LOGINmakasih untuk yg masih baca🫶🏻 yuk baca bukuku juga Terdampar Di Pulau Bersama Lima Pria Berbahaya... kasian viewsnya sangat mengenaskan 🥲
Lovelle merasa seluruh darah di tubuhnya seolah mengalir ke wajahnya. Karena sekarang, bukan hanya Xavian yang menatapnya. Para pengawal yang berdiri di dekat pria itu ikut memandang ke arahnya. Beberapa karyawan yang sedang berjalan di lobi pun ikut berhenti dan memperhatikan mereka. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Lovelle menelan ludah, lalu perlahan melangkah keluar dari balik pilar. "...Anda sedang berbicara denganku?" tanyanya ragu. Xavian sedikit menelengkan kepala sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja." Tatapan mata kelabu itu tetap tenang dan datar. "Ada hal penting mengenai pekerjaan yang ingin kudiskusikan denganmu." Lovelle sedikit mengernyit. "Sekarang?" "Ya. Sekarang." "Kalau memang tentang pekerjaan..." Lovelle mencoba tersenyum sopan. "Apa tidak bisa besok saat jam kerja?" "Tidak." Jawaban Xavian datang dengan cepat. "Aku perlu mendiskusikannya malam ini." Kali ini Lovelle terdiam, dan ia bisa merasakan tatap
"Aku penasaran," lanjut Xavian tenang. "Apakah model itu cukup kuat untuk dipertahankan jika aku mengganti seluruh variabel pasar yang Anda gunakan?" Jantung Lovelle kembali berdetak keras, karena kini ia sadar bahwa pria itu memang tidak menatapnya sebagai seseorang yang dikenalnya. Namun untuk alasan yang tidak ia pahami... Xavian Claine baru saja mengalihkan seluruh perhatian Lovelle kepadanya. Jam kerja hari itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bahkan setelah presentasi selesai dan Daniel Carter mengucapkan kalimat penutup, Lovelle masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. "Presentasi yang sangat baik, Nona White." Salah satu eksekutif mengangguk puas. Daniel tersenyum lega dan segera menjawab, "Terima kasih. Sebagian besar analisis ini memang disusun oleh Lovelle." Lovelle hanya mengangguk kecil secara refleks, namun pikirannya masih tertinggal di ujung meja rapat... pada pria yang duduk di sana. Xavian Claine. Atau... Xeyren. Ketika Daniel memberi isya
Lovelle bahkan tidak menyadari jika sejak tadi ia sedang menahan napasnya. Beberapa detik yang lalu, dunia masih terasa normal. Lalu sekarang... Xeyren Crow sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Tidak. Bukan Xeyren. Nama pria itu adalah Xavian Claine. Pemilik C-Works Industries. Pemimpin perusahaan raksasa yang baru saja mengakuisisi tempatnya bekerja. Seorang pebisnis. Seorang CEO. Seorang manusia nyata yang seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dunia yang pernah ditinggalkan Lovelle. Namun semakin lama ia memandang pria itu, semakin sulit baginya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Xeyren dan Xavian terlalu mirip... Bukan hanya wajah, tapi juga bola mata, ukiran tattoo di kulitnya, bahkan cara pria itu duduk dengan postur yang tegak dan tenang. Mereka berdua sama-sama memiliki aura dominan yang secara alami membuat seluruh ruangan fokus mengelilinginya. Lovelle pun mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengendalikan jantungnya yang terus berd
Lovelle baru mengangkat wajahnya ketika pintu lift telah tertutup sepenuhnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar pada dinding logam yang mengkilap. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam dengan ponsel yang masih berada di tangan. Setelah membaca pesan Nathan sekali lagi, jemarinya pun kini bergerak cepat di atas layar untuk mengetik jawaban. "Terima kasih. Semoga harimu juga menyenangkan." Singkat, namun cukup tulus untuk mewakili apa yang ingin ia sampaikan. Beberapa detik selanjutnya pesan itu pun terkirim, dan Lovelle pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali di saku. Ketika pintu lift terbuka beberapa menit kemudian, Lovelle pun segera melangkah keluar. Namun keningnya sontak mengernyit saat baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Lorong kantor di lantai ini tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang berdiri berkelompok sambil berbicara dengan suara pelan, sedangkan sebagian lain terlihat mondar-mandir dengan tablet atau laptop di tangan.
Suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung setelah percakapan itu, tapi untungnya Nathan tidak memaksa. Ia tidak meminta jawaban Lovelle dengan segera, juga tidak mengulangi lagi pengakuan perasaannya. Dan Lovelle sangat bersyukur untuk itu, karena saat ini pikirannya masih benar-benar berantakan. Memikirkan Nathan, Xeyren, serta dunia yang pernah ia tinggali, juga perasaan aneh seperti seseorang yang mencengkram pinggangnya, masih mendominasi seluruh benaknya, menyisakan hanya sedikit ruang untuk berpikir. Tapi untungnya, aroma makanan dari kantong kertas yang dibawa Nathan cukup berhasil mengalihkan pikirannya. Lovelle membuka bungkus sandwich itu perlahan, kemudian menggigitnya. "Ini enak. Thanks, Nathan." Nathan yang sedang menyetir tertawa kecil. "Aku tahu kamu akan suka." Sambil mengunyah, Lovelle mengangguk. "Rotinya pun masih hangat." "Aku sengaja membelinya sebelum ke apartemenmu." Lovelle kembali menggigit sandwich itu dengan ekspresi yang terlihat s
Pagi itu, cahaya matahari musim dingin menembus tirai apartemen Lovelle. Udara masih terasa dingin, ketika gadis itu berdiri di depan meja rias sambil menyisir rambut gelapnya yang hanya mencapai leher. Hari ini akan menjadi hari kerja yang panjang. Namun saat sedang merapikan ujung rambutnya, pandangan Lovelle tanpa sengaja tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di sudut meja rias. Gerakan tangannya pun seketika terhenti. Buku itu masih berada di sana, belum tersentuh dan belum pernah dibuka. Sampulnya berwarna hitam kebiruan, dihiasi siluet sebuah kastel megah yang berdiri di bawah langit badai. Di bagian depan tampak sosok pria tinggi berjas hitam yang hanya terlihat dari belakang. Di sisi lain berdiri seorang wanita bergaun putih yang wajahnya diselimuti bayangan. Sementara jauh di belakang mereka terdapat seorang pria lain yang berdiri di tengah kabut, seolah mengawasi semuanya dari kejauhan. Judulnya tercetak dengan huruf perak. "His Obsession." Jemari Lov
Lovelle mengerjap pelan. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Xeyren dalam diam, mencoba menyusun kata-kata yang cukup masuk akal… namun sekaligus juga tidak terlalu membuka rahasia. “Dunia lain itu tidak ada...,” ucapnya akhirnya, berusaha untuk terdengar ringan. “Aku cuma salah bicara. Ka
Sunyi beberapa detik… sebelum akhirnya Xeyren kembalii berucap datar hanya satu kata, namun mampu membuat udara di ruangan itu kembali menegang. “Portal.” Albrecht Varyn menelan ludah. “Apa maksudmu…?” Xeyren pun sedikit memiringkan kepalanya. “Jalan penghubung,” lanjutnya pelan. “Jika dua
Malam itu, Xeyren tidak kembali ke kamar Lovelle. Ia berdiri diam di atas balkon Mansionseraya memandang hamparan salju yang membeku di bawah sana, sementara satu kalimat terus berputar di kepalanya. "Dunia lain." Hal yang terdengar tidak masuk akal, tapi tidak bisa ia abaikan. Xeyren sangat
Lovelle telah selesai mandi. Dan saat ini ia duduk di meja rias dengan mengenakan bath robe, sambil menyisir rambutnya yang gelap sepanjang leher. Sementara Xeyren duduk di ranjang sambil memandanginya dalam diam dengan melipat tangan di dada. Sisir itu berhenti bergerak ketika Lovelle menar







