MasukKayden terdiam sejenak. Dia mempertimbangkan kata-kata yang tepat untuk waktu yang lama, tetapi tetap tidak berhasil menanyakan hal itu dengan lancar.Daisy menyuap nasi, lalu memandang Kayden dengan bingung. "Papa kenapa?"Saphira dan Javier juga memandang Kayden dengan wajah heran."Kamu sebenarnya mau bilang apa? Jangan bikin penasaran begitu."Lunara tersenyum, lalu langsung mengambil alih pembicaraan. "Waktu Kayden merapikan rak buku Daisy, ada secarik kertas yang jatuh. Kelihatannya ditulis oleh teman laki-laki Daisy di kelas. Dari tadi siang dia terus menebak-nebak soal itu."Berbagai macam dugaan membuat Kayden gelisah. Bahkan dia sempat menduga, apakah Daisy diam-diam sudah mulai berpacaran.Sama sekali tidak boleh. Anak itu baru 16 tahun. Dia masih belum mengerti apa-apa.Beberapa orang yang lebih tua juga langsung sedikit tegang, memandang Daisy dengan waspada.Daisy bertanya dengan bingung, "Kertas apa?"Kayden mengeluarkan kertas itu dari sakunya dan menyerahkannya.Daisy
Cerita TambahanWaktu berlalu tanpa terasa. Hari-hari terus berganti. Lebih dari sepuluh tahun pun berlalu begitu saja.Kayden masih terlihat seperti dulu. Waktu seolah sama sekali tidak meninggalkan jejak di wajahnya.Lunara sedang memakai masker wajah ketika melihat Kayden bergegas masuk ke kamar dengan wajah panik. "Kenapa?"Kayden tampak seperti sedang menghadapi masalah besar. Kemeja di punggungnya bahkan sudah basah oleh keringat dan menempel di tubuhnya. "Sayang!"Kayden menggenggam selembar kertas kecil di tangannya. Dengan wajah serius, dia menatap Lunara.Raut wajahnya begitu panik. Kalau tidak tahu apa yang terjadi, orang mungkin akan mengira dia baru saja mengalami sesuatu yang sangat membahayakan. Melihatnya seperti itu, Lunara ikut tegang.Dia menarik masker dari wajahnya, lalu mengoleskan sisa essence ke kakinya. "Kenapa? Ada masalah besar ya?""Lihat ini."Lunara mengambil secarik kertas dari tangan Kayden. Di sana tertulis beberapa kalimat dengan tulisan tangan yang te
Moonbreeze tetap menjadi ilustrator ternama di dunia industri.Selain mengerjakan ilustrasi yang sudah dijadwalkan secara rutin, Lunara juga memperbarui beberapa ilustrasi setiap minggu. Semuanya berasal dari inspirasi yang sudah dia dapatkan.Banyak penggemar yang merasa kagum. Yang paling mengerikan bukanlah ketika idola mereka berbakat sekaligus bekerja keras, melainkan ketika dia sudah mencapai puncak, kemampuan desainnya masih terus berkembang dengan pesat.Daisy membuka suara, "Papa, di sekolahku ada kegiatan. Guru mau mengundang Papa ceramah di sekolah.""Boleh. Kapan?" Kayden selalu sangat memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan Daisy."Jumat ini. Guru bilang kalau Papa nggak sempat, Mama juga boleh. Nanti tergantung Papa atau Mama yang punya waktu."Lunara mengangkat alis dan bertanya dengan suara lebih lembut, "Mama juga?""Ya. Aku yang merekomendasikan Mama ke guru. Selain Papa, Mama juga pengusaha dan ilustrator yang hebat. Aku juga bilang ke guru, Papa pernah ce
Setelah minum obat, Jaden tidur dengan sangat nyenyak. Wajah kecilnya tampak merah merona. Setelah mendapat beberapa kali vaksinasi, dia beberapa kali demam. Lunara merasa sangat kasihan melihatnya, tetapi vaksin tetap harus diberikan.Melihat Lunara khawatir, Saphira menenangkannya dengan suara pelan, "Tubuh Fishie kuat, nggak apa-apa. Aku sudah minta dokter periksa, nggak ada masalah. Dia cuma merasa nggak nyaman dan jadi lebih mudah rewel.""Waktu Daisy masih kecil, dia lebih sulit diurus daripada Fishie, 'kan?"Lunara tersenyum. "Ya. Waktu itu kondisi tubuh Daisy kurang baik. Dia juga sering mengalami alergi setelah makan. Bolak-balik ke rumah sakit sudah jadi hal biasa."Saphira ikut menghela napas. "Waktu itu nggak ada yang menemanimu merawatnya. Keluarga kami selalu merasa sangat bersalah soal itu. Kami sudah mengecewakanmu.""Kenapa tiba-tiba bahas itu?"Saphira menggeleng. Dia duduk di sisi ranjang kecil, lalu menepuk-nepuk Jaden. Suaranya pun melunak. "Aku cuma teringat sama
Namun, karena Lara sudah datang sampai ke sini, tidak mungkin dia pulang begitu saja dengan tangan kosong.Dia sudah mempersiapkan semuanya selama ini. Bahkan alasan dia menikah dengan Hardi bukan semata karena Hardi sedang berada di puncak popularitas sebagai sutradara, melainkan lebih karena Keluarga Narasoma yang berada di belakangnya.Keluarga Narasoma sedang berada di masa jayanya. Di pusat Kota Andara saja, mereka punya beberapa gedung perkantoran. Beberapa jalan ramai dan pusat perbelanjaan di sekitarnya juga merupakan properti pribadi cabang utama Keluarga Narasoma.Belum lagi Dragon Gold dan Narasoma Tech yang bisa dibilang merupakan pemimpin di industri masing-masing.Bahkan bisnis gim mereka setiap bulan selalu berada di posisi teratas, dengan pendapatan bulanan mencapai puluhan miliar.Pakaian yang dikenakan Lunara saja harganya mencapai ratusan juta, sementara perhiasannya merupakan koleksi mewah àl'aube.Bahkan tempat sampah yang digunakan cabang utama Keluarga Narasoma h
Saphira perlahan membuka suara, "Setelah Fresia bercerai dengan Hardi, dia juga memutus hubungan dengan keluarga kami. Sebelumnya, dia bahkan mencuri barang antik dari rumah kami bersama salah satu pelayan yang bekerja di rumah ini. Orangnya saja masih belum ditemukan.""Kalau lain kali dia datang mencarimu lagi, hubungi aku. Biar polisi yang menangkapnya."Lara sebenarnya tidak tahu banyak tentang urusan Keluarga Narasoma. Hardi juga tidak pernah memberitahunya banyak hal. Apalagi urusan pribadi Keluarga Narasoma, dia benar-benar tidak pernah membicarakannya.Mendengar itu, mata Lara dipenuhi kepanikan dan kebingungan. Jari-jarinya mengusap ujung roknya tanpa arah, lalu dia tanpa sadar melirik Lunara. "Hah? Dia ... dia pernah mencuri?""Itu kejadian lama. Aku kira kamu sudah tahu. Hubungan antara Fresia dan Om Hardi juga sebenarnya nggak berakhir dengan baik." Lunara tersenyum. "Ini semua urusan pribadi. Aku pikir Om Hardi sudah menceritakan semuanya ke kamu karena dia suamimu."Hardi







