LOGINJari Lunara tiba-tiba berhenti. Tangan yang menggenggam tisu diremas, lalu mengusap layar dengan kuat. Layar tipis komputer itu sedikit bergoyang.Malam itu ... Elina melihatnya bersama Kayden? Saat itu, Kayden memang terus memeluknya. Elina seharusnya tidak melihat wajahnya.Entah kenapa, Lunara malah merasa seolah-olah malam itu dia sedang berselingkuh dengan Kayden. Meskipun tahu Elina tidak melihatnya, Lunara tetap merasa sedikit tegang.Saat keluar, kelopak matanya terus berkedut. Firasat buruk itu kembali muncul di hatinya. Dalam sekejap, jantungnya berdebar tak tenang.Di ponselnya, sebuah panggilan masuk. Dari guru TK Daisy. Tangan Lunara mulai gemetar. Ketika mengangkat telepon, suara panik guru itu terdengar. "Bu Lunara, Daisy hilang!"Lutut Lunara langsung lemas. Dia bersandar pada dinding, baru bisa berdiri dengan susah payah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, tetapi dia memaksa diri tetap tenang. "Bu Guru, tolong jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?""Tadi Daisy
Hari kerja keesokan harinya, Lunara merasa gelisah.Kepalanya sakit, jantungnya berdebar tanpa henti. Rasanya pusing sekali, seolah-olah sesuatu akan terjadi.Dia mengira dirinya mengalami gula darah rendah. Setelah minum setengah gelas air hangat dan makan beberapa permen, rasa tidak nyaman itu sedikit mereda.Dia menelepon Priya, lalu membuka monitor kelas Daisy yang selalu terhubung ke ponsel orang tua, memastikan tidak ada masalah.Lunara memijat pelipisnya. Terakhir kali dia merasakan hal seperti ini adalah saat Orion jatuh sakit dan dikirim ke ICU.Setelah menyelesaikan dokumen serah terima pengunduran diri, Lunara berdiri dan mengantarkan dokumen itu ke kantor direktur.Casya menandatangani dengan sigap, lalu memberikan sebuah kartu kepada Lunara. Di dalamnya, berdasarkan riwayat kerja Lunara, diberikan kompensasi yang seharusnya tidak ada untuk pengunduran diri sukarela. Jumlahnya cukup besar.Di sana tertulis satu kalimat.[ Terima kasih atas kerja kerasmu. Kami menghargai sem
Javier tampak agak ragu. Bagaimanapun juga, itu adalah generasi penerus di Keluarga Narasoma.Mengingat sifat Daisy yang patuh dan manis, Javier juga paham dalam hatinya. Semua itu adalah hasil didikan Lunara.Hatinya terasa gelisah, seperti ada semut merayap. Dia bertanya, "Masa anak itu nggak diakui?"Saphira berkata dengan tenang, "Tentu harus diakui. Apa yang seharusnya didapat oleh generasi muda di Keluarga Narasoma, Daisy nggak boleh kurang sedikit pun. Hanya saja Kayden, kamu juga harus ngerti, aku sangat menyukai Daisy. Aku nggak ingin dia jadi anak di luar nikah."Dia ingin memberi Daisy sebuah status yang sah, agar Daisy bisa berdiri dengan terhormat sebagai anak Keluarga Narasoma.Kayden mengangguk. "Aku ngerti."Baru saja keluarga itu menutup pintu dan selesai berbicara, Casya masuk dengan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Zafran.Zafran mendengar bahwa Saphira mengalami kecelakaan dan kebetulan berada di rumah sakit yang sama, jadi datang menjenguk.Melihat Kayden, Z
Malam hari, di rumah sakit.Saat Kayden tiba, Saphira baru saja bangun tidur. Javier sedang menyuapi Saphira makanan pasien yang dimasak hingga lembut.Melihat Kayden masuk, Saphira langsung menanyakan apakah anaknya sudah makan. Pasti lembur lagi, jadi tidak sempat makan makanan hangat.Kayden duduk di sofa. "Aku sudah makan."Javier yang kepalanya penuh dengan berbagai pikiran, baru menemukan kesempatan untuk bertanya ketika melihat Kayden. "Gimana sebenarnya hubunganmu dengan Lunara itu?""Aku sedang mengejarnya, belum berhasil. Dia bilang kalau dia putus dengan pacarnya, dia akan mempertimbangkanku."Javier tidak percaya. "Dia cuma menjadikanmu cadangan?""Jadi cadangan juga lumayan, setidaknya selalu siap sedia."Javier sungguh kehabisan kata-kata. Ini omong kosong apa lagi? Dia menatap Kayden dengan jengkel."Kamu ini cuma asal bicara, mempermainkan ayahmu saja."Kayden berkata dengan tenang, "Dia mantan pacarku waktu kuliah. Waktu itu, karena banyak kesalahpahaman, dia yang putu
Sikapnya begitu alami, seolah-olah semua yang dilakukannya adalah hal yang wajar dan biasa saja. Hanya memasak semangkuk mi dengan santai, bukan sesuatu yang membuang banyak waktu.Daisy pergi ke kamar untuk membaca buku. Kayden bersandar di pintu kulkas. Kulkas berwarna hitam pekat dengan permukaan seperti cermin itu harganya mencapai ratusan juta, tetapi tetap hanya menjadi latar bagi dirinya.Mantelnya sudah dilepas, disampirkan di sandaran sofa. Tatapan Kayden terus tertuju pada Lunara.Celemek yang dikenakannya diikat di belakang pinggang, membuat terusannya ikut membentuk lekuk tubuh. Pinggangnya tampak ramping, hanya selebar satu genggaman.Rambutnya tergerai santai di belakang telinga. Helaian hitam kontras dengan kulit putihnya seperti dua kutub yang berbeda.Api menjilat dasar panci. Suara alat pengisap dapur tidak terlalu keras, menjadi salah satu dari sedikit suara di dapur.Dia bahkan bisa memecahkan telur dengan satu tangan. Gerakannya saat memasak benar-benar terampil.K
Meskipun hanya menyentuh sebentar lalu melepaskan, itu tetap membuat sudut bibir Kayden terangkat."Kalau begitu, aku nggak naik lagi. Aku antar kalian pulang dulu."Akhir musim gugur, embun mulai tebal. Kayden mengenakan mantel gelap. Di dalamnya adalah kemeja bergaya artistik dengan beberapa rumbai yang menjuntai.Daisy mengulurkan tangan dan menariknya sedikit. Kayden menggendongnya dengan santai, lalu mengangkatnya tinggi beberapa kali berturut-turut, membuat gadis kecil itu tertawa riang.Daisy sangat suka bersama Kayden. Bahkan terkadang, dia jadi agak manja pada Kayden.Setelah naik mobil, Daisy duduk di kursi pengaman belakang sambil membaca buku. Selain itu, dia juga mengobrol dengan Lunara, "Tadi waktu Nenek Saphira bicara berdua sama Mama, ngomong apa saja?"Lunara duduk di belakang menemani Daisy. Begitu pertanyaan itu dilontarkan, dia pun merasakan tatapan Kayden dari kaca spion ikut tertuju padanya. Di mata pria itu, ada sedikit ketegangan.Lunara mengangkat alis. "Bukan
Kepala Lunara terasa berputar hebat.Tangan Kayden mencengkeram pinggangnya, sama sekali tidak berniat melepaskan. Kayden mengenal tubuhnya dengan sangat baik. Dia juga tahu, dalam kondisi seperti apa Lunara akan kehilangan kemampuan untuk melawan.Di rumah ini tidak ada jejak keberadaan seorang pri
Rupert sangat gembira. Dia mendekat dan memanggil pamannya.Dari saku bajunya, dia mengeluarkan sebuah bakpao, lalu menyerahkannya pada Kayden dengan enggan. "Om, ini bakpao buatan Tante Lunara, enak sekali. Om belum sarapan, 'kan? Ini buat Om."Pagi itu, Priya memang mengukus banyak bakpao. Semuany
Lunara tidak lupa. Hanya saja, dia tidak menyangka Kayden akan menjadikan deretan angka itu sebagai kata sandi kunci pintu. Mungkin juga karena mereka selalu datang ke kamar ini pada hari jadi hubungan mereka setiap tahun.Lunara menuangkan segelas air hangat, lalu mengambil sebotol madu mini yang b
Hinari merasa agak terkejut. Reaksi pertamanya adalah tidak percaya pada ucapan Rupert. Dengan tubuh sebesar itu, mana mungkin dia anak yang tidak diberi makan di rumah? Kalau dia sampai kekurangan makan, berarti semua anak di dunia ini sudah seperti anak-anak busung lapar.Bahkan Kayden pun mengira







