Share

8. Too Much Information

Penulis: Estaruby
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-16 21:35:24

Langkah Arina terhenti begitu saja. Baru saja ia menekan tombol pada remote mobilnya, dan lampu hazard si putih miliknya itu berkedip menyala, dua sosok yang tak asing—dan sebenarnya paling ia hindari sekaligus sempat ia cari—muncul tepat di hadapannya.

Jefan dan Nindy.

Dua manusia yang dulu sempat menjadi bagian dari hidupnya. Satu sebagai cinta yang ia perjuangkan bertahun-tahun. Satu lagi sebagai teman yang dulu ia anggap saudara. 

Dan kini? Mereka berdiri bergandengan tangan, dengan senyum menyebalkan yang menempel di wajah mereka seperti topeng murahan.

“Arina,” sapa Nindy dengan nada dibuat-buat ramah. 

“Nggak nyangka kita ketemu di sini." Senyumnya dibuat terlalu lebar untuk terlihat tulus.

Arina hanya melirik Nindy dengan raut yang sudah pasti muak. Ia melirik sebelahnya, lelaki yang tujuh tahun belakangan mengisi hatinya. Kini justru membuang muka sembari memasukkan tangan ke dalam kantong. Seolah dia benar-benar sudah tak ingin lagi bertemu atau bahkan menjelaskan apapun pada Arina. Pengecut yang memutuskannya sepihak tanpa penjelasan dan bahkan memblokirnya.

Kalau saja hari itu Arina tidak mendengar semuanya, mungkin dia akan menangis darah mengemis penjelasan pada Jefan disini. 

Tapi, Arina bukan wanita tanpa harga diri. Jefan mau bermain pura-pura tidak kenal begitu? Baik! Akan Arina ladeni dengan sebaik mungkin. 

“Ya, dunia memang sempit ya,” jawab Arina dengan suara yang terdengar tanpa emosi. Berhasil membuat Jefan meliriknya sekilas. Mungkin berpikir bahwa Arina tidak memenuhi ekspektasinya itu. 

Nindy melirik Arina dan Jefan secara bergantian, tidak lupa membubuhkan senyuman misterius yang menyebalkan di wajahnya.

"Senang bertemu dengan kamu disini. Tapi.. kamu sedang apa disini? Blind date?" Terkaan Nindy jelas dia tujukan untuk mengusik atau sekaligus meledek Arina. Namun sayang seribu sayang, Arina tidak akan memakan umpannya sama sekali. 

Arina memiringkan kepala sedikit, menatap mereka seperti menatap dua karakter drama kelas rendah yang terlalu percaya diri memainkan peran.

Nindy tertawa pelan sembari menepuk manja lengan Jefan yang ia gelendoti, "Katanya coba-coba kencan buta adalah cara tercepat untuk move on. Tapi aku bercanda ya, Rin! Aku yakin kamu tidak akan ikut cara-cara seperti itu, lah! Kencan buta terlihat seperti bukan Arina sekali," Nindy sepertinya benar-benar hidup dalam imajinasinya sendiri. Tak cukup peka kah untuk melihat bahwa Arina bahkan sama sekali tidak peduli?

“Arina, aku harap apapun yang terjadi diantara kita tidak akan merenggangkan hubungan kita, ya. Kamu dan Jefan sudah lama berakhir. Apapun yang terjadi di masa lalu, biarlah berada disana," tambah Nindy yang sok bijak tapi jelas terdengar sangat menyebalkan.

Oh, ayolah! Siapa yang mau dia bohongi disini?!

Arina hanya mengangguk. Wanita itu bersiap untuk masuk ke dalam mobil, namun suara Nindy yang ditinggikan nampaknya berusaha mencegahnya pergi terlalu dini.

"Oh iya, Rin, kami disini sedang ada janji dengan vendor venue pernikahan." Nindy melirik Jefan yang sejak tadi hanya diam, "—apa ya namanya, sayang?" Tanyanya seolah setengah berpikir.

Jefan menggenggam tangan Nindy di lengannya, "Everlace Venue," jawabnya singkat.

Nindy mengangguk, "Nah iya, itu!  Mereka punya ballroom baru yang dreamy banget buat lamaran—full glass wall, view citylight. Aku sama  Jefan langsung jatuh cinta sama tempatnya.”

Nama yang tidak terdengar asing. Arina hanya mengembangkan senyuman miring teramat sangat tipis saat mendengarnya. Jelas, Everlace adalah venue yang selalu disebut-sebut oleh Jefan setiap kali mereka bicara soal pernikahan. Rupanya dia masih ingin melakukannya disana, huh?!

“Next week kami ketemu tim Vivencellaa Wedding Organizer, mereka katanya spesialisin konsep intimate luxury. Pokoknya kita pengen konsep elegan tapi tetap warm, bukan yang terlalu pasaran gitu.”

Nindy benar-benar berusaha mengomporinya dengan beragam too much information yang terdengar sangat memuakkan. Arina hanya bisa memasang senyuman tipis dan secara perlahan membuka pintu mobilnya tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia tidak punya energi untuk meladeni dua manusia itu. Hanya tatapan datar dan senyum tipis seolah mengatakan, “That’s cute. You think I care.”

“Kalau venue-nya cocok, kami mau pakai Auroria Garden, yang di pinggiran kota itu lho. Outdoor, banyak lampu gantung. Duh, kebayang nggak sih jalan di altar pas matahari terbenam?”

Arina hanya tersenyum tipis, menyesuaikan tali tas di bahunya. Namun sejujurnya, ada sedikit cubitan di hatinya. Seluruh konsep itu terdengar sangat familiar. Rupanya Jefan memang tidak terlalu kreatif. Atau justru selama ini konsep yang dia agung-agungkan itu memang ide dari Nindy sebelumnya? 

“Kebayang, tapi nggak penting," jawab Arina pada akhirnya. Jawaban tersebut membuat Jefan yang tadinya belagak cuek kini menatap Arina sinis secara terang-terangan. 

"Eh?!" Nindy memasang wajah memelasnya pada Jefan. 

"Rin, aku tahu kamu mungkin masih kesal atau bahkan iri pada perencanaan pesta pernikahan kami. Tapi aku sungguh gak mau hubungan kita jadi buruk. Aku harap, kamu bisa memberikan doa terbaik untuk perjalanan kami," ujarnya semakin tidak tahu malu. 

Mendengarnya, Arina justru tertawa pelan. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan sebelum kembali tersenyum. "Jangan berpikir terlalu berat, Nindy! Santai saja! Aku turut bahagia dengan persiapan pernikahan kalian. Aku senang sekali lihat kamu semangat begini," balasnya. 

Dia melirik Jefan sebentar lalu langsung membuang muka acuh,  "Semoga Jefan nggak berubah pikiran lagi di tengah jalan.”

Nindy terdiam sejenak, senyum lebarnya menegang tipis.

"Sudah, kan? Kalau kalian memang berniat mengundangku dan pernikahannya jadi, kirim saja undangannya! Rancang sebaik mungkin agar bisa jadi pesta yang mewah dan berkesan. Jangan lupa ada ego, mata-mata netizen untuk konten, dan harga diri keluarga kaya yang akan kalian bawa disana," ujarnya dengan sedikit penekanan di beberapa kata akhir.

Ia lalu masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan lembut—nyaris tanpa suara, namun lebih nyaring dari teriakan.

Dari balik kemudi, ia menatap ke depan. Jefan dan Nindy masih berdiri di sana, mencoba mempertahankan wajah bahagia yang mulai retak. Tapi Arina? Ia hanya menyalakan mesin, menarik napas sejenak, dan melajukan mobilnya—melewati mereka seperti melewati dua bayangan masa lalu yang tak lagi punya kuasa atasnya.

Sementara itu, pria tinggi bersandar dekat parkiran menyaksikan dan mendengar semuanya. Bibirnya tertarik untuk mengulas senyuman miring.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   112. Lanjut atau Tidak?

    Suara jangkrik dan desir angin malam menjadi latar lembut bagi dua sosok di balkon villa itu. Udara kebun teh yang dingin membuat mereka kian melekat.Kecupan yang awalnya lembut, semakin lama berubah jadi kian menuntut. Entah siapa dari sepasang insan itu yang memulai menaikkan intensitas ciuman mereka. Yang jelas, kini Arina sudah terdorong kebelakang hingga punggungnya menyentuh dinding balkon.Seakan tak ada yang mau mengalah, keduanya berlomba mendominasi. Saling memagut dan menuntut seolah tak ada lagi hari esok di kamus mereka. Belaian angin malam nampaknya tak sedikitpun bisa mengusik panasnya dunia yang pasangan itu ciptakan saat ini. Melupakan fakta bahwa mungkin saja mereka akan berakhir masuk angin besok setelah semalaman berada di balkon menerjang dinginnya angin di kebun teh.Tapi siapa yang peduli? Kehangatan yang tercipta dari dekapan dan lumatan diantara mereka cukup untuk menghalau dingin apapun disekitar. Hanya ada intensi panas yang semakin menjadi-jadi sekarang.

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   111. Rencana Pernikahan

    Malam itu udara di villa terasa sejuk, bahkan sedikit menusuk lewat celah jendela kayu. Nenek Askara sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Tapi Arina justru tak kunjung bisa memejamkan mata.Entah sudah berapa kali ia membalikkan badan di ranjang, merapikan selimut, lalu menatap langit-langit kamar yang temaram diterangi lampu meja. Semua masih terasa seperti mimpi—petang tadi, Askara berlutut di hadapan nenek dan sepupunya, mengucapkan lamaran itu dengan suara mantap dan mata yang penuh keyakinan. Dan yang lebih mengejutkan, ia melakukannya tanpa sepengetahuannya lebih dulu.Arina menatap jari manisnya yang kini berhias cincin sederhana, bibirnya melengkung samar, tapi jantungnya masih berdegup terlalu cepat untuk disebut tenang. Bahagia… tapi juga gelisah. Ada sesuatu dalam dirinya yang berisik—seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di dada tanpa arah.Dengan hati-hati agar tak membangunkan sang nenek, Arina bangkit dari ranjang, mengenakan cardigan, lalu melangka

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   110. Tiba-Tiba Lamaran ?

    Malam itu, suasana villa di tengah kebun teh terasa hangat. Udara sejuk menelusup lembut lewat jendela yang sedikit terbuka, sementara lampu gantung bergaya klasik di ruang makan memancarkan cahaya kekuningan yang menenangkan. Di meja panjang dari kayu jati, terhidang makanan rumahan kesukaan keluarga yakni sup krim jagung hangat, ayam panggang madu dengan aroma rosemary, tumis sayuran segar dari kebun sekitar, dan sepiring besar kentang panggang yang masih mengepul. Di tengah meja, nenek menambahkan sentuhan khasnya — teh melati buatan sendiri yang harum menenangkan.Arina duduk di sebelah Askara, sementara Damian di seberang, sibuk mengiris daging ayam sambil sesekali melontarkan candaan yang jelas mengundang gelak tawa.“Kalau tiap kali ke sini makanannya seenak ini, aku bisa betah liburan berbulan-bulan, Nek,” ujar Damian sambil tertawa.Nenek tersenyum, tangannya cekatan menuangkan teh ke cangkir cucu-cucunya. “Kamu ngomong gitu tiap tahun, tapi tetap saja pulangnya cepat. Mungki

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   109. Belajar Memaafkan

    Sore itu, villa terasa begitu tenang. Sinar matahari yang mulai condong ke barat menembus tirai jendela, memantulkan warna keemasan di lantai kayu yang hangat. Dari kejauhan terdengar suara burung dan desir lembut angin yang menyentuh dedaunan teh.Nenek dan Damian sedang berkunjung ke manajemen kebun untuk memeriksa beberapa hal, meninggalkan Arina dan Askara berdua di villa. Suasana hening, namun tentu saja tidak canggung—lebih seperti tenang yang nyaman.Arina sedang merapikan beberapa barang bawaannya di kamar—lipatan baju, buku catatan kecil, dan scarf yang baru saja dicucinya. Ia baru hendak menutup koper ketika terdengar ketukan lembut di pintu.“Arin?” suara Askara memanggil dari luar.Arina menoleh dan membuka pintu. Askara berdiri di ambang, mengenakan kaus lengan panjang warna abu dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya—seperti biasa—mampu mencairkan suasana.“Aku pikir… mungkin kita bisa jalan-jalan sore di kebun teh. Udara masih enak, nggak terlalu

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   108. Pisah Kamar

    Mobil hitam yang dikendarai Damian melaju tenang di jalan berliku menuju perbukitan. Udara mulai terasa lebih sejuk, aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang tertiup angin menembus jendela yang sedikit terbuka. Dari kursi belakang, Arina menatap keluar jendela dengan takjub — hamparan kebun teh hijau terbentang luas di sisi kiri dan kanan jalan, seperti permadani alam yang rapi dan menenangkan.Nenek Askara tersenyum hangat sambil menunjuk ke arah sebuah jalan setapak yang menurun ke arah lembah.“Dulu, Askara sama Damian sering nyasar ke situ,” ujarnya sambil terkekeh pelan. “Katanya mau bantu pemetik teh, tapi malah rebutan siapa yang lebih cepat sampai puncak bukit.”Arina tertawa mendengarnya, membayangkan dua anak laki-laki kecil yang kotor oleh tanah, tapi penuh tawa.“Siapa yang menang waktu itu?” tanyanya penasaran.“Aku, jelas,” sahut Damian cepat sambil melirik ke kaca spion, senyum miringnya muncul.“Bohong,” balas Askara tanpa menoleh. “Kamu jatuh duluan dan nangis minta

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   107. Liburan Keluarga

    Rumah nenek Askara dikelilingi pohon pinus tinggi dan udara yang selalu membawa aroma tanah basah. Begitu mobil mereka berhenti di halaman, nenek sudah menunggu di teras dengan senyum lebar dan selendang rajut di pundaknya. “Akhirnya kalian datang juga,” ucapnya sambil merentangkan tangan, menyambut Askara dan Arina dalam pelukan hangat yang penuh rindu.Dibelakang nenek, nampak Damian juga tersenyum kearah kakak sepupunya itu. Dia sudah lebih dulu menyambangi rumah nenek, janjian dengan Askara sebelumnya.Askara sempat menunduk, mencium tangan sang nenek dengan rasa hormat yang selalu ia simpan sejak kecil. Ada sesuatu di tatapan matanya—seolah ia baru saja tiba di tempat yang paling aman setelah badai panjang. Arina bisa merasakannya; kelegaan kecil di dada Askara saat mendengar suara lembut neneknya memanggil nama panggilan masa kecilnya.Sehari setelah drama panjang sebelumnya, Askara memutuskan untuk lanjut menenangkan dirinya dengan mengunjungi sang nenek. Tentu saja turut menga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status