登入Kayden adalah orang yang paling tidak percaya takhayul di seluruh Keluarga Narasoma.Setiap kali ada upacara penghormatan leluhur keluarga, meskipun dia adalah cucu sulung dan pewaris utama, dia selalu melakukannya sekadarnya saja. Dia bahkan pernah berkata bahwa dia tidak percaya melakukan sembahyang akan membuat para leluhur memberikan perlindungan.Menurutnya, dalam hidup ini, yang paling harus diandalkan seseorang adalah dirinya sendiri, bukan para leluhur yang sudah meninggal. Karena perkataan itu, dia bahkan pernah dimarahi habis-habisan oleh Zafran.Namun kini, Kayden yang seperti itu rela mendaki gunung sebelum fajar hanya untuk meminta jimat keselamatan. Dia bahkan bersedia percaya pada dewa.Sebagai orang yang menyaksikan semuanya dari luar, Casya juga bisa merasakan cinta Kayden yang diam-diam, tetapi begitu mendalam kepada Lunara.Lunara merasa agak terkejut. "Dia memang nggak percaya hal-hal seperti itu?""Nggak. Lagi pula, kuil itu nggak punya kereta gantung di pagi hari.
Lunara langsung terdiam.Mana ada orang berdoa kepada dewa supaya berat badannya naik?Untuk permintaan seperti itu, apakah dewa benar-benar akan mengabulkannya? Atau malah mengira ada yang tidak beres dengan otak Kayden?Semakin dipikirkan, Lunara merasa tali merah di pergelangan tangannya menjadi panas dan canggung untuk dipakai.Lunara terkejut, tetapi Priya malah sangat menyukainya. Dia menyendokkan semangkuk besar bubur untuk Lunara. Priya tidak mengizinkannya menyisakan makanan."Selama suasana hati dan kesehatan seseorang baik, nggak mungkin dia nggak suka makan. Kalau bukan begitu, berarti masakannya yang nggak enak. Coba bilang, masalahmu yang mana? Biar kita cari solusinya."Belakangan ini, karena terlalu sibuk dan emosinya naik turun cukup besar, Lunara memang tidak punya banyak nafsu makan.Dulu Neti pernah menjadi asisten koki di hotel bintang lima, bahkan pernah menjadi koki utama untuk beberapa waktu. Setiap tahun dia juga masih mengikuti pelatihan di sekolah memasak unt
Namun untuk urusan percintaan, Kayden bukan mak comblang profesional. Biarkan saja Silvar pusing memikirkannya sendiri. Pendeta tua itu juga memahami kepribadian Kayden. Mendengar jawaban tersebut, dia tertawa pelan."Memang benar. Istri dan putri Pak Kayden nggak akan mengalami masalah besar. Justru Pak Kayden sendiri yang seharusnya lebih memperhatikan urusan Bapak."Kayden sudah berhasil menghilangkan keraguan di hatinya. Untuk urusan lain, dia tidak terlalu peduli. Dia berdiri dan menepuk debu di lututnya. Embun pagi yang menempel di pakaiannya membuat kain itu sedikit lembap.Dengan suara tenang, pria itu berkata, "Kalau istriku dan putriku baik-baik saja, urusan lain nggak terlalu kuperhatikan."Dia tahu apa yang akan dikatakan pendeta tua itu. Tidak lebih dari hal-hal yang berkaitan dengan takdirnya, seperti perselisihan antar saudara dan para tetua yang tidak berbelas kasih.Karena sang pendeta sudah mengatakan bahwa semua yang telah ditakdirkan tidak bisa diubah, dia tentu tid
Keesokan paginya.Di sebuah kuil di pegunungan luar kota, gerbang kuil baru saja dibuka menyambut cahaya fajar. Pintu merah tua itu masih dipenuhi embun pagi. Seorang murid kuil itu menguap sambil membawa sapu untuk membersihkan jalan pegunungan.Di luar gerbang, sudah ada seorang pria yang menunggu.Awalnya, murid itu ingin menghentikannya dan mengatakan bahwa kuil belum buka. Namun, kemudian dia mendengar gurunya berkata dari belakang. "Biarkan dia masuk."Murid itu menunjuk ke dalam. "Silakan masuk."Kayden melangkah masuk ke dalam kuil. Seorang pendeta tua berjubah merah tua menatapnya sambil tersenyum. "Sudah bertahun-tahun kita nggak ketemu, PAk Kayden. Sepertinya keberuntungan bisnis Bapak memang luar biasa."Pendeta tua itu menunjuk bangku di sampingnya.Kayden tidak peduli meskipun bangku itu masih basah oleh embun. Dia langsung duduk. Lalu berkata, "Kali ini aku datang karena ada sebuah pertanyaan. Aku ingin tahu apakah aku dan istriku cocok satu sama lain. Atau lebih tepatny
Lunara mengerti dengan jelas. Semua penargetan dan jebakan selama ini tidak lain karena dia dan Casya sama-sama termasuk anggota Keluarga Narasoma.Terutama Casya.Ada orang yang tidak ingin dia meraih prestasi di bidang perhiasan, sehingga rela melakukan apa pun untuk menghancurkan merek àl'aube.Lunara berkata dengan serius, "Aku membutuhkan Casya dan Casya juga membutuhkan àl'aube. Kerja samaku dengannya adalah sesuatu yang pasti. Kalaupun kita nggak menikah, aku tetap akan memilih bekerja sama dengan Casya. Semua ini tetap nggak bisa dihindari. Kamu mengerti, 'kan, Kayden?"Kayden menghela napas pelan. Dia memejamkan mata dan memeluk Lunara. "Aku hanya merasa kamu sudah nggak terlalu sama seperti saat kuliah dulu."Lunara tertegun. Dia memang sudah berbeda dibandingkan masa mahasiswanya. Saat itu, dia bisa dibilang tidak punya apa-apa. Namun karena itu pula, dia tidak memiliki begitu banyak beban.Sekarang berbeda. Dia memiliki kariernya sendiri, menjadi seorang istri sekaligus ibu
Dia sengaja menekankan nada bicaranya. Satu kalimat sederhana itu mendadak terdengar begitu menggoda, kehangatannya seolah-olah berputar-putar di telinga Lunara dan memunculkan riak kecil di hatinya.Namun, pintu kantor masih terbuka. Entah kapan anggota tim sekretaris akan naik lagi. Begitu pintu lift terbuka, apa yang terjadi di dalam kantor bisa terlihat jelas tanpa ada yang menutupi.Lunara tidak punya muka setebal itu. Di jaketnya, samar-samar masih tercium sisa aroma disinfektan. Kayden tahu dia malu, jadi tidak melanjutkan godaannya.Satu tangan melingkari pinggangnya agar wanita itu tidak melorot dari pangkuannya, sementara tangan yang lain membuka berkas kontrak yang ditinggalkan sekretaris untuk ditandatangani.Dia bertanya dengan santai, "Gimana kondisi Eden?""Kelihatannya cukup baik. Dokter bilang pemulihannya berjalan bagus. Aku ke sana sama Tante Floryn.""Tante Floryn?" Kayden sedikit mengernyit.Meskipun di rumah sakit Eden tidak mungkin berbuat apa-apa, fakta bahwa Fl







