Share

2. Jason cinta Kakek

Author: Rendi OP
last update publish date: 2025-02-06 03:29:52

Setelah Jason meneguk habis ramuan pemulih yang ia dapatkan dari sistem, hanya dalam jangka waktu hitungan detik saja, tubuhnya merasakan sesuatu yang terasa nyaman. Jason lalu Melihat ke bagian tangannya yang lebam akibat injakan dan pukulan yang ia terima dari anak-anak berandalan tadi. "Eh...? Tadi tanganku ini terasa sangat sakit. Tapi kenapa sekarang tidak terasa sakit lagi? Bahkan benar-benar sama sekali tidak terasa sakit...?" Jason berulang kali mencoba menggerakkan sendi pergelangan tangannya, yang tadi terasa sakit karena ada beberapa tulang yang bergeser, akibat ulah beberapa anak berandalan yang merampas uangnya tadi. "Heh...? Benar-benar pulih. Bahkan pergelangan kakiku yang terkilir pun, sekarang sudah kembali baik-baik saja." Jason juga melompat-lompat untuk memastikan bahwa kakinya yang tergelincir benar-bebar pulih.

"Luar biasa! Sungguh, aku tak percaya jika ramuan pahit yang aku minum tadi ternyata benar-benar dapat membuat tubuhku yang terluka kembali pulih."

Di derasnya hujan yang belum berhenti, Jason yang berteduh di salah satu bangunan kosong, saat ini tengah merasa senang karena luka yang ia dapatkan dari para anak berandalan yang biasa merundungnya itu, kini telah benar-benar pulih.

"Kalau begitu, hey Sistem! Apakah kamu juga bisa menyembuhkan penyakit Kakekku?"

Tring!

Sistem langsung menjawab.

"Maaf, perintah dan pertanyaan yang Jason katakan tidak valid. Silahkan baca menu panduan untuk menggunakan Sistem agar Jason mengerti bagaimana cara Sistem bekerja." Jawaban itu terdengar dan juga tertulis di layar utama Sistem yang ada di hadapan Jason.

"Oh, begitu. Aku kira, dengan bantuan Sistem, aku bisa menyembuhkan Kakekku dari penyakitnya." Ada sedikit rasa kecewa yang Jason Rasakan.

Kemudian, Jason akhirnya teringat bahwa ia harus membelikan Kakeknya obat di apotik.

"Astaga...! Benar juga, aku sampai lupa. Aku benar-benar bodoh...!" seru Jason yang kemudian menerobos derasnya hujan untuk kembali ke kolong jembatan tempat biasanya ia tinggal saat ini.

Dengan tubuh yang basah kuyup, Jason bergegas masuk untuk melihat keadaan Kakeknya yang tengah sakit parah. Rupanya, Kakek yang merawat Jason saat dibuang oleh kedua orang tuanya itu, tengah mengidap penyakit yaitu Gagal Jantung. Penyakit ini harus ditanggapi dengan serius sejak dini, jika ingin menyelamatkan nyawa bagi para penderitanya. Akan tetapi, seperti yang kita semua tahu. Bagiamana kehidupan yang Jason jalani? Jangankan untuk membawa Kakeknya ke Rumah Sakit, untuk makan sehari-hari saja mereka masih kekurangan. Begitu miris kehidupan yang Jason hadapi saat ini.

Dan setelah Jason berusaha keras mencari solusi untuk mengobati penyakit Kakeknya, namun sayangnya takdir berkata lain.

Saat Jason kembali ke tempat tinggal biasanya yang berada di bawah kolong jembatan, ia menemukan sosok seorang lelaki tua yang sudah ia anggap sebagai kakek, Bahkan bisa dikatakan lebih seperti ke arah ayah kandungnya sendiri, telah terbaring lemah di ruangan yang sempit dan kotor itu.

"Kakek...? Ini aku, Jason. Hari ini Jason hanya dapat mengumpulkan beberapa kilo barang bekas berjenis pelastik seperti biasa, Kakek. Tapi..., seperti yang Kakek tahu, Anak-anak berandalan itu lagi-lagi merampas uang hasil jerih payahku hari ini." Jason memegang tangan kakeknya.

"Tapi Kakek jangan khawatir, besok aku pasti akan mendapatkan uang lebih banyak untuk membeli obat di Apotik untuk Kakek." Jason masih terus berbicara. "Dan Jason juga berjanji, Kakek. Jika besok ada gerombolan Anak-Anak Berandalan itu lagi, Jason akan melawannya! Jason sekarang punya kekuatan baru, Kakek." Jason mengangkat tubuh kakeknya yang tergeletak di lantai.

Ia menggoyangkannya, dengan maksud dan tujuan agar Kakeknya bangun dan mendengar semua apa yang telah ia bicarakan.

Namun sepertinya apa yang diharapkan Jason berbeda dengan kenyataan yang ada. Dia kemudian berteriak, "Kakek..., bangun Kakek...! Kakek dengar aku, kan?" serunya, yang akhirnya dengan kedua matanya meneteskan air mata yang jatuh begitu saja.

Kini Jason telah sadar, bahwa Kakeknya telah tiada. "Kakek...! Bangun...! Kakek masih bisa kan, memarahi aku ketika aku bangun kesiangan?! Kakek...! Tidak...! Kakek...! Aku mohon, bangunlah Kakek...!"

Di tengah derapan suara derasnya hujan, terdengar pula suara teriakan histeris Jason.

Jason sangat terpukul dengan kepergian Kakeknya yang lebih dulu menghadap kepada Yang Maha Kuasa.

Rasa sakit, perih, pedih dan semuanya bercampur aduk dalam hati Jason saat ini. Bagaimana tidak? Padahal hari ini ia mati-matian telah mempertahankan uang hasil mulung barang bekas yang akhirnya dirampas oleh sekawanan berandalan. Padahal, dia berniat untuk menggunakan uang itu untuk biaya pengobatan kakeknya. Namun, saat ia kembali dan bertemu sang kakek yang sangat ia cintai, ternyata kakek itu sudah tidak bernyawa lagi, karena kalah dengan penyakit yang akhirnya merenggut nyawanya.

Jason masih terus menangisi atas kepergian Kakeknya, di mana kakeknya itu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang ia anggap sebagai keluarganya. Namun ternyata, takdir berkata lain.

Dengan suasana yang masih turun hujan deras, Jason membawa jasad kakeknya untuk di kubur di halaman sekitar bawah kolong jembatan, di mana tempat biasanya ia tinggal.

"Kakek..., aku tidak akan pernah melupakanmu..., hiks, hiks, hiks!" seru Jason yang sambil menggali lubang untuk menguburkan jasad kakeknya di tengah hujan deras yang kian menerpa.

Dengan hanya bermodalkan sebuah cangkul milik kakeknya, dan ia juga hanya seorang diri, Jason trus menggali hingga lubang yang ia gali sudah terasa cukup dalam untuk menguburkan jasad kakeknya, barulah ia berhenti.

Jason dengan penuh rasa sedih menguburkan kakeknya di tempat itu. Bahkan setelah ia selesai mengubur jasad kakeknya itu, ia tak langsung kembali ke gubuk tempatnya tinggal. Ia masih menangisi makam kakeknya, hingga tanpa sadar ia tertidur di atas makam kakeknya akibat kelelahan dan juga rasa lapar yang tengah ia rasakan.

Keesokan harinya, Jason yang terbangun pun sadar, dan ia ingat kejadian kenapa ia bisa sampai tidur di tempat ia memakamkan jasad kakeknya.

Jason kemudian bangkit, ia menatap ke arah langit dan kemudian berkata, "Ya..., Tuhanku..., ijinkanlah HambaMu ini merubah nasib! Aku tidak akan kuat jika harus merasakan nasib yang miris seperti ini terus...!"

Tring!

Namun, setelah Martis berdoa kepada Tuhan, bukan Tuhan yang menjawabnya. Melainkan ia mendengar suara dentingan dalam benaknya. Itu adalah suara yang dihasilkan oleh sistem saat akan memberikan pemberitahuannya kepada Jason.

"Sistem mendeteksi bahwa saat ini Jason sedang mengalami stres berat. Jadi, Sistem akan memberikan Jason sebotol ramuan. Ramuan itu adalah ramuan untuk menenangkan jiwa, hati dan pikiran bagi orang yang meminumnya. Silahkan cek pada tas penyimpanan Sistem. Jason dapat mengambil hadiah tersebut. Ini adalah bonus yang Sistem berikan kepada Jason demi menjaga agar kesehatan Jason, yang di mana telah resmi ditetapkan sebagai User Terpilih dari Sistem, dan tak dapat diganggu gugat agar kondisinya senantiasa sehat, baik itu secara mental maupun fisik."

Tanpa pikir panjang, dengan wajah yang masih nampak kacau itu, Jason memilih tombol untuk menggunakan ramuan yang diberikan oleh Sistem.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   118. DANCE BATTLE TAK DISENGAJA

    "Susan! Aktifkan modul gangguan Saraf dari Sistemmu!" teriak Jason seraya berlari menyongsong arah jatuhnya Vane. Susan yang berada di atas balkon kendali segera menari-narikan jemarinya di atas antarmuka Sistem biru miliknya. [Sistem Susan: Menembakkan Gelombang Disorientasi Otak Tipe-B] [Target: Jenderal Vane] [Efek Samping Unik: Mengacaukan Saraf Keseimbangan dan Respon Otot Motorik!] ZZZZZT! Cahaya frekuensi ungu menembak tepat di kepala Jenderal Vane yang sedang melayang di udara. Seketika itu juga, alih-alih mendarat dengan pukulan pemusnah yang mematikan, respon otot Jenderal Vane mendadak kehilangan kendali secara konyol. Saat kakinya menyentuh lantai, tubuh raksasanya justru melakukan gerakan moonwalk secara mendadak ke belakang seraya melambaikan tangannya di udara! Sreeek... sreeek... "A-Apa yang terjadi pada tubuhku?!" jerit Jenderal Vane histeris. Wajahnya yang garang kini berubah menjadi panik luar biasa karena kakinya terus bergerak sendiri membentuk tarian brea

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   117. AMUKAN SANG JENDERAL

    Asap tebal sisa ledakan rudal Pasukan Khusus Onde-ondesia masih membumbung di ruang kendali markas Serigala Hitam. Meski sebagian besar prajurit kroco telah dilumpuhkan oleh gas penawar racikan Susan dan gempuran pasukan elit baret merah, ancaman utama sarang ini rupanya belum sepenuhnya musnah. BAMMMM! Pintu baja tahan ledakan di bagian dalam markas mendadak terlempar dahsyat, melayang menghantam dua prajurit elit Onde-ondesia hingga terlontar. Dari balik asap merah yang pekat, sesosok pria raksasa setinggi dua setengah meter melangkah keluar. Dia adalah Jenderal Vane, komandan tertinggi sayap tempur Serigala Hitam sekaligus pengguna modul eksperimen Sistem Jahat Tipe Berserker. "Kalian serangga-serangga Onde-ondesia... dan dua tikus penyamar!" raung Jenderal Vane dengan suara bergetar bagaikan mesin berat. Tubuhnya dilapisi zirah biologis hitam yang meneteskan cairan asam pembakar lantai. "Kalian pikir bisa menghancurkan mahakarya Serigala Hitam begitu saja?!" [Peringata

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   116. PASUKAN GARUDA

    Semburan gas penawar biru dari Sistem Susan merayap cepat memenuhi setiap sudut markas Serigala Hitam. Di saat yang sama, para prajurit musuh yang siap menembak Jason dan Susan tiba-tiba merasakan reaksi aneh. Senjata racun biologis yang menempel di lengan mereka mendadak meletupkan busa putih tak berguna! "Senjata biologis kita meleleh!" "Racun di dalam tubuhku... menolak diperintah!" "Cairan apa ini?! Mengapa baunya seperti aroma terapi mentol segar?!" jerit para prajurit panik seraya menutupi hidung mereka. [Notifikasi Sistem Susan: 100% Senjata Biologis Sektor 1 Terbakar & Terkunci!] [Status Musuh: Mengalami Efek Samping "Segar Luar Biasa" dan Kehilangan Daya Tempur Biologis!] "Kerja bagus, Susan!" seru Jason. Namun, beberapa prajurit yang tidak menggunakan senjata biologis langsung mencabut tongkat listrik dan melompat menerjang. Jason mengaktifkan Sistem Pukulan Magnetik. Brak! Bugh! Jeng! Jason memutar tubuhnya seraya melayangkan pukulan-pukulan bertenaga tinggi. Unikny

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   115. SALURAN VENTILASI DAN REAKSI TAK DUGA

    Lampu merah darurat masih berkedip-kedip liar accompanied oleh raungan sirene yang memekakkan gendang telinga. Sedangkan di luar kamar, ada suara langkah sepatu bot ratusan prajurit Serigala Hitam terdengar seperti badai menakutkan yang mendekat. "Jason, pintu utama sektor area ini ternyata sudah terkunci otomatis!" seru Susan seraya mengintip dari balik celah pintu. "Dan ada banyak Prajurit bertopeng baja dengan senapan plasma sudah menutupi ujung lorong ini!" Jason pun lalu menatap ke atas langit-langit kamar. Dari Sistem miliknya, sebuah denah holo 3D mendadak muncul melayang. [Sistem Navigasi Aktif: Ditemukan Jalur Alternatif] [Lokasi: Saluran Ventilasi Utama (Diameter: 60 cm)] [Catatan Sistem: Jalur ini cukup sempit. Harap simpan martabat Anda sebelum memanjat.] "Lewat atas!" menunjuk lubang ventilasi di sudut plafon. Dengan sigap, Jason pun melompat dan membuka penutup besi ventilasi itu, lalu ia segera memanjat masuk lebih dulu. Namun, karena koordinasi tubuh Jason yang k

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   114. PENAWAR RAHASE DAN PERTEMUAN DI GARIS DEPAN

    Setelah melumpuhkan empat pembunuh bayaran dan menyembunyikan tubuh mereka di dalam tangki pembuangan bahan kimia yang tidak terpakai, Jason dan Susan bergerak cepat kembali ke area privat mereka di markas Serigala Hitam. Waktu yang mereka miliki semakin sempit. Eksekusi rencana serangan besar-besaran oleh pasukan elit dari Negara Onde-ondesia sudah semakin dekat, dan setiap detik sangat berharga untuk mematangkan strategi penumpasan. Di dalam kamar mereka yang telah dipasangi alat pemblokir sinyal canggih racikan Jason, botol kecil berisi Serum Biologis V-9 diletakkan di atas meja. "Jason, menu Sistemku telah menganalisis struktur serum ini," kata Susan seraya menggeser layar antarmuka Sistem biru transparan yang melayang di hadapannya. Tangannya menari-nari menyeleksi berbagai bahan racun dan obat gaib yang tersedia di toko Sistem. "Sistem Jahat yang memodifikasi senjata ini menggunakan basis struktur racun seluler. Tapi jika aku memadukan Esensi Daun Pemurni Purba dengan Cair

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   113. ANCAMAN DI BALIK BAYANGAN

    Bunyi peringatan Sistem yang berdering garing di dalam kepala Jason seketika membuat seluruh saraf tubuhnya menegang. Dalam hitungan milidetik, raut wajah santainya berganti menjadi kewaspadaan mutlak. Peringatan itu bukan sekadar ancaman biasa—jarak tiga puluh meter di arah jam sembilan adalah celah sudut mati di lorong belakang markas Serigala Hitam yang minim penerangan. "Susan, jangan menoleh," bisik Jason sangat pelan, hampir tak terdengar. Jemarinya bergerak halus menepuk bahu Susan, berpura-pura sedang memperjelas percakapan biasa sebagai Alex. "Ada mata-mata. Kelompok pembunuh bayaran sedang mengintai kita di arah jam sembilan." Susan yang semula sedang berfokus meneliti antarmuka layar Sistem miliknya langsung menghentikan gerakan jemarinya. Sebagai agen berpengalaman yang kini menyamar sebagai Sarah, respon refleksnya sangat luar biasa. Ia mengurai senyum tipis di wajahnya, mempertahankan peran sebagai rekan yang patuh tanpa menunjukkan sedikit pun gestur kecurigaan.

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   7. Merenggut kesucian gadis cantik

    Deg, deg, deg...! Jantung Jason berdebar-debar. Kemudian Jason menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu menunjuk wajahnya sendiri. Ia bertanya pada gadis yang memanggilnya. "Heh...? Aku...?" Gadis itu sumringah, ia nampak sangat pandai bersandiwara. "Sayang, ya kamu lah. Memangnya, mau siapa lagi? Apa

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   6. Jason dipanggil SAYANG?

    "Jauhkan tangan kotormu itu! Aku bisa bangun sendiri!" Mungkin karena kesal karena terjatuh, gadis ini berbicara dengan wajah dan nada yang sinis terhadap Jason. Jason pun menarik tangannya kembali. "Ma-maafkan aku, Nona. Sekali lagi maaf, ya? Aku tidak sengaja." Jason mundur beberapa langkah lal

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   5. Perubahan Jason

    Kali ini, Jason yang biasanya dipukuli oleh para Berandalan itu, sekarang ia justru melakukan hal yang sebaliknya, Jason lah yang sekarang berbalik memukul mereka sampai terjatuh. "Apa, lagi? Ayo maju kalau berani?" tantang Jason, ia merasa percaya diri karena adanya bantuan Sistem. Rupanya, ta

  • Kisah Jason si Pemulung: Pengendali Sistem   4. Berandalan

    Jason memperhatikan apa yang diberitahukan oleh Sistem padanya. Ia mengingat kata sandi atau PIN untuk mengunakan ATM yang ia miliki. Setelah tiba saat giliran Jason yang masuk ke bilik mesin ATM, ia pun bergegas masuk. 'Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan kartu ATM. Apakah aku bisa meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status