Share

Bab 136

Author: Fitri
Lunara bangun lebih awal. Namun, semalam dia tidur sangat nyenyak. Saat membuka mata, Daisy tidak ada di sampingnya.

Lunara refleks menyentuh tempat tidur di sebelah, jantungnya langsung berdegup kencang. Dia benar-benar langsung terbangun sepenuhnya.

Bahkan tanpa sempat memakai sandal, dia langsung turun dari tempat tidur untuk mencari Daisy.

Akan tetapi, dia melihat Daisy sudah duduk di kursi makan anak di depan meja sambil memegang sendok berbentuk gajah dan menyuap makanan dari mangkuknya se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1017

    Barang-barang di dalam koper tidak banyak.Sebagian besar barang sudah dikirim lebih dulu dan masih teronggok di sudut. Beberapa kardus berukuran besar bahkan sampai sekarang masih ditempeli selotip bea cukai dan belum pernah dibuka.Meskipun Elina sudah pulang, yang dia lakukan hanyalah menyalakan laptopnya. Kalau hari ini Silvar tidak naik ke atas, mungkin dia bahkan tidak akan memasak.Pangsit beku itu dibeli saat terakhir kali dia pergi berbelanja bersama Casya.Casya berkata, sekarang dia sudah punya anak, dia selalu makan lebih banyak demi merawat anaknya. Karena itu, Elina juga tidak boleh asal makan. Di rumah mereka, pangsit beku dan mi instan adalah makanan terlarang.Elina mentertawakan Casya karena dianggap terlalu berlebihan. Namun, entah kenapa sekarang semangkuk pangsit beku di tangannya sendiri terasa begitu menyedihkan dan memprihatinkan.Silvar mengeluarkan pakaian dari dalam koper Elina dan melipatnya dengan rapi. Setelah itu, dia menutup kopernya, mengelap roda-roda

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1016

    Pria di sebelah beberapa kali disela oleh Silvar. Setelah mendengar percakapan itu, dia justru mendapatkan sedikit kepercayaan diri. Kali ini, dia langsung berkata kepada Silvar."Bro, kamu juga jangan terlalu merendah begitu dong. Setelah nikah, mana mungkin nggak tinggal bareng orang tua? Nanti kalau punya anak, siapa yang urus?"Silvar menjawab dengan tenang, "Kalau dia nggak suka anak-anak, aku bisa vasektomi."Pria itu langsung terperangah. Mana ada pria yang rela bertindak sejauh itu hanya demi seorang wanita?Sementara itu, wanita yang sedang kencan buta dengannya sudah mendengar cukup banyak omong kosong dari pria itu. Dia akhirnya tidak tahan lagi. Wanita itu bangkit dan menatap Elina."Dia pria yang baik. Kamu harus mempertahankannya." Usai mengatakan itu, dia langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Wajahnya tampak tidak senang.Sebenarnya, alasan wanita itu masih mau duduk di sana sampai sekarang adalah karena dia mendengar percakapan Silvar dari sebelah dan merasa

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1015

    Mereka menemukan sebuah bangku panjang dan duduk.Ada jarak di antara mereka.Kalau dilihat sekilas, mereka tampak seperti sepasang pria dan wanita yang tidak terlalu mengenal satu sama lain, tetapi terpaksa keluar untuk kencan buta sepulang kerja demi memenuhi keinginan keluarga.Kebetulan, di bangku sebelah mereka benar-benar duduk sepasang pria dan wanita yang sedang berkencan buta. Mendengar pria itu berbicara panjang lebar dengan penuh percaya diri, Elina tak kuasa menahan tawa.Di usia seperti ini masih harus berkencan buta, tetapi pria itu hanya mau mencari tempat mengobrol di taman dan bahkan tidak bersedia memilih kafe atau restoran yang layak. Dari situ saja sudah bisa ditebak bahwa hasil kencan buta ini mungkin tidak akan terlalu bagus.Begitu Silvar menunduk, dia melihat Elina sedikit membungkukkan tubuh sambil menutupi bibir dengan jari untuk menahan tawa.Dia mendengar pria di sebelah berkata, "Hubungan itu harus berkembang cepat. Memangnya ada pria yang mau menunggumu ta

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1014

    Elina tidak bergerak.Silvar mendesak, "Cepat. Di sini nggak boleh parkir."Mobil di belakang mulai membunyikan klakson. Elina pun terpaksa membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Silvar segera menjalankan mobil menuju rumah Elina.Elina berkata pelan, "Kamu nggak perlu antarin aku. Jaraknya cuma sedikit, aku bisa jalan pulang sendiri.""Di luar banyak nyamuk. Kamu yakin?"Meskipun sudah bulan Oktober, nyamuk masih ada di mana-mana. Kulit Elina sangat sensitif. Sekali digigit nyamuk, akan meninggalkan banyak bekas yang baru hilang setelah waktu yang cukup lama.Elina tidak menjawab.Silvar kembali berkata, "Kamu masih ingat kebiasaanku. Aku senang."Elina menjawab lirih seperti sedang bergumam, "Daya ingatku nggak seburuk itu."Bagaimanapun juga, mereka pernah bersama cukup lama. Mereka pernah begitu dekat dan mesra, serta berbagi segalanya satu sama lain. Mungkin pikirannya sudah melupakannya. Namun, nalurinya tetap akan bereaksi begitu melihat Silvar mengambil daun kucai dengan sendo

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1013

    Elina membalas tatapan menyelidik Silvar. Dengan tenang dia berkata, "Nggak ada hubungannya denganmu."Memang benar, ketika melihat Sasa dan Jaden, sempat terlintas dalam benak Elina keinginan untuk memiliki seorang anak. Mungkin karena Casya pernah mengatakan bahwa proses membesarkan Sasa juga menjadi proses untuk menyembuhkan dirinya sendiri di masa kecil.Elina merasa mungkin masa lalu yang selama ini masih mengganjal di hatinya juga bisa dia damaikan dengan cara seperti itu.Namun, itu hanya pikiran sesaat yang muncul lalu menghilang dan belum benar-benar menjadi sebuah rencana. Dia sendiri bahkan tidak tahu akan punya anak dengan siapa.Namun, tatapan Silvar yang begitu terang-terangan tertuju kepadanya kembali membangkitkan kewaspadaannya.Silvar meliriknya.Benar, tidak ada hubungannya dengan dia.Elina sudah mengatakan bahwa hubungan mereka benar-benar berakhir.Silvar tersenyum mengejek diri sendiri, tetapi di mata Elina, ekspresi itu justru membingungkan.Apa yang dia tertawa

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 1012

    Setelah makan, Saphira meminta Lili menyiapkan beberapa kotak makanan, lalu menyuruh Casya mengantarkannya kepada Alden dan Silvar.Mulutnya masih terus mengomel."Masa sih begitu mulai kerja langsung nggak makan? Keterlaluan sekali."Javier sedang melihat ponselnya. Dia mengangkat kepala dan melirik Saphira, lalu mengeluh, "Ngapain sih kamu banyak ikut campur? Mereka masih muda, memang sedang usia giat-giatnya berjuang.""Ah, sudahlah. Bagaimanapun juga, Alden dan Silvar sudah seperti anak kita sendiri. Mana mungkin aku nggak mengkhawatirkan mereka?"Menurut Javier, Saphira memang terlalu banyak mengurusi orang. Semua hal harus dikhawatirkannya.Kalau menurutnya, mereka cukup memperhatikan tiga cucu di rumah. Generasi sepantaran Kayden itu semuanya sudah dewasa. Memangnya mereka masih belum tahu cara menjaga dan merawat diri sendiri?Sayangnya, Saphira memang tidak pernah mau mendengarkan nasihat.Meski mulutnya berkata seperti itu, ketika Javier melihat Saphira mengangkat tangan untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status