ログインPria yang berdiri di depannya tetap tidak bergerak sedikit pun. Dia menunduk menatap Casya."Kenapa marah?""Kamu sengaja pura-pura nggak tahu?"Eston tetap diam.Beberapa saat kemudian, dia membungkuk hingga wajahnya begitu dekat dengan Casya. "Kalau masih marah, pukul saja aku biar kamu lega."Wajah tampan itu begitu dekat di depan matanya.Namun begitu melihat wajahnya, amarah Casya justru menghilang. Api kecil yang sempat menyala di dalam hatinya seolah disiram air hingga padam. Adegan barusan kembali berputar di benaknya. Napas Eston begitu panas, seolah setiap sentuhannya membakar.Casya mundur setengah langkah.Namun, Eston malah menggenggam tangannya dan meletakkannya di pipinya. "Pukul saja."Casya langsung menarik kembali tangannya. "Aku nggak mau mukul kamu. Simpan saja jurus itu untuk menghadapi pacar-pacarmu yang setiap hari ganti orang!""Mana ada? Itu semua cuma fitnah. Setiap selesai kerja aku langsung jemput kamu, tapi bahkan bertemu sama kamu saja nggak sempat. Menuru
"Sudahlah, jangan dibahas. Dia selingkuh, jadi aku putus sama dia. Siapa sangka dia bisa punya begitu banyak perempuan. Aku laporkan dia sampai akhirnya dia dicopot dari jabatannya.""Aku dengar dari sepupuku, orang-orang di pemerintahan itu juga mainnya liar. Atasan sepupuku itu, siapa ya namanya, katanya punya beberapa pacar. Aduh ... Oh iya, namanya Eston!"Casya langsung menanggapi, "Hah?"Melihat Casya akhirnya bereaksi untuk pertama kalinya malam itu, wanita yang sedang bergosip mengira Casya tertarik. Dia pun menyandarkan tubuh melewati Linda dan berbisik kepada Casya."Ini kata sepupuku, lho. Atasannya itu susah payah baru naik jabatan, tapi setiap hari perempuan yang datang mencarinya selalu berbeda-beda! Mungkin dia orang yang nggak punya latar belakang, jadi sengaja kenal banyak perempuan buat cari sumber daya. Ya, masih bisa dimaklumi sih!"Cara bicaranya begitu meyakinkan, seolah semua itu benar adanya.Casya menyesap sedikit anggurnya lalu tersenyum. "Kalau wajahnya giman
Eston mengenakan seragam pelayan bar. Meski disebut pelayan, sebenarnya mereka semua memakai setelan jas dan dasi yang seragam.Kemeja putih berbahan tipis dan berkualitas biasa itu menempel pada tubuhnya, memperlihatkan garis otot yang tegas dan penuh tenaga.Di kepalanya, Eston juga mengenakan bando berbulu. Bando itu membuat penampilannya makin menggoda.Begitu Linda selesai berbicara, Eston meraih tangan Casya dan meletakkannya di dadanya. Detak jantungnya yang kuat berdenyut di telapak tangan Casya.Tubuh pria itu memancarkan aroma parfum dari sebuah merek ternama. Harum cedar yang dingin bercampur dengan aroma minuman keras di ruang VIP memenuhi indra penciuman Casya."Nona ini ... juga ingin aku melepasnya?"Tatapannya lurus menembus mata Casya. Tanpa mengeluarkan suara, bibirnya menyebut nama Casya.Dia memanggil namanya. Tangannya tetap menekan tangan Casya di dadanya, sama sekali tidak berniat melepaskannya.Ujung jari Casya terasa panas. Aura pria yang begitu kuat membuatnya
"Orang tuamu benar-benar berbakat jadi peretas. Nomor ini baru kuganti bulan lalu."Meski Sutan sudah bangkrut dan tidak lagi memiliki aset maupun uang, jaringan relasi yang dibangunnya selama bertahun-tahun memang masih ada.Terlebih lagi, banyak orang tahu bahwa Elina sedang berpacaran dengan Silvar. Kalau dia bertanya kepada rekan bisnis lamanya tentang nomor telepon Silvar, tentu mereka akan memberitahunya. Toh menjual budi juga bukan hal yang merugikan.Elina memijat pelipisnya, sedikit pusing. "Kalau nanti mereka telepon lagi, jangan diladeni.""Oke, aku dengar kata-katamu." Silvar berkata dengan santai, "Sebenarnya ini cuma masalah kecil kok."Elina menoleh menatapnya. Apa Silvar khawatir kata-kata Yuna tadi terlalu keterlaluan hingga membuatnya sedih dan tidak nyaman?Dulu mungkin iya. Namun sekarang, Elina sudah belajar untuk mengabaikan mereka. Dari lubuk hatinya, dia hanya memandang rendah mereka.Karena mereka memang satu keluarga, biarlah mereka hidup rukun sebagai satu ke
Yuna benar-benar sudah bertekad memaksa Silvar untuk berbicara."Dari mana kamu dapat nomor teleponku?""Ayahku yang kasih. Pak Silvar, kumohon, tolong bantu kami ...."Elina diam-diam menguap. Dia memegang ponsel Silvar di tangannya, lalu menggoyangkannya pelan. Tiba-tiba, dia jadi agak tertarik dengan kelanjutannya.Melihat itu, Silvar mengangkat sudut bibirnya. Namun, wajahnya tetap dingin saat bertanya, "Bantu apa?"Begitu melihat Silvar bersedia menanggapinya, Yuna langsung bersemangat. "Kakakku keterlaluan sekali. Dia menjual rumah orang tua, sampai kami cuma bisa pulang ke kampung halaman. Rumah di kampung juga nggak ada yang rawat, bahkan bocor kalau hujan ...."Kampung halaman Keluarga Sankara berada di Provinsi Gradi Utara, tepat di sebelah Kota Andara. Memang tidak semakmur wilayah Provinsi Gradi Selatan, tetapi kondisinya juga tidak bisa dibilang buruk.Rumah keluarga di sana bahkan dulu sudah direnovasi besar-besaran oleh Sutan dengan biaya yang tidak sedikit. Menampung se
Frans mengangkat tangan dan menyentuh sudut bibirnya, menyembunyikan niat jahat yang tersirat di balik senyumnya.....Mobil sudah melaju cukup jauh. Elina pun bertanya, "Kok kamu tahu aku ada di sana?""Frans mengirimku foto. Aku lihat makanan di meja itu semuanya menu favoritmu, jadi aku cari lokasimu berdasarkan itu."Silvar memang selalu perhatian. Melihat ada anggur di foto yang dikirim Frans, dia mengira Elina mungkin tidak bisa menyetir, jadi dia sengaja naik taksi untuk datang menjadi sopirnya.Elina mengernyit. "Dia sebenarnya mau apa? Waktu aku pulang kerja dia ngotot ajak aku makan malam. Tapi selama makan dia malah diam saja. Begitu selesai makan aku langsung pergi.""Kamu minum anggur?""Nggak."Mobil melaju hingga ke persimpangan di depan. Silvar memutar setir dan menghentikan mobil di bawah pohon, tepat di sebuah tempat parkir.Lokasi perusahaan dan pabrik àl'aube memang cukup terpencil. Untuk kembali ke pusat kota, jalan terdekat adalah melewati jalan nasional. Daerah d







