Home / Romansa / Kontrak 2M Sang Mantan / 29. Kehebohan di tempat syuting

Share

29. Kehebohan di tempat syuting

Author: Sha Quenna
last update publish date: 2024-12-21 10:59:26

Suara baku hantam di gedung tua membahana, menciptakan suasana yang mencekam di tengah malam. Dengan napas terengah-engahnya, seorang perempuan berlari menghindar dari kejaran anak buah Demon.

Desingan peluru menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di bawah sana, seorang pria muda tergeletak bersimbah darah. Wajah perempuan itu mendadak pucat pasi. Teman klubnya bernasib naas di tangan Demon.

Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Apakah pria itu yang akan menjadi sauda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kontrak 2M Sang Mantan   50. Kejujuran

    Pertanyaan Aidan membuat senyum Zira perlahan menghilang.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap tangan mereka yang masih bertaut di atas meja. Ibu jari Aidan bergerak pelan di punggung tangannya, tetapi lelaki itu tidak mendesaknya untuk menjawab.Zira menarik napas panjang.“Tidak.”Aidan mengangkat wajah.“Sejujurnya, aku tidak baik-baik saja.” Zira berusaha tersenyum, tetapi urung. “Aku tahu aku tidak seharusnya peduli dengan apa yang orang-orang katakan. Aku juga tahu mereka tidak berhak membicarakan Eden seolah-olah dia cuma bahan gosip. Tapi ternyata, mengetahui semua itu tetap menyakitkan.”Aidan tidak menyela.“Yang paling membuatku kesal adalah aku bahkan belum selesai memahami semuanya, tetapi orang lain sudah merasa tahu ceritanya.” Zira menelan ludah. “Mereka membicarakan aku pernah melahirkan di usia muda, menebak-nebak siapa ayahnya, menghubungkannya dengan berbagai hal. Padahal mereka tidak tahu apa-apa.”Jemarinya tanpa sadar menggenggam tangan Aidan lebih erat.“Aku t

  • Kontrak 2M Sang Mantan   49. Hanya Melihat

    “Semua?” Zira memiringkan kepala. “Hati-hati. Aku bisa banyak bertanya kalau sedang tidak bisa tidur.”Aidan tersenyum kecil. “Sejak kapan kamu perlu alasan untuk banyak bertanya?”“Sejak mengenal sutradara yang jawabannya sering tidak sesuai dengan pertanyaan.”“Kalau begitu, sepertinya aku punya banyak utang penjelasan.”“Lumayan. Bisa jadi bahan untuk wawancara eksklusif.”Aidan terkekeh. Zira ikut tersenyum, dan untuk beberapa detik, suasana terasa seperti biasanya. Seperti saat mereka masih bisa saling meledek tanpa harus memikirkan kalimat berikutnya.“Jojo bilang kamu pernah melihatku di luar negeri.”Senyum Aidan perlahan mereda. Bukan karena pertanyaan itu mengejutkannya, melainkan karena ia tahu cerita yang selama ini tidak pernah ia sampaikan akhirnya sampai juga kepada Zira.“Iya.”“Kapan?”“Beberapa bulan setelah kamu mulai kuliah.”“Kamu datang ke kampusku?”“Tidak sampai masuk. Aku melihatmu dari seberang jalan.”Zira menatapnya, berusaha membayangkan kejadian itu. Diri

  • Kontrak 2M Sang Mantan   48. Bagian Masa Lalu

    "Untuk apa terus-terusan menatap layar jika orangnya ada di sini?" Zira akhirnya berbicara yang membuat Aidan terkejut dan menoleh. Tangannya berhenti di atas tetikus, sementara matanya bergerak dari wajah Zira ke pintu di belakangnya.“Zizi?”Zira tersenyum tipis. “Hai.”Aidan bangkit dari kursinya. “Kamu datang sendiri?”“Seperti yang kamu lihat.”Aidan merapikan posisi kursinya yang bergeser. “Aku nggak tahu kamu akan datang.”“Memang sengaja nggak bilang.”Aidan mengangguk kecil. Ia tampak ingin menanyakan sesuatu, tetapi mengurungkannya ketika melihat Zira kembali melirik monitor.“Aku tidak tahu ada rekaman saat aku terpeleset,” kata Zira.“Ada beberapa rekaman yang belum sempat diperiksa dan aku menemukan yang ini.”“Bagus juga. Jadi, kalau suatu hari aku menyangkal pernah terpeleset di depan banyak orang, kamu punya bukti untuk menghancurkan harga diriku.”Sudut bibir Aidan terangkat. “Sepertinya kamu nggak membutuhkan bantuanku untuk itu.”Zira mendengus. “Ternyata kamu masih

  • Kontrak 2M Sang Mantan   47. Kedatangan Tak Terduga

    Studio sudah lebih sepi ketika seorang perempuan bertopi hitam memasuki ruang depan dengan kepala sedikit menunduk. Masker menutupi sebagian wajahnya, sementara tas yang menggantung di bahunya sesekali ia betulkan.Beberapa karyawan masih sibuk di ruangan itu. Dua orang duduk di depan laptop sambil memeriksa jadwal produksi, seorang staf membawa tumpukan dokumen melewati meja panjang, sementara yang lain berbicara pelan melalui telepon. Suasana kerja yang tersisa membuat perempuan itu merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak perlu menjadi pusat perhatian.Ia berhenti sejenak, mengamati lorong di sebelah kanan. Sejak turun dari kendaraan tadi, ia sudah beberapa kali ingin membatalkan niatnya. Bahkan sekarang, ketika tinggal selangkah lagi untuk mencari Aidan, keraguan itu kembali muncul.“Cari siapa?”Suara itu membuatnya menoleh.Jerry baru keluar dari salah satu ruangan sambil membawa dua gelas kopi. Ia menyipitkan mata, memperhatikan perempuan bertopi hitam yang berdiri tidak jauh

  • Kontrak 2M Sang Mantan   46. Yang Harus Diselesaikan

    Aidan berjalan menyusuri lorong studio dengan tablet di tangan. Ia hendak menuju ruang penyuntingan ketika suara Cita dan Jerry terdengar dari dekat meja produksi.“Lo udah lihat gosip tentang Zira?” tanya Cita pelan. “Katanya dia pernah melahirkan di usia muda.”Langkah Aidan melambat.“Gue baru lihat pagi ini,” lanjut Cita. “Tapi postingannya cuma pakai foto Zira yang sekarang. Nggak ada bukti apa-apa. Entah siapa yang mulai.”Jerry mengembuskan napas. “Kalau nggak ada bukti, jangan ikut menyebarkan. Kita juga nggak berhak menjawab urusan pribadi Zira.”“Gue cuma khawatir dampaknya ke promosi film. Gala premiere tinggal sebentar lagi.”“Kalau ada pertanyaan dari media, kita tangani sesuai porsinya. Tapi jangan sampai kita malah memperbesar gosipnya.”"Aidan udah tahu belum, ya?" Cita terlihat penasaran dan khawatir."Bisa jadi sudah bisa jadi belum. Aku belum melihatnya dari pagi.""Menurutmu reaksi dia bakal seperti apa?""Yang kita tahu pasti adalah Aidan tidak suka artisnya terke

  • Kontrak 2M Sang Mantan   45. Luna

    Joseph membiarkan kalimat itu menggantung beberapa saat.“Setelah kejadian itu, ibunya Aidan merasa sangat bersalah. Dia merasa kalian terlalu muda untuk menghadapi semuanya. Ketika kamu mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri, dia membantu mengurus keberangkatanmu karena berharap kamu bisa memulai hidup baru.”Zira memejamkan mata sebentar.“Lalu Aidan?”“Beberapa waktu kemudian, ibunya mengizinkan Aidan pergi ke sana untuk melihatmu. Tapi dia melarang Aidan menemui atau menghubungimu secara langsung.”Zira kembali membuka mata.“Dia pernah datang ke tempatku?”“Iya.”“Melihatku?”“Dari jauh. Dia melihatmu berjalan bersama teman-teman kampusmu. Dia nggak menghampirimu, nggak memanggilmu. Setelah itu, dia pulang.”Zira menatap Joseph tanpa berkata apa-apa.Tadi, ia masih berusaha memahami kenyataan bahwa Aidan pernah datang ke rumah sakit. Sekarang, ia harus menerima kenyataan lain. Lelaki itu pernah berada begitu dekat dengannya di negeri orang, tetapi memilih pergi tan

  • Kontrak 2M Sang Mantan   6. Selalu Ada Alasan Bersamamu

    Zira tersenyum lebar ketika tiba di taman parkour. "Wow!" Matanya berbinar-binar melihat beberapa orang melompat dan berlari dari satu rintangan ke rintangan lainnya, tubuh mereka seolah melayang di udara."Look!" David menunjuk satu rintangan di mana ada sebuah bangunan yang lebih tinggi dibanding

  • Kontrak 2M Sang Mantan   5. Kembali ke Titik Awal

    Hari pembacaan naskah tiba. Zira berjalan penuh percaya diri dalam balutan jeans dan kemeja santai menuju Best Entertainment, perusahaan media milik Braga. Ketika sampai di lobby, ia bertemu dengan Jerry yang baru keluar dari lift."Zizi, pagi sekali datangnya," sapa Jerry sopan.Zira mengangkat al

  • Kontrak 2M Sang Mantan   4. Kencan?

    Zira duduk terpaku, menatap Aidan yang kini sangat dekat. Bahkan, aroma khas tubuh pria itu menyeruak hingga ke inderanya. Jantung Zira bertabuhan seperti genderang yang memukul-mukul di dalam dada. Ia menyilangkan kedua tangan menutup dada saat Aidan mendekatkan wajahnya."Kamu mau apa?" tanya Zir

  • Kontrak 2M Sang Mantan   3. Benarkah jantungku berdetak lebih kencang karenamu?

    Setelah rapat, Zira berpamitan dengan Braga dan yang lainnya. Ia berjalan ke lobby sambil memesan taksi online. "Jam padat seperti ini susah untuk memesan taksi, bareng denganku saja."Zira menoleh ke sumber suara yang sangat ia hafal. "Tidak, terima kasih," ucapnya ketus lalu kembali mencoba meme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status