Share

Bab 133

Author: Fitri
Lebih tepatnya, untuk memastikan apakah di dalam rumah ada pria dewasa.

Lunara menenangkan diri dan berdeham pelan. "Aku nggak tahu. Coba kamu buka saja pintunya dan lihat."

Kayden tersenyum tipis. Suaranya dinaikkan dan pandangannya tetap tertuju pada Lunara. "Baik."

Sambil menghadap ke arah pintu, Kayden berkata, "Siapa itu? Dari tadi ngetuk pintu terus. Sebaiknya kamu memang ada urusan penting."

Nada bicaranya tidak ramah. Seperti pria yang kesal karena momen indahnya diganggu. Pria di luar l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 857

    "Aku?" Zaid sempat tertegun. Kemudian dia menunduk dan tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Semua yang kulakukan nggak ada hubungannya dengan keyakinan. Aku hanya ingin melakukannya."Seberapa banyak uang yang bisa dia hasilkan tidak pernah terlalu penting bagi Zaid. Mengejar kesenangan dan hidup bermewah-mewahan juga bukan prinsip hidupnya. Selama dia bisa menjalani kehidupan yang relatif nyaman, dia ingin melakukan beberapa hal yang masih berada dalam batas kemampuannya.Mereka terus melaju hingga tiba di tujuan berikutnya.Setelah beristirahat dan merapikan segala sesuatu, mereka kembali berangkat. Namun belum lama berada di perjalanan, mereka sudah menghadapi jalan pegunungan yang tertutup akibat hujan salju lebat.Mereka hanya bisa memberanikan diri untuk terus melaju.Jarak pandang di jalan saat ini sangat rendah. Mobil sulit bergerak maju di tengah badai salju, bahkan navigasi pun sudah tidak berfungsi.Ruas jalan ini memang sejak dulu dikenal sebagai salah sat

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 856

    Begitu ucapan itu dilontarkan, tatapan teman-teman kuliahnya terhadap Sandy langsung dipenuhi simpati. Dari pakaian yang dikenakan kakak Sandy saja, mereka bisa melihat bahwa penghasilannya tidak sedikit. Bahkan jam tangan di pergelangan tangannya saja bernilai ratusan juta.Namun, ternyata sifatnya begitu dingin dan tak acuh.Lantas, apa gunanya Sandy dikenal sebagai mahasiswa genius di fakultas dan memiliki reputasi yang begitu cemerlang kalau dia punya kakak seperti itu? Rasanya bahkan masih lebih baik menjadi mereka.Seseorang kemudian membicarakan Sarah."Kita semua berasal dari kampus yang sama, entah apa yang dia sombongkan. Dosen pembimbing sebelumnya sudah menyuruh kita menjaga hubungan baik dengan sesama mahasiswa. Menurutku, dia memang memandang rendah kita."Sandy tampak ramah di luar, tetapi sebenarnya berhati dingin. Dia berkata dengan santai, "Bagaimanapun, Sarah bekerja di àl'aube dan masa depannya sangat cerah. Wajar saja kalau dia memandang rendah mahasiswa miskin sep

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 855

    Casya sengaja pergi mengunjungi toko perhiasan di kota kecil itu. Perhiasan emas khas Tibera cenderung memiliki desain besar dan mencolok. Sebagian besar dicampur dengan perak atau diisi lilin di bagian dalamnya.Melihat sederetan perhiasan yang dipajang di rak, Casya sampai merasa matanya hampir silau oleh kilauan emas.Saat mereka kembali ke penginapan, Sarah dan Zaid juga sudah bangun.Zaid berdiskusi dengan Eston, "Jalan setelah ini nggak terlalu bagus. Gimana kalau kita sisakan satu mobil saja, lalu kita berdua bergantian menyetir?""Boleh juga. Nanti aku minta orang datang untuk bawa mobil satunya kembali."Keduanya langsung sepakat dan memindahkan semua barang dari dua mobil ke dalam satu mobil.Melihat mereka hendak mengembalikan salah satu mobil, beberapa mahasiswa menghampiri. Mereka bertanya apakah mobil itu bisa diberikan kepada mereka untuk dipakai.Eston berkata dengan tenang, "Sepertinya nggak bisa. Mobil ini kusewa dengan menggunakan kartu identitasku sebagai jaminan. K

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 854

    Beberapa menit kemudian, Sarah baru saja selesai membersihkan diri dan hendak berbaring.Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Dia bangkit lagi dan mengenakan jaket, lalu membuka pintu. Sandy berdiri di depan kamar dan menyerahkan sebuah ponsel kepadanya."Ini ponselmu, 'kan? Tadi ditinggal di luar untuk diisi daya. Aku lihat baterainya sudah penuh, jadi sekalian kubawakan.""Terima kasih. Tadi aku lupa."Sarah menerima ponselnya sambil mengucapkan terima kasih."Kamu dekat dengan kakakku?""Nggak. Frekuensi aku bertemu dengannya kurang lebih sama dengan aku bertemu Kak Sandy. Bisa dihitung dengan satu tangan."Sandy tersenyum dan menimpali, "Jangan salah paham. Aku cuma nanya. Kakakku masih lajang, jadi aku juga penasaran seperti apa kakak ipar yang akan dia carikan untukku nanti."Sarah samar-samar merasa tidak nyaman.Dia mengernyit dan berkata, "Lalu apa hubungannya denganku? Atau menurutmu, setiap wanita yang berdiri di samping kakakmu berpotensi menjadi kakak iparmu? Kalau

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 853

    Dalam hal ini, riwayat prestasi Sandy memang sangat cemerlang hingga membuat orang kagum."Dia memang sangat pintar. Mungkin terkadang cara pandang kami berdua memang berbeda.""Cari kesempatan untuk lebih banyak mengobrol saja. Lagi pula, sekarang kamu juga kerja di sini. Siapa tahu dia cuma sedang memasuki masa pemberontakan."Zaid seketika merasa tidak berdaya sekaligus ingin tertawa.Masa pemberontakan?Kalau begitu, masa pemberontakan Sandy datang cukup terlambat.Dia berkata dengan tenang, "Sebelumnya aku menjalankan sebuah proyek amal. Hampir seluruh uang yang kuhasilkan kumasukkan ke proyek itu untuk memberikan bantuan medis kepada anak-anak yang menderita penyakit jantung bawaan. Sandy kurang bisa memahami tindakanku, jadi kami mengalami beberapa perbedaan pendapat."Zaid kembali memasukkan kayu kering ke dalam tungku, membuat apinya cukup untuk menghangatkan ruangan tanpa menyala terlalu besar."Sejak kecil Sandy menderita penyakit jantung. Kami pergi ke berbagai tempat untuk

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 852

    Sarah menggeleng. Karena tidak ada kegiatan lain, setelah mencolokkan ponselnya untuk mengisi daya, dia mulai mencari-cari makanan.Pemilik penginapan menyediakan beberapa camilan di dekat sofa. Semuanya merupakan makanan khas daerah Tibera. Gigitan pertama masih terasa lumayan enak, tetapi semakin dimakan, rasanya semakin manis dan enek.Sarah pun mencari teh untuk menghilangkan rasa enek itu.Sambil menyeduh teh, dia berkata, "Nggak sama. Kalau Pak Zaid tahu seperti apa keluargaku, mungkin kamu juga akan merasa lebih baik nggak punya orang tua sama sekali."Dari sudut pandang tertentu, sulit ditentukan siapa yang lebih beruntung di antara latar belakang keluarga Sarah dan Zaid.Setelah selesai menyeduh teh, Sarah memberikan secangkir kepada Zaid.Saat menggenggam cangkir itu, telapak tangannya perlahan menghangat. Sarah mengembuskan napas hangat lalu berkata, "Sejak kecil aku sering diperlakukan kasar sama orang tuaku. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, terkadang aku juga ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status