Se connecterKeluarga Narasoma tidak akan meninggalkan darah daging mereka sendiri. Namun, Shaka dan Floryn sampai sekarang masih ditempatkan di rumah peristirahatan dan belum dibawa kembali.Fresia juga tahu soal itu. Katanya dirawat baik-baik, tetapi sebenarnya itu sama saja seperti dikurung.Dalam keadaan seperti itu, bisa hidup tenang saja sudah bagus, mana sempat memikirkan harta Keluarga Narasoma.Bibir Fresia tanpa sadar gemetar. "Ka ... kalian ... kejam sekali! Eden dan Frans juga adik Kayden! Kamu wanita berhati ular!"Volume suaranya tanpa sadar mengecil, karena dia melihat Lunara sama sekali tidak tampak sedang bercanda.Fresia berbalik, lalu jatuh terduduk di lantai, menangis dan meraung-raung."Seluruh Keluarga Narasoma sudah menyakitiku! Kalau dulu bukan karena Pak Zafran, aku nggak akan masuk ke sini! Hubungan baikku dihancurkan keluarga kalian, Keluarga Narasoma harus bayar dengan nyawa!"Bicaranya kacau, emosinya benar-benar runtuh.Lunara mengangguk ringan ke arah pelayan, memberi
"Anak dan menantuku hidup dengan baik, tapi kalian semua entah kenapa merasa nggak puas, sampai harus datang menginjak mereka!"Yang dimaksud tentu saja ucapan Fresia di depan media sebelumnya. Meskipun Keluarga Narasoma sudah menanganinya dengan cara keras, di internet masih ada banyak unggahan terkait hal itu.Fresia merasa bersalah, segera memikirkan alasan. "Aku nggak bermaksud begitu. Kak, jangan marah. Aku cuma mau tanya sebenarnya maksud Pak Zafran itu apa? Masa Frans dan Eden nggak dapat apa-apa?"Saphira mencibir dingin. "Suruh saja anakmu pergi berjuang di luar! Kalau mau sesuatu, rebut sendiri! Kalau berhasil merebut dari orang luar, itu namanya punya kemampuan. Tapi kalau direbut dari anakku, itu namanya nggak tahu malu!"Maksudnya sangat jelas, Fresia memang tidak tahu malu sampai datang mencari masalah ke Keluarga Narasoma."Apa maksudmu? Siapa yang nggak tahu malu?""Kamu sendiri pasti tahu maksudku. Aku nggak mungkin membiarkan anak perempuanku jadi simpanan mantan suam
Aroma teh mawar samar-samar tercium. Lunara meminum tehnya sambil memproses pesan-pesan di ponselnya.Pelayan membawanya ke sini kemungkinan besar atas perintah Saphira. Menyuruhnya datang, tetapi juga tidak perlu datang terlalu cepat. Kalau datang terlalu awal, lebih baik menghindar sebentar.Di ruang tamu, Fresia sedang menangis. "Nasibku ini kenapa buruk sekali? Kenapa? Coba bilang kenapa? Saham milik Hardi kenapa harus diberikan ke Kayden?""Saham di tangan Kayden sekarang sudah lebih dari 50%. Siapa lagi dewan direksi yang pengaruhnya lebih besar darinya? Frans dan Eden belum benar-benar mapan, kenapa nggak ada yang mikirin mereka berdua?"Sambil berbicara, Fresia mengusap air matanya.Melihat itu, Saphira diam-diam merasa jijik. Tidak ada air mata di sudut mata wanita itu, padahal katanya aktris profesional.Saphira menyesap tehnya. "Mau coba? Ini teh buah. Pakai apel dan jeruk. Apelnya dipetik dari pohon apel yang dibeli Luna untuk Kay, jeruknya hasil kebun buahku sendiri. Harum
"Terima kasih untuk jeruknya."Pelayan melihat Carol naik ke mobil Hardi dan pergi bersama, baru kemudian berbalik kembali."Tuan Zafran dibawa Tuan Javier ke rumah sakit. Katanya tadi beliau pingsan karena dibuat marah oleh Tuan Hardi. Tuan Javier bilang Nyonya dan Tuan nggak perlu ke rumah sakit, takut tertular virus."Maksud Javier, di usia Zafran sekarang, keluar masuk rumah sakit sudah seperti pulang ke rumah sendiri.Zafran juga memang tidak terlalu menyukai Lunara, jadi Lunara tidak perlu sengaja datang. Begitu pula dengan Kayden, tidak perlu datang.Menjelang akhir tahun, urusan Grup Narasoma juga sedang banyak. Pameran perhiasan yang sudah di depan mata saja masih belum beres.Selama Javier sebagai anak sulung ada di sisi Zafran, tidak akan terjadi apa-apa.Setelah mengetahuinya, Kayden hanya mengangguk ringan. Dia menarik tangan Lunara dan membawanya lebih dekat, lalu mendudukkannya di pangkuannya."Kesanmu terhadap Carol lumayan bagus?""Lumayan. Menurutku dia beda dari yang
Di vila kecil itu, Carol duduk di sofa, tetapi hanya setengah bokongnya yang duduk. Bahkan saat pelayan meletakkan cangkir teh, dia bisa merasakan betapa kaku dan tertekannya Carol.Begitu Lunara membuka mulut, Carol langsung berdiri dari sofa. Lunara sampai merasa lucu."Duduk saja. Kalau Om Hardi turun nanti, aku suruh dia jemput kamu di sini.""Baik, terima kasih."Setelah duduk kembali, Carol menyesap teh. Entah sebenarnya dia merasakan rasa teh itu atau tidak, yang jelas tatapannya terus melirik ke arah gedung utama.Melihat itu, Lunara juga tidak bertanya apa pun. Dia hanya mengangkat cangkir tehnya dan ikut minum, lalu sibuk memproses pekerjaan di ponselnya.Seri Kepompong Pecah sudah memasuki tahap akhir produksi. Keahlian Pasha memang luar biasa. Banyak detail yang bahkan tidak terpikirkan oleh Lunara dan Casya, dan harus disempurnakan dengan pengalaman puluhan tahun sang ahli.Hanya dengan melihat cincin itu, Lunara dan Casya sudah sangat terpukau. Mereka sudah berusaha sepen
Jadi, maknanya sudah berbeda.Hilda langsung tidak senang. "Apa maksudmu? Kalau kamu memang memandang rendah keluargaku, batalkan saja pertunangan ini!"Eden mendengus dingin. "Boleh. Tapi semua kontrak dan perkara hukum yang ayahmu kirim itu juga dibawa kembali saja."Eden belajar hukum. Begitu bertunangan, Keluarga Handoko langsung mengirim setumpuk kasus hukum untuk ditangani Eden.Hal-hal itu memang membuat Eden pusing, tetapi bukan berarti tidak bisa ditangani. Anggap saja sebagai sumber kasus untuknya.Namun, Keluarga Handoko berbeda. Keluarga Handoko juga tidak terlalu peduli pada Hilda sebagai anak perempuan mereka.Terlebih lagi, bisa menikahkan Hilda ke Keluarga Narasoma saja sudah membuat mereka merasa naik derajat. Mana mungkin mereka rela membatalkan pertunangan.Hardi langsung terdiam. Tatapannya pada Eden dipenuhi rasa asing. Sejak kecil Eden selalu penurut, sensitif, berhati lembut, tidak punya banyak pendapat sendiri, juga tidak dominan. Bisa dibilang dia yang paling d







