LOGINKayden memegang betis Lunara.Jari-jarinya mengencang, lalu menarik kaki Lunara ke arahnya hingga nyaris seluruh kaki Lunara berada dalam pelukannya.Lunara menyadari Kayden sedang tidak senang.Selama bertahun-tahun, cara pria itu menunjukkan ketidaksenangannya memang tidak pernah berubah.Lara bisa bertengkar separah itu dengan Hardi, berarti dia jelas bukan orang yang mudah dihadapi. Kayden tidak ingin Lunara ikut terseret ke dalam kekacauan mereka.Dia memegang kaki Lunara, menggunakan tekanan dan kehangatan ujung jarinya untuk membantu losion tubuh meresap ke kulit.Dia tidak mengatakan apa-apa.Lunara berkata dengan tenang, "Aku nggak akan menemuinya. Besok aku dan Kayden akan pergi ke luar negeri. Belakangan ini kami nggak akan ada di rumah. Tanyakan saja ada urusan apa. Kalau memang ada yang bisa kubantu, baru hubungi aku lagi."Ignas mengiyakan.Lunara meletakkan ponselnya di samping. Tak lama kemudian, Ignas menelepon kembali."Bu Lunara, Bu Lara bilang dia hanya ingin mengob
Bagaimanapun, mereka adalah ayah dan anak. Daisy sangat memahami apa yang dipikirkan Kayden. Papa tidak tega meninggalkan dirinya dan Jaden, tetapi juga ingin pergi berdua saja bersama Mama.Dengan gaya seperti orang dewasa kecil, Daisy berunding dengan Kayden, "Aku akan video call dengan Papa setiap hari. Papa nggak perlu khawatir."Kayden mulai tergoda."Daisy, kamu mau ikut Papa dan Mama pergi?"Kalau Jaden tidak perlu. Dia masih terlalu kecil. Kalaupun diajak pergi dan melihat banyak hal, nanti juga tidak akan mengingatnya. Malah hanya akan menambah kerepotan selama perjalanan.Membawa anak laki-laki kecil yang energinya seolah tidak pernah habis bepergian benar-benar bisa membuat kewalahan.Kayden sama sekali tidak mempertimbangkannya.Daisy menggeleng. "Belakangan ini aku punya beberapa kompetisi. Kak Amy sudah mengatur semuanya, jadi aku nggak bisa pergi. Lagi pula, aku pernah ke tempat yang akan kalian datangi. Aku lahir di sana."Sebelumnya, Lunara pernah memberi tahu Daisy ba
Bagi Javier sekarang, memiliki cucu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.Cucu perempuannya pintar, cucu laki-lakinya menggemaskan. Bahkan saat keluar rumah, dia merasa jauh lebih bersemangat dibandingkan para kakek lain.Saat sedang bersenang-senang, Lili masuk dari luar sambil mengusap tangannya pada celemek yang dikenakannya."Nyonya, Bu Nancy datang lagi."Saphira langsung sakit kepala."Buat apa lagi dia datang? Silvar masih belum pulang?""Katanya sudah berhasil menghubunginya, tapi orangnya masih belum pulang. Dia datang untuk berdiskusi dengan Nyonya soal apa yang harus dilakukan."Saphira mendecakkan lidah."Itu anaknya sendiri, sekarang malah nggak tahu harus berbuat apa? Waktu mau mempersulit hidup gadis itu dulu, bukannya idenya banyak sekali?"Saat hendak menyusahkan orang lain, Nancy sama sekali tidak perlu meminta pendapat siapa pun. Begitu sekarang tidak tahu harus berbuat apa terhadap putranya sendiri, dia malah tahu-tahu datang meminta saran.Saphira berdec
Memikirkan masalah Hardi saja sudah membuat Javier sakit kepala. Akhirnya dia langsung mengatakan tidak mau ikut campur dan menyerahkan semuanya kepada Kayden. Namun, begitu melihat Jaden berlari dengan kaki pendeknya, wajah Javier langsung berseri-seri.Kayden mengangkat telepon.Ignas berkata, "Pak Kayden, kami sudah menyelidikinya. Bu Lara membawa anaknya sendiri untuk berziarah ke makam leluhur. Bukan Pak Hardi yang membawanya pulang.""Untuk masalah kekerasan dalam rumah tangga, kami kesulitan mendapatkan catatan laporan polisi setempat. Tapi kejadian serupa pernah terjadi di dalam negeri dan dikategorikan sebagai perkelahian antara suami istri.""Bu Lara memang terluka, tapi Pak Hardi kehilangan tiga gigi dan dua tulang rusuknya patah. Setelah itu, mereka berdamai."Ignas menyeka keringat.Sebagai asisten khusus, ruang lingkup pekerjaannya memang mencakup mengurus beberapa urusan pribadi atasannya. Namun, urusan pribadi Kayden sendiri sebenarnya sangat sedikit.Selain istri dan a
Setelah kembali ke rumah utama Keluarga Narasoma, Jaden yang sedang berada dalam fase perkembangan pesat kemampuan bicara langsung berceloteh panjang lebar kepada Saphira.Dia bercerita bahwa dia pergi ke gunung bersama Papa, Mama, dan Kak Daisy, lalu mereka menemukan seorang tante dan seorang anak laki-laki di sana.Lunara dan Kayden pergi ke sana untuk berziarah.Gunung? Satu-satunya gunung yang dimaksud pasti gunung tempat kompleks pemakaman berada. Memangnya orang macam apa yang bisa ditemukan di kompleks pemakaman?Saphira ketakutan sampai vas bunga di tangannya hampir terlepas dan jatuh ke lantai.Bahkan suaranya ikut bergetar, "O ... orang? Orang apa?"Saphira mulai merinding.Jangan-jangan mertuanya menampakkan diri dari dalam makam? Tidak mungkin. Atau jangan-jangan mimpi Javier beberapa kali sebelumnya benar-benar menjadi kenyataan? Apa mertuanya memang punya sesuatu yang ingin disampaikan dari alam sana?Setelah mencuci tangan dan berganti pakaian, Lunara melihat wajah Saphi
Wajah Kayden menunjukkan kekhawatiran. Lunara menceritakan apa yang baru saja dikatakan Lara kepada Kayden."Jadi maksudmu, Om Hardi yang membawa dia dan anaknya untuk berziarah ke makam Nenek, lalu meninggalkan mereka berdua di gunung di tengah jalan?""Iya, begitu katanya. Tapi menurutku agak aneh. Om Hardi ... bukan tipe orang yang akan menelantarkan wanita dan anak-anak."Hardi memang terkadang cukup tidak bertanggung jawab. Namun, dia juga tidak mungkin sama sekali tidak memedulikan anaknya sendiri. Apalagi anak itu masih kecil.Kayden juga merasa ada yang tidak beres. Dia meremas telapak tangan Lunara. Dengan tangan satunya, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon Ignas."Selidiki istri baru Om Hardi.""Baik, Pak Kayden."Tak lama kemudian, Ignas menelepon kembali."Istri baru Pak Hardi bernama Lara. Dia lulusan jurusan vokal Universitas Andara. Beberapa tahun terakhir, dia bekerja di balik layar dalam industri hiburan. Lara mengenal Pak Hardi karena beberapa kali mengisi lagu untu







