara menarik napas pelan. Satu tangannya berpegangan pada lengan Mona, sementara tangan lainnya mengusap bagian bawah perutnya yang sudah sangat besar.

Sembilan bulan.

Ia sudah berada di penghujung kehamilannya.

"Anda terlihat pucat, Nona. Sebaiknya duduk dulu."

"Aku hanya sedikit pusing."

"Justru karena itu."

Mona menuntunnya menuju sofa di ruang tamu dan membantu Elara duduk dengan hati-hati.

Elara menyandarkan punggungnya.

Rumah itu terasa begitu sunyi pagi ini.

Ia menoleh ke sekeliling.

"Ke mana semua orang, Mona?"

"Tuan dan Nyonya Besar pergi pagi-pagi sekali. Sepertinya ada urusan."

Elara mengangguk.

"Kalau Tuan Marcus..."

"Aku tahu."

Mona terdiam.

Elara menatap lurus ke depan.

"Dia tidak pulang."

Tidak ada nada kecewa dalam suaranya.

Seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan.

Mona akhirnya hanya menghela napas.

"Anda sebaiknya kembali ke kamar dan beristirahat, Nona. Jangan terlalu banyak berjalan. Kandungan Anda sudah sembilan bulan. Bayinya bisa lahir kapan saja."

"Aku baik-baik saja, Mona."

"Nona..."

Elara tersenyum kecil.

"Jangan terlalu khawatir."

Mona tampaknya masih belum puas dengan jawabannya. Namun, sebelum kembali berbicara, pandangannya jatuh pada meja makan yang masih kosong.

"Anda belum sarapan, kan?"

Elara tidak menjawab.

Mona langsung tahu jawabannya.

"Tadi saya membuat sandwich dengan isian daging."

Ia berdiri.

"Saya ambilkan untuk Anda."

"Mona, tidak perlu repot."

"Tidak repot, Nona."

Mona segera berjalan menuju dapur.

Selagi rumah sedang sepi, ia mengambil dua potong sandwich yang sengaja disisakannya untuk Elara. Ia juga mengambil segelas susu sebelum kembali ke ruang tamu.

"Silakan."

Mona meletakkan makanan itu di meja.

Elara menatap sandwich di hadapannya.

"Terima kasih."

Ia mengambil satu potong dan mulai makan.

Rasa lapar yang sejak tadi diabaikannya baru terasa setelah makanan berada di hadapannya.

Mona kemudian berjongkok di depan Elara dan memijat kakinya perlahan.

"Mona, tidak perlu."

"Tidak apa-apa."

"Kau masih punya banyak pekerjaan."

"Pekerjaan bisa menunggu."

Mona tersenyum.

"Anda pasti lelah."

Elara tidak lagi membantah.

Ia membiarkan Mona memijat kakinya sambil melanjutkan sarapan.

Namun, pandangan Elara perlahan berubah sendu.

Di rumah sebesar ini, tidak banyak orang yang benar-benar memperhatikannya.

Mona adalah salah satunya.

Sarah juga.

Mereka mungkin hanya pelayan, tetapi justru merekalah yang paling sering memastikan Elara makan, beristirahat, dan merasa baik-baik saja.

"Setelah melahirkan, Anda harus pergi dari rumah ini, Nona."

Ucapan Mona membuat tangan Elara berhenti sesaat.

Ia menundukkan pandangan.

"Bukankah aku memang akan keluar dari rumah ini?"

Nada suaranya datar.

Tidak marah.

Tidak pula terkejut.

Seolah ia sudah mempersiapkan dirinya untuk hari itu sejak lama.

Tangannya perlahan mengusap perutnya.

"Kalau anak ini perempuan..."

Elara berhenti.

Senyumnya menghilang.

"Mereka pasti tidak akan membutuhkanku lagi."

Mona menatapnya.

"Nona..."

"Aku tidak menyalahkan mereka."

Elara berusaha tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

"Mereka memang punya alasan sendiri."

Satu tetes air mata jatuh di pipinya.

"Yang aku takutkan hanya satu."

Elara mengusap air matanya.

"Kalau aku benar-benar pergi dari sini, aku harus ke mana?"

Mona terdiam.

Elara menatap perutnya.

"Aku tidak punya rumah."

Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih pelan.

"Satu-satunya rumah yang pernah kumiliki sudah tidak ada."

Mona menggenggam tangan Elara.

"Rumah itu dijual oleh mereka tanpa sepengetahuanku."

Elara tertawa kecil, getir.

"Aku bahkan tidak tahu apa-apa."

Ia menarik napas.

"Dulu mereka bilang akan merawatku."

Tatapannya kosong, seolah pikirannya kembali pada masa lalu.

"Mereka mengatakannya di hadapan polisi."

Elara mengusap perutnya kembali.

"Saat itu aku percaya."

Ia terdiam beberapa saat.

"Mungkin aku memang terlalu polos."

"Ini bukan salah Anda, Nona."

Mona berkata lembut.

"Anda masih terlalu kecil saat itu."

Elara tidak menjawab.

Ia hanya menundukkan kepala.

"Menyesal pun tidak akan mengubah apa pun."

Suasana kembali hening.

Beberapa saat kemudian, Elara mengambil sandwich yang tersisa dan melanjutkan makan.

Mona berdiri.

"Saya akan membawa ini ke dapur."

Ia mengambil piring dan gelas yang telah kosong.

Ketika sampai di dapur, seorang pelayan wanita bernama Sarah baru saja keluar dari ruang penyimpanan.

"Nona Elara sudah makan?"

"Sudah," jawab Mona. "Baru saja."

Sarah mengangguk lega.

*****

Elara keluar dari kamar setelah beristirahat dan tidur siang.

Rumah masih sepi.

Mertuanya belum kembali.

Ia berjalan perlahan menuju dapur dan mendapati Mona serta Sarah sedang menyiapkan makan siang.

"Mereka belum pulang?" tanya Elara.

"Belum, Nona," jawab Sarah.

"Nona, duduklah. Sebentar lagi makan siangnya siap."

Elara mengangguk dan duduk di kursi meja makan.

Ia memandang sekeliling.

Sudah lama ia tidak merasakan suasana rumah setenang ini.

Tidak ada suara teguran.

Tidak ada pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah.

Tidak ada tatapan yang membuatnya merasa harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Bahkan jika aktivitasnya dipantau melalui CCTV, Elara tidak terlalu memikirkannya.

Petugas keamanan yang berjaga pun tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.

Mereka hanya mengawasi rumah dari balik layar.

Tidak lebih.

"Syukurlah mereka belum pulang juga," celetuk Sarah.

Mona meliriknya.

"Sarah."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Sarah kembali mengaduk masakannya.

"Aku harap mereka pulang besok."

Mona menghela napas.

"Jangan bicara begitu."

Namun, ekspresi Mona mengatakan hal yang berbeda.

Ia pun menginginkan rumah itu tetap tenang selama mungkin.

Tak lama kemudian, makan siang selesai.

Mona menyajikan makanan di hadapan Elara.

"Terima kasih."

Elara tersenyum kecil.

"Kalian tidak makan?"

"Kami sudah makan," jawab Sarah.

Elara mengangguk.

Ia mulai makan dengan tenang.

Tidak ada yang menyuruhnya terburu-buru.

Tidak ada yang mengomentari makanan di piringnya.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, makan siang terasa begitu sederhana.

Dan menyenangkan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status