로그인Dalam hal ini, riwayat prestasi Sandy memang sangat cemerlang hingga membuat orang kagum."Dia memang sangat pintar. Mungkin terkadang cara pandang kami berdua memang berbeda.""Cari kesempatan untuk lebih banyak mengobrol saja. Lagi pula, sekarang kamu juga kerja di sini. Siapa tahu dia cuma sedang memasuki masa pemberontakan."Zaid seketika merasa tidak berdaya sekaligus ingin tertawa.Masa pemberontakan?Kalau begitu, masa pemberontakan Sandy datang cukup terlambat.Dia berkata dengan tenang, "Sebelumnya aku menjalankan sebuah proyek amal. Hampir seluruh uang yang kuhasilkan kumasukkan ke proyek itu untuk memberikan bantuan medis kepada anak-anak yang menderita penyakit jantung bawaan. Sandy kurang bisa memahami tindakanku, jadi kami mengalami beberapa perbedaan pendapat."Zaid kembali memasukkan kayu kering ke dalam tungku, membuat apinya cukup untuk menghangatkan ruangan tanpa menyala terlalu besar."Sejak kecil Sandy menderita penyakit jantung. Kami pergi ke berbagai tempat untuk
Sarah menggeleng. Karena tidak ada kegiatan lain, setelah mencolokkan ponselnya untuk mengisi daya, dia mulai mencari-cari makanan.Pemilik penginapan menyediakan beberapa camilan di dekat sofa. Semuanya merupakan makanan khas daerah Tibera. Gigitan pertama masih terasa lumayan enak, tetapi semakin dimakan, rasanya semakin manis dan enek.Sarah pun mencari teh untuk menghilangkan rasa enek itu.Sambil menyeduh teh, dia berkata, "Nggak sama. Kalau Pak Zaid tahu seperti apa keluargaku, mungkin kamu juga akan merasa lebih baik nggak punya orang tua sama sekali."Dari sudut pandang tertentu, sulit ditentukan siapa yang lebih beruntung di antara latar belakang keluarga Sarah dan Zaid.Setelah selesai menyeduh teh, Sarah memberikan secangkir kepada Zaid.Saat menggenggam cangkir itu, telapak tangannya perlahan menghangat. Sarah mengembuskan napas hangat lalu berkata, "Sejak kecil aku sering diperlakukan kasar sama orang tuaku. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, terkadang aku juga ngg
Setelah mengembalikan air panas ke kamar, Sarah melihat bahwa suhu tubuh Casya masih normal meski wajahnya tampak memerah. Setelah menghirup oksigen, kondisinya pun membaik cukup banyak.Punggung tangan Eston menempel di wajah Casya.Di dalam kamar hanya ada satu lampu tidur kecil yang menyala. Terlihat jelas wajah pria itu dipenuhi kekhawatiran.Sarah berkata pelan, "Kak Eston, gimana kalau malam ini kamu tidur di kamar ini saja? Aku dan Pak Zaid bisa tidur di kamar sebelah."Casya sedang tidak enak badan, jadi Eston pasti juga tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.Eston mengernyit. "Sepertinya nggak terlalu nyaman.""Nggak ada yang nggak nyaman. Kamar kalian di sebelah juga kamar dua ranjang, bukan kamar dengan satu ranjang besar."Eston tampak sedikit ragu. Dia memandang Casya dan terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya."Aku lihat dulu kondisi Casya. Kalau dia membaik, nggak perlu.""Oke, nanti panggil aku."Sarah menutup pintu lalu keluar.Zaid duduk di sofa s
Sandy berbicara dengan nada seolah semua itu sudah sewajarnya.Tanpa sadar, dia menempatkan teman-teman sekelasnya di luar lingkaran kepentingannya sendiri. Meskipun mereka bepergian bersama, menurut Sandy, sumber daya yang dimiliki mereka tidaklah setara.Peralatan yang dibawa Zaid dan rombongannya semuanya berkualitas terbaik. Dua mobil yang tadi terparkir di depan penginapan saja sudah cukup menjadi bukti. Kalau terus mengikuti Zaid, yang akan lebih banyak diuntungkan adalah para mahasiswa itu.Sandy tidak menginginkan hal itu.Di sisi lain, Zaid tidak terlalu memedulikannya."Kalau sedang bepergian jauh, semua orang pasti sama-sama menghadapi kesulitan. Lagi pula mereka juga teman kuliahmu. Sudah sewajarnya saling bantu. Aku juga lulusan universitas yang sama, jadi saling menjaga bukan masalah.""Kakak nggak mengerti." Sandy tersenyum meremehkan. "Oh ya, kok Kakak datang bareng Sarah?""Ada beberapa proyek pengadaan untuk perusahaan yang harus kubicarakan. Aku datang untuk urusan p
Malam itu mereka tidak punya tempat menginap. Karena tidak ada sinyal, mereka juga tidak bisa menghubungi siapa pun.Saat akhirnya mendapat sinyal, mereka malah tidak tahu bagaimana menjelaskan di mana lokasi mereka sekarang.Casya sempat mengira mereka akan bermalam di alam terbuka. Untungnya, Pasha melunak dan memanggil mereka kembali. Saat itu, beliau berkata bahwa mereka harus pulang keesokan harinya.Casya tersenyum sambil menyesap teh mentega. "Waktu itu aku berpikir, asalkan masih bisa tetap tinggal, berarti masih ada kesempatan. Jadi aku mengajak Master Pasha mengobrol semalaman sampai akhirnya beliau tergerak dan mengizinkan kami tetap di sana."Mata Zaid sedikit membelalak, penuh keterkejutan dan kekaguman."Aku nggak nyangka, kalian begitu bersusah payah demi seri Kepompong Pecah. Di balik setiap perhiasan memang ada jiwanya. Kalian benar-benar memberi makna pada nama Kepompong Pecah."Baik Sarah maupun Casya sama-sama tidak terlihat seperti orang yang sanggup menghadapi kes
Setelah libur Tahun Baru usai, semua kembali mulai bekerja. Casya meletakkan rancangan desain terbarunya di atas meja kantor Lunara."Aku merasa desain kali ini masih kurang sesuatu. Bagian yang sengaja dikosongkan ini rencananya mau ditambahkan apa?"Terlihat jelas bahwa kali ini Casya memasukkan banyak unsur etnik ke dalam desainnya. Ada banyak batu pirus dan manik-manik, yang umumnya sering ditemukan pada perhiasan emas khas Tibera.Namun selain itu, masih ada beberapa bagian yang sengaja dibiarkan kosong.Casya tersenyum bangga. "Aku berencana pergi mencari inspirasi langsung! Ke wilayah Tibera! Sarah ikut denganku. Jangan rebut dia dariku ya."Sarah memang jauh lebih memahami daerah itu.Lunara tahu Casya sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi bersantai. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua tahun terakhir, membuat Casya jauh lebih dewasa dan tenang.Seluruh auranya pun tampak lebih dewasa."Kuberi kalian waktu satu minggu, nggak lebih. Kalian berdua harus ha







