Home / Fantasi / Kinari dan Benang Waktu / Bab LII Dreams That Fell on Deaf Ears

Share

Bab LII Dreams That Fell on Deaf Ears

Author: Niskala
last update Last Updated: 2025-08-31 00:18:40

Kabar itu datang lewat layar-layar kota: ticker huruf berlari seperti ikan perak, wajah pewarta dingin, dan nama yang diulang-ulang bagaikan mantra.

Harrison — pemimpin Valis Reverin, kota pesisir yang merentang dari teluk ke bukit, di mana dermaga baja bersiul seperti seruling ketika angin menerobos di antara menara-menara kaca.

“Beliau akan menemui massa,” begitu kata berita, “mendengar langsung aspirasi warga.”

Kinari berdiri di balik jendela apartemen, memandangi pantulan dirinya di kaca — bukan ratu berzirah, melainkan perempuan berambut disanggul sederhana, dengan El’Thyren berdenyut tenang di bawah kain.

Kael menutup layar televisi; suara dunia menyusut menjadi dengung listrik dan jauh di sana, sirene yang berusaha lupa.

“Dia datang ke tengah arus,” ujar Kael pelan.

“Arus juga bisa menghanyutkan, jika tak kenal dasar,” jawab Kinari.

Matahari telah meninggi ketika mereka menyusup ke kerumunan di Lapangan Petala — alun-alun Valis Reverin yang luas bagai cakram kar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab LIII An Unforeseen Convergence

    Kerumunan bubar menjelang sore. Seperti pasang surut, massa mengalir ke jalan-jalan kecil, meninggalkan selebaran dan bekas langkah. Kinari dan Kael berjalan menyamping, hendak kembali ke apartemen, ketika dua pria bersetelan gelap mendekat. Gerak mereka lunak, namun terhitung. Lencana oval mengilap di dada—bukan lambang kota yang mereka kenal; garisnya terlalu sempurna, seakan digambar ulang dari memori mesin. “Maaf,” kata salah satu, suaranya hening dan kental. “Tuan Harrison ingin berbicara dengan anda berdua. Jika berkenan.” Kael dan Kinari saling memandang. El’Thyren tidak memekik kali ini; ia berdetak—satu untuk ya, dua untuk waspada. Kinari mengangguk, gerakan kecil seperti daun yang mempersilakan angin. Mereka melewati koridor kantor kota—lorong-lorong putih yang begitu bersih sampai cahaya kehilangan tempat untuk bertengger. Kamera-kamera kecil menoleh sendiri ketika rombongan berjalan. Lantai vinil memantulkan langkah menjadi irama yang tidak alami—ada g

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab LII Dreams That Fell on Deaf Ears

    Kabar itu datang lewat layar-layar kota: ticker huruf berlari seperti ikan perak, wajah pewarta dingin, dan nama yang diulang-ulang bagaikan mantra. Harrison — pemimpin Valis Reverin, kota pesisir yang merentang dari teluk ke bukit, di mana dermaga baja bersiul seperti seruling ketika angin menerobos di antara menara-menara kaca. “Beliau akan menemui massa,” begitu kata berita, “mendengar langsung aspirasi warga.” Kinari berdiri di balik jendela apartemen, memandangi pantulan dirinya di kaca — bukan ratu berzirah, melainkan perempuan berambut disanggul sederhana, dengan El’Thyren berdenyut tenang di bawah kain. Kael menutup layar televisi; suara dunia menyusut menjadi dengung listrik dan jauh di sana, sirene yang berusaha lupa. “Dia datang ke tengah arus,” ujar Kael pelan. “Arus juga bisa menghanyutkan, jika tak kenal dasar,” jawab Kinari. Matahari telah meninggi ketika mereka menyusup ke kerumunan di Lapangan Petala — alun-alun Valis Reverin yang luas bagai cakram kar

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab LI Whispers of the Unheard

    Asap memerihkan mata, menyesaki paru. Suara memantul dari beton: teriakan, komando, dentum. El’Thyren berdenyut kencang sampai terasa menyakitkan. Retakan di langit merambat lebih jelas—serpihan kecil waktu jatuh seperti salju tak terlihat, menyentuh kulit dan membuat dingin tulang. “Pisahkan arus,” seru Kael, suaranya hanya untuk mereka berdua. “Kau tarik amarah, aku tarik takut.” Kinari mengangguk. Ia melangkah ke depan, membentangkan telapak. Aetheryn menggema dalam bayang, tidak seperti tombak, melainkan seperti pilar gaib yang menciptakan ruang kosong di tengah keriuhan. Dari ujung jemarinya, ia memanggil air tipis yang ia pelajari dari pipa-pipa kota—Hujan Tiris; bukan deras, hanya kabut sejuk yang menempel di kulit, menenangkan mata yang pedih gas. Kabut itu tidak menghalangi, hanya memberi jeda bernapas. Kael menenun Sutera Lumen di atas kepala massa—benang nyaris tak terlihat yang menunda momentum lemparan, memperlambat batu yang semestinya melayang. Batu itu tetap

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab L The Fractured Oath of Justice

    Malam itu, taman kecil di bawah apartemen berkilap lembut oleh lampu jalan yang diselimuti kabut. Daun-daun basah memantulkan cahaya seperti sisik ikan mithril. Kinari dan Kael duduk di bangku besi—dinginnya menembus pakaian yang baru saja mereka pelajari namanya. El’Thyren di dada Kinari berdenyut pelan, seperti detak jantung yang sedang menimbang. “Di dunia manusia,” Kael membuka suara, “retakan tidak membelah seperti tebing. Ia merayap seperti lumut—halus, menjalar, perlu dibersihkan secara berkala.” “Artinya,” sahut Kinari, menatap permukaan kolam yang menangkap wajah bulan, “kita harus tinggal. Sepanjang umur. Mengikat hidup pada tempat yang bukan rumah.” “Di realm lain,” Kael melanjutkan, suaranya rendah, “kita datang, menutup luka, lalu selesai. Di sini tidak ada ‘sekali’. Hukum sosial mereka berputar perlahan, membentuk celah yang selalu baru. Jika kita memaksakan pedang… dunia akan menolak. Jika kita lembut, celah-celah itu tumbuh lagi.” Kinari menghela napas,

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLIX Symphony of Nora Batara

    Mereka mengintai pengelola pasar; pria itu duduk di sebuah bilik kecil di pojok pasar, dikelilingi kertas-kertas yang seperti daun-daun mati. Ia menutup jendela saat Kael mendekat; di raknya ada foto-foto pejabat kota, jabat tangan, segel, surat perjanjian. Kinari menyentuh pintu bilik—Sutera Lumen merayap menjilati kaca, memperlihatkan rekaman pantulan: notasi tanda tangan yang bergeser, angka-angka yang dinaikkan lalu diturunkan, bukti-bukti transfer yang tidak pernah sampai pada kasir pasar. Pengelola itu menoleh, wajahnya pucat ketika ia melihat kenyataan tercermin di kaca. Bukan hanya malu: ia melihat retak pada waktunya sendiri—keputusan yang ia ambil menggetarkan benang ruang di bawahnya. Namun pengelola menjadi marah, bukan menyesal. Ia menggeram bahwa pemerintah kota tak cukup memberi alokasi, bahwa biaya pasar semakin menekan, bahwa sulit menyeimbangkan buku. Dalam bahasa yang tampak rasional itu terselip sebuah pilihan: korupsi adalah jalan pintas, pilih

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLVIII Echoes of the Tainted Pact

    Pasar Nora Batara menatap mereka seperti mulut raksasa yang mengunyah bara. Lampu-lampu minyak di kios-kios memantul pada lembar-lembar kain, pada timbangan kuno, pada wajah-wajah penjual yang terkadang tangannya bersandar pada kebiasaan lama—kebiasaan yang menumbuhkan korosi pada waktu. Di udara ada bau rempah, ikan asin, keringat, dan parfum tiruan — sebuah simfoni manusia yang hidup sekaligus rapuh. El’Thyren di dada Kinari berdenyut tak tenang; denyutnya seperti nadi yang ditusuk jarum, berganti cepat dari lembut menjadi getar tajam. Sutera Lumen yang mereka tenun di seantero kota meriak di kaca-kaca; jalinan kecil itu menangkap gema niat yang berlalu, lalu menyalurkannya pada kalung sang ratu. Kael menutup matanya sejenak dan membaca pola: bukan satu retakan besar yang tunggal, melainkan ratusan retak halus—retak halus yang menjalar dari dua pusat yang berbahaya. Kerakusan kecil di sudut-sudut pasar, dan keputusan besar yang disepuh oleh korupsi lembaga. Mereka berjalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status