FAZER LOGINSaras berdiri di depan pantry, mengaduk kopi hitam di dalam cangkirnya perlahan. Sendok kecil itu beradu dengan dinding keramik, menghasilkan bunyi lirih yang terasa seirama dengan pikirannya yang kacau. Setelah yakin kopinya cukup hangat, ia membawanya ke meja kecil di sudut ruangan.Ia duduk, lalu terdiam. Matanya terpaku pada cairan hitam pekat di hadapannya, seolah di sanalah semua beban pikirannya berkumpul. Beberapa hari terakhir, tubuh dan jiwanya terasa lelah. Bukan karena pekerjaan semata, melainkan karena masa lalu yang tiba-tiba kembali menghantui.Kedatangan Gavin, mengoyak kembali rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Rahasia yang ia kira sudah terkubur bersama luka lama. Kini, semuanya perlahan terkuak.Yang paling membuat hatinya bergetar adalah saat Gavin bertemu Althaf. Akhirnya Saras mengizinkan Gavin untuk menemui Althaf lagi, tapi harus sepengatahuan Saras. Ia tahu, pertemuan itu bisa menjadi awal dari banyak hal, entah penyembuhan, atau justru luka baru.
Dennis duduk diam di kamarnya.Lampu meja menyala redup. Di tangannya, ponsel masih menyala.Menampilkan beberapa foto. Foto Gavin dan Saras. Berdiri berhadapan di depan gedung kantor.Wajah Saras terlihat tegang. Sementara Gavin tampak begitu serius. Dennis menatap layar itu lama. Rahangnya mengeras. Dadanya terasa sesak. “Jadi… kamu ketemu dia lagi,” gumamnya lirih.Ia menggeser layar. Foto berikutnya.Gavin terlihat sedikit condong ke arah Saras, seolah sedang berbicara dengan intens. Dari sudut pengambilan gambar, mereka tampak begitu dekat. Terlalu dekat.“Kenapa kamu nggak cerita sama aku…” bisik Dennis.Ponsel itu diletakkan di meja. Namun pandangannya masih terpaku ke sana. Ingatan tentang pesan-pesan Saras, tawa kecilnya, wajah lelahnya, dan caranya memanggil nama Althaf kembali memenuhi pikirannya.Ia mengepalkan tangan. Bukan karena marah pada Saras.Melainkan pada dirinya sendiri.Melihat Gavin kembali masuk ke hidup Saras, hatinya semakin gelisah.“Aku nggak boleh kehila
Di dalam ruang kerjanya yang remang, Gavin berdiri di depan jendela besar. Kota terlihat berkilau di bawah sana, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan itu. Pikirannya hanya satu. Saras dan anak itu.Ia berbalik, lalu meraih ponselnya.“Satria,” ucapnya singkat saat panggilan tersambung.“Bagaimana hasilnya?”Suara Satria terdengar di seberang.“Saya sudah melacak data lama Bu Saras, Pak. Tempat kerjanya, riwayat pindah rumah, dan beberapa kontak dekatnya.”Gavin menegakkan tubuh.“Lanjutkan.”“Sekarang dia tinggal di daerah Cempaka Indah,” kata Satria.“Rumah sederhana. Tinggal dengan ibunya dan seorang anak laki-laki.”Dada Gavin terasa bergetar.“Alamatnya,” katanya tegas.Satria menyebutkan satu per satu.Gavin langsung menyimpannya.Setelah telepon terputus, ruangan kembali sunyi. Ia duduk perlahan di kursinya.Menatap kosong ke depan.“Jadi selama ini kamu hidup sesederhana itu…” gumamnya.Bayangan Saras mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun membua
“Kamu nggak bisa menghindar dariku lagi, Saras.”Suara itu terdengar berat dan tegas di belakangnya. Langkah Saras langsung terhenti. Tubuhnya menegang.Perlahan, ia menoleh. Dan seperti yang ia duga, Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jantung Saras berdetak kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya.“Mau apa kamu?” tanyanya.Suaranya bergetar, meski ia berusaha terdengar tegas.“Aku cuma mau bicara,” jawab Gavin pelan. Tatapannya lurus menatap wajah Saras. Nada suaranya tidak lagi dingin seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Entah penyesalan atau penasaran.“Bicara?” Saras terkekeh kecil, hambar. “Kayaknya sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri.“Apa pun yang pernah ada di antara kita, sudah selesai,” lanjutnya.Gavin mengepalkan tangannya.“Belum,” katanya tegas. “Buat aku, belum selesai.”Saras menggeleng.“Kamu salah,” balasnya. “Semua itu selesai waktu kamu mengusir aku. Waktu kamu lebih percaya
“Akhir-akhir ini aku lihat Pak Dennis sering ke sini, ya?” ujar Sinta di sela-sela mengetik di depan komputernya.Saras yang sedang merapikan berkas langsung terdiam sejenak.Jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar nama itu disebut.Namun, ia berusaha tetap terlihat santai.“Wajar lah, Mbak,” jawabnya tanpa menoleh. “Ini kan kantor orang tuanya.”Sinta mengangguk kecil, lalu mendekat sedikit.“Iya sih…” katanya pelan. “Tapi dulu dia nggak sesering ini. Sekarang hampir tiap minggu muncul.”Ia menatap Saras dengan senyum penuh arti.“Mungkin lagi ada seseorang yang pengin dia dekatin.”Saras refleks tertawa kecil, meski hatinya sedikit terusik.“Hush, jangan bicara sembarangan, Mbak,” katanya cepat. “Pak Dennis kan punya istri. Masa mau poligami?”Nada suaranya terdengar ringan.Namun di dalam dadanya, ada perasaan asing yang tiba-tiba muncul. Gelisah dan takut, takut kalau ucapan Sinta ada benarnya.Saras kembali fokus pada pekerjaannya. Berusaha mengabaikan pikiran-pikiran yan
“Saras, kamu sakit?”Suara Gayatri membuat Saras sedikit tersentak. Sejak tadi, sang ibu memang memperhatikannya dengan cemas. Sepulang kerja, Saras terlihat lebih banyak diam, sering melamun, seolah pikirannya berada di tempat lain.Padahal sekarang, ia sedang menemani Althaf bermain di ruang tengah. Namun tatapannya kosong.Mainan di tangannya terdiam.“Saras,” panggil Gayatri lagi, lebih lembut.“Bunda!”Teriakan kecil itu membuat Saras tersadar.“Eh… iya, Nak. Kenapa?” jawabnya gugup sambil tersenyum kecil.Althaf memandang ibunya dengan mata bulatnya.“Bunda marah sama Althaf, ya?” tanyanya dengan suara cadel, polos dan penuh kekhawatiran.Hati Saras langsung mencelos.“Enggak, sayang,” jawabnya cepat. Ia meraih tangan kecil anak itu.“Bunda nggak marah, kok.”“Tapi…” Althaf mengerucutkan bibirnya.“Kok Bunda diam aja dari tadi?”Saras terdiam. Ia menatap wajah kecil di hadapannya, wajah yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Ia memeluk Althaf erat.“Maaf ya,” bisiknya lembu







