Mag-log in
"Berikan hasil mulungmu hari ini pada kami! SEMUANYA...!" teriak seorang pemuda seraya mendorong tubuh Jason.
Jason berusaha keras mendekap beberapa lembar uang kertas hasil mulungnya hari ini. Ia berniat menggunakan uang itu untuk membeli obat kakeknya. Akan tetapi, seperti biasa, setiap malam ia sering dihadang beberapa anak berandalan untuk memalak hasil kerjanya hari ini. "Dasar keras kepala! Rasakan ini...!" Karena melihat Jason yang hari ini tidak seperti biasanya, seseorang yang disebut Ketua dari kelompok Berandalan itu menendang dan menginjak-injak tubuh Jason. Dan ternyata, bukan hanya dia seorang, rupanya ia dibantu oleh keempat temannya yang lain. Jason yang meringkuk hanya bisa terus menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ia mencoba mengatakan sesuatu. "To-tolong..., untuk hari ini saja..., aku mohon pada kalian. Aku ingin membelikan obat di apotik untuk Kakekku...," ujarnya dengan menerima berbagai pukulan dan injakan yang berlanjut. "Halah! Kau beralasan saja! Aku tahu, kau sengaja beralasan untuk Kakekmu berobat, padahal hari ini kau pasti mendapat uang lebih banyak dari kemarin, kan?! Iya, kan...?! Hah?!" Ketua berandalan itu menjambak rambut Jason yang sudah babak belur. Bam...! Kepala Jason dibenturkan ke lantai. Alhasil, itu membuatnya tak sadarkan diri. Dan akhirnya uang yang Jason pertahankan mati-matian berhasil kembali dirampas oleh kelima berandalan itu. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pun pergi meninggalkan Jason yang sudah dalam keadaan terluka dan pakaiannya juga nampak sangat kacau. Wajah Jason lebam, ia juga sempat merasa ada beberapa tulang tangan dan kakinya yang tergelincir. Akhirnya ia tak sadarkan diri. Dua jam kemudian, Jason yang tadi tak sadarkan diri pun, akhirnya siuman karena adanya hujan deras yang turun mengguyur sekujur tubuhnya Di tengah guyuran hujan dan beberapa kali dentuman suara geledek yang menggelegar, Jason terseok-seok berusaha untuk menepikan dirinya di bangunan yang ada di dekatnya. Dan setelah berjuang dengan keras, akhirnya Jason berhasil meneduhkan dirinya di teras salah satu bangunan kosong yang ada di dekatnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, ia menangis namun tak bersuara. Ia hanya mampu menahan dadanya yang sesak dan berteriak dalam hati. 'Oh Tuhan..., kenapa? Kenapa nasib buruk selalu menimpaku? Apa salahku? Kenapa Kau harus melahirkan aku ke dunia ini jika hanya untuk merasakan penderitaan seperti ini?' Saat Jason berkeluh kesah dalam hati, tiba-tiba ia mendengar sesuatu dari dalam kotak sampah yang ada di depan bangunan kosong tempatnya berteduh. Ting tong! Ting tong! Ting tong! Suara itu terdengar seperti suara nada dering sebuah ponsel. Jason yang mendengar suara itu pun akhirnya penasaran. Dengan terseok, ia kembali berjalan berusaha untuk mendekati sumber suara yang terus berbunyi itu. Akan tetapi, saat ia membuka kotak sampah itu, ia merasa terkejut. "Argh...! Apa ini?!" Rupanya, ada seberkas cahaya yang menerpa wajah Jason. Cahaya itu sangat menyilaukan kedua mata Jason, hingga terasa perih. Jason merasa bahwa cahaya itu masuk ke dalam wajahnya. "Apa lagi ini?!" seru Jason, ia terjengkang ke belakang karena terjangan cahaya silau itu. Tak lama kemudian, cahaya yang terasa menempel di wajahnya itu menghilang. "Apa itu tadi, ya?" Jason meraba wajahnya, ia mencoba mencari keberadaan sinar yang menerpanya tadi, namun sepertinya sinar itu telah hilang. "Membuatku kaget saja, huft...!" Jason kemudian bangkit. Dan saat ia bangkit, ia kembali dikejutkan dengan sesuatu di hadapannya. Tring! Ada suara dentingan yang menggema dalam pikiran Jason. Lalu, di hadapan Jason ada sebuah tulisan mengambang. "Selamat datang untuk User baru yang terpilih. Silahkan masukkan User Name." Kedua alis Jason naik, ia juga mengucek kedua matanya. "Apa ini...?" Jason mencoba menghapus tulisan yang ada di hadapannya dengan tangannya, namun tidak berhasil. Jason mencoba bergerak, namun ternyata tulisan yang mengambang itu terus mengikuti di hadapannya. "Eh...? Apakah ini mimpi?" Jason menoleh ke kanan dan ke kiri, ia ingin memastikan apakah tulisan di hadapannya ini tetap mengikuti ke mana arah wajahnya menatap. Dan ternyata, tulisan itu benar-benar mengikuti ke manapun ia menatap. Bahkan jika Jason pindah tempat pun, tulisan itu juga akan ikut pindah mengikutinya. Kemudian, dengan tanpa sengaja Jason mencoba menyentuh tulisan yang mengambang itu. Saat ia menyentuhnya, muncul tampilan keyboard seperti yang ada pada ponsel pintar. Untungnya, ketika kecil Jason sering diajari membaca dan menulis oleh kakek yang mengurusnya di kolong jembatan. Dan Jason akhirnya bisa baca tulis. Berkat kakeknya juga, ia bisa hitung-hitungan dasar. Jason kemudian penasaran, ia pun mencoba menekan tombol keyboard dengan menyusun namanya. "J a s o n..., Jason..." ucapnya sambil mengetik. Tring! "User baru telah terdaftar. Untuk salam perkenalan, sistem akan memberikan hadiah pertama pada Jason." Bugh! Terdengar suara suatu barang yang jatuh di samping Jason. Tentu saja Jason sangat terkejut. "Eh...? Beneran ada hadiah? Dari mana asalnya benda ini? Kenapa bisa tiba-tiba muncul?" Jason mengambil kotak yang jatuh di sampingnya. Saat Jason membukanya, ia kembali terkejut melihat isi di dalam kotak hadiah. "Bukankah ini kartu ATM?" tanya Jason seraya membolak-balikkan benda di tangannya. Lalu Jason mendengar suara lagi di dalam benaknya. "Benar sekali. Itu adalah ATM milik Jason untuk menerima saldo atas hadiah yang nantinya akan Jason dapatkan setelah misi terselesaikan. Apakah Jason ingin mencoba misi pertama Jason untuk mendapatkan hadiah saldo?" Lalu muncul lagi tulisan mengambang di hadapan Jason. Jason pun membacanya. "Apakah Jason menerima misi pertama? Misi ini adalah misi dasar dan memiliki peringkat D? Pilih Ya, atau Tidak?" Karena penasaran, Jason langsung menekan tombol Ya yang mengambang di hadapannya. "Selamat! Jason telah menerima misi pertama. Sebelum melanjutkan untuk mengerjakan misi pertama, sistem telah mendeteksi bahwa tubuh Jason saat ini sedang dalam kondisi terluka. Silahkan Jason buka tas penyimpanan sistem. Di sana ada item harian yang nantinya setiap hari akan direset dan disediakan ulang." Jason mulai mengerti dengan arahan dari suara yang menyebut dirinya dengan nama Sistem. Ia melihat ada layar utama yang mengambang. Di pojok kanan atas, ia melihat ada tulisan tas penyimpanan. Jason lalu menekan tombol menu itu, dan ia melihat ada beberapa gambar item di dalamnya. "Apa ini?" tanya Jason seraya menekan gambar item yang bentuknya seperti botol kecil. Ia menekan itu karena membaca ada tulisan di bawah gambar item yang bertuliskan "Ramuan pemulih". Bugh! Hanya dalam sepersekian detik setelah Jason menekan gambar item ramuan pemulihan itu, benda itu langsung jatuh di sampingnya seperti kotak yang berisikan kartu ATM tadi. "Wah? Beneran muncul lagi...!" Jason mengambil sebotol ramuan itu, ia membuka tutup botolnya. "Baunya harum, apakah rasanya manis?" Jason menghirup aroma ramuan yang menguap, lalu ia meneguknya sampai habis dalam satu tarikan nafas. "Huek...!" Rupanya rasa dari ramuan itu cukup pahit."Susan! Aktifkan modul gangguan Saraf dari Sistemmu!" teriak Jason seraya berlari menyongsong arah jatuhnya Vane. Susan yang berada di atas balkon kendali segera menari-narikan jemarinya di atas antarmuka Sistem biru miliknya. [Sistem Susan: Menembakkan Gelombang Disorientasi Otak Tipe-B] [Target: Jenderal Vane] [Efek Samping Unik: Mengacaukan Saraf Keseimbangan dan Respon Otot Motorik!] ZZZZZT! Cahaya frekuensi ungu menembak tepat di kepala Jenderal Vane yang sedang melayang di udara. Seketika itu juga, alih-alih mendarat dengan pukulan pemusnah yang mematikan, respon otot Jenderal Vane mendadak kehilangan kendali secara konyol. Saat kakinya menyentuh lantai, tubuh raksasanya justru melakukan gerakan moonwalk secara mendadak ke belakang seraya melambaikan tangannya di udara! Sreeek... sreeek... "A-Apa yang terjadi pada tubuhku?!" jerit Jenderal Vane histeris. Wajahnya yang garang kini berubah menjadi panik luar biasa karena kakinya terus bergerak sendiri membentuk tarian brea
Asap tebal sisa ledakan rudal Pasukan Khusus Onde-ondesia masih membumbung di ruang kendali markas Serigala Hitam. Meski sebagian besar prajurit kroco telah dilumpuhkan oleh gas penawar racikan Susan dan gempuran pasukan elit baret merah, ancaman utama sarang ini rupanya belum sepenuhnya musnah. BAMMMM! Pintu baja tahan ledakan di bagian dalam markas mendadak terlempar dahsyat, melayang menghantam dua prajurit elit Onde-ondesia hingga terlontar. Dari balik asap merah yang pekat, sesosok pria raksasa setinggi dua setengah meter melangkah keluar. Dia adalah Jenderal Vane, komandan tertinggi sayap tempur Serigala Hitam sekaligus pengguna modul eksperimen Sistem Jahat Tipe Berserker. "Kalian serangga-serangga Onde-ondesia... dan dua tikus penyamar!" raung Jenderal Vane dengan suara bergetar bagaikan mesin berat. Tubuhnya dilapisi zirah biologis hitam yang meneteskan cairan asam pembakar lantai. "Kalian pikir bisa menghancurkan mahakarya Serigala Hitam begitu saja?!" [Peringata
Semburan gas penawar biru dari Sistem Susan merayap cepat memenuhi setiap sudut markas Serigala Hitam. Di saat yang sama, para prajurit musuh yang siap menembak Jason dan Susan tiba-tiba merasakan reaksi aneh. Senjata racun biologis yang menempel di lengan mereka mendadak meletupkan busa putih tak berguna! "Senjata biologis kita meleleh!" "Racun di dalam tubuhku... menolak diperintah!" "Cairan apa ini?! Mengapa baunya seperti aroma terapi mentol segar?!" jerit para prajurit panik seraya menutupi hidung mereka. [Notifikasi Sistem Susan: 100% Senjata Biologis Sektor 1 Terbakar & Terkunci!] [Status Musuh: Mengalami Efek Samping "Segar Luar Biasa" dan Kehilangan Daya Tempur Biologis!] "Kerja bagus, Susan!" seru Jason. Namun, beberapa prajurit yang tidak menggunakan senjata biologis langsung mencabut tongkat listrik dan melompat menerjang. Jason mengaktifkan Sistem Pukulan Magnetik. Brak! Bugh! Jeng! Jason memutar tubuhnya seraya melayangkan pukulan-pukulan bertenaga tinggi. Unikny
Lampu merah darurat masih berkedip-kedip liar accompanied oleh raungan sirene yang memekakkan gendang telinga. Sedangkan di luar kamar, ada suara langkah sepatu bot ratusan prajurit Serigala Hitam terdengar seperti badai menakutkan yang mendekat. "Jason, pintu utama sektor area ini ternyata sudah terkunci otomatis!" seru Susan seraya mengintip dari balik celah pintu. "Dan ada banyak Prajurit bertopeng baja dengan senapan plasma sudah menutupi ujung lorong ini!" Jason pun lalu menatap ke atas langit-langit kamar. Dari Sistem miliknya, sebuah denah holo 3D mendadak muncul melayang. [Sistem Navigasi Aktif: Ditemukan Jalur Alternatif] [Lokasi: Saluran Ventilasi Utama (Diameter: 60 cm)] [Catatan Sistem: Jalur ini cukup sempit. Harap simpan martabat Anda sebelum memanjat.] "Lewat atas!" menunjuk lubang ventilasi di sudut plafon. Dengan sigap, Jason pun melompat dan membuka penutup besi ventilasi itu, lalu ia segera memanjat masuk lebih dulu. Namun, karena koordinasi tubuh Jason yang k
Setelah melumpuhkan empat pembunuh bayaran dan menyembunyikan tubuh mereka di dalam tangki pembuangan bahan kimia yang tidak terpakai, Jason dan Susan bergerak cepat kembali ke area privat mereka di markas Serigala Hitam. Waktu yang mereka miliki semakin sempit. Eksekusi rencana serangan besar-besaran oleh pasukan elit dari Negara Onde-ondesia sudah semakin dekat, dan setiap detik sangat berharga untuk mematangkan strategi penumpasan. Di dalam kamar mereka yang telah dipasangi alat pemblokir sinyal canggih racikan Jason, botol kecil berisi Serum Biologis V-9 diletakkan di atas meja. "Jason, menu Sistemku telah menganalisis struktur serum ini," kata Susan seraya menggeser layar antarmuka Sistem biru transparan yang melayang di hadapannya. Tangannya menari-nari menyeleksi berbagai bahan racun dan obat gaib yang tersedia di toko Sistem. "Sistem Jahat yang memodifikasi senjata ini menggunakan basis struktur racun seluler. Tapi jika aku memadukan Esensi Daun Pemurni Purba dengan Cair
Bunyi peringatan Sistem yang berdering garing di dalam kepala Jason seketika membuat seluruh saraf tubuhnya menegang. Dalam hitungan milidetik, raut wajah santainya berganti menjadi kewaspadaan mutlak. Peringatan itu bukan sekadar ancaman biasa—jarak tiga puluh meter di arah jam sembilan adalah celah sudut mati di lorong belakang markas Serigala Hitam yang minim penerangan. "Susan, jangan menoleh," bisik Jason sangat pelan, hampir tak terdengar. Jemarinya bergerak halus menepuk bahu Susan, berpura-pura sedang memperjelas percakapan biasa sebagai Alex. "Ada mata-mata. Kelompok pembunuh bayaran sedang mengintai kita di arah jam sembilan." Susan yang semula sedang berfokus meneliti antarmuka layar Sistem miliknya langsung menghentikan gerakan jemarinya. Sebagai agen berpengalaman yang kini menyamar sebagai Sarah, respon refleksnya sangat luar biasa. Ia mengurai senyum tipis di wajahnya, mempertahankan peran sebagai rekan yang patuh tanpa menunjukkan sedikit pun gestur kecurigaan.
Deg, deg, deg...! Jantung Jason berdebar-debar. Kemudian Jason menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu menunjuk wajahnya sendiri. Ia bertanya pada gadis yang memanggilnya. "Heh...? Aku...?" Gadis itu sumringah, ia nampak sangat pandai bersandiwara. "Sayang, ya kamu lah. Memangnya, mau siapa lagi? Apa
"Jauhkan tangan kotormu itu! Aku bisa bangun sendiri!" Mungkin karena kesal karena terjatuh, gadis ini berbicara dengan wajah dan nada yang sinis terhadap Jason. Jason pun menarik tangannya kembali. "Ma-maafkan aku, Nona. Sekali lagi maaf, ya? Aku tidak sengaja." Jason mundur beberapa langkah lal
Setelah ia menekan tombol pada sistem yang mengambang di hadapannya, barulah kembali ada barang yang jatuh di dekatnya, sama seperti sebelumnya. Jason kemudian mengambil botol ramuan itu dan meminumnya tanpa memperdulikan aroma maupun rasa yang di hasilkan dari sebotol kecil ramuan yang ia tengga
Setelah Jason meneguk habis ramuan pemulih yang ia dapatkan dari sistem, hanya dalam jangka waktu hitungan detik saja, tubuhnya merasakan sesuatu yang terasa nyaman. Jason lalu Melihat ke bagian tangannya yang lebam akibat injakan dan pukulan yang ia terima dari anak-anak berandalan tadi. "Eh...? T







