Short
Kita Sampai di Sini, Tak Ada Lagi Hari Esok

Kita Sampai di Sini, Tak Ada Lagi Hari Esok

By:  WandiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
28views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sejak aku mulai mengingat segala hal, setiap orang yang muncul di hadapanku selalu memiliki sebuah angka yang melayang di atas kepala mereka. Angka itu menunjukkan berapa kali lagi kami akan bertemu sepanjang hidup kami. Jika angkanya satu, berarti pertemuan kali ini adalah pertemuan terakhir kami. Setelah itu, kami tak akan pernah berjumpa lagi. Saat usiaku sepuluh tahun, angka di atas kepala Nenek hanya tersisa satu. Setelah menyisir rambutku untuk terakhir kalinya, malam itu juga dia meninggal dalam tidurnya. Ketika aku lulus kuliah, angka di atas kepala guru yang paling berjasa dalam hidupku adalah dua. Setelah pertemuan kami yang kedua, dia pindah ke luar negeri bersama seluruh keluarganya. Sejak saat itu, dia tak pernah kembali ke negara ini. Saat usiaku dua puluh lima tahun, aku menikah dengan Harry Rangkuti, seorang pengacara ternama yang selalu memenangkan perkara. Di ruang sidang, dia tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. Namun, seluruh kelembutan hatinya hanya dia berikan kepadaku. Selama tujuh tahun pernikahan kami, dia selalu pulang tepat waktu setiap hari. Semua penghasilannya dia serahkan kepadaku atas kemauannya sendiri. Bahkan saat sedang melakukan perjalanan bisnis, sesibuk apa pun dia, dia selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video denganku sebelum tidur. Namun, yang terpenting adalah sejak hari pertama aku mengenal Harry, angka di atas kepalanya bukanlah ratusan, apalagi puluhan ribu. Melainkan simbol tak terhingga. Angka yang tak akan pernah habis. Aku mengira itu berarti kami ditakdirkan untuk menemani satu sama lain hingga akhir hayat. Sampai menjelang ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh, Harry mulai sering lembur. Bahkan kemejanya, yang biasanya sama sekali tidak pernah dia semprot parfum, kini menyisakan aroma bunga kacapiring yang asing. Saat aku mendesaknya untuk memberikan penjelasan, dia hanya terdiam selama satu detik, lalu menunduk dan mengecup keningku. “Belakangan ini ada seorang klien yang baru bercerai dan harus membesarkan anaknya sendirian. Hidupnya tidak mudah, jadi dia cukup sering datang ke firma hukum untuk menemuiku. Mungkin aromanya tidak sengaja menempel di bajuku.” Aku menatap simbol tak terhingga yang masih bertengger di atas kepala Harry tanpa perubahan sedikit pun. Diam-diam, aku merasa mungkin akulah yang terlalu banyak berpikir. Bagaimanapun juga, angka-angka itu tak pernah berbohong. Namun, sampai suatu malam Harry kembali pulang terlambat karena lembur, simbol yang selama ini tak pernah berubah di atas kepalanya tiba-tiba mulai berkedip. Cahaya keemasan itu perlahan meredup, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya padam. Sebagai gantinya, muncul angka tiga berwarna merah menyala. Saat itu juga aku tahu, aku dan Harry tak akan memiliki masa depan bersama lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku menatap angka tiga itu selama beberapa lama.

Harry melepas mantelnya, lalu menggantungnya di sisi kanan pintu masuk seperti biasa. Setelah itu, dia membungkuk untuk mengganti sepatunya dengan sandal abu-abu yang kubelikan untuknya.

Semua gerakannya tak berbeda sedikit pun dari tujuh tahun terakhir.

Seandainya angka merah itu tidak begitu menyilaukan, aku mungkin akan mengira bahwa semua yang baru saja kulihat hanyalah ilusi.

“Kenapa belum tidur?”

Dia menghampiriku dan mengulurkan tangan untuk membelai wajahku.

Telapak tangannya hangat, sementara ujung-ujung jarinya memiliki sedikit kapalan akibat bertahun-tahun membolak-balik berkas perkara.

Aku tidak menghindar. Aku hanya bertanya, “Besok hari ulang tahun pernikahan kita. Kamu masih ingat?”

Harry tersenyum, lalu mencubit pipiku dengan mesra.

“Tentu saja. Aku sudah memesan restoran. Pukul tujuh malam, di tempat duduk dekat sungai yang kamu sukai.”

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Aku akan mematikan ponsel, tidak membicarakan pekerjaan, dan tidak menemui klien. Sepanjang malam itu hanya untukmu. Bagaimana?”

Tak lama, ponsel di atas meja ruang tamu bergetar.

Layarnya menyala. Nama kontak yang muncul hanya satu huruf ‘C’.

Begitu melihatnya, ekspresi Harry seketika menegang.

Dia mengambil ponselnya dan berjalan menuju balkon. Sebelum pintu kaca tertutup sepenuhnya, aku mendengar isak tangis seorang wanita dari baliknya. Suaranya terdengar begitu panik.

Beberapa menit kemudian, Harry kembali masuk dan mengambil jaket yang baru saja dilepasnya.

“Klienku mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi menemuinya.”

Aku menatapnya. “Sekarang sudah jam satu dini hari. Apa tidak bisa menunggu sampai besok?”

“Ini kasus perceraian akibat kekerasan dalam rumah tangga. Mantan suaminya terus mengganggunya, dan anaknya juga ada di rumah. Sebagai pengacaranya, aku tidak bisa tinggal diam.”

Nada suaranya begitu sabar, seolah-olah dia sedang menjelaskan pengetahuan hukum dasar kepada seorang klien yang tidak memahami apa-apa.

“Kamu tidur duluan saja. Tidak perlu menungguku.”

Aku kembali mencium aroma bunga kacapiring yang samar-samar melekat di ujung lengan bajunya.

“Meski begitu, tidak seharusnya setiap kali dia mengalami masalah, kamu selalu menjadi orang pertama yang dia hubungi, bukan?”

Harry mengernyitkan dahi.

“Linka, aku adalah pengacara yang mewakilinya.”

“Kamu dulu tidak pernah ikut campur dalam pekerjaanku.”

Aku menatap angka tiga di atas kepalanya. Tiba-tiba, aku tak ingin bertanya apa-apa lagi.

Selama tujuh tahun pernikahan kami, aku memang tidak pernah mencampuri pekerjaannya.

Ketika dia membaca berkas perkara hingga tengah malam, aku menghangatkan susu dan menyiapkan makanan untuknya.

Ketika dia sibuk menghadiri persidangan selama berhari-hari berturut-turut di firma hukum, aku menyiapkan pakaian ganti untuknya.

Dia membela orang-orang yang sudah kehabisan jalan, tetapi tak pernah sekalipun menjadikan kebaikan hati sebagai alasan untuk melampaui batas hubungan antara pengacara dan klien.

Aku selalu bangga pada profesionalisme dan kemampuannya menjaga batas.

Namun, entah sejak kapan, tanggung jawab profesionalnya mulai melampaui batas firma hukum. Pekerjaannya merambah ke tengah malam, hari-hari istimewa, bahkan kehidupan yang seharusnya hanya menjadi milik kami berdua.

“Pergilah.”

Aku bergeser ke samping untuk memberinya jalan.

Harry tampaknya tidak menyangka aku akan menyetujuinya semudah itu. Dia tertegun sesaat, lalu menunduk dan mengecup keningku.

“Aku akan segera kembali.”

Rumah kembali sunyi.

Aku berdiri di dekat pintu masuk dan melihat foto kami yang terpajang di atas rak sepatu. Foto itu diambil saat kami berlibur ke Hokkaido.

Dalam foto tersebut, Harry memelukku dari belakang. Senyumnya begitu lembut, bahkan lebih lembut daripada hamparan salju yang memenuhi langit dan bumi saat itu.

Dulu, dia pernah bertanya kepadaku, bagaimana jika suatu hari nanti kami bertengkar.

Dengan penuh keyakinan, aku menjawab bahwa selama dia masih bersedia menemuiku, kami pasti selalu bisa berbaikan.

Baru sekarang aku menyadari, ternyata ada orang yang masih bisa bertemu dengan kita, tetapi hatinya sudah lama tak lagi bersama kita.

Aku kembali ke kamar dan menelepon Thea Lovinca, teman kuliahku.

Kini, dia adalah seorang pengacara yang khusus menangani perkara perceraian.

Telepon itu berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat.

“Linka, kenapa menelepon selarut ini? Ada masalah apa?”

Aku memandangi separuh tempat tidur yang kosong. Suaraku terdengar begitu lirih ketika menjawab,

“Bantu aku membuat surat perjanjian perceraian.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status