FAZER LOGINNancy menatap dengan tidak percaya.Apa yang baru saja dia dengar? Atas dasar apa Silvar melawan ibu kandungnya sendiri demi wanita itu?Wajah Nancy dipenuhi air mata. Dengan suara tercekat, dia berkata, "Apa maksudnya bersikap seperti itu? Seumur hidup aku selalu memikirkan dan merencanakan yang terbaik untuknya. Apa aku salah?""Shane dan Sienna memang bukan anak kandungku, tapi bagaimana perlakuanku kepada kalian selama bertahun-tahun ini, kalian sendiri pasti tahu, 'kan? Apalagi sama Silvar, aku hanya lebih menyayanginya! Tapi dia malah sama sekali nggak tahu berterima kasih!"Selain dalam urusan pernikahan, dalam kehidupan sehari-hari Nancy memang memperlakukan Shane dan Sienna dengan sangat baik. Ketiga bersaudara itu biasanya juga bergaul layaknya saudara kandung tanpa ada jarak di antara mereka.Ayah Silvar memeluk Nancy dan membujuknya beberapa saat.Setelah berhasil menenangkan emosinya dan mengantarnya kembali ke kamar, dia baru memanggil Shane dan Sienna ke ruang kerja."Se
Mungkin Silvar kembali ke rumah ini untuk memastikan jawaban yang selama ini ada di dalam hatinya. Dia juga ingin tahu, sebenarnya apa yang salah selama dua tahun terakhir ini.Ayah Silvar pun tidak mengetahui semua kejadian tersebut. Dia memang tahu Nancy pernah meminta seseorang menghitung kecocokan tanggal lahir Elina. Namun, menurutnya itu bukan hal buruk.Keluarga mereka berbisnis dan memang memercayai hal-hal seperti itu.Jangankan urusan sebesar pernikahan yang perlu diperhitungkan, bahkan apakah hari ini cocok untuk menandatangani kontrak juga akan mereka hitung.Sebelumnya Nancy hanya mengatakan bahwa berdasarkan perhitungan tanggal lahir, karakter Elina terlalu kuat sehingga kurang cocok dengan Silvar. Hubungan mereka berdua pasti akan mengalami banyak kesulitan.Guru spiritual itu juga mengatakan bahwa dalam hubungan mereka, Silvar pasti akan menjadi pihak yang lebih banyak mengalah.Nancy tidak mau menerima itu.Ibu mana yang rela melihat putranya menderita dalam hubungan?
Sudah cukup lama Nancy tidak bertemu Silvar. Awalnya dia sedang duduk di ruang tamu, tetapi begitu melihat Silvar masuk, dia langsung berdiri dengan cepat."Silvar, akhirnya kamu mau pulang juga! Aku sampai mengira kamu sudah nggak mau ibumu lagi!"Sepanjang hidupnya, Nancy nyaris tidak pernah mengalami kesusahan. Wajahnya masih terlihat polos. Dulu Silvar mengira ibunya hanya tidak memahami kerasnya dunia dan selalu memandang segala sesuatu dari sisi baik.Karena itulah, dia tidak pernah menyangka Nancy akan menggunakan begitu banyak cara untuk mempersulit Elina.Silvar menghindari tangan Nancy yang hendak menggandengnya.Kebetulan Shane dan ayah mereka baru keluar dari ruang kerja. Melihat Silvar berdiri di ruang tamu, ayahnya langsung memarahinya."Kamu masih tahu jalan pulang? Aku kira kamu benar-benar sudah nggak menganggap tempat ini sebagai rumahmu! Kenapa? Hidup di luar begitu menyenangkan sampai kamu lupa pulang?"Shane melirik Sienna dengan tatapan seolah bertanya apa yang te
Sikap Elina sangat tenang. Bahkan tidak terlihat sedikit pun keanehan pada dirinya.Silvar hanya merasa hatinya seperti disayat pisau. Seakan hujan di luar jendela sama sekali tidak terhalang apa pun dan semuanya mengguyur tepat ke dalam hatinya. Rasanya seperti daging yang disayat perlahan dengan pisau tumpul, rasa sakit yang menyesakkan memenuhi dadanya.Untuk sesaat, dia bahkan kesulitan bernapas.Elina kembali berkata, "Aku juga sudah memikirkannya. Dua tahun lalu, aku memang berutang ucapan perpisahan padamu. Tapi, kamu juga tahu gimana keadaan kita selama dua tahun ini. Kalau nanti ada orang yang lebih cocok di sisimu, aku doakan kamu bahagia.""Lepaskan aku. Aku sudah sangat lelah."Dia duduk dalam kegelapan, tubuhnya yang ramping terus gemetar. Mengungkapkan semua hal itu telah menguras seluruh tenaganya.Elina tidak pernah menceritakan semua kejadian itu kepada siapa pun. Bahkan Lunara dan yang lainnya pun tidak mengetahuinya.Tenggorokan Silvar seolah dipenuhi jarum. Setiap k
"Uang ini belum pernah sempat kukembalikan. Sekarang aku kembalikan kepadamu. Tolong berikan kepada Bu Nancy.""Selain uang ini, aku nggak mau bertanggung jawab atas yang lainnya. Kalau setelah itu Bu Nancy pernah mentransfer uang lagi kepada ayahku, anggap saja dia sedang sial."Hanya uang inilah yang berbeda. Nancy pernah menyebutnya sebagai uang kompensasi atas perpisahan Elina dan Silvar. Elina tidak bisa menerimanya.Cek itu diletakkan di antara mereka, tetapi Silvar tidak mengambilnya.Sienna kembali bertanya, "Kamu bilang dia menyebutmu bawa nasib buruk. Sebenarnya apa yang terjadi?""Suatu kali waktu kami bertemu, Bu Nancy menanyakan tanggal lahirku dengan sangat mendetail, bahkan sampai menanyakan jam kelahiranku. Dua hari kemudian, dia bilang sudah meminta seorang guru spiritual yang sangat terkenal untuk meramal nasibku dan hasilnya aku nggak cocok dengan Silvar.""Dia bilang aku masih punya banyak utang karma dari kehidupan sebelumnya. Kalau aku menikah dengan Silvar, aku h
Semua hal yang diceritakan Elina itu sama sekali tidak diketahui oleh Silvar maupun Sienna. Mereka bahkan belum pernah mendengarnya sedikit pun. Nancy juga tidak pernah membicarakan masalah itu di rumah.Dia hanya mengatakan bahwa sifat Elina buruk, manja, dan keras kepala. Elina terlalu punya pendirian sendiri dan bukan pasangan yang cocok untuk dinikahi. Silvar dan Elina tidak cocok.Silvar sudah begitu sering mendengar perkataan itu sampai telinganya serasa kebas.Awalnya dia masih akan berdebat dengan Nancy dan mengatakan bahwa Elina bukan orang seperti itu.Namun, Nancy tetap tidak bisa menerimanya. Dia bahkan marah dan kesal hanya karena Silvar lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah saat mereka tinggal bersama.Sekarang, Silvar bahkan tidak mau pulang ke rumah sehingga Nancy semakin murka.Namun, selama Elina meninggalkan Kota Andara, dalam begitu banyak malam yang panjang, Silvar juga pernah merasakan kebencian tumbuh di dalam hatinya. Dia tidak mengerti mengapa Elina bisa set







