Share

7 ☆ Penyelamat

Melihat tangan Bara yang siap menarik pelatuk dan membuat timah panas itu melesat menembus kepalanya, tentu saja membuat pria bertubuh kurus itu ketakutan. "Ba-baik. Sa-saya akan membuatkan tanda lunasnya!"

Tidak sampai dua menit. Dia yang sejak tadi sibuk menulis tanda bukti lunas, kini berjalan menghampiri Bara dengan gugup dan menyerahkan tanda buktinya.

Bara menarik secarik kertas dari tangan pria itu, kemudian mengajak Kara pergi dari sana. Namun belum sempat ia keluar dari pintu, Bara sempat berpesan.

"Jika aku menemukan salah satu dari kalian mengacau lagi. Maka jangan menyesal jika tangan ini melewati batasnya!"

Mereka bertiga pun pergi meninggalkan bangunan tiga lantai yang sangat pengap dan tidak bersahabat itu, menuju mobil. Bara terlihat berjalan lebih dulu, disusul oleh Kara dan Zee yang berjalan beriringan.

Ketika masuk ke dalam mobil pun begitu. Bara sengaja masuk lebih dulu dengan membiarkan pintu mobilnya terbuka, berharap Kara cukup peka. Namun gadis itu justru membantu tuannya menutup pintu, sebelum akhirnya dia berjalan ke depan hendak duduk di samping kursi kemudi.

Namun Zee yang memahami keinginan tuannya langsung menahan pintu, "Duduklah di belakang, Nona Kara!" Kara sempat tertegun sejenak dan memikirkan hal yang membuatnya harus duduk di belakang, tepat di samping Bara. "Nona, silahkan duduk di belakang!" tegas Zee membuat lamunan singkat Kara buyar.

"Oh, baik!"

Mobil sedan hitam itu pun melaju usai Kara masuk dan duduk di samping Bara. Sejauh setengah perjalanan, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya.

Bara terlihat bersedekap tangan sambil bersandar. Sedangkan Kara, justru terlihat sangat tegang sambil menundukkan kepalanya. Entah mengapa, dia merasa Bara lebih menakutkan dibanding sepuluh orang preman tadi.

Namun meski begitu, dia berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya untuk mengucapkan terima kasih pada tuannya.

"Eem, itu—" Perkataan Kara tertahan untuk beberapa saat, lantaran bingung harus berterima kasih lebih dulu, atau bertanya.

Namun sebelum ia melanjutkan kalimatnya, Kara justru meminta Zee untuk berhenti di sebuah apotik yang kebetulan mereka lewati. Dia buru-buru turun untuk membeli beberapa obat dan kembali ke dalam mobil.

"Tolong ulurkan tangan Anda," pinta Kara dengan sopan.

Bara lantas menoleh dan menatap wajah Kara untuk sesaat, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Untuk apa?" tanyanya ketus.

"Pisau tadi saya ambil dari pedagang buah. Setidaknya, luka Anda perlu dioles antiseptik untuk mencegah infeksi," jelas Kara masih dengan nada sopan.

Pria yang sejak tadi memasang wajah ketus itupun akhirnya mengulurkan tangannya yang terluka. Kara mulai membuka ikatan sapu tangannya, lalu mulai mengoles antiseptik dengan lembut.

Sorot matanya terfokus pada luka Bara yang masih mengeluarkan darah meski sudah tidak terlalu banyak. Namun pandangan Bara, justru tertuju pada wajah serius Kara.

"Tentang hal itu ... saya ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf pada anda." Ucapan Kara yang tiba-tiba berhasil membuat Bara tersadar dari lamunan singkatnya, terutama ketika Kara tiba-tiba menengadahkan kepalanya dan membuat tatapan mereka bertemu. "Tapi, bagaimana Anda bisa ada disana?"

Pertanyaan Kara tentu saja membuat Bara berada dalam kebingungan. Ego yang tinggi, membuatnya enggan mengakui jika dia membuntuti Kara sejak gadis itu menaiki taxi.

"Bukankah harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di tempat seperti itu?"

Kara terdiam karena tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan hal itu pada Bara. Namun jika dia berbohong dan berkelit, itu lebih tidak mungkin lagi. Lantaran Bara sudah membawa bukti tanda lunas dari mereka.

"Ayahku ..." Kara mencoba menjelaskan, tetapi perkataannya tertahan sesaat. Dia sendiri bingung harus memulai dari bagian mana. "Ayahku terlilit hutang. Mereka memberikan waktu seminggu untuk membawa 200 ribu, karena tahu saya bekerja di keluarga Alexandrio."

Bara diam membisu dan tidak merespon cerita Kara sama sekali. Dia hanya menatap gadis yang sedang memasangkan perban di tangannya sambil bercerita itu.

"Saya harap, Anda tidak marah atau memecat saya," mohon Kara dengan suara lirih yang hampir tidak bisa didengar oleh Bara.

Sebenarnya, Bara bukan tidak mengerti keadaan Kara. Lantaran saat di perjalanan, dia sempat meminta beberapa orangnya untuk mencari tahu tentang maid yang terikat kontrak dengannya itu.

Mengetahui kerja keras Kara demi melunasi hutang judi sang ayah, hati pria itu sedikit tersentuh. Gadis muda yang saat itu baru saja lulus sekolah, dipaksa bekerja siang dan malam hanya untuk keegoisan orang tuanya.

"Lupakan hal itu. Lain kali jika kau terjebak dalam situasi seperti ini, beritahu pada Helena atau padaku."

Kara yang mendengar ucapan Bara langsung mengangkat kepalanya dan mengucapkan banyak terima kasih pada Bara. Seulas senyum manis yang terukir di wajah gadis cantik itu, berhasil membuat degup jantung Bara berdetak tak karuan.

"Jangan salah sangka!" Bara mengalihkan pandangan matanya dan kembali bersikap angkuh. "Aku hanya tidak ingin nama keluarga Alexandrio terseret hanya karena masalah sepele."

Kara mengangguk. Tentu saja dia tau hal itu, "Saya mengerti. Terima kasih banyak, Tuan Bara."

"Uang sudah diterima, bahkan sudah kau bayarkan pada mereka. Jadi ...." Bara tiba-tiba menoleh, menatap Kara dengan tatapan mengintimidasi. "Berikan hal yang sudah aku bayar lebih dulu!"

DEGH!!

Otak Kara langsung bekerja kerasa saat mendengar ucapan sang majikan. 'Maksudnya ciuman? Dia membicarakan itu, dan menginginkannya sekarang? Di dalam mobil yang sedang berjalan?!' batinnya panik.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status