Short
Musim Demi Musim Menantimu

Musim Demi Musim Menantimu

By:  RabanCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat penyakitku kambuh lagi, sahabatku merebut pisau dari tanganku dengan ekspresi kesal. "Sampai kapan kamu akan terus buat masalah? Cuma karena mengidap depresi, kamu jadi bertindak semena-mena. Pantas saja Nico nggak menginginkanmu lagi!" Aku langsung tercengang. Namun, sahabatku malah menghela napas lega. "Aku seharusnya beri tahu kamu sejak awal. Hari ini, Nico secara khusus minta aku datang menjagamu karena takut kamu akan merusak pernikahannya dengan Yanisa." Dia menghalangi pintu dan berbicara dengan percaya diri, "Asal kamu tahu, meski kamu sayat pergelangan tanganmu dan mati di sini hari ini, kamu juga nggak bisa terus jadi orang ketiga. Memangnya kenapa meski kamu pernah selamatkan Nico? Dia sudah balas budimu dengan merawatmu selama bertahun-tahun!" Ibuku bergegas datang untuk menggantikan sahabatku menjagaku karena sahabatku akan menjadi pengiring pengantin. Dia berkata dengan nada penuh permohonan, "Tanpa bantuan Nico selama ini, keluarga kita nggak mungkin bertahan. Jadi orang harus baik hati. Biarkan Nico kejar kebahagiaannya sendiri." Perasaan absurd yang kuat segera menyelimutiku. Pesan yang dikirim Nicholas Kurniawan masih tersimpan di ponselku. [ Sayang, aku mau pergi ke luar negeri untuk temui dokter yang penting bagimu. Jangan khawatir, kamu pasti sembuh. Setelah keadaanmu membaik, kita akan menikah. ] Aku jatuh terduduk di lantai. Air mataku jatuh ke layar ponsel tanpa suara. Mereka tidak tahu bahwa aku mengidap kanker dan memang tidak ingin menyusahkan Nicholas lagi sejak awal. Aku tersenyum pahit ke arah ibuku dan menjawab, "Oke. Aku janji akan restui Nicholas."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Be ... benarkah?"

Ibuku menatapku dengan curiga.

Selama bertahun-tahun, aku nyaris tidak dapat meninggalkan sisi Nicholas. Hari ini, dia bisa pergi menikah juga karena telah menemaniku seminggu penuh dan memiliki sedikit waktu istirahat.

Aku tersenyum pahit. "Hatinya sudah berpaling. Buat apa aku mengganggunya lagi?"

Ibuku terlihat lega. Dia memelukku sambil menangis histeris. Setelah entah berapa lama, dia baru berkata dengan terbata-bata, "Kalau begitu, bisa nggak kamu tinggal di sini sendirian? Aku ... Nico mau aku jadi saksi pernikahannya ...."

Pada saat ini, aku baru tahu bahwa ibuku sendiri yang mengenalkan pengantin wanitanya kepada Nicholas.

Aku mengangguk dengan kaku. Aku bisa memahami ibuku. Semua kerabat keluargaku, baik yang tua maupun muda, bekerja di Grup Kurniawan. Baginya, Nicholas mungkin lebih penting daripada aku yang merupakan putrinya.

Ibuku pergi dengan lega.

Namun, aku dan Nicholas sudah berhubungan bertahun-tahun. Tanpa sadar, aku mengikuti ibuku ke lokasi pernikahan. Bunga balon putih, balon biru, semua desainnya sama persis dengan yang kurencanakan bersama Nicholas.

"Celina?"

Sahabatku menemukanku terlebih dahulu. Aku meraih ujung pakaianku dan tidak memiliki tempat untuk bersembunyi di depan semua orang.

Nicholas yang hendak mencium pengantin wanita tanpa sadar bergerak mundur. Dia berbalik dengan kaku, lalu mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah, "Sa ... Celin? Kok kamu ada di sini?"

Semua orang yang hadir memasang ekspresi dengan penuh penghinaan dan ejekan.

Nicholas berjalan dengan terhuyung-huyung ke arahku. Dia buru-buru menjelaskan dengan gugup, "Celin, dengar dulu penjelasanku. Ini cuma kecelakaan .... Aku ...."

Sebelum aku dapat mengatakan apa pun, ibuku menjerit dan bergegas mendekat. Dia mencubit lenganku dengan kuat. "Kamu sudah janji nggak akan datang! Kenapa?"

Aku mendesis kesakitan.

"Ibu ... Bibi, jangan tindas Celin."

Nicholas membelaku secara refleks.

Namun, sahabatku, Jasmine mengerutkan keningnya dan berujar, "Memangnya kamu masih nggak cukup terbebani olehnya? Selama tiga tahun ini, apa kamu pernah tidur nyenyak karena harus hadapi depresinya tiap hari?"

Dia berhenti sebentar, lalu menggumamkan sesuatu. "Orang yang pernah diperkosa juga berani datang untuk nodai pernikahan ini ...."

Ujung jariku seketika memutih.

Tiga tahun lalu, aku nekat mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkan Nicholas yang diculik oleh pesaingnya. Akhirnya, aku malah diperkosa.

Sejak saat itu, aku selalu dihantui mimpi buruk. Setiap kali, aku akan menggigit tangan Nicholas hingga berdarah. Setelah tersadar, aku merasa sangat sedih. Namun, dia hanya menggeleng dan berkata bahwa itu adalah utangnya padaku.

"Diam!" bentak Nicholas.

Namun, tiba-tiba terdengar suara lembut seseorang. Orang itu membuat Nicholas mengurungkan niatnya untuk terus membelaku.

"Ini Bu Celina? Selamat datang di pernikahanku dengan Nico."

Wanita itu memberiku segelas anggur pernikahan dengan sikap murah hati. Gaun pengantin yang indah menonjolkan lekuk tubuhnya yang anggun.

Membandingkannya dengan diriku yang kurus kerempeng akibat disiksa kanker, aku tanpa sadar mundur beberapa langkah.

Tangan Yanisa Anada membeku di udara. Dia secara refleks menatap ke arah Nicholas.

Nicholas mengerutkan kening, lalu menarikku ke samping.

"Kamu kembali dulu. Aku akan menjelaskannya nanti. Jangan buat semua orang malu."

"Oke."

Melihat aku setuju dengan mudah, Nicholas tertegun.

Namun, pada saat ini, perutku tiba-tiba mulai terasa sakit. Wajahku memucat dan aku langsung membungkuk. Ekspresi Nicholas seketika berubah. Dia buru-buru menarikku ke sudut ruangan.

"Kumohon, jangan buat masalah di sini, ya? Kalau kamu buat masalah, Keluarga Kurniawan nggak akan izinkan kita bersama lagi."

Tak disangka, Jasmine melangkah mendekat dan menghalangi Nicholas di belakangnya. Dia menatapku dengan ekspresi tidak bersahabat.

"Bukannya kamu sudah janji nggak akan sandiwara lagi? Apa depresimu kambuh lagi?"

Aku tidak berani berbicara karena takut memuntahkan darah.

Ketika melihat ini, Jasmine mendorongku keluar dari aula perjamuan. "Kamu sudah janji padaku. Jangan gunakan depresi untuk dapatkan simpati lagi! Celina, aku benar-benar nyesal berteman denganmu."

Dengan bau darah yang memenuhi tenggorokan, aku hanya bisa menahan air mata dan buru-buru berbalik. Berhubung semua orang kecewa padaku, aku juga tidak perlu mengucapkan selamat tinggal lagi.

Aku membeli tiket pulang ke kampung halamanku. Di hari-hari terakhirku, aku tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status