MasukKeyla menyentuh bagian bawah tulang selangka kirinya dan melakukan beberapa kali pijatan disana. Gadis yang tengah menyembunyikan dirinya ke dalam pantry itu tampak berlomba menghisap udara di sekitarnya.
Ia sungguh menyesal karena selama menjalani kehidupan bermalas-malasannya, ia hampir tidak pernah memasukkan olahraga ke dalam rutinitas bulannya. Bayangkan saja lah! Ia berlari dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari ruang kerjanya, tapi paru-parunya yang terlanjur menjompo berlagak lebay, seakan ia mengajak sepasang alat vital itu sprint mengelilingi enam benua.
“Gue nggak obbess, tapi kenapa ngik-ngikkan gini sih? Padahal kan cuman pindah lantai doang!” Monolognya, mengomentari respon tubuhnya yang begitu lemah.
Keyla lalu menyandarkan pinggulnya pada kabinet.
“Bukan dia kan?”
‘Dia,’ yang Keyla maksud tentu saja Fathan. Hanya pria itu satu-satunya manusia yang Keyla kenal dan mempunyai akses dengan petinggi perusahaannya.
“Argh! Sumpah! Tau gini gue nggak pake jalur ordal, Cuk!”
Tak ingin menjadi human yang munafuck, dibalik skillnya yang mumpuni sebagai beban kepala divisi— bercanda-bercanda!
Selain karena kemampuan kerjanya yang teruji klinis dan non klinis, sejatinya ia tidak mungkin bisa bergabung jika bukan karena bantuan dari sahabat bundanya. Dengan begitu, ia pasti masih menyandang 2 gelar sekaligus.
Gelar pertama, sudah jelas sebagai predikat jomblowati. Ke dua, pengangguran sejati.
Yah, gimana ya. Mempunyai skill saja tidak cukup untuk menembus satu lowongan pekerjaan. Tanpa adanya orang dalam, paling mujur fresh graduate seperti dirinya dulu hanya akan lolos tahap verifikasi data. Ya, kalau tidak, terkena PHP after wawancara kerja, lalu ujung-ujung ditolak.
Begitulah realitanya! Kebanyakan orang yang memiliki koneksi lebih cepat mendapatkan pekerjaan, meski tidak dipungkiri jika ada orang-orang yang juga beruntung dalam kehidupannya. Namun itu pastilah 1 dibandingkan 1000 kepala.
Berani deh Keyla pasang taruhan kalau statementnya asbun alias asal bunyi.
Padahal nih ya, suami bundanya yang tidak lain merupakan ayah kandungnya sendiri, mempunyai jabatan yang cukup mentereng ditempatnya mengucurkan keringat. Pria itu menduduki Kepala Divisi Human Resource pada perusahaan berskala internasional di Indonesia.
Sayangnya, laki-laki yang tidak lebih mencintainya daripada cintanya kepada sang bunda, menolak melakukan nepotisme dan mempertahankan profesionalisme kerjanya. Alhasil, jalur semulus jalan tol itu Keyla dapatkan dari tangan orang lain.
Hasilnya, ‘ancur pemirsah!! ini gue nggak disuruh bales budi kan? Gue aja kerja siang malem bagai quda nggak jadi kaya-kaya masalahnya!’
Kalau begini ceritanya, cita-cita menjadi crazy rich sih paling hanya mampu menyabet crazy-nya saja! Richnya terbang ke Antartika, tenggelam bersama para anjing laut disana.
“Eh, copot-copot!!” Pekik Keyla, latah dadakan. Ponsel di dalam saku celana kerjanya berdering, membuatnya yang tengah dalam mode tegang terkejut bukan main.
“Ngapain nih bocah telepon gue?!” Ceracau Keyla usai melihat nama Hans tertera pada layar ponsel. “Moshi-Moshi?!” Keyla menyambut telepon Hans dengan ketenangan sejati.
‘Eh, Nying! Masih bisa lo ngangkat telepon gue pake nada biasa aja?’
Keyla menyerngitkan keningnya. Lah kok emosi?! Masa iya gue harus nangis-nangis ngejawabnya!
‘Posisi, Posisi?! Lo sekarang ada dimana?!’ tanya Hans, terdengar terburu-buru.
“Hadeh! Kan gue udah bilang gue mau ngelahirin anak-anak seblak gue.” jawab Keyla, berhati-hati. Ia tak boleh sampai keceplosan dengan membongkar tempat persembunyiannya. Hans dan orang-orang HR pasti akan menariknya demi untuk menyelamatkan diri masing-masing.
‘Nggak usah ngelawak lo, Key!’ Hans lalu meneruskan jika divisi tercinta mereka mendadak terkena grebek para atasan.
“Wappah?! Siapa yang ena-ena?! Lo ada ngerekam nggak?”
‘Pengen gue geplak, sumpah! Kegrebek gara-gara pada nyariin lo, Sat!!’
Gendang telinga Keyla berdengung nyaring. Teriakkan yang membuktikan betapa chaos ruang divisinya itu semakin membuat Keyla enggan menampakkan batang hidungnya kesana.
‘Maaf, bisa saya pinjam sebentar ponsel kamu? Saya ingin berbicara dengan Keyla.”
Eh, loh!
Kok sepertinya ia familiar dengan suara pria yang baru saja terdengar. Suara itu seperti milik... “Mas Fathan.” Cicit Keyla pelan.
Kala Hans hendak menyetujui permintaan Fathan, Keyla pun memotongnya dengan jeritan yang luar biasa keras.“No!!” Ia menolak berbicara, terlebih itu kepada Fathan, si manusia yang telah memusingkan kepalanya sejak semalam.
“Nggak lucu ya, Mas!! Aku kan udah kasih jawaban kalau nggak mau kawin sama Mas! Mas cari aja tuh ikan teri disitu. Banyak anak HR yang masih single. Kasih 5 M juga pasti pada mau dikawinin!”
Persetan Fathan mendengarnya atau tidak, yang penting ia sudah mengeluarkan unek-unek di dalam hati dan pikirannya.
‘Saudari Keyla. Kamu sedang membahas apa ya? Saya hanya ingin bertanya terkait pencarian ASPRI untuk saya. Masalah pribadi seperti yang kamu bicarakan, sebaiknya tidak kamu bawa ke tempat kerja. Ada waktu sendiri untuk membahasnya dan itu bukan di kantor.’
Blush
Wajah Keyla kontan memerah. Even ia begajulan, kalau judulnya miss komunikasi begini, ia pun bisa merasakan rasa malu layaknya orang normal lainnya.
“Oh, em, ah. Ya-a. Ta-tanya tuh ke karyawan yang namanya Mbak Hardi. Dia juga kebagian tugas assesment kok.” Ucap Keyla, gelagapan karena rasa malunya.
‘Key. Sebelum kamu meminta saya, saya tentu sudah melakukannya. Saya tidak perlu digurui staff seperti kamu. Karena yang ingin saya tanyakan adalah peserta dibawah naungan kamu. Bu Hardi yang tidak menangani tentu tidak mengetahui detail hasil assessment kamu kan?!’
“Bac-Baca monitor aku!! Datanya disitu!”
‘Pak Komisaris.’ Fathan terdengar sedang berbicara dengan orang lain disana. ‘Karyawan yang mangkir dalam tugasnya seperti Keyla ini, selain mendapatkan surat teguran apakah akan ada pemotongan salary?’
‘Fatal-Fatal mungkin akan dirumahkan.’
“Mas Fathan, iiiih! Calon atasan Fir’aun! Makin nggak mau kawin gue sama lo!!” Umpat Keyla, sekeras-kerasnya.
“Beli pizza dulu kan?”Tak mendengar balasan, Fathan pun memalingkan muka.Alangkah terkejutnya pria itu kala mendapati posisi duduk sang istri yang tengah memunggungi dirinya. “Key..” Panggil Fathan sebelum melayangkan kalimat tanya, “kamu nggak lagi bisulan kan?” yang kemudian membuat Keyla menarik rambut di kepalanya. “Aaak, ampun Key. Kamu sih nungging-nungging gitu duduknya. Kan saya jadi negative thinking jadinya.”“Negatif thinking, negative thinking!” Beo Keyla sampai dua kali. “Sumpah ya, Mas. Negative thinking-nya kamu tuh nggak banget. Kalau aku sampe bisulan beneran, ku peperin bisulnya ke kamu.” Sungut Keyla, berapi-api. Padahal rencananya Keyla ingin bungkam seribu bahasa untuk membalaskan dendamnya. Namun usahanya gagal karena ia tak tahan dengan kelaknatan mulut Fathan. “Jangan dong. Meperin kok bisul. Bisa kali yang lain.”“Iiih!” Erang Keyla, gemas sampai ia berusaha keras menahan kedua tangannya agar tidak melayang, menghantam wajah kurang sesajen Fathan. Seben
“Mami, Kula nggak mau nasi uduk.”“Loh, kenapa?” tanya Keyla karena Nakula baru mengatakannya setelah ia melakukan pemesanan.“Nggak keren.”Deg!Ucapan bocil setengah kematian itu tentu saja membuat Keyla memalingkan wajah, takut-takut untuk melihat respon si ibu penjual.‘Mampus..’ Pekik Keyla dalam hati sebab ia bersiborok dengan pelototan maut yang penuh akan dendam kesumat.“Jadinya gimana? Jadi nggak?!”Kegalakkan wanita berdaster yang kini tengah memegang capit berisikan mie kuning itu sempat menyentak tubuh Keyla.“Ja-Jadi, Bu. Tolong maafin anak saya. Seleranya emang agak kebule-bulean.”Siapa sangka jika sahutan Keyla itu justru membuat si ibu penjual semakin sensi terhadapnya.“Udah tau kayak gitu masih dibeliin uduk. Neng, Neng. Kalau nggak siap jadi ibu, ya jangan bikin anak.”Fathan yang menjadi penonton pun hanya bisa ketar-ketir. Di dalam hati pria itu memanjatkan doa. Memohon agar sang istri diberikan tambahan stok kesabaran sehingga terhindar dari masalah.“Jagain ego
Hellooooo, Spadaaaa!Ehem..Kira-kira.. Kalau ceritanya dilanjut, masih ada yang mau baca nggak ya?
“Key, tolong dong.”Fathan mengulurkan jar selai ke arah Keyla sembari mengedikkan alisnya.“Tolong, Key..” Ulang pria itu karena Keyla hanya menatapnya dengan tatapan anehnya.Bermaksud menghindari keributan di pagi harinya yang seharusnya damai, Keyla pun meraih jar tersebut untuk ia buka tutupnya.“K..”“Apa lagi?! Apa?!” Sentak Keyla emosi sebelum Fathan dapat menyelesaikan kalimatnya.Padahal Keyla sudah sangat sabar dalam menghadapi ke-useless-an Fathan, tapi pria yang menjadi kepala keluarga di KK terbarunya itu seakan sengaja ingin membuatnya kesal.“Piso? Mau piso apa? Piso daging, apa sekalian aku ambilin gergaji aja buat ngambil selainya?”“Piso buat selai aja, Key.”Grrr!!Dengan gigi bergemeletuk di dalam mulut, Keyla yang tengah menahan kepalan tangannya, menarik napas dalam-dalam.“Mas Fathan.. Suami yang nggak aku pengenin.”Dalam sepersekian detik, bola mata Fathan membulat.“Mas yang udah gede ini bisa nggak, nggak usah manja? Inget umur! Malulah sama anak-anak. Merek
Bruk!!Fathan mendudukkan Keyla ke atas ranjang.“Kamu..” “Keyla..” Sahut Keyla, membuat kalimat yang hendak Fathan lontarkan menguap hingga menyisakan kedutan di sudut teratas bibirnya. Suami yang Keyla terima secara terpaksa itu menyugar helaian rambutnya. “Key, jangan dikit-dikit pulang, bisa?” “Lah, perasaan baru sekali.” Gemas, Fathan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mencomot bibir Keyla. “Eh, anjir! Jangan pegang-pegang. Bukan muh..” “Muhrim, Key!” pekik Fathan, berhasil membungkam Keyla. Sebagai manusia, Fathan juga memiliki batas kesabaran. Ia pikir dengan memberikan kelonggaran, istrinya itu akan belajar menerima pernikahan mereka. Namun sampai detik ini, Keyla justru melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang ia bayangkan.“Saya minta maaf, oke? Saya janji nggak akan nawar-nawarin diamond lagi ke kamu.”Di ambang pintu yang tak tertutup, rahang mami Fathan seakan ingin copot dari wajahnya. Ia tak menyangka jika pertengkaran anak dan menantunya it
Tak membutuhkan waktu lama untuk Fathan dapat menemukan istri dan anak-anaknya. Pria tampan itu harus sekuat tenaga menahan tawa saat pertama kali mendapati tampang istri yang dinikahinya. “Kalau mau ngakak, ya, ngakak aja! Lama-lama kentut tau rasa kamu, Mas!”Kedua bahu Fathan hampir berguncang, karena saking tak kuatnya. “Ehem..” Untuk memperkuat pertahanannya, Fathan pun berdehem sebelum kemudian melontarkan tanya, “tapi abis itu saya disuruh transfer kan ya?”Sontak saja Keyla mendelik, tajam. ‘Wah, mentang-mentang udah bantuin gue, lupa dia sama kesalahannya!’ Ucap Keyla, tentunya hanya membatin. Keyla bukan jenis kacang yang lupa kulitnya. Kalau bukan karena Fathan yang membantu dirinya, ia sudah pasti harus menjual ginjalnya ke agen per-Kambojaan sekarang. Untuk itu, kali ini saja ia akan melepaskan Fathan dan godaannya yang terkesan mengolok-ngolok dirinya itu.“Sumpah ya, Mas.. Ginjalku masih poco-poco ini.”Bayangkan saja, uang 200 juta terbuang hanya dalam beberapa de







