LOGINTato itu cukup besar, memenuhi sebagian besar lengan bawah hingga setengah bagian lengan atas."Nggak sakit?""Sakit. Waktu itu satu ruangan penuh orang, kami semua gantian berteriak kesakitan. Sakitnya minta ampun."Demi menyelesaikan tato sebesar itu, Silvar sampai datang beberapa hari. Meskipun dibuat oleh seniman tato kelas atas dengan teknik yang luar biasa, prosesnya tetap saja sangat menyakitkan.Elina mengulurkan tangan dan menyentuhnya pelan. "Kalau sakit, kenapa masih mau ditato?""Aku ingin merasa hidup kembali."Jawaban itu benar-benar di luar dugaan. Hati Elina bergetar.Setelah mereka putus, sebenarnya hati Elina juga tidak bisa tenang. Setiap kali memejamkan mata, yang terlintas adalah sosok Silvar dan setiap kenangan selama mereka bersama.Kadang hatinya terasa hangat, tetapi di lain waktu rasanya seperti terjerumus ke dalam lautan es.Waktu itu, keadaan Silvar ternyata tidak jauh lebih baik darinya.Silvar melanjutkan, "Awalnya waktu kamu masih di sini, aku masih bisa
Saat bertanya, tatapan Silvar terus tertuju pada Elina yang berdiri di hadapannya. Tangannya tetap berada di gagang pintu.Dari tatapannya, jelas sekali tersirat sebuah isyarat. Dia seolah ingin mengatakannya secara langsung, kalau disuruh pergi, dia akan pergi sekarang juga.Bagi Elina, itu sama saja seperti memaksanya mengambil keputusan.Elina dan Silvar sekarang sebenarnya sudah tidak punya hubungan istimewa. Paling-paling, mereka hanya mantan kekasih yang telah putus.Memintanya menginap memang terasa aneh.Namun, Elina juga takut jika Silvar benar-benar pergi sekarang. Pria di depan pintu itu masih menggedor-gedor pintu sambil meneriakkan nama mantan pacarnya.Elina pernah melihat wanita yang tinggal di seberang. Usianya kurang lebih sama dengannya, tinggi badannya juga hampir sama. Sepertinya dia adalah karyawan Grup Narasoma.Kalau dipikir-pikir, dalam keadaan mabuk seperti itu, pria itu benar-benar bisa saja salah mengenali mereka.Elina menarik lengan baju Silvar dengan ragu-
Setelah selesai mencuci piring, Silvar berjongkok di samping lemari piring.Jari-jarinya yang panjang mengambil sebuah piring dari bagian paling dalam. Di atasnya ada gambar berwarna-warni.Seekor rakun kecil.Silvar memegang piring itu, lalu menoleh ke arah Elina dengan senyum samar yang sulit ditebak di sudut bibirnya."Kamu yang bawa?"Piring ini mereka buat saat pergi jalan-jalan bersama. Waktu itu, mereka mampir ke toko keramik khas daerah setempat dan membuatnya karena terlihat menarik. Biasanya, piring itu jarang digunakan.Setelah berpisah dengan Elina, Silvar baru teringat pada piring yang dulu mereka buat bersama.Piring bergambar rakun kecil itu sebenarnya tidak disukai Elina sejak awal dibuat.Silvar sempat mencarinya di seluruh rumah. Dia kemudian berpikir mungkin Elina yang membawanya, tetapi tidak berani memastikan. Bagaimanapun, saat itu Elina tidak membawa apa pun.Dia juga tidak menyangka Elina ternyata membawa piring ini.Ekspresi Elina tampak sedikit canggung. Dia m
Tangannya menekan pinggang ramping Elina, mencengkeramnya erat seperti penjepit besi yang kokoh.Silvar berkata, "Ciuman saja nggak boleh? Jangan lupa, masih ada lima permintaan yang sudah kamu janjikan padaku."Elina tertegun.Dia memang pernah memikirkan bahwa mungkin suatu saat Silvar akan memintanya menemaninya karena janjinya itu. Namun, dia tidak menyangka Silvar akan menggunakannya untuk hal seperti ini.Melihat bulu mata Elina yang terkulai, Silvar tahu dia pasti sudah berpikir terlalu jauh. Dia mengangkat alis dan tersenyum. Di bawah cahaya lampu ruang makan, senyum itu justru membuatnya terlihat begitu santai dan penuh pesona."Untuk hal seperti ini, tentu saja harus atas dasar kemauan kedua belah pihak. Memangnya aku binatang buas?"Bukankah memang begitu? Selama ini, Elina mengira Silvar memang seperti itu. Kalau tidak, mana mungkin setelah menghabiskan pangsit buatannya, dia masih betah di rumahnya, bahkan mulai menyentuhnya seenaknya.Elina berkata pelan, "Kalau begitu, l
Barang-barang di dalam koper tidak banyak.Sebagian besar barang sudah dikirim lebih dulu dan masih teronggok di sudut. Beberapa kardus berukuran besar bahkan sampai sekarang masih ditempeli selotip bea cukai dan belum pernah dibuka.Meskipun Elina sudah pulang, yang dia lakukan hanyalah menyalakan laptopnya. Kalau hari ini Silvar tidak naik ke atas, mungkin dia bahkan tidak akan memasak.Pangsit beku itu dibeli saat terakhir kali dia pergi berbelanja bersama Casya.Casya berkata, sekarang dia sudah punya anak, dia selalu makan lebih banyak demi merawat anaknya. Karena itu, Elina juga tidak boleh asal makan. Di rumah mereka, pangsit beku dan mi instan adalah makanan terlarang.Elina mentertawakan Casya karena dianggap terlalu berlebihan. Namun, entah kenapa sekarang semangkuk pangsit beku di tangannya sendiri terasa begitu menyedihkan dan memprihatinkan.Silvar mengeluarkan pakaian dari dalam koper Elina dan melipatnya dengan rapi. Setelah itu, dia menutup kopernya, mengelap roda-roda
Pria di sebelah beberapa kali disela oleh Silvar. Setelah mendengar percakapan itu, dia justru mendapatkan sedikit kepercayaan diri. Kali ini, dia langsung berkata kepada Silvar."Bro, kamu juga jangan terlalu merendah begitu dong. Setelah nikah, mana mungkin nggak tinggal bareng orang tua? Nanti kalau punya anak, siapa yang urus?"Silvar menjawab dengan tenang, "Kalau dia nggak suka anak-anak, aku bisa vasektomi."Pria itu langsung terperangah. Mana ada pria yang rela bertindak sejauh itu hanya demi seorang wanita?Sementara itu, wanita yang sedang kencan buta dengannya sudah mendengar cukup banyak omong kosong dari pria itu. Dia akhirnya tidak tahan lagi. Wanita itu bangkit dan menatap Elina."Dia pria yang baik. Kamu harus mempertahankannya." Usai mengatakan itu, dia langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Wajahnya tampak tidak senang.Sebenarnya, alasan wanita itu masih mau duduk di sana sampai sekarang adalah karena dia mendengar percakapan Silvar dari sebelah dan merasa







