LOGINHe kissed her in the shadow. It was mind-blowing, passionate, hot and daring. Ngunit hindi inaasahan ni Miranda na ang lalaking kinaiinisan ay siya palang nakasama niyang nagtampisaw sa kama nang tanggalin na niya ang piring sa kanyang mga mata. It was supposed to be his fiance', Fiore. His three years boyfriend whom she thought she had given her virginity. Instead, she was mistakenly devirginized by his fiance's bestfriend, Xylon Diaz. Kaya ganoon na lang ang galit ni Fiore sa kanya at wala nang kasalan na magaganap. Abot hanggang kailaliman ng lupa ang naging galit niya kay Xylon. Ngunit mapipilitan siyang pakisamahan si Xyle dahil na-stranded sila sa ancient country house na nasa gitna ng kakahuyan. Hanggang naramdaman niyang iba na ang gusto ng katawan niya. Nais pa niyang hagkan siya ni Xyle at maulit ang nangyari sa kanila. Sa pagbabalik ni Fiore, kailangan niyang mamili. Ang lalaking pinangakuan niya ng kanyang puso o ang lalaking ibig ng katawan niya.
View MoreAKU KECEWA PADAMU SIFA!
"Ceraikan aku, Mas. Kau telah melanggar perjanjian Khulu'." kata Sifa langsung berdiri diantara ketiganya. Mereka semua kaget karena gadis abaya hijau yang memakai cadar itu adalah Sifa hal yang cukup mengejutkan baginya. "Kalau kau memiliki anak dari wanita itu sungguh tak akan ada kata maaf dan ampunku. Rasanya tak puas juga kau mainkan aku sekarang!" teriak Sifa dengan murka. "Dek, kau salah paham, Dek. Bukan itu maksudku, kau belum mendengar semua penjelasanku, baru kau bisa..." "Cukup! Cukup sudah, Mas. Aku muak denganmu, aku tahu seorang pezina, tapi aku tak mengira bahwa kau tega melakukan ini semua padaku! Demi Allah aku tak ikhlas, aku tak rido'! Huhuhu," kata Sifa sambil menangis pilu sambil tangannya memukul dadanya yang terasa sesak karena sakit hati yang dia rasakan. Mulki langsung berdiri memegangi kakaknya yang hampir saja terjatuh. Sifa langsung lemas seketik setelah berteriak, dia merasa sedikit sakit di bagian perut bawahnya. Abah Furqon segera menggeret kursi, Mulki memapah kakaknya duduk di sana. "Astaghfirullahaladzim," kata Rio mengusap wajahnya gusar. "Abah aku sakit, Bah. Sakit hatiku," ujar Sifa. "Istighfar kau, Dek," perintah Rio. "Tak usah menyuruhku!" bentak Sifa. "Astagfirulloh," gumam Sifa pelan. Amarah Sifa sudah menguasai hatinya. Sifa takut terjadi apa-apa dengan rumah tangganya seperti dulu. Semua terdiam sekarang. "Kenapa kau menyusul ke sini, Nduk? Abah benar-benar tak mengira kau senekat ini," ujar Abah Furqon. "Kenapa, Bah? Kenapa? Apa kalian ingin menyembunyikan fakta ini dariku? Apa karena kalian sama-sama lelaki lalu membenarkan hal ini terjadi? Demi Allah saat ini Sifa merasa dikhianati dan dicurangi oleh kalian," jawab Sifa. "Astagfirullah, Nduk. Nyebut! Istighfar, jangan biarkan setan menguasai hatimu, Nduk. Kau salah paham, tidak semuanya seperti itu sebenarnya! Ingat dan eling semuanya jangan amarah menguasai mu, istighfar, istighfar, istighfar!" terang Abah Furqon. "Lalu apa, Bah? Sekarang Sifa sudah melihat sendiri, mendengar dengan telinga, Sifa melihat dengan kedua mata kepala Sifa dan di depan Sifa. Akan beralasan apalagi kali ini kau, Mas?" tanya Sifa setengah menyindirnya. "Kau salah paham, Mbak," kata Mulki. Mulki menghela nafasnya panjang. Masalah ini tak bisa di biarkan larut dalam masalah. Ini karena makin di biarkan makan akan makin berlarut. Masalah ini harus di selesaikan sekarang coba. Mulki terdiam dan mencoba mencari solusi sekarang. "Mas Rio sekarang bisakah kau memanggil wanita itu kemari?" tanya Mulki pada Rio. "Entahlah, Dek. Aku tak tahu, karena dia jarang sekali mau diajak berhubungan setelah kami berpisah. Aku tak bisa bebas menghubunginya lagi," jawab Rio. "Kau panggil wanita itu, Mas. Entah bagaimanapun caranya tapi yang jelas kita tak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut. Lihatlah kondisi Mbak Sifa sekarang. Kasihan kakakku, dia sudah mencoba bersabar dan menahannya tetapi tak bisa. Kini semua sudah saling tahu, lalu di sini yang menjadi korban adalah kakakku dan wanita itu. Jadi masalah ini harus selesai hari ini juga," pesan Mulki. "Mbak," panggil Mulki. Sifa menoleh. "Dengarkan Mulki sekarang, Mbak. Kau percaya kan padaku?" tanya Mulki. Sifa menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah kalau begitu. Mbak, bukan Mulki membela wanita itu tidak. Tetapi kita realistis saja di sini wanita itu pun menjadi korban dari suamimu dan kau juga. Kalian sama-sama korbannya, tak adil. Kalau hanya menyalahkan satu sisi saja, kita harus mendengar klarifikasi dari wanita itu juga, agar kau percaya," sambung Mulki. "Mulki bicara begini, bukan berarti Mulki membela wanita itu. Tapi karena Mulki sudah tahu apa alasan wanita itu dan Mbak Sifa tak akan percayakan juga jika tidak mendengarnya sendiri," lanjutnya. "Tapi aku tak yakin wanita itu mau menemui kita," kata Rio. "Gendhis bukanlah wanita seperti itu," lanjutnya. "Coba telepon dulu, kalau tidak di coba mana mungkin kita tahu," kata Mulki. "Di sini kau bisa memulainya, harusnya kau juga bisa mengakhiri semuanya, Mas!" bentak Sifa. Rio pun menganggukkan kepala dengan pasrah. Dia mencoba menelepon Gendis. Untung saja telepon pertama sudah diangkat. "Halo ada apa lagi? Kenapa kau terus mengangguku? Kurang puas kau menjebakku kemarin?" cerca Gendhis. "Apa yang perlu di bicarakan? Kau tak usah menggangguku," kata Gendis dengan ketus. "Kau di mana? Apakah kita bisa bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan dan ini sifatnya penting. Kita harus segera bertemu," pinta Rio. "Please Gendis, untuk sekali Ini saja," sambung Rio. "Gendhis dengarkan aku, aku hanya ingin membuat perjanjian denganmu," bujuknya. "Perjanjian apalagi?" tanya Gendhis mulai tertarik. "Kita harus bertemu, perjanjian ini tak bisa aku katakan secara langsung. Intinya begini, bukankah kau seringkali memintaku untuk bertanggung jawab secara perdata tentang anak itu? Apakah kau benar-benar yakin tak ingin mendengarnya? Aku tak ingin menjelaskannya lewat telepon, tapi aku ingin berdamai untuk hal itu," jawab Rio. "Aku hanya ingin bertemu," kata Rio. Mendengar ucapan Rio itu pun luluh hati Gendhis. Dia berpikir Rio mungkin tersentuh dan akan memikirkan Kaia. Sebagai seorang Ibu nalarnya luluh sudah. "Baiklah kalau begitu. Kita bertemu di mana?" tanya Gendhis. "Terserahmu, kita bertemu di dekatmu saja. Kau ada di mana sekarang?" tanya Rio. "kebetulan aku sedang ada di Ponorogo. Kebetulan aku akan menyelesaikan beberapa urusan administratif dulu," jelas Gendhis. "Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu. kau tak lama kan?" tanya Rio untuk memastikan dia memang tak ingin ada dusta diantara mereka dan seolah-olah Rio lah yang kamuflase semuanya. "Tidak mungkin, tapi aku juga tak tahu. Kita bisa bertemu sekitar sepuluh menit lagi bagaimana? Kau tak menjebakku kali ini?" selidik Gendhis. "Tidak, Baby. Apakah kau tak percaya padaku?" kilah Rio reflek Rio memanggil Gendis dengan ucapan baby yang ternyata membuat Sifa semakin sakit hati. "Baiklah di mana cafe nya kau kirim kan saja padaku. Aku akan mengabari jika urusanku selesai," sahut Gendhis. "Aku akan menunggumu di sana saya," ujar Rio mematikan telponnya. Baru saja Rio meletakkan HP nya, dia menyadari tatapan tajam dari arah samping yaitu istrinya. "Harus ya dengan panggilan Baby? Baby ata Babi? Hahaha," tanya Sifa. Sontak perkataan Sifa membuat Mulki menahan senyumnya . "Kau ingin dia tak curiga kan? Apa yang bisa ku lakukan jika bukan bersandiwara seolah tak terjadi apapun. Sekarang kau sudah mendengar sendiri kan," jawab Rio. Mulki menganggukkan kepalanya. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Bah, maaf ya jika ucapan saya akan menyinggung. Sifa maaf aku tidak berniat membohongimu saja. Tapi jujur saja sikapmu ini membuatku kecewa," kata Rio. "Apa maksudmu, Mas?" tanya Sifa APA MAKSUD RIO? BERSAMBUNG Season 1 Selir Kesayangan SuamikuThe Shadow Has GoneTinapik ko si Kiko sa kanyang likuran. He's in-charge with the lights and sounds for tonight's Foundation day celebration."Pare baka malintikan ako nito, ha!" banta niya sa akin. "Ayokong ma-expel, graduating na tayo.""Ako ang bahala sa ‘yo. Abangan mo lang ang senyas ko. Alam mo na ang gagawin mo.""Basta ‘yong thesis natin ikaw ang bahala.""Ako ang bahala." Tinanguan ko siya at saka ko inayos ang aking sarili.‘
Dream Come True"I love you.""What?" she looks fascinated."Jeg elsker dig means I love you. Noon pa man, mahal na kita Miranda. Hindi mo lang alam pero ilang beses kitang gustong agawin kay Fiore. Tuwing nakikita ko kayo, sobra akong naiinis sa sarili ko. Sana nagtapat agad ako sa ‘yo. Sana ako ang pinili mo. Sana ako ang parating kasama mo... Sana..."Natigilan ako nang bumalik ang tingin ko sa kanya. She's crying. "M-Mir...""S-Sana ikaw ang kasama ko tuwing sasapit ang araw ng kamatayan ng mga magulang ko. Sana ikaw ang kausap ko sa kabilang linya bago ako makatulog sa gabi. Sana Xylon... I wish
Jeg Elsker DigThe sun was setting in front of us, the resort still packed with guests and the smell of freshly mowed lawn surrounded the place. She leaned on my shoulder and I encircled her with my arms. I couldn't ask for anything in this world right now."Tired?" I asked her."Yeah. But it's worth it, Xylon. Akala ko hindi na mangyayari ito."Mahigpit ko siyang niyakap ng aking dalawang kamay."Akala ko rin. Ang layo mo kasi. Ayaw mo 'kong tingnan."Mahina siyang tumawa. "You're wrong. Dahil sa sobrang lapit mo noon, masyado nang nasanay ang mga mata ko-"
All Yours"X-Xylon...""Sa akin na 'to hindi ba?" pilyo siyang ngumiti sa akin. Nahihiya naman akong tumango. "At ito pa..." Napasandal ako nang pagbigyan din niya ang kabilang dibdib ko."T-They... are all... yours..." I answered.Nahuli ko ang pagngisi niya. Nagulat na lang ako nang tanggalin niya isa-isa ang butones ng suot kong puting blusa. Simula sa ibaba... pataas... I felt his hand on my slim stomach."Softy," he whispered. His rough palms crawled on my sides, eliciting a moan from my mouth. Gumapang pa ang mga kamay paitaas. He stopped below my breasts yet he was teasing me there using his fingers. He kissed me on my lips while he caressed my bosom. I wanted to moan for the pleasures
MineDoon ko pa lamang pinahid ang mga luha ko. Gusto kong malaman kung panaginip ba siya o namamalikmata lamang ako. Ngunit humakbang siya palayo. Hindi lamang ang mga kamay ko ang nanginginig kung hindi pati mga tuhod ko."Ano?!" galit na s
Long Waited"That’s bullsh*t, fiore!" Galit na hinarap ko siya. "Bakit hindi mo na lang siya diretsahin? If you don't love her, then just set her free.""And disappoint my parents once again? Si Mir ang gusto ng daddy at mommy na pakasalan ko. Kaya
Unforgivable"Anak, galing dito ang kaibigan mo. May kasama siyang abogado."Kinabahan ako sa ibinalita ni Tatay. I was away for one week to finish all the lines of my compositions."Tay, nag-usap na tayo tungkol d'yan." Seryoso ko siyang tiningnan.
Make Her Fall"Congratulations, Xylon! Galing mo talaga, pare. Natalo mo na naman si Ilarde!" Umilag ako mula sa suntok ni Kiko. Classmate namin sa Earthquake Engineering."Tol, hindi lang ngayon natalo ni Satyr si Fiore. Naalala mo












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews