Share

Bab 435

Author: Cathy
Sudut Pandang Trinity:

Makan malam akhirnya selesai. Namun, pikiranku benar-benar kacau karena Dante terus membangkitkan hasrat dalam diriku. Tangannya mengelus-elus pahaku tanpa henti.

"Aku harus pergi, tapi besok aku ke sini lagi. Kamu nggak berniat mengajakku ke kamarmu?" kata Dante sambil merajuk, tetapi aku mengabaikannya.

Bukankah dia seharusnya sudah senang karena aku bahkan mau menemaninya minum kopi di ruang makan? Aku sendiri mulai minum kopi gara-gara dia.

"Jangan harap. Itu nggak aka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 437

    Sudut Pandang Trinity:Waktu berlalu begitu cepat. Kami langsung terbang ke Vistablanc dengan helikopter. Perjalanan berjalan lancar hingga kami tiba di rumah ibu Dante. Dia menyambut kami dengan gembira."Dante, Ibu senang kamu nggak mengecewakan Ibu. Ini istri dan anak-anakmu?" tanya ibu Dante dengan antusias.Dari ekspresinya saja, aku sudah bisa merasakan bahwa kami akan cocok."Ya, Bu. Ini Trinity, istriku yang cantik, yang selalu kuceritakan padamu. Sayang, ini ibuku, ibu kandungku," jelasnya sambil tersenyum."Halo, Bu," ucapku sambil tersenyum. Aku pun terkejut karena dia langsung memelukku erat-erat.Aku menatap Dante. Matanya dipenuhi kebahagiaan."Selamat datang di keluarga kami. Aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu," katanya.Aku pun membalas pelukannya tanpa ragu."Terima kasih," kataku. Aku melepaskan pelukan saat mendengar anak-anak mulai menangis. Dante langsung menghampiri Beatrice dan menggendongnya."Ini cucu-cucuku?" tanya ibu Dante. Dante tersenyum, lalu me

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 436

    Sudut Pandang Trinity:"Ibu kandungku. Sekarang dia di Vistablanc. Dulu aku berencana mengenalkannya ke kamu, tapi waktu itu hidupku kehilangan arah, jadi aku nggak pernah melakukannya," jelas Dante.Sepertinya dia menyadari keterkejutanku saat mendengar kata "ibu"."Ibu kandungmu? Maaf, tapi kamu masih punya ibu? Kenapa dulu kamu bilang kalau ibumu sudah meninggal?" tanyaku.Aku melihat rasa bersalah melintas di wajahnya. Sepertinya dulu dia memang sudah berbohong kepadaku, jadi aku punya alasan untuk meragukan perkataannya sekarang.Aku pernah bertanya kepadanya di mana ibunya, tetapi dia hanya mengatakan bahwa ibunya sudah lama meninggal. Wajar kalau aku terkejut saat sekarang dia mengatakan hal yang berbeda."Maaf. Dulu aku sangat membencinya dan menganggap dia sudah mati. Namun, ketika aku bertemu dengannya lagi, aku sadar kita semua pernah melakukan kesalahan. Nggak ada alasan bagiku untuk terus menolaknya. Bagaimanapun juga, dia tetap ibuku," jawabnya.Aku kembali tersenyum.Aku

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 435

    Sudut Pandang Trinity:Makan malam akhirnya selesai. Namun, pikiranku benar-benar kacau karena Dante terus membangkitkan hasrat dalam diriku. Tangannya mengelus-elus pahaku tanpa henti."Aku harus pergi, tapi besok aku ke sini lagi. Kamu nggak berniat mengajakku ke kamarmu?" kata Dante sambil merajuk, tetapi aku mengabaikannya.Bukankah dia seharusnya sudah senang karena aku bahkan mau menemaninya minum kopi di ruang makan? Aku sendiri mulai minum kopi gara-gara dia."Jangan harap. Itu nggak akan terjadi karena aku ingin tidur nyenyak. Aku mau istirahat tanpa ada pengganggu di sampingku," jawabku.Aku melihatnya menahan tawa dan menghela napas lega. Sepertinya dia sudah berubah dan kali ini benar-benar mendengarkan alasanku."Pengganggu? Malam itu kamu mengerang keras sekali. Masih bisa bilang kalau aku pengganggu?" godanya.Aku langsung memberi isyarat agar dia mengecilkan suaranya. Akan sangat memalukan kalau ada yang mendengar."Dante! Perlu banget bahas itu? Malu tahu, kalau ada ya

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 434

    Sudut Pandang Trinity:Karena permintaan anak-anak, aku tidak punya pilihan selain mencium pipi Dante. Ciumannya singkat, tetapi jantungku tetap berdebar kencang, seperti gadis remaja yang sedang berhadapan dengan orang yang disukainya."Cuma begitu?" protes Dante.Aku memelotot kepadanya. Dia ternyata masih tidak puas dengan ciuman yang kuberikan."Apa? Jangan ngeluh. Kamu nggak lucu," jawabku kesal.Si kembar menatapku bersamaan."Kenapa Mama marah? Papa nggak jahat kok," kata Beatrice.Aku langsung terdiam ketika melihat mata mereka mulai berkaca-kaca. Aku ingin memarahi Dante. Baru beberapa hari bersama anak-anak, dia sudah mengajari mereka macam-macam."Bu ... bukan. Mama nggak marah. Papa kalian memang suka bikin ulah, makanya Mama negur dia," kataku, berharap si kembar tidak memperpanjang masalah ini. Kalau tidak, mereka bisa menangis."Oke, tapi cium Papa dulu!" jawab Bernard.Aku mengernyit ketika melihat Dante berusaha menahan tawanya. Kalau anak-anak tidak ada di sini, rasan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 433

    Sudut Pandang Trinity:Mama mengantarku ke kamar dan menyuruhku beristirahat.Aku berganti pakaian sebelum berbaring untuk tidur. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, aku perlu mengistirahatkan pikiran. Setelah bangun nanti, aku berencana menemani si kembar.Karena lelah dan terlalu banyak hal yang terjadi, aku langsung tertidur. Ketika terbangun, kamar sudah gelap dan hanya diterangi cahaya redup dari lampu meja.Aku bangun perlahan, lalu meregangkan tubuh. Setelah tidur cukup lama, tubuhku terasa lebih segar.Saat hendak turun dari tempat tidur, aku melihat rangkaian bunga yang tergeletak di samping. Aku meraihnya dan mengernyit melihat bunga-bunga itu.Ada sebuah kotak perhiasan kecil dan kartu yang terselip di dalam rangkaian bunga. Aku mengambil kartu itu dan membaca pesannya. Senyum manis langsung menghiasi bibirku ketika melihat nama Dante tertera di bagian bawah.Apa yang merasuki pria itu? Kenapa tiba-tiba memberiku bunga? Padahal, sebelumnya dia tidak pernah melakukan ha

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 432

    Sudut Pandang Trinity:Aku bersyukur Carlos tidak berhasil menodaiku. Papa dan Dante datang pada saat yang tepat. Kalau tidak, sesuatu yang mengerikan mungkin sudah terjadi padaku.Aku mungkin akan membenci Carlos seumur hidup karena kejadian itu. Aku bahkan mungkin bisa kehilangan kewarasanku karena tidak sanggup menerima tubuhku disentuh dan dilecehkan oleh pria lain."Ayah, Trinity harus dibawa ke rumah sakit. Memar di wajahnya perlu diobati," kata Dante.Aku menatap Dante dan melihat kekhawatiran di wajahnya. Entah kenapa, hal itu membuat hatiku tersentuh. Aku bisa merasakan cintanya kepadaku dari tindakannya, juga dari cara dia menatapku.Hari ini, aku sangat berutang budi kepadanya. Sudah sepantasnya aku memperlakukannya dengan baik. Dia juga tampaknya sudah semakin dekat dengan ayahku."Ya sudah. Kamu antar Trinity ke rumah sakit dulu, aku akan ke kantor polisi. Aku akan membuat Carlos membusuk di penjara," kata Papa dengan serius.Aku tertegun, teringat wajah ayah Carlos tadi.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status