LOGINMalam hari, di rumah sakit.Saat Kayden tiba, Saphira baru saja bangun tidur. Javier sedang menyuapi Saphira makanan pasien yang dimasak hingga lembut.Melihat Kayden masuk, Saphira langsung menanyakan apakah anaknya sudah makan. Pasti lembur lagi, jadi tidak sempat makan makanan hangat.Kayden duduk di sofa. "Aku sudah makan."Javier yang kepalanya penuh dengan berbagai pikiran, baru menemukan kesempatan untuk bertanya ketika melihat Kayden. "Gimana sebenarnya hubunganmu dengan Lunara itu?""Aku sedang mengejarnya, belum berhasil. Dia bilang kalau dia putus dengan pacarnya, dia akan mempertimbangkanku."Javier tidak percaya. "Dia cuma menjadikanmu cadangan?""Jadi cadangan juga lumayan, setidaknya selalu siap sedia."Javier sungguh kehabisan kata-kata. Ini omong kosong apa lagi? Dia menatap Kayden dengan jengkel."Kamu ini cuma asal bicara, mempermainkan ayahmu saja."Kayden berkata dengan tenang, "Dia mantan pacarku waktu kuliah. Waktu itu, karena banyak kesalahpahaman, dia yang putu
Sikapnya begitu alami, seolah-olah semua yang dilakukannya adalah hal yang wajar dan biasa saja. Hanya memasak semangkuk mi dengan santai, bukan sesuatu yang membuang banyak waktu.Daisy pergi ke kamar untuk membaca buku. Kayden bersandar di pintu kulkas. Kulkas berwarna hitam pekat dengan permukaan seperti cermin itu harganya mencapai ratusan juta, tetapi tetap hanya menjadi latar bagi dirinya.Mantelnya sudah dilepas, disampirkan di sandaran sofa. Tatapan Kayden terus tertuju pada Lunara.Celemek yang dikenakannya diikat di belakang pinggang, membuat terusannya ikut membentuk lekuk tubuh. Pinggangnya tampak ramping, hanya selebar satu genggaman.Rambutnya tergerai santai di belakang telinga. Helaian hitam kontras dengan kulit putihnya seperti dua kutub yang berbeda.Api menjilat dasar panci. Suara alat pengisap dapur tidak terlalu keras, menjadi salah satu dari sedikit suara di dapur.Dia bahkan bisa memecahkan telur dengan satu tangan. Gerakannya saat memasak benar-benar terampil.K
Meskipun hanya menyentuh sebentar lalu melepaskan, itu tetap membuat sudut bibir Kayden terangkat."Kalau begitu, aku nggak naik lagi. Aku antar kalian pulang dulu."Akhir musim gugur, embun mulai tebal. Kayden mengenakan mantel gelap. Di dalamnya adalah kemeja bergaya artistik dengan beberapa rumbai yang menjuntai.Daisy mengulurkan tangan dan menariknya sedikit. Kayden menggendongnya dengan santai, lalu mengangkatnya tinggi beberapa kali berturut-turut, membuat gadis kecil itu tertawa riang.Daisy sangat suka bersama Kayden. Bahkan terkadang, dia jadi agak manja pada Kayden.Setelah naik mobil, Daisy duduk di kursi pengaman belakang sambil membaca buku. Selain itu, dia juga mengobrol dengan Lunara, "Tadi waktu Nenek Saphira bicara berdua sama Mama, ngomong apa saja?"Lunara duduk di belakang menemani Daisy. Begitu pertanyaan itu dilontarkan, dia pun merasakan tatapan Kayden dari kaca spion ikut tertuju padanya. Di mata pria itu, ada sedikit ketegangan.Lunara mengangkat alis. "Bukan
Wajah Javier sedikit memerah, meskipun tidak terlalu jelas. Dia mengeluh, "Ngapain ngomongin hal begitu? Nggak ada yang menarik."Sudah lewat bertahun-tahun, masih saja dibahas di depan generasi muda. Javier pun agak merasa malu.Saphira tertawa kecil beberapa kali. Kebahagiaan jelas terlihat di wajahnya. "Dalam hal ini, Kayden sama seperti ayahnya. Selama bertahun-tahun, aku nggak pernah dengar Javier bilang mencintaiku, seperti nggak punya mulut saja.""Sudah umur segini masih bicara soal cinta! Aku rasa kamu ini kena benturan di kepala, harus dijadwalkan CT scan otak." Sambil berbicara, Javier berdiri dan menyentuh dahi Saphira. Tidak panas. Kalau begitu, kenapa tiba-tiba bernostalgia?Bahkan Saphira jarang membicarakan hal-hal seperti ini. Sebagai pria, Javier juga bukan tipe yang banyak bicara.Saphira menepis tangannya.Lunara berdiri di sana. Hatinya sedikit terguncang. Dia sempat berpikir Saphira mungkin akan mengatakan sesuatu kepadanya. Tentang Kayden, tentang Daisy, atau ten
Saphira hanya merasa, di dalam hatinya seperti ada ribuan kata yang ingin diucapkan. Namun, saat pandangannya benar-benar jatuh pada Lunara yang berdiri di pintu, dia justru tidak tahu harus mulai dari mana.Seolah-olah ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya, semua kata itu tidak bisa keluar.Javier juga bukan pertama kali bertemu Lunara. Dia hanya tahu Lunara adalah orang tua dari teman sekelas Rupert, sementara istrinya seperti kerasukan, sangat menyukai anak perempuan Lunara.Memang Daisy sangat lucu, tetapi Javier juga tidak mengerti. Seberapa pun lucunya, bukankah itu tetap anak orang lain? Tidak mungkin hanya karena Saphira suka, lalu jadi anak keluarga mereka, 'kan?Saat Javier sedang berpikir, Daisy meletakkan apel, lalu berlari kecil mengambil dua gelas air. Dia memberikan satu kepada Saphira dan satu lagi kepada Javier.Wajah tua Javier langsung berseri-seri. "Untukku?""Ya! Kakek Javier sudah capek merawat Nenek Saphira, ini air hangat!"Selama bertahun-tahun, ini per
Sudah tidak bisa kembali utuh seperti semula.....Di rumah sakit, Saphira berkali-kali menoleh ke arah pintu. Javier menekan bahunya agar dia duduk dengan tenang."Lihat apa sih? Sibuk sekali.""Aku lagi lihat kapan cucuku datang."Javier termangu. Kecelakaan mobil itu tidak mengenai otak istrinya, 'kan? Dia maju selangkah, lalu menyentuh dahi Saphira."Saphira, kamu jadi bodoh karena ditabrak ya? Apa ada luka dalam yang belum ketahuan?"Saphira langsung menepis tangannya. "Ngomong apa sih, aku ini sudah punya cucu kandung. Kamu iri juga nggak ada gunanya."Javier menatapnya dengan bingung. "Kalau kamu punya cucu, bukannya itu juga cucuku?""Beda! Aku nggak akan bilang ke kamu. Nanti kalau hubungan cucuku sama aku sudah sangat dekat, baru aku kasih tahu kalau itu cucu kita."Saphira membayangkannya dengan indah. Menunggu sampai Daisy benar-benar akrab dengannya, jadi yang paling dekat di dunia, baru dia akan memberi tahu Javier bahwa itu adalah cucu mereka.Saat itu, lelaki tua itu pa
"Mm, begitu saja."Ignas mengembuskan napas panjang lega. Kemudian, dia melihat Kayden yang berbalik pergi berkata lagi, "Untuk saputangannya, ajukan reimbursement."Sapu tangan itu adalah barang bonus dari sebuah merek mewah. Meskipun hanya barang pelengkap, jika dibeli terpisah harganya tetap juta
Lunara bahkan tidak perlu menengadah, sudah bisa merasakan hujan yang jatuh mengenai wajahnya. Pakaiannya menempel sepenuhnya di tubuh. Dengan kondisi yang begitu memalukan, dia menggigil kedinginan.Mobil Wrangler berhenti di pintu masuk stasiun MRT. Saat pandangan Lunara bertemu dengan mobil itu,
Hari pertama masuk kuliah, Lunara ketahuan mengendarai mobil sport masuk ke dalam kampus dan langsung ditangkap kepala bagian akademik, ditarik lalu dimarahi habis-habisan.Di sanalah dia melihat Kayden, sang perwakilan mahasiswa baru, datang ke bagian akademik untuk mengecek daftar nama.Saat itu K
Theron memesan sangat banyak makanan.Maeris membagikannya berkeliling, tetapi tidak satu pun orang di sekretariat yang mau menerima. Di mata mereka hanya ada pekerjaan. Gaji tinggi dari Grup Narasoma sudah cukup untuk membuat mereka makan hidangan kelas atas kapan saja.Sejak datang tadi pagi, Maer







