LOGIN"Silvar termasuk nggak?"Membicarakan Silvar, Elina tersenyum pahit. "Soal perasaan nggak bisa dipaksakan. Aku juga nggak ingin terus bertengkar dengan ibunya.""Iya juga."Berpacaran adalah urusan dua orang, tetapi pernikahan adalah urusan dua keluarga.Lunara mengakui bahwa beberapa tahun lalu, salah satu alasan besar yang membuatnya luluh adalah Saphira.Dia melihat kebaikan Saphira dan kasih sayangnya kepada Daisy. Karena itulah Lunara merasa bahwa anak yang dibesarkan oleh wanita seperti Saphira mungkin memiliki hati dan sifat yang tidak buruk. Dia merasa seharusnya mencoba memberi Kayden satu kesempatan lagi.Kalau bukan karena Saphira, mungkin Lunara masih membutuhkan keberanian yang besar untuk keluar dari bayang-bayang masa lalunya.Meskipun berpacaran adalah urusan dua orang, Elina adalah orang yang sangat tidak suka masalah. Halangan dari Nancy hanya akan membuatnya merasa lelah. Keputusan Elina untuk pergi kali ini belum tentu bukan hal yang baik.....Setelah Elina pergi,
"Jadi, kamu mau mengancamku?" Nancy menatap Silvar dengan mata penuh ketidakpercayaan. "Kalaupun seumur hidup kamu nggak nikah, aku tetap nggak akan mengizinkanmu menikahi Elina!"Di pesta tadi, Elina sama sekali tidak menjaga harga dirinya. Mulutnya begitu tajam. Kalau kelak dia benar-benar menikah dengan Silvar, entah berapa banyak masalah yang akan ditimbulkannya untuk Keluarga Rasputi.Nancy tidak menyukai calon menantu seperti itu. Sejak kecil hingga dewasa, Silvar juga jarang sekali berbicara kepadanya dengan sikap seperti ini. Pasti Elina yang telah memberikan pengaruh buruk.Silvar menatap Nancy dalam-dalam. Dia langsung menyingkap kemarahan yang sedang dirasakan ibunya saat itu."Yang penting itu bukan aku akan menikah atau nggak. Yang penting itu, hanya karena Elina pernah pacaran denganku, Ibu sampai menghina dan mempermalukannya."Nancy selalu menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segalanya. Saat berbicara dan bertindak, dia tidak pernah mempertimbangkan perasaan orang l
Tidak ada yang lebih memahami bagaimana perusahaan itu berkembang selain mereka sendiri.Lunara hanya tersenyum dan membiarkannya berlalu. Dia juga tahu bahwa ucapan-ucapan itu sudah menyentuh batas kesabaran Elina.Wajah Silvar langsung berubah masam. Dia berdiri, lalu melangkah lebar menuju meja di sana.Elina tetap tenang dan santai, lanjut meminum tehnya.Lunara memelankan suaranya. "Kamu belum bilang ke dia kalau kamu mau ke luar negeri?""Waktu kamu dulu mau ke luar negeri, memangnya kamu bilang ke Pak Kayden?"Tentu saja tidak. Waktu itu Lunara sibuk ke luar negeri untuk mencari dokter. Lagi pula, dia dan Kayden sudah putus, jadi tentu saja semuanya harus diselesaikan dengan tegas dan tanpa berlarut-larut.Dia juga tidak berniat meminta balikan. Jadi, untuk apa memberi tahu Kayden?Melihat Elina bisa bersikap setegas ini, tampaknya dia memang sudah benar-benar melepaskan semuanya.Dengan wajah muram, Silvar hendak menarik Nancy untuk meninggalkan meja. Awalnya Nancy menolak."Ja
Mereka memang tidak bisa melakukan apa pun.Casya baru saja hamil. Kondisi kandungannya masih belum stabil. Bisa menjalani seluruh rangkaian pernikahan yang begitu rumit saja sudah tidak mudah baginya. Eston tentu tidak boleh bertindak sembarangan.Mendengar ucapan Eston, telinga Casya langsung memerah. Waktu itu setelah mereka resmi mendaftarkan pernikahan, Eston mengatakan bahwa malam itu adalah malam pertama mereka sebagai pengantin baru.Karena itulah mereka bertindak terlalu jauh hingga terjadi hal seperti ini.Waktu itu, Casya pernah bilang bahwa menurutnya, malam setelah pesta pernikahan barulah benar-benar bisa disebut malam pertama pengantin.Siapa sangka, Eston malah menjawab, "Kalau begitu, malam pertama pengantin kita ada dua kali."Malam pertama pengantin saja bisa dibuat menjadi dua versi. Hal seperti itu hanya bisa keluar dari mulut Eston.Casya masih ingin menikmati jamuan pernikahannya. Setelah berganti pakaian, dia kembali ke acara resepsi.Lunara dan yang lainnya tah
Hari ini, Elina mengenakan riasan tipis. Saat tersenyum, wajahnya tampak cerah dan menawan, sampai-sampai mata Irma berbinar melihatnya. Dia memang menyukai gadis-gadis yang cantik dan berkepribadian terbuka.Setelah puas tertawa, Casya pun pergi bersama para pengiring pengantin perempuan dan laki-laki. Baru saja mereka melangkah pergi, terdengar Nancy mencibir dari belakang.Irma pura-pura tidak mendengarnya. Dengan riang, dia mengirim pesan suara kepada putranya, menyuruhnya agar benar-benar memanfaatkan kesempatan ini.Casya menggandeng tangan Elina sambil susah payah menahan tawa. "Tante Irma memang orangnya seru. Lihat saja, Tante Nancy sampai dibikin kesal begitu.""Aku juga bukan sengaja mau membuatnya kesal. Kemarin-kemarin aku nggak bertengkar dengan dia karena menghormati Silvar."Biasanya, Elina tidak segan-segan memarahi Silvar. Kalau bukan karena Nancy lebih tua dan pada awalnya terlihat ramah serta berkelas, Elina sudah lama melawannya. Sekarang, Elina sama sekali tidak m
Sejak kecil hingga sekarang, Nancy belum pernah bertemu orang seperti Elina. Menurutnya, gadis-gadis seperti Elina bisa dia ketahui isi pikirannya hanya dalam sekali pandang.Mereka tak lebih dari sekadar ingin memanfaatkan sumber daya Keluarga Rasputi untuk mengangkat martabat mereka.Bukankah Elina juga berpikiran seperti itu? Sama-sama perempuan, Nancy merasa bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya dipikirkan Elina.Sekarang, untuk apa Elina sengaja berpura-pura angkuh di depannya?Nancy mencibir, lalu mengulurkan tangannya yang terawat dengan baik. Meskipun sudah berusia, kulitnya masih halus. Dia merapikan rambutnya sambil bertanya, "Elina, dari cara bicaramu, memangnya perusahaanmu nggak pernah mengandalkan Silvar?"Elina menatap Nancy. Sebelumnya, karena menganggap Nancy sebagai orang yang lebih tua, Elina masih menjaga perasaannya. Dia juga tidak ingin Silvar berada dalam posisi sulit karena urusan ini.Sekarang, mereka sudah putus. Bagi Elina, kata-kata Nancy sama sekali







