Masuk“Adek Althaf?” ulangnya pelan.Alvin mengangguk cepat. Ada kilatan harap di matanya sesuatu yang jarang terlihat.“Iya, Pa. Alvin suka sama Adek. Dia lucu terus Alvin nggak sendirian.”Ada perasaan hangat yang perlahan muncul, bercampur dengan haru yang sulit dijelaskan. Di balik sikap tenangnya, Alvin ternyata menyimpan keinginan kecil, bukan tentang hadiah, bukan tentang pesta tapi tentang kebersamaan.Dennis menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.“Iya, nanti Papa ajak Adek Althaf.”Wajah Alvin langsung berubah cerah. Senyum kecil itu akhirnya muncul, tulus dan tanpa beban.Di sisi lain, Irsa memperhatikan dalam diam. Matanya menyipit sedikit, menangkap satu nama yang tadi disebut dengan begitu mudahnya oleh Alvin.Althaf, nama yang sama anak dari perempuan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan masuk ke dalam lingkaran keluarganya.Tangannya perlahan mengepal di atas meja.Dennis melirik ke arah Irsa. Hanya sekilas, namun cukup untuk membaca sesuatu yang tak diucapkan. Wa
Tanpa sengaja, pandangan Nora berpapasan dengan Saras.Waktu seolah melambat sesaat.Perempuan itu, yang dulu begitu ia benci, yang pernah ia sakiti tanpa ragu, kini berdiri di hadapannya, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seseorang yang tampak jauh lebih tenang.Saras menatapnya. Tak ada kebencian di sana. Tak ada luka yang ditunjukkan. Hanya sebuah senyum sederhana, namun cukup untuk membuat hati Nora terasa bergetar.Nora terpaku. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit dijelaskan. Bersalah, mungkin. Atau penyesalan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Tanpa ia sadari, bibir Nora perlahan ikut melengkung. Senyum kecil, ragu, namun tulus, seolah menjadi jawaban atas masa lalu yang tak pernah benar-benar mereka bicarakan.Akhirnya, waktu kebersamaan itu harus berakhir. Saras dan Dennis bersiap untuk berpamitan. Suasana yang tadi hangat kini perlahan berubah menjadi haru yang tipis, seolah semua orang enggan benar-benar mengakhiri pertemuan hari itu.Stella m
Stella tertegun. Waktu seolah berhenti saat sosok Althaf melangkah perlahan memasuki ruang keluarga rumah itu. Langkah kecilnya terdengar begitu jelas, seakan menggema di dalam dada Stella.Di sampingnya, Saras menunduk sedikit dan berbisik lembut, “Kasih salam sama Opa dan Oma.”Althaf mengangguk pelan. Dengan ragu namun penuh keberanian, ia berjalan mendekat. Matanya menatap dua sosok di depannya, Robin dan Stella, yang kini terpaku, tak mampu berkata apa-apa.“Halo, Opa, Oma,” ucap Althaf polos, sambil mengulurkan tangan kecilnya.Namun sebelum tangan itu sempat benar-benar tergenggam, Stella sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan hangat. Seolah takut momen itu akan hilang jika ia terlambat sedetik saja.Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar, memeluk Althaf semakin erat, seakan ingin memastikan bahwa anak itu benar-benar nyata di hadapannya.“Iya, Sayang, ini Oma,” suara Stella pecah, tertahan oleh haru yang menyesakkan dada.Tangis itu bukan sekadar tangis.
Suasana makan siang itu terasa tenang. Saras dan Dennis duduk berhadapan. Di antara mereka, obrolan ringan mengalir pelan, sesekali diselingi senyum kecil yang membuat suasana terasa hangat.Drttt….drtttPonsel Saras bergetar di atas meja.Saras melirik layarnya. Dan seketika, ekspresinya berubah tipis. Nama Gavin muncul di layar ponsel. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu perlahan menatap Dennis.“Boleh aku terima panggilan ini?” tanyanya hati-hati.Dennis menghentikan gerakannya sesaat. Tatapannya jatuh pada layar ponsel itu, lalu kembali ke wajah Saras. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Cemburu, namun ia menahannya.“Boleh,” jawabnya singkat.Saras mengangguk kecil, lalu mengangkat panggilan itu.“Halo…”“Hallo, Saras.”Suara Gavin terdengar dari seberang. Tenang dan formal. “Aku mau minta tolong,” lanjutnya. “Bisa nggak besok kamu dan Althaf datang ke rumah Mami? Mami ingin bertemu dengannya.”Saras terdiam. Permintaan itu tidak sederhana. Matanya sekila
“Jika seandainya Dennis dibuang keluarga hanya karena memilihmu, apakah kamu masih mau bersamanya?”Pertanyaan Pak Handika kali ini jauh lebih berat. Bukan sekadar menguji perasaan tapi masa depan.Saras terdiam sesaat. Ia tampak berpikir. Mencerna setiap kata dan segala kemungkinan yang menyertainya. Wajahnya perlahan menunduk, namun bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menimbang sesuatu yang benar-benar penting.Perlahan, Saras menarik napas dalam. Lalu mengangkat wajahnya kembali.“Dennis tidak akan menyerah begitu saja, Pak.” Suaranya lembut namun jelas.“Ia akan tetap berusaha memperjuangkan restu itu,” lanjutnya. “Itu yang ia ucapkan pada saya.”“Dan saya percaya perjuangan itu bukan hanya dari satu pihak,” tambahnya pelan. “Kalau memang kami harus menghadapi itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan keyakinan yang perlahan menguat.“Maka kami akan menghadapinya bersama.”Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk menjelaskan segalanya.Beberapa detik berlalu d
“Pak Handika sudah menunggumu, Saras.”Suara Benny terdengar tenang, namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi,.hanya pernyataan yang terasa seperti penegasan bahwa ini bukan hal sepele.Saras menelan ludah pelan.“Iya, Pak,” jawabnya singkat, disertai anggukan kecil.Namun di dalam dirinya, kegelisahan semakin membesar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah memberi peringatan akan sesuatu yang belum ia ketahui.Dengan gerakan sopan, Benny membuka pintu ruangan Pak Handika. Tempat yang selama ini terasa jauh dan kini, harus ia masuki.Saras melangkah perlahan. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya ia melewati ambang pintu.Udara di dalam ruangan terasa berbeda. Lebih dingin dan sedikit menakutkan bagi Saras. Belum sempat ia sepenuhnya menyesuaikan diri.Klik.Pintu di belakangnya tertutup. Benny menutupnya dari luar. Suara kecil itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat Saras merasa seperti bera
“Ada yang ingin bertemu denganmu, Saras,” kata Dita dengan pelan.“Siapa, Bu?”“Aku.”Saras langsung menoleh, ia terkejut melihat istrinya Dennis yang sudah berdiri di hadapannya. “Dita, boleh saya pinjam ruangannya. Ada yang ingin saya bicarakan dengannya.”“Baik, Bu. Silahkan.”Dita menatap waja
Pak Handika memperhatikan wajah Dennis dengan seksama. Ia melihat kelelahan, luka, dan tekad yang sudah bulat di mata putranya.“Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya pelan.Dennis menarik napas panjang, suaranya mantap namun terdengar getir. “Aku sudah menyerahkan semuanya pada pengacara. Aku ing
Saras berhenti beberapa langkah dari pintu ruangannya. Suara ketukan sepatu hak yang teratur itu semakin menjauh, tapi bayangan perempuan elegan yang baru saja lewat masih terekam jelas di benaknya. Rambut hitam tergerai rapi, pakaian mahal, dan tatapan dingin yang menunjukkan ia terbiasa berada di
Setelah hampir satu jam berbincang, Yudha akhirnya bangkit dari duduknya.“Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Sudah malam,” katanya sambil berdiri.Gayatri mengantar sampai pintu. “Hati-hati di jalan, Yudha. Sampaikan terima kasih ibu pada Pakde Tama.”“Iya, Bu.”Yudha menatap Saras sebentar, tatap







