FAZER LOGINSudut Pandang Orson:Aku sedang berada di salah satu dari sekian banyak showroom mobil ketika tiba-tiba menerima pesan dari Marceline. Awalnya aku berniat mengabaikannya, tapi ponselku terus berdering tanpa henti. Aku kesal dengan kegigihannya dan akhirnya tidak punya pilihan selain menjawab."Kurasa sekarang saat yang tepat bagiku untuk menebus kesalahanku padamu dulu," katanya begitu panggilan tersambung.Aku tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening. Apa maksudnya?"Apa maumu?" tanyaku dingin. Sudah cukup lama kami tidak berbicara, jadi cukup mengejutkan dia tiba-tiba meneleponku sekarang."Aku bertemu Felicia di mal. Dia ada di sini. Kalau kamu ingin menemuinya, datang sekarang juga," katanya langsung.Aku terkejut. Jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang."Apa katamu? Felicia? Dia di mana?" tanyaku sambil refleks berjalan menuju tempat mobilku diparkir.Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus menemui Felicia."Datang saja ke Mal Sunway. Aku ada di sini se
Saat melihat sekeliling, aku melihat seseorang yang kukenal. Dia tak lain adalah Marceline. Dia sedang menatap kami. Dia ditemani seseorang, mungkin pengasuh bayinya. Meja mereka berjarak sekitar empat meja dari kami dan pandanganku langsung tertuju pada bayi di dalam stroller.Kalau dia datang bersama bayinya, bagaimana dengan Orson? Apa dia juga ada di sini?Baru saja memikirkannya, kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Ditambah lagi, hatiku terasa nyeri seperti ditusuk."Hei, kamu baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba diam?" tanya Devon.Aku menatapnya dengan linglung sebelum memaksakan senyum."Aku cuma melihat seseorang yang kukenal. Permisi sebentar, Dokter Devon. Aku mau menyapanya," jawabku sambil tersenyum.Dia mengangguk dan untuk kedua kalinya, aku menghampiri Marceline."He ... hei, ternyata kamu di sini," sapaku sambil tersenyum.Dia mengangguk, tapi perhatiannya sepertinya tertuju ke tempat lain. Secara refleks aku melihat bayinya yang sedang tidur nyenyak di dalam stroller."Apa h
Sudut Pandang Felicia:"Oh, begitu? Selamat ya, Marceline," kataku sambil memaksakan senyum."Jadi, gimana kabarmu? Apa kamu sudah kembali ke Keluarga Baskoro?" tanyanya.Aku tertegun."Hah? Aku baik-baik saja. Aku sudah menemukan keluarga kandungku, jadi aku sempat pergi untuk beberapa waktu," jawabku.Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya setelah mendengar ucapanku."Maksudmu keluarga kandungmu? Orang tua kandungmu?" tanyanya.Aku mengangguk. "Iya, sekarang aku bersama mereka. Itu sebabnya aku menghilang selama beberapa waktu," jawabku sambil tersenyum.Aku sengaja melirik jam tangan karena ingin memberitahunya bahwa aku harus pergi. Aku takut tidak bisa menahan tangis jika terus berada di hadapannya. Aku tidak ingin dikasihani olehnya."Baiklah, sampai jumpa lain kali. Aku masih harus pergi ke suatu tempat," kataku sambil melambaikan tangan."Kamu yakin? Maksudku, kukira kamu masih punya waktu. Aku tadinya mau mengajakmu makan. Sudah lama kita nggak bertemu dan aku merindukanmu,
Setelah Dante pergi, aku tidak berlama-lama lagi di taman. Gerimis mulai terasa dan angin bertiup semakin kencang.Aku langsung menuju kamar bayi si kembar untuk memastikan mereka sudah tidur. Meskipun ada orang yang merawat mereka, aku tetap selalu meluangkan waktu untuk mereka. Aku tahu beberapa hari ke depan aku akan sibuk, tapi mereka akan selalu menjadi prioritasku."Gimana keadaan mereka?" tanyaku kepada Perawat Sally. Ada empat orang yang bertugas merawat si kembar, tapi malam ini dia sendirian karena satu perawat lainnya sedang libur. Sementara pada siang hari, dua perawat lainnya selalu menjaga si kembar karena mereka lebih lama terjaga."Mereka baik-baik saja, Nyonya. Mereka langsung tertidur setelah menghabiskan susu," jawabnya sambil tersenyum.Aku mengangguk lalu menghampiri tempat si kembar tidur.Aku tak bisa menahan senyum saat memandangi mereka. Mereka sangat menggemaskan. Meskipun masih bayi, aku yakin kelak mereka akan tumbuh menjadi anak yang cantik dan tampan.Aku
Sudut Pandang Felicia:Aku tak bisa menahan rasa sedih yang begitu dalam saat menatap langit malam. Angin dingin menerpa kulitku dan sepertinya hujan deras akan segera turun.Aku langsung teringat Keluarga Baskoro, terutama Orson. Aku bertanya-tanya bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia masih mengingatku, atau dia sudah terlalu bahagia bersama Marceline?Aku semakin sedih ketika memikirkan anak kembarku. Sepertinya nasib mereka akan sama seperti kami semua. Mereka akan tumbuh tanpa keluarga yang utuh.Aku mengembuskan napas panjang untuk menahan diri agar tidak menangis. Kalau bisa, aku tidak mau menangis lagi. Rasanya melelahkan terus-menerus menangis. Aku sudah cukup banyak menangis dan tidak ingin menangis lagi."Oh, ternyata kamu ada di taman. Kelihatannya sedang banyak pikiran, ya?"Aku terkejut mendengar suara itu. Saat menoleh, aku melihat Dante berdiri di belakangku dengan wajah tersenyum. Aku menatapnya dengan murung."Sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakannya? Kamu
Sudut Pandang Orson:Seluruh perhatianku langsung tertuju kepada Trinity.Kalau begitu, dugaanku benar, mungkin saja wanita yang kulihat di mobil tadi adalah Felicia. Dia berada di suatu tempat di sekitar sini, dan aku akan melakukan apa pun agar kami bisa kembali dipertemukan."Kamu yakin?" tanya mamaku, yang kini sama sekali tidak tertarik pada makanannya, sama sepertiku. Trinity langsung mengangguk."Iya, tadi dia ada di kampus. Kami sempat ngobrol sebentar dan saling bertukar kabar," jawab Trinity dengan suara penuh kegembiraan.Aku tahu betapa dekatnya mereka, mungkin itu sebabnya dia begitu bahagia."Gimana keadaannya? Apa yang dia katakan?" tanya mamaku lagi."Dia kelihatan baik-baik saja, Ma. Tentu saja, dia sekarang jauh lebih cantik. Penampilannya juga berbeda, entah gimana terlihat lebih dewasa. Aku nggak bisa jelasin, tapi tubuhnya seperti berubah. Yang pasti, dari penampilan dan sikapnya, dia sehat dan baik-baik saja, Ma," jawab Trinity.Mendengar ucapan Trinity, rasanya s







