“Mbul.. Your Papi kayaknya nggak suka aku ada disini?” Jessen menerima handuk yang baru saja Marchellia ulurkan padanya. Jangan pernah bermimpi dilayani oleh Marchellia— karena itu pasti hanyalah bunga tidur semata. Sama seperti Jessen, Marchellia terbiasa mendapatkan pelayanan dari bangun sampai menutup mata. Bedanya Jessen tak seekstrim sang istri. Ia masih bisa melakukan beberapa hal sendiri, tidak seperti Marchellia yang full service.‘Ini yang bikin nggak siap kawin, jadi Bapak Rumah Tangga gue!’ Gerutu Jessen sembari memasukkan handuk basah ke tempat pakaian kotor. “Bajunya udah aku siapin di ruang ganti, Mbul. Nanti kimononya letakkin disitu ya!” Jessen menunjukan keranjang di sudut ruangan.“Iya Ecen, terima kasih.”“Sama-sama, Mbulku.” Setengah rela Jessen mengucapkannya. Masih mending Princess kemana-mana memang. Setidaknya Jeremian masih merasakan nikmatnya menjadi suami seutuhnya selain merasakan ena-ena.Ena-ena?!Otak Jessen berjalan cepat. Ia teringat perkataan Dodit ya
Hal yang pertama Jessen lihat ketika membuka matanya adalah foto sepasang anak kecil dengan usia berbeda– itu sosok dirinya dan Marchellia dua belas tahun lalu, tergantung indah pada sebuah pigura emas sebagai bingkainya. Jika memori dalam otaknya masih baik-baik saja, maka pengambilan foto tersebut terjadi tepat setelah mereka membeli dua pasang cincin di sebuah pusat perbelanjaan yang berakhir dengan kejangnya sang papi. Cerita lama, tapi Jessen masih mengingatnya dengan baik.Jessen tersenyum, mengalihkan tatapannya pada seseorang yang membuat lengannya kebas. ‘Akhirnya,’ setelah sekian purnama, mereka melakukannya juga. Meski tidak bertahan lama, tapi Jessen patut berbangga telah melepas keperjakaannya yang suci. Namanya juga baru coba-coba. Tidak keluar terlebih dahulu dari Marchellia saja sudah suatu kebanggaan tersendiri yang mestinya harus dirayakan. “Bener kata Papi, enak ternyata ena-ena.” Kikiknya geli sendiri. Jessen menarik pelan lengannya agar Marchellia tak terbangun
Jessen harus mencari cara untuk menyelamatkan wajahnya yang tampan. Mata pria muda itu terus mengedar, seolah mencari sesuatu di dalam kamar sang istri. Sementara Marchellia membersihkan diri ala kadarnya– ia harus segera bergerak cepat sebelum istrinya itu keluar dari kamar mandi. “Topeng!” Pekik Jessen ketika matanya menangkap keberadaan sebuah topeng yang tergantung di dekat Televisi besar milik istrinya. Ya– Barang itu mungkin bisa menyelamatkan dirinya ketika makan malam berlangsung. Setidaknya topeng tersebut bisa menutupi sebagian wajahnya agar ia dapat menyembunyikan rasa malu yang membakar tampang kerennya. “Marchellino Bebong! Segede apa punya dia sampai ngatain gue kecil!” Nanti Jessen akan mengintip pusaka kebanggan Marchellino. Awas saja jika tak segahar miliknya yang panjang menjulang– Jessen akan pastikan seluruh media Indonesia memposting kepunyaan Kakak Iparnya yang najisin!“Ecen..”Sebelum Marchellia melemparkan pertanyaan, Jessen telah lebih dulu menjelaskan keb
Mian meraih ponselnya yang terus berdering. Matanya mengerjap, mencoba mengumpulkan nyawa terlebih dahulu sebelum menjawab telepon manusia kurang kerjaan yang mengganggunya pada tengah malam.“Berisik banget..” Mian melirik Princess yang bergerak memunggunginya. Ia menghela napas dalam ketika membaca ID sang penelepon. Manusia satu ini, kenapa senang sekali membuat keributan. Gara-gara dirinya pelukannya dengan Princess jadi terlepas.“Angkat Buy.. Aku ngantuk, sumpah! Nggak kira-kira yang telepon!" “Iya aku angkat. Kamu lanjut tidur aja.” Mian mendaratkan kecupan pada bahu terbuka Princess sebelum beranjak menuruni ranjang. Pria muda itu membuka pintu kaca yang menjadi penghalang antara ruangan dengan balkon kecil di setiap masing-masing kamar. Menjejakkan kaki sembari merasakan angin menerpa kulit bagian atas tubuhnya yang tak terbalut apapun.“Yan!! Bukain pintu!!” Baru saja dirinya ingin menggeser tombol hijau yang tertera di layar ponsel, suara Jessen telah lebih dulu memberita
Jantung Vero berdetak sangat cepat ketika melihat menantu keduanya berlarian menuruni tangga rumah. Demi Tuhan! Jika terjadi sesuatu pada Princess sesungguhnya keluarga Darmawan itu– seluruh manusia bernama belakang Husodo mungkin akan di-bumi hanguskan untuk selama-lamanya. Trah keluarga mereka dipastikan mengalami kepunahan total. Kejadian buruk harus segera Vero cegah.. Sesegera mungkin! “Acheeellll!!! Jangan lari-larian! Jalan aja, Chell!” Teriak Vero dengan tetap menjaga pita suaranya agar tak terdengar membentak. Runyam dunia persilatan kalau si Tuan Putri tersinggung. Jet lee bisa berubah jadi personel boyband nanti.“Papi, Ecen mana?! Ini.. Papi Achell telepon. Dia mau ngomong sama Ecen.” Sulit juga jika memiliki nama panggilan yang sama. Bagaimana nanti jika mereka tengah berada di acara kumpul keluarga besar dan Marchellia hanya memanggil dengan sebutan Papi. Besok-besok, untuk menantu selanjutnya Vero akan meminta Jemima mencarikan besan yang julukannya Bapak, Daddy atau
Menuruti permintaan Audi Mahendra untuk menyantap makanan yang wanita itu sajikan, telah Jessen lakukan bersama dua pengikut sekte aliran gelapnya. Siapa sangka Mian dan Princess mau diajak ikut serta menyatroni meja makan rumah orang lain. Ya, walau tidak sepenuhnya orang lain karena rumah Marchello Darmawan merupakan salah satu Opa Princess, tapi hebatnya wanita galak Mian rela dibangunkan secara paksa dengan iming-iming traktiran mie instan di Kedai Pelangi. Murahan memang istrinya Mian– Jessen saja dibuat tidak percaya pada awalnya jika makanan seharga sembilan ribuan lengkap dengan telur bisa membuat wanita itu luluh.Lupakan perihal Princess dan mie instan idamannya, kini saatnya Jessen berbicara serius dengan para lelaki di keluarga Darmawan. Ia ingin masalahnya cepat selesai dan manusia lancang yang menjadikan istrinya fantasi liar segera diangkut dan mendapatkan karma atas perbuatan beraninya.“Pi,” Jessen menyambangi Chello di ruang keluarga. Ia menghabiskan makanan lebih d
Usai memberikan bagiannya dalam melampiaskan emosi pada dosennya, Jessen keluar dari ruang kerja Chello. Ia sudah cukup puas menginjak-injak dua telur sang dosen menggunakan sol sepatunya. Setelahnya Jessen menyerahkan semua kepada mertua dan kakak iparnya. Terserah mereka ingin melakukan apa, setidaknya Jessen telah berusaha melindungi Marchellia semampu yang ia bisa.“Balik?”“Princess?” Jessen menjawab Mian dengan pertanyaan lain. Jika mereka pulang sebelum para wanita sampai di rumah, saudara kembarnya bisa mendapat masalah. Jessen tidak ingin hal tersebut terjadi. Mian hari ini banyak menunjukan sisi terhebatnya sebagai seorang kakak— dan Jessen berharap tidak menyulitkan posisi Mian walau hanya sesaat.“Bisa gue chat biar langsung pulang naik Taksi. Gue yakin dia nggak bakalan marah.” Ucap Mian seperti tahu apa yang memberatkan diri Jessen. “Cepetan! Gue males liat komuk mertua sama abang ipar lo, Jes!! Mumpung mereka masih sibuk sama Pak Wisnu.” Seloroh Mian mengajak agar Jesse
“Kedainya masih lurus lagi Pi. Belokan pertama ke kanan,” Mian memberikan arahan kepada Vero. Mereka berniat untuk menjemput Jessen setelah mengetahui keberadaan anak itu dari balasan pesan Dodit.“Ini kalian seriusan kenapa kalau cari basecamp ngumpul! Nggak habis thinking Papi.” Omel Vero. Ia mengenal baik lingkungan yang sedang mereka lalui. Vero sendiri tidak akan pernah melupakan jalanan menuju indekos yang sempat ia tinggali. “Ini area kos-kosan, Yan! Papi belum pernah liat kedai bintang lima juga di area ini.”“Nggak ada yang namanya kedai berbintang, Papi. Ini warung yang sempet Papi liat pas VCall-an sama Jess.” Terang Mian agar Vero tidak salah paham kemana tujuan mereka yang sebenarnya. Papinya yang kasta bangsawan tidak boleh terkejut karena itu akan menggagalkan misi mereka untuk ke rumah Opa Ray.“Kalian kebanyakan ngumpul sama di Dodit, Dodit itu! Begini jadinya.” Vero melirik gerbang rumah berlantai dua di sisi kanan yang baru saja ia lewati. Pria itu tersenyum, ‘kosan