تسجيل الدخولPria itu sudah dipukuli sampai sekujur tubuhnya penuh luka. Mendengar pertanyaan Kayden, jari-jarinya bergerak sedikit, tetapi dia tetap mengatupkan gigi rapat dan tidak berbicara.Soal dunia mafia dan urusan-urusan ilegal yang tidak bisa dibawa ke permukaan, Silvar jauh lebih paham daripada Kayden.Sekali lihat saja, Kayden sudah tahu kalau pria ini diancam oleh seseorang. Kalau dia berbicara, nyawanya benar-benar bisa melayang.Silvar mengangkat kelopak matanya sedikit, lalu menoleh ke pria paruh baya di sampingnya. Di wajah pria itu ada bekas luka panjang, membentang dari ujung mata kiri sampai sudut bibir kanan. Tampak menyeramkan sekali.Silvar menarik lengan Kayden. "Ke sana dulu, mau merokok."Kayden mengikuti Silvar berjalan ke samping. Pria dengan wajah bekas luka itu mendekat, lalu berjongkok di depan pria itu dan membisikkan sesuatu di telinganya.Di gedung terbengkalai itu penuh pasir dan debu. Ujung jari Kayden menyala merah karena bara rokok. Baru satu isapan, rokok itu l
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Kakek Buyut."Zafran menatapnya. Keduanya saling mentatap dengan mata besar dan kecil.Gadis kecil ini sangat cantik, karakternya juga kuat. Kalau nanti anak yang dilahirkan Lunara dan Kayden juga bisa seperti ini, Keluarga Narasoma tidak perlu khawatir soal penerus.Sayangnya, gadis kecil ini tetap bukan darah Keluarga Narasoma.Zafran menoleh pada Lunara. "Kapan kalian berencana ganti marganya? Karena sudah jadi orang Keluarga Narasoma, dia nggak bisa terus nggak ikut marga lain."Lunara menjawab dengan tenang, "Nggak akan diganti. Kalaupun ganti, paling ikut margaku. Nanti kalau ada kesempatan punya anak lagi, baru anak itu ikut marganya Kayden."Zafran mengernyit. Sebenarnya dalam hati dia cukup puas pada Daisy. Selain karena dia perempuan dan juga bukan anak kandung Kayden, dalam hal lain semuanya sangat baik.Setidaknya kalau marganya diganti jadi Narasoma, ganjalan di hatinya juga akan sedikit berkurang. Namun, melihat sikap Lunara, jelas d
Javier butuh beberapa detik untuk bereaksi. "Maksud Ayah, Daisy?"Zafran mengernyit dengan kesal, lalu menyahut, "Masa ngomongin kamu?"Javier mengiakan, lalu menyuruh Lili pergi memanggil mereka.Beberapa saat kemudian, Kayden mendorong kursi roda Lunara masuk. Tubuh Lunara dibungkus rapat sekali. Setelah dia masuk, syal di wajahnya baru dilepas.Awalnya Zafran agak kesal. Kursi roda, dibungkus serapat itu lagi. Orang yang tidak tahu bisa mengira Kayden sedang menjaga harta karun.Namun, begitu melihat perban di kepala Lunara, lalu teringat wawancara sempurna tanpa cela yang dia lakukan di pameran waktu itu dan saham Grup Narasoma yang terus naik, Zafran akhirnya tidak mengatakan apa-apa.Daisy digendong Amy sambil berlari kecil masuk. Setelah Daisy diturunkan, Amy berdiri bersama Lili dan yang lainnya.Daisy melihat sekeliling. Dia menyapa semua orang satu per satu, tetapi justru melewatkan Zafran.Zafran menunggu cukup lama. Dia berdiri dengan tongkatnya, alisnya bergerak-gerak. Nam
Hal yang bahkan tidak dipedulikan Lunara malah benar-benar dimasukkan ke hati oleh mereka.Malam harinya, setelah Javier pulang, dia naik ke rumah kaca bunga untuk melihat-lihat. Dengan kacamata masih terpasang, dia celingukan sambil memanggil Saphira."Pot-pot bunga krisanku mana? Kok nggak ada? Bungaku mana?!""Lili bawa ke tempat Lunara. Ruang kaca di sana cuma ada beberapa mawar, kelihatannya membosankan. Aku lihat bunga-bungamu juga bagus, jadi sekalian kubawa ke sana."Javier langsung mengernyit. "Sembarangan! Kamu tahu nggak betapa mahalnya bunga-bungaku itu? Aku sehari nggak lihat saja sudah nggak bisa tidur!"Setiap hari, semua bunga itu dirawat sendiri olehnya. Dia bahkan tidak percaya menyerahkannya pada para tukang kebun di rumah.Sekarang begitu tidak melihatnya, hati Javier langsung terasa kosong, seperti tidak melihat istrinya sendiri."Nggak bisa, aku harus ambil lagi." Sambil berbicara, dia langsung berjalan keluar, benar-benar seperti ingin serius memperjuangkan beber
Saat Lili pergi ke sana, Lunara sudah bangun dan duduk di kursi roda sambil berjemur.Begitu melihat Lili datang dan mendengar urusannya, Lunara tertawa kecil. Lili langsung merasa, nyonya muda ini benar-benar cantik.Ada orang yang cantiknya hanya di wajah, ada juga yang kecantikannya terpancar dari aura dan pembawaannya.Wajah Lunara membawa senyuman lembut, ditambah cahaya matahari hangat menyinarinya. Seketika, Lili teringat pada Saphira saat muda dulu.Waktu itu, Saphira juga secantik dan semenggoda itu, begitu indah sampai sulit digambarkan. Namun, pada diri Lunara ada keteguhan yang berbeda.Lunara menyuruh Lili kembali dan mengatakan kalau Kayden masih beristirahat, lalu meminta Saphira mencari Zafran untuk menegakkan keadilan.Lili langsung tercerahkan. Memang benar, urusan pernikahan itu sejak awal diputuskan sepenuhnya oleh Zafran sebagai kepala keluarga. Lagi pula, Eden juga bukan anak kandung Saphira. Apa pun yang dia katakan pasti bisa dipelintir menjadi salah.Sebelum pe
"Kamu tidur di sini?""Mm. Aku khawatir kamu bangun tengah malam dan mencari seseorang."Lunara menepuk sisi kosong di sampingnya. "Naik sini saja. Tidur di sini lebih enak daripada di ranjang lipat."Kayden melirik tempat tidur itu. "Nggak usah. Nanti aku malah buat kamu sempit.""Ayo, dong. Aku sudah murah hati bagi setengah tempat tidurku buat kamu."Setelah minum air, bibir Lunara terlihat lembap. Tidurnya yang nyenyak tadi juga membuat wajahnya kembali merona. Kayden akhirnya kalah. Dia naik ke tempat tidur, lalu memeluk Lunara sambil memejamkan mata.Dengan suara pelan dia berkata, "Apa yang dulu kamu bilang memang benar.""Benar soal apa?""Kalau aku ketemu kamu sejak SMA, mungkin aku akan jatuh cinta padamu jauh lebih cepat."Lunara langsung terpaku. Dia sebenarnya ingin bertanya dari mana tiba-tiba muncul ucapan seperti itu. Namun, Kayden sudah memejamkan mata lagi. Lingkar hitam samar di bawah matanya jelas menunjukkan rasa lelah.Akhirnya, Lunara hanya bisa menahan diri dan







