Se connecter"Nggak ada lagi, Pak ...."Fiona diam-diam merasa sedikit tidak puas. Dia akhirnya mendapat kesempatan untuk bicara dengan Silvar. Dia ingin mengobrol sedikit lebih lama, tetapi pria itu justru bersikap sedingin es. Sama sekali tidak menunjukkan kehangatan sedikit pun.Fiona menatapnya sekali lagi, lalu berbalik dan pergi.Silvar kemudian berbicara kepada Elina yang berdiri di sampingnya, "Semua masukan tadi sudah dicatat. Pengembangan cip yang baru akan resmi dimulai minggu depan. Nanti kami akan mengundangmu datang melihat perkembangannya."Sejujurnya, masalah yang dihadapi semua robot rumah tangga saat ini sebenarnya sudah bukan hal baru. Sebelumnya, Grup Sankara juga sudah meneliti banyak jenis cip yang berbeda.Dari semuanya, hasil yang ditunjukkan S2 adalah yang paling memuaskan bagi mereka. Seperti yang dikatakan Silvar, cip yang diproduksi perusahaan mereka memang paling cocok untuk robot rumah tangga yang sedang dikembangkan Grup Sankara saat ini.Elina mengangguk pelan. "Teri
Setelah ucapan itu terlontar, orang-orang yang hadir langsung tersenyum dan menimpali dengan gurauan.Para pria juga ikut merasakan hal yang sama. "Pak Silvar sesukses ini, masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga?""Mau bagaimana lagi? Pacarku nggak suka ada orang lain yang masuk ke rumah, jadi aku jarang memakai jasa asisten rumah tangga." Silvar hanya tersenyum tanpa membenarkan ataupun menyangkal.Dia menunduk dan berdiskusi dengan beberapa staf teknis di sampingnya mengenai beberapa kelompok data.Tubuhnya yang tinggi otomatis meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan orang lain. Ditambah lagi, setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, dirinya terlihat jauh lebih dewasa.Di jari telunjuknya terpasang sebuah cincin emas dengan berlian yang bertatahkan di sekelilingnya. Cincin itu berkilauan indah dan memancarkan cahaya di bawah lampu.Tangan Silvar sangat indah. Jari-jarinya panjang dan ramping, dengan buku-buku jari yang tegas. Setelah mengenakan cincin, tan
"Perusahaan ini memberikan fasilitas yang sangat baik. Kalau kamu bekerja dengan baik, kamu bisa dapat banyak bonus."Ucapan Tian untuk menenangkan Fiona mungkin akan efektif bagi kebanyakan pekerja. Namun, bagi Fiona, itu sama sekali tidak berpengaruh.Dia meninggalkan kesempatan bekerja di perusahaan lain dengan gaji tinggi dan datang ke sini bukankah karena ingin sering bertemu dengan Silvar?Tak disangka, ternyata sikap Silvar seperti ini.Berjalan di samping Tian, Fiona melihat banyak anggrek yang menghiasi perusahaan dan bertanya, "Pak Silvar suka anggrek ya?""Bukan. Pacar Pak Silvar yang suka.""Pacar?"Tian tidak melanjutkan pembicaraan. Dia hanya tersenyum dan mengantar Fiona ke departemen teknologi, lalu berbalik kembali ke tempat kerjanya, meninggalkan Fiona berdiri sendirian di depan pintu.Tatapannya tertuju pada anggrek-anggrek yang terlihat di berbagai sudut. Dalam hati, dia merasa heran. Bukankah Nancy mengatakan bahwa Silvar masih lajang?Namun, karena Nancy sampai me
Keesokan harinya, di perusahaan S2 ....Setelah selesai rapat, Silvar kembali ke kantor. Dia langsung melihat Kayden sedang duduk santai di sofa seperti seorang tuan besar, sibuk memainkan koleksi mainan modelnya."Kok kamu ke sini lagi?""Aku juga berinvestasi di perusahaanmu. Kenapa aku nggak boleh datang?"S2 menerima cukup banyak investasi dari Kayden. Banyak tenaga ahli di bidang teknologi juga berhasil direkrut ke sini berkat Kayden yang turun tangan langsung.Silvar bertanya dengan kesal, "Istrimu lagi ada negosiasi bisnis di dekat sini lagi?""Ya. Mal di seberang mengundangnya untuk memilih lokasi. Àl'aube dan Spring & Co sama-sama butuh gerai baru."Selama beberapa tahun terakhir, berbagai mal besar maupun kecil di Kota Andara mulai dipenuhi gerai àl'aube dan Spring & Co.Dalam bisnis perhiasan, gerai fisik sangat penting. Lunara bahkan turun tangan langsung untuk memilih lokasinya.Tepat di seberang gedung S2 ada sebuah mal besar yang baru dibuka dan mengundang banyak merek u
"Nih."Jantung Elina tiba-tiba berdebar. Terakhir kali bertemu di kantor, Silvar terus mendesaknya, sama sekali tidak mau mengalah. Sikapnya penuh dengan agresivitas.Namun sekarang, saat kembali bertemu dengannya, Elina justru melihat banyak emosi yang tidak bisa dipahaminya di mata Silvar.Ada keengganan untuk berpisah, kebimbangan, dan begitu banyak keraguan yang datang seperti gelombang pasang.Elina mengulurkan tangan dan mengambil butiran emas kecil dari telapak tangannya. Dia bisa merasakan sedikit kehangatan dari telapak tangan Silvar.Bahkan butiran emas itu pun seolah telah menyerap suhu tubuhnya, sekaligus aroma samar parfum yang melekat di tubuhnya.Silvar menatap Elina dalam-dalam, lalu berbalik dan turun ke lantai bawah dengan cepat. Dia sama sekali tidak berniat berhenti atau berbicara lebih banyak dengan Elina.Elina menatap punggungnya yang menjauh, lalu menggenggam erat butiran emas di tangannya.Casya tiba-tiba muncul dari belakang. Dia menjulurkan kepala untuk melih
Jamuan makan malam kali ini diadakan untuk Sabrina.Setelah menggendong anak itu keluar untuk bertemu dengan kerabat dan teman-teman, Casya meminta salah satu pengasuh menggendong Sabrina ke lantai atas untuk ditidurkan.Anak itu masih terlalu kecil, jadi cukup menampakkan diri sebentar saja.Eston menggunakan marga ibunya, jadi Sabrina tentu saja juga menggunakan marga ibunya. Dalam hal ini, kedua keluarga dengan cepat mencapai kesepakatan.Para tamu yang datang membawa cukup banyak hadiah. Semuanya dipindahkan ke bangunan kecil milik keluarga cabang ketiga.Ada juga hadiah yang dibeli Eden dari luar negeri dan dikirim pulang. Setelah mempertimbangkannya, Casya tetap menerimanya.Seumur hidupnya, dia tidak akan pernah memaafkan Frans dan Eden. Namun, tidak ada gunanya melampiaskan kekesalan pada sebuah mainan.Saat membuka kotak-kotak itu, Casya melihat sebuah kotak yang berisi butiran emas. Beratnya kira-kira 100 gram lebih sedikit. Nama yang tertulis di kotak itu adalah nama seseora







