Compartilhar

105. Dua Orang

Autor: Black Aurora
last update Data de publicação: 2026-06-28 22:30:07

Yang terlihat pertama kali adalah sebuah koridor luas dengan jendela kaca dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan seluruh kota terbentang di depan mata.

Teanna berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam. "Tuan Claine ada di dalam."

Wanita itu lalu membuka pintu. "Silakan masuk."

Lovelle mengangguk pelan, lalu melangkah masuk.

Ruangan besar itu didominasi oleh warna hitam, abu-abu, dan kayu gelap hingga menciptakan kesan mewah sekaligus dingin.

Dan di balik
Black Aurora

Makasih buat yg sudah baca 🫶

| 5
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kiss The Antagonist    105. Dua Orang

    Yang terlihat pertama kali adalah sebuah koridor luas dengan jendela kaca dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan seluruh kota terbentang di depan mata. Teanna berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam. "Tuan Claine ada di dalam." Wanita itu lalu membuka pintu. "Silakan masuk." Lovelle mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Ruangan besar itu didominasi oleh warna hitam, abu-abu, dan kayu gelap hingga menciptakan kesan mewah sekaligus dingin. Dan di balik meja kerjanya... Xavian Claine sedang berdiri sambil memandang kota dari jendela. Seolah sudah tahu siapa yang datang, pria itu perlahan berbalik. Tatapan kelabu gelap itu langsung bertemu dengan manik biru pucat Lovelle. "Akhirnya kamu datang." Lovelle menelan ludah. "Anda yang memanggilku." Xavian berjalan mendekat beberapa langkah. "Aku mengira kamu akan mengabaikan undangan dariku." "Undangan?" ulang Lovelle tak percaya. "Dengan segala hormat, Tuan Claine... tapi tulisan di dala

  • Kiss The Antagonist    104. Gedung C-Works

    Himbauan : bacanya pakai bonus aja ya, koinnya kalau boleh untuk gift saja 🫶🫶 *** Jari-jari Lovelle membeku di atas kartu hitam itu. ((Aku benci menunggu. Jangan membuatku menjemputmu.)) Untuk sesaat, ia bahkan lupa cara bernapas. Kalimat itu... sangat familiar. Memiliki makna yang dominan, penuh oerintah serta penuh intimidasi. Seketika tubuhnya menegang. Itu... seperti kalimat yang akan diucapkan oleh Xeyren. Bibir Lovelle perlahan terbuka. "Tidak mungkin..." "Lovelle?" Emma memanggilnya pelan, namun gadis itu seolah tidak mendengarnya karena pandangannya masih tertuju pada tulisan perak di kartu itu. Tapi... mungkin saja dua orang berbeda mengucapkan kalimat yang mirip. Namun...kenapa setiap kali berhadapan dengan Xavian, ia selalu menemukan sesuatu yang mengingatkannya pada Xeyren? Tatapan, nada bicara, cara pria itu mendekatinya. Dan sekarang... kalimat ini. Perlahan, jemari Lovelle menggenggam kartu itu semakin erat. "Tuan Claine benar-benar mengirimmu

  • Kiss The Antagonist    103. Jangan Membuatku Menunggu

    Lovelle masih berdiri beberapa detik di depan pintu masuk, menatap punggung Xavian yang semakin menjauh. ((Setiap kali melihatmu, rasanya seperti ada sesuatu yang seharusnya kuingat...)) Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Apa maksudnya? Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau... apakah Xavian juga merasakan sesuatu yang aneh? Jantung Lovelle pun kembali berdetak sedikit lebih cepat. Tidak. Itu tidak mungkin. Kalau pria itu benar-benar Xeyren, kenapa ia tidak mengenalinya? Kenapa tatapan itu begitu asing? Kenapa semua reaksinya hanya seperti seseorang yang penasaran kepada seorang wanita yang baru ditemuinya? Namun sebaliknya jika ia bukan Xeyren... Lalu kenapa wajah, suara, bahkan cara pria itu menatapnya bisa begitu serupa? Lovelle mengembuskan napas pelan dengan kepala yang mulai penat. Semakin dipikirkan, semuanya justru semakin rumit dan membingungkan. Dengan langkah gontai, gadis itu keluar dari lift dan mulai berjalan menuju divisinya. Namun baru beber

  • Kiss The Antagonist    102. Sesuatu Yang Seharusnya Kuingat

    Di pagi hari, suara bel apartemen yang berbunyi nyaring membuat Lovelle mengerang pelan di atas tempat tidur.Kelopak matanya masih terasa begitu berat. Ia pun tidak ingat pukul berapa dirinya baru tertidur semalam.Yang ia ingat hanyalah mata kelabu gelap, suara renda dan wajah Xavian yang terlalu mirip dengan seseorang yang seharusnya tidak mungkin ada di dunia ini.Suara bel kembali berbunyi, tapi Lovelle malah menarik selimut menutupi kepalanya.Namun beberapa detik kemudian, otaknya perlahan mulai bekerja.Bel? Siapa yang datang pagi-pagi begini?Dengan rambut yang berantakan dan wajah yang linglung karena masih mengantuk, Lovelle segera beranjak keluar kamar untuk membuka pintu depan apartemen.Dan di sana... Nathan sedang berdiri sambil membawa dua gelas kopi dan Lovelle hanya menatapnya dengan ekspresi kosong.Pria itu berkedip heran beberapa kali. "...Lovelle?"Nathan mengerutkan kening."Kamu... tidak bekerja hari ini?"Butuh waktu sekitar tiga detik hingga otak Lovelle akhi

  • Kiss The Antagonist    101. Teman Lama

    Jantung Lovelle berdetak semakin keras.Sulit dipercaya.Pertanyaan itu... keluar dari bibir pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan Xeyren. Bibir yang sama, mata yang sama, dan suara rendah yang sama.Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda.Untuk sesaat, pikirannya seperti ditarik jauh ke masa lalu. Ke sebuah ruangan yang diterangi cahaya lilin. Ke sepasang mata kelabu yang tidak pernah sedingin ini.Tatapan yang selalu berubah gelap setiap kali memandangnya, sorot yang pernah membuat seluruh tubuhnya gemetar.Ia teringat jemari kokoh yang menggenggam tangannya, pelukan hangat yang nyaris mencekik karena begitu erat, serta kecupan-kecupan lembut yang pernah mendarat di sekujur tubuhnya. Pria itu... Pria yang sama sekali tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, tetapi selalu menunjukkan segalanya melalui tindakan.Namun sekarang... mata yang sama itu justru memandangnya dengan rasa ingin tahu yang dingin...... seolah mereka benar-benar orang asing."Jad

  • Kiss The Antagonist    100. Menatapku Seperti Hantu

    Lovelle merasa seluruh darah di tubuhnya seolah mengalir ke wajahnya. Karena sekarang, bukan hanya Xavian yang menatapnya. Para pengawal yang berdiri di dekat pria itu ikut memandang ke arahnya. Beberapa karyawan yang sedang berjalan di lobi pun ikut berhenti dan memperhatikan mereka. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Lovelle menelan ludah, lalu perlahan melangkah keluar dari balik pilar. "...Anda sedang berbicara denganku?" tanyanya ragu. Xavian sedikit menelengkan kepala sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja." Tatapan mata kelabu itu tetap tenang dan datar. "Ada hal penting mengenai pekerjaan yang ingin kudiskusikan denganmu." Lovelle sedikit mengernyit. "Sekarang?" "Ya. Sekarang." "Kalau memang tentang pekerjaan..." Lovelle mencoba tersenyum sopan. "Apa tidak bisa besok saat jam kerja?" "Tidak." Jawaban Xavian datang dengan cepat. "Aku perlu mendiskusikannya malam ini." Kali ini Lovelle terdiam, dan ia bisa merasakan tatap

  • Kiss The Antagonist    92. Kembali

    Lovelle menatap Nathan tanpa berkedip dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat, seolah pikirannya belum mampu mengejar kenyataan yang baru saja menghantam dirinya. Dan tampak begitu lega melihatnya. "Aku..." suara Lovelle terdengar pelan. "Aku benar-benar sudah kembali?" Nathan tidak l

  • Kiss The Antagonist    91. Dunia Nyata

    Suara berdenging nyaring memenuhi telinga Lovelle. Kepalanya terasa sangat berat., seluruh tubuhnya pun juga terasa mati rasa. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, tetapi bahkan gerakan sesederhana itu pun terasa begitu sulit. Gelap. Dingin. Dan rasanya... seperti baru saja jatuh dari tempa

  • Kiss The Antagonist    90. Hilang

    Sirene ambulans meraung-raung membelah malam Namun bahkan di dalam kendaraan itu, Xeyren menolak untuk melepaskan Lovelle dari dekapannya. Salah satu paramedis beberapa kali mencoba membujuknya "Tuan, kami harus meletakkan pasien di brankar agar lebih mudah ditangani." "Tidak." Jawaban Xeyre

  • Kiss The Antagonist    88. Mengirimmu Kembali

    Lorong lantai tiga Mansion Crow terasa lebih sepi dibanding biasanya, hanya suara langkah kaki Lovelle yang terdengar pelan di atas lantai marmer mengkilap. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah baki berisi semangkuk sup hangat, teh herbal, serta beberapa potong roti krim yang baru saja disiapkan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status