/ Romansa / Ketika Takdir Menyapa / Gagal Sebagai Ibu

공유

Gagal Sebagai Ibu

작가: YuRa
last update 게시일: 2025-11-05 17:43:00

Pagi itu suasana ruang kerja Dennis terasa berbeda. Biasanya wajahnya kaku dan tegang, tapi kali ini ada senyum samar yang belum juga hilang sejak tadi. Aldo, yang memperhatikan dari sisi meja, tak bisa menahan rasa heran.

“Pak, sepertinya Anda tampak bahagia hari ini?” tanyanya hati-hati, memilih nada serendah mungkin agar tak menyinggung.

Dennis menghentikan ketikan di laptopnya, lalu menoleh. Tatapannya tenang, tapi ada cahaya disana, sesuatu yang sudah lama tak Aldo lihat.

“Kamu tahu, Aldo,
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Yuli Faith
jadi istri g bersyukur ya bgtu......dicukupi dicintai tapi mlh pilih sibuk dan berpaling
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Ketika Takdir Menyapa   Pelabuhan Terakhir

    “Di depan kita, nanti pasti akan banyak ujian kehidupan, Ras.” Dennis mempererat pelukannya, seolah sedang membangun benteng pelindung bagi mereka berdua. “Kita hadapi bersama. Selama kamu mendukungku, aku akan selalu berjuang untuk keluarga kecil kita. Apalagi nanti...” Dennis menjeda kalimatnya, tangannya mengusap lembut perut Saras. “Akan ada adik-adik Alvin dan Althaf yang menambah ramainya rumah kita.”Saras sedikit menjauhkan wajah, menatap Dennis dengan dahi berkerut heran. “Memangnya Mas mau anak berapa lagi, sih?”Dennis terkekeh, matanya berkilat jahil di bawah lampu temaram. “Ya, dua atau tiga lagi sepertinya cukup.”“Hah?!” Mata Saras membelalak seketika, kantuknya hilang entah ke mana. Ia refleks menarik diri dari dekapan Dennis. “Mas serius? Nggak kasihan sama aku? Ini saja baru nambah satu, rasanya badanku sudah mau rontok, Mas!”Dennis tertawa melihat reaksi panik istrinya. Ia segera menarik Saras kembali ke pelukannya, kali ini lebih erat agar Saras tidak kabur.

  • Ketika Takdir Menyapa   Terima Kasih

    Kehangatan selimut yang membungkus bayi itu seolah berpindah ke dada Saras saat bidan meletakkan makhluk mungil tersebut di atas kulitnya. Saras menahan napas sejenak, rasa hangat, sedikit lengket, dan aroma khas bayi baru lahir menyerbu indranya. Di bawah bimbingan lembut sang bidan, Saras memulai inisiasi menyusu dini. Ada rasa kikuk yang asing, namun saat bibir mungil itu mulai mencari, sebuah sengatan kasih sayang yang tak terlukiskan menjalar hingga ke relung hatinya, sebuah ikatan batin yang sah dan tak terputus sejak detik itu.Di sisi ranjang, Dennis mematung. Ia merasa seolah dunia di luar sana berhenti berputar. Matanya beralih perlahan antara wajah mungil putranya yang masih kemerahan dan wajah Saras yang tampak pucat namun bercahaya. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya, sebuah campuran antara rasa lega yang hebat dan rasa hormat yang mendalam pada perjuangan istrinya. Irsa dan suaminya melangkah masuk dengan langkah tergesa namun penuh kehati-hatian. Wajah mere

  • Ketika Takdir Menyapa   Detik-detik

    Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, petugas medis langsung sigap menyambut mereka. Saras sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk punggung bawahnya. Dennis dengan sigap membantu istrinya pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati namun cepat menuju ruang persalinan.Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, tim perawat dan bidan sudah bersiap. Dokter keluarga mereka, dr. Setiawan, kebetulan sedang bertugas pagi itu dan menyambut mereka dengan senyum tenang yang sedikit mengurangi ketegangan."Pak Dennis mau menemani prosesnya di dalam, kan?" tanya dokter itu sambil mengenakan sarung tangan medis.Dennis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Saras yang kini dibanjiri peluh. Istrinya meringis, mencengkeram sisi tempat tidur dengan buku jari yang memutih. Melihat Saras dalam kondisi seperti itu, hati Dennis terasa seperti diremas. Ia tidak tega, ada rasa ngeri sekaligus cemas yang hebat menghantam dada

  • Ketika Takdir Menyapa   Kontraksi Palsu

    Sembilan bulan berlalu, dan perut Saras kini sudah terasa begitu berat. Hari-hari penantian terasa mendebarkan, namun kehadiran Dennis sebagai suami siaga benar-benar menjadi kekuatannya. Bukan hanya Dennis, Alvin dan Althaf pun tak kalah antusias, mereka sering mengelus perut Saras, tak sabar menyambut anggota keluarga baru.Langkah Dennis terhenti saat melihat wajah Saras tiba-tiba berubah pias. "Kenapa, Sayang?" tanyanya sigap, tangannya langsung memeluk bahu sang istri.Saras meremas lengan Dennis, matanya terpejam sesaat. "Perutku mules sekali.""Apa sudah waktunya? Kita ke rumah sakit sekarang?" Suara Dennis terdengar panik, matanya menyiratkan kekhawatiran yang besar.Saras menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya sampai rasa nyeri itu perlahan memudar. "Sepertinya hanya kontraksi palsu. Sekarang sudah hilang," ucapnya sambil mengembuskan napas lega."Benar tidak apa-apa?" Dennis memastikan, jemarinya mengusap keringat dingin di dahi Saras."Iya, nanti saja k

  • Ketika Takdir Menyapa   Menyenangkan Anak

    Meninggalkan meja kantor yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya bukan hal mudah bagi Saras. Namun, setiap kali rasa mual itu menghantam atau saat ia merasakan denyut kehidupan baru di rahimnya, ia tahu keputusannya sudah tepat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya, juga bagi Alvin dan Althaf yang kini menjadi prioritas utamanya.Namun, pengunduran diri Saras ternyata menjadi "lampu hijau" bagi Dennis untuk memperketat penjagaannya."Mas, aku hanya ingin ke taman depan sebentar dengan anak-anak. Kenapa harus dijaga Bik Wati dan supir juga?" protes Saras suatu sore ketika ia sudah rapi dengan daster hamil yang cantik.Dennis yang baru saja pulang kantor, bahkan belum sempat melepas dasinya, langsung menghampiri Saras. Ia berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa, mengusap perut Saras yang mulai membuncit dengan saksama."Taman itu licin kalau habis hujan, Sayang. Kalau kamu pusing dan tidak ada yang memegangi bagaimana?" ujar Dennis dengan nada rendah

  • Ketika Takdir Menyapa   Positif

    Dennis mengerutkan kening saat tangannya hanya meraba sisi ranjang yang dingin. Kesadaran sepenuhnya pulih saat pendengarannya menangkap suara gemericik air dari balik pintu kaca yang buram."Mungkin dia sedang mandi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Tak lama, pintu terbuka. Uap hangat tipis merayap keluar, membawa serta aroma sabun yang sangat ia kenali. Dennis tersenyum lebar, bersandar pada bantalnya dengan tatapan memuja."Wanginya istriku," goda Dennis, matanya mengikuti gerak-gerik Saras yang tampak terburu-buru meraih handuk kering.Namun, senyum Dennis perlahan memudar. Saras hanya membalas dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Gerakannya saat mengenakan pakaian pun tampak gontai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis di dalam kamar mandi tadi."Sayang, kamu sakit?" Dennis langsung beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang mendesak.Saras menggele

  • Ketika Takdir Menyapa   Pertemuan Tak Terduga

    Saras, yang tidak menyadari ada seseorang yang mengamatinya, terus melangkah dengan Dennis, berbicara ringan tentang pilihan mainan anak-anak. Namun, entah mengapa, hatinya tiba-tiba terasa tidak tenang. Sesuatu dalam dirinya merasa seperti ada yang tidak beres. Sebuah perasaan aneh yang sulit dij

  • Ketika Takdir Menyapa   Kebersamaan

    Suasana di dalam rumah makan terasa hangat dan nyaman, seolah mereka baru saja memasuki ruang yang hanya milik mereka berempat. Saras, Dennis, Althaf, dan Alvin duduk di sebuah meja yang terletak di sudut, cukup jauh dari keramaian di luar. Tempat ini memang sengaja dipilih oleh Dennis, yang mengin

  • Ketika Takdir Menyapa   Suatu Kehangatan

    "Ayo, Bun! Main sekarang!" teriak Althaf dengan penuh semangat, melompat-lompat kecil, tak sabar untuk melanjutkan petualangan mereka di tempat permainan.Saras tersenyum, sejenak melupakan kegelisahan kecil yang tadi sempat mengganggu pikirannya. Melihat keceriaan Althaf, ia merasa lebih tenang, n

  • Ketika Takdir Menyapa   Janji Bertemu

    [Saras, aku dan Alvin mau mengajakmu dan Althaf ke tempat permainan. Aku jemput ya?]Pesan itu muncul di layar ponsel Saras, membuat hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia menatap layar ponselnya dengan ragu, jantungnya berdegup kencang. Haruskah aku menerima ajakan mereka? pikirnya.Tapi s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status