LOGIN"Bagaimanapun, aku tetap adikmu, 'kan? Bukannya Ibu sudah menyuruhmu jagain aku baik-baik? Sekarang hidupmu sudah nyaman, tapi kamu bahkan nggak mau mengatur pekerjaan untukku dan Alfie!"Elina mencibir.Tatapannya beralih kepada para wartawan yang hadir, lalu melirik mereka dengan tenang."Kalian juga merasa bahwa pekerjaan adik-adik di rumah, biaya makan dan minum mereka, bahkan sampai mereka menikah dan punya anak nanti, semuanya harus menjadi tanggung jawab kakaknya?"Para wartawan terdiam. Namun, orang-orang di kolom komentar langsung memahami inti masalahnya.[ Memangnya kenapa harus kakaknya yang tanggung? Jadi kakak bukan berarti harus jadi sapi perah. ][ Bukannya tadi wanita ini bilang Elina menelantarkan orang tuanya? Kok sekarang malah jadi masalah Elina nggak mau cariin pekerjaan untuk dia? ]Yuna juga menyadari situasinya mulai tidak menguntungkan. Dia buru-buru mengubah ucapannya."Bukan, bukan begitu .... Maksudku, kamu sudah mengecewakan Ayah dan Ibu! Mereka menghabisk
Di bawah pegunungan bersalju, lautan bunga bergoyang tertiup angin. Semburat terakhir matahari senja tenggelam di balik pegunungan bersalju. Kilauan merah keemasan di permukaan danau perlahan memudar, digantikan oleh hamparan bintang yang mulai bermunculan.Semoga besok cuacanya cerah.Di lantai bawah àl'aube, Yuna kembali datang mencari mereka.Lunara baru saja kembali dari luar. Ketika melihat wanita yang berjongkok di depan pintu utama dan bersikeras tidak mau pergi, dia hampir mengira dirinya salah lihat."Aaron, kenapa dia datang lagi?""Aku juga baru mau menghubungimu. Wanita ini bilang dia harus bertemu dengan Elina. Kalau nggak, dia nggak mau pergi. Aku mau mengusirnya, tapi dia bilang sedang hamil. Aku juga jadi serba salah."Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Yuna langsung merebahkan diri di lantai. Dia membuat keributan sambil berguling-guling dan bersikeras harus bertemu dengan Elina.Lunara meliriknya dan berkata datar, "Panggil polisi saja. Meskipun wanita hamil, dia tetap ng
Casya menerima air yang disodorkan Eston dan meneguknya beberapa kali. Barulah kondisinya sedikit pulih. Melihat wajahnya sudah lumayan membaik, Eston mengangkat alis dan berkata, "Jangan-jangan ini juga bagian dari 'inspirasi' yang kamu bilang tadi?"Casya langsung memilih untuk mengabaikannya.Sepanjang perjalanan berikutnya, Zaid mengemudi dengan lebih hati-hati dan pelan. Namun, jalur pegunungan itu memang terkenal dengan tikungannya yang tak ada habisnya. Setelah melewati perjalanan panjang, bahkan wajah Sarah pun sudah pucat.Untungnya, mereka berhasil tiba dengan selamat di penginapan yang sudah dipesan untuk malam itu.Kondisinya bahkan lebih sederhana dibandingkan penginapan sebelumnya. Untungnya, dari jendela mereka bisa langsung melihat pegunungan bersalju yang menjulang megah dan spektakuler.Setelah tidur sebentar, Casya kembali menarik Sarah keluar untuk berfoto.Zaid menyalakan sebatang rokok dan bersandar di dekat jendela sambil mengobrol santai dengan Eston. "Waktu kal
Menjelang fajar, demam Sandy akhirnya benar-benar turun. Dia juga memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan bersama rombongan. Setelah menghubungi pemandu setempat, mereka mengatur agar Sandy diantar ke bandara di kota terdekat.Zaid melihatnya masuk ke mobil dan berkali-kali berpesan, "Setelah pulang, urus masalah di sana baik-baik. Jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, duduk dan bicarakan dengan tenang. Jangan terlalu terburu-buru.""Aku tahu, Kak. Kamu kembali saja. Jangan sampai orang-orang di sana menunggumu terlalu lama.""Setelah sampai di bandara, telepon aku. Kalau nggak tersambung, kirim pesan saja. Aku sudah belikan tiket pesawat untukmu. Tim medis di Kota Andara juga sudah aku hubungi. Setelah pulang, periksa kesehatanmu dulu.""Baik."Zaid mengatur semuanya dengan sangat teliti sampai tidak ada satu pun yang terlewat, baru kemudian berbalik dan pergi.Melihat punggungnya yang semakin menjauh, Sandy duduk di dalam mobil dan menarik napas dalam-dalam. Alasan dia me
Sandy menunduk tanpa mengatakan apa pun.Zaid melanjutkan, "Aku tahu kamu nggak bisa tenang meninggalkan proyek di sini. Bagaimanapun, semua bagian yang pernah kamu kerjakan adalah jerih payahmu. Tapi, kesehatan tetap yang paling penting. Sekarang kamu masih bisa memaksakan diri, tapi gimana kalau nanti tubuhmu benar-benar nggak sanggup lagi?""Aku akan mempertimbangkannya. Besok aku kasih jawaban, boleh?""Boleh. Selain itu, waktu kamu tidur tadi ada teman perempuan yang meneleponmu. Telepon dia kembali. Aku keluar sebentar untuk merokok."Zaid menyetir sepanjang sore dan malamnya masih harus merawat orang sakit. Dia memang sudah kelelahan. Dia mengambil kotak rokok lalu keluar. Dia tidak pergi jauh, hanya berdiri di koridor luar dan menyalakan sebatang rokok.Dia mengisapnya dalam-dalam. Begitu mendongak, dia bisa melihat hamparan bintang di atas kepalanya. Jika diperhatikan dengan saksama, bahkan bentuk setiap rasi bintang pun terlihat jelas.Sebenarnya, Zaid juga pernah tinggal di
Zaid mengaktifkan mode senyap pada ponsel Sandy, meletakkannya kembali di meja samping ranjang, lalu mencolokkannya ke pengisi daya. Dia kembali mengukur suhu tubuh Sandy dan memastikan demamnya untuk sementara tidak naik lagi sebelum akhirnya berdiri."Aku antar kamu pulang dulu."Karena Zaid bersikeras mengantarnya, Sarah juga tidak menolak.Setelah menutup pintu dengan hati-hati, mereka berjalan keluar. Sarah refleks merapatkan pakaiannya. Namun baru saja dia melakukan itu, sebuah mantel hangat sudah disampirkan ke tubuhnya. Mantel itu bahkan masih menyimpan kehangatan tubuh pria tersebut.Sarah mendongak menatapnya.Zaid hanya mengenakan sweter kasmir hitam berkerah tinggi yang pas membalut tubuhnya, sehingga bentuk tubuhnya yang terlatih terlihat jelas.Pakaian seperti itu memang hangat jika digunakan sebagai lapisan dalam. Namun, kalau hanya mengenakan satu lapis seperti itu, angin tetap bisa menembusnya. Melihatnya saja sudah terasa dingin."Kamu ngasih mantelmu ke aku. Memangny







