Beranda / Romansa / Kontrak 2M Sang Mantan / 5. Kembali ke Titik Awal

Share

5. Kembali ke Titik Awal

Penulis: Sha Quenna
last update Tanggal publikasi: 2024-09-25 16:49:43

Hari pembacaan naskah tiba. Zira berjalan penuh percaya diri dalam balutan jeans dan kemeja santai menuju Best Entertainment, perusahaan media milik Braga. Ketika sampai di lobby, ia bertemu dengan Jerry yang baru keluar dari lift.

"Zizi, pagi sekali datangnya," sapa Jerry sopan.

Zira mengangkat alis, melihat jam di pergelangan tangannya. "Jadwal reading table jam 9, kan?"

Jerry tertawa kecil. "Iya betul. Tapi, kita tinggal di Indonesia, tahu sendiri kan bagaimana kebiasaan orang-orang?"

"Dan aku tidak mau jadi bagian dari kebiasaan buruk itu," balas Zira diiringi tawa kecil.

Jerry ikut tertawa. Tidak berselang lama, seorang pemuda dengan gaya flamboyan memasuki lobby, berjalan mendekat ke arah mereka. Jerry tersenyum dan mengulurkan tangan menyambut sang aktor. "David, kamu juga datang pagi. Wah, semangat sekali para aktor ini."

David tersenyum, melepas kacamatanya. "Aku tidak mau kena omelan Aidan." Ia menoleh ke arah Zira. "Apakah ini Zira Ceisya? Akhirnya kita bertemu juga." David mengulurkan tangan ke arah Zira.

"Senang berkenalan dengan Anda. Zizi." Zira menjabat tangan David.

"Dari dulu saya penasaran dengan pemeran pengganti Blue Demon. Saya pikir dia adalah pria yang didandani seperti wanita. Ternyata mereka menggunakan seorang stuntwoman. Saya benar-benar mengagumi kemampuan Anda," ucap David dengan pandangan penuh puja.

"Anda berlebihan," jawab Zira sopan.

"Sepertinya kita seumuran, apakah saya boleh berbicara informal?" David bertanya agak ragu.

Zira tersenyum. "Tentu, David."

"Kamu tahu alasanku mau ikut proyek ini?" Zira mengedikkan bahu.

"Karena Sutradara Aidan dan kamu," lanjut David terdengar membual di telinga Zira.

"Kamu memang aktor yang pintar mengambil hati," ledek Jerry diikuti tawa oleh mereka bertiga. Tidak lama kemudian datang Braga bersama dengan Lala dan manajernya.

"Akhirnya yang ditunggu datang juga. Sang tokoh utama," ucap David tersenyum. Ia sedikit membungkukkan badan. "My Reina."

Lala tersenyum simpul, "kamu benar-benar tukang membual."

"Aidan sudah datang?" Braga menginterupsi. Ia melihat jam di pergelangan tangannya.

"Dia sudah di atas," jawab Jerry pelan.

Braga mengangguk lalu berjalan menuju lift diikuti yang lain. Saat tiba di ruang meeting besar, Zira terpaku untuk sesaat. Ia melihat Aidan duduk di pojok ruangan diapit dua wanita.

David menepuk pelan bahu Zira. "Jangan berhenti di tengah jalan, Nona," ucapnya diiringi tawa kecil.

Zira tersenyum canggung, malu dengan perbuatannya.

"Kita duduk di sana saja," ajak David lembut sambil menunjuk kursi bagian tengah dari meja meeting. Zira mengangguk, mengikuti langkah David.

Tidak lama kemudian, beberapa artis mulai memasuki ruangan membuat suasana menjadi ramai. Hingga akhirnya suara Braga menggema ke setiap sudut ruangan,membuat suasana kembali tenang. Ia memberikan sambutan singkat sebelum sesi perkenalan para pemain.

"Anggun dan terlihat lembut," gumam Zira saat Lala memperkenalkan diri.

"Karena itulah netizen menjulukinya peri tak bersayap," bisik David yang mendengar gumaman Zira.

Zira tersenyum, kembali menatap ke arah artis lain yang sedang memperkenalkan diri. Ketika tiba gilirannya, seketika ruangan sunyi. Semua mata tertuju padanya dengan pandangan yang berbeda. Ia bisa merasakan tekanan dari setiap mata para pemain lain.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tetap tenang. Dengan senyum termanisnya, ia memperkenalkan diri. "Saya Zira Ceisya sebagai Alexa. Mohon bimbingannya." Ia pun membungkuk sedikit sebagai bentuk penghormatan.

***

Saat sesi pembacaan naskah, ruangan terasa lebih ramai dengan interaksi para pemain. Zira berusaha tetap tenang dan fokus, namun matanya tak sengaja bertemu dengan Aidan, membuat jantung berdetak lebih kencang sedikit mengganggu konsentrasinya.

Setelah 3 jam, acara pembacaan naskah pun selesai. Aidan berdiri di tengah ruangan lalu berkata, "terima kasih atas kerja kerasnya hari ini. Mari kita terus berusaha untuk film ini hingga selesai." Tepuk tangan membahana di seluruh ruangan, merasa puas dengan kelancaran pembacaan naskah.

Selesai acara, Zira pun bersiap keluar, tapi tiba-tiba Soraya melangkah mendekatinya dengan langkah angkuh.

"Jadi, kamu yang mengambil peran Alexa dariku?" tanya Soraya dengan ketus.

Zira menoleh dengan tenang. "Peran Alexa sudah diputuskan oleh produser dan sutradara. Aku hanya melakukan pekerjaanku," jawabnya singkat namun tegas.

Soraya mendengus kecil, lalu menatap Zira dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Dasar, selalu saja ada yang mencoba mengambil jalan pintas. Hati-hati, orang seperti kamu biasanya cepat naik tapi juga cepat jatuh."

Zira tetap tenang, meskipun ada amarah yang mulai bergolak. Ia tahu Soraya mencoba memprovokasinya, dan dia tidak ingin memberikan kepuasan itu kepada wanita di depannya.

"Terima kasih atas nasihatnya," balas Zira dengan senyum. "Tapi aku lebih suka membuktikan diri dengan kemampuan, bukan kata-kata kosong."

Soraya tersenyum masam, jelas tak puas dengan respons Zira. "Kita lihat saja nanti, seberapa lama kamu bisa bertahan," katanya, lalu keluar ruangan.

David yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka, mendekati Zira lalu berkata pelan. "Abaikan saja dia."

"Sepertinya dia dekat dengan Sutradara," ucap Zira sambil melirik ke arah Aidan.

"Soraya itu seperti lalat, mendekat ke setiap makanan."

Zira mengangguk kecil, pandangannya kembali tertuju pada Aidan yang seolah tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi, sibuk berbincang dengan Jerry. Sesaat, Zira merasa seperti ia kembali menjadi gadis yang tidak terlihat, meskipun dirinya sudah berubah menjadi seseorang yang lebih kuat dan independen.

"Zizi, kamu ada acara?" tanya David pelan memecah lamunan Zira.

"Mau ikut parkour? Itung-itung buang sial atas ucapan kasar Soraya," ajak David sambil menaikkan alisnya.

Zira berpikir sejenak, melihat jam lalu tersenyum. "Ayo!"

Mereka berdua berjalan beriringan keluar ruangan setelah berpamitan dengan Aidan, Braga, dan Jerry.

"Sepertinya aku harus gerak lebih cepat," gumam Braga terdengar jelas di telinga Aidan.

Jerry yang mendengarnya pun menimpali, "Pesonamu masih kalah dari David. Mereka baru bertemu tapi sudah sedekat itu."

Aidan hanya diam mendengarkan perkataan mereka berdua. Namun, tatapan matanya tajam ke arah pintu seolah mampu melihat apa yang berada di balik pintu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak 2M Sang Mantan   38. Syuting Berakhir

    Hari Terakhir di Balik Kamera“Cut!”Suara Aidan menggema di seluruh lokasi syuting.Hening selama sepersekian detik, lalu—“SELESAIIII!”David melompat sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Ia bahkan berputar sekali di tempat, seolah baru saja memenangkan piala penghargaan paling bergengsi di dunia.“AKHIRNYA! AKHIRNYA AKU BEBAS!”Tepuk tangan langsung pecah. Sorakan para kru bersahutan, disusul peluit nyaring dari salah satu staf pencahayaan. Beberapa orang berpelukan, sementara yang lain mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen yang sudah mereka tunggu-tunggu selama berminggu-minggu.Seseorang bahkan memutar musik dari pengeras suara portabel yang biasa digunakan untuk memeriksa audio. Dalam hitungan detik, suasana lokasi yang biasanya dipenuhi instruksi teknis berubah menjadi pesta kecil.“Siapa yang pesan makanan?!” seru seorang kru dari belakang.“AKU!” sahut beberapa orang bersamaan.“Bagus! Hari ini makan sampai kenyang! Besok kita tidak perlu bangun pagi-pagi gara-g

  • Kontrak 2M Sang Mantan   37. Soraya

    Soraya melempar naskah ke atas meja rias begitu adegan terakhirnya selesai direkam.Ia sudah berusaha bersikap profesional sejak pagi. Menghafal dialog, mengikuti arahan sutradara, bahkan tersenyum setiap kali kamera berhenti merekam. Namun, semakin hari, semakin sulit baginya mengabaikan satu hal: hampir semua orang di lokasi syuting seolah memiliki alasan untuk membicarakan Zira.Aidan selalu memperhatikan perempuan itu. Braga terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Bahkan kru yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing kini sering memuji kemampuan Zira.Dan Soraya?Ia hanya diminta bersabar, menyesuaikan diri, serta menerima perubahan adegan yang terkadang membuat perannya terasa semakin kecil.“Lucu sekali,” gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. “Perempuan itu datang belakangan, tapi semua orang bertingkah seolah dia pusat dunia.”Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia hubungi beberapa hari lalu—kontak yang membantunya mencari infor

  • Kontrak 2M Sang Mantan   36. Ada apa dengan Lala?

    Lala menatap layar ponsel untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Ia mengembuskan napas kesal, lalu meletakkan ponsel di atas meja rias. Seharusnya malam ini ia bisa menikmati pesta tanpa memikirkan pekerjaan, tetapi bayangan percakapannya dengan Genji di tepi pantai terus mengganggu pikirannya.Pria itu benar-benar menyebalkan. Tidak punya sopan santun. Tidak tahu cara berbicara kepada perempuan. Dan yang paling menyebalkan, selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya. Namun, ada satu hal yang lebih mengganggu Lala. Genji tidak pernah terlihat terkesan oleh statusnya sebagai aktris. Di depan orang lain, Lala terbiasa menerima pujian. Cantik, anggun, lembut, seperti peri yang turun dari langit. Bahkan beberapa penggemarnya menjulukinya peri tak bersayap. Genji justru menyebutnya peri yang kehilangan akal sehat.Menyebalkan!Lala meraih bantal kecil di sofa dan memeluknya erat.“Semoga kamu tersedak bakso!” gerutunya.“Siapa yang mau kamu racuni dengan bakso?”Lala nyaris menjatuhkan

  • Kontrak 2M Sang Mantan   35. Masih Di sini

    Zira berdiri di atas balkon, agak jauh dari keramaian.Suara musik dari pesta terdengar samar dari dalam ruangan. Sesekali terdengar tawa para tamu yang bercampur dengan suara gelas beradu. Namun, perhatiannya tertuju pada sosok pria yang sedang bercengkerama bersama Joseph, Paus, dan Ipul. "Aidan memang mempesona. Kalau aku wanita, akupun akan menyukainya."Zira menoleh dengan ekspresi takpercaya. "Pantas saja kamu selalu membelanya."Remi tertawa mendengar kelakar adik sepupunya itu. Namun, tidak lama wajahnya tampak serius.“Zizi, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu dari tadi.”“Tumben serius. Biasanya kalau kamu mau ngomong, pasti ada korban yang kamu jadikan bahan lelucon.”“Sayangnya, kali ini korbannya aku sendiri.”Zira mengernyit. “Maksudnya?”Remi menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Sepuluh tahun lalu, aku sengaja mengajakmu datang ke rumah Aidan.”Senyum Zira perlahan menghilang.“Kamu sengaja?”Remi mengangguk.“Waktu itu aku tahu Aidan menyukaimu. Aku pikir ka

  • Kontrak 2M Sang Mantan   34. Rekonsiliasi

    Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.“Dan.”Aidan menoleh.Remi berjalan mendekat.“Sendirian?”“Iya.”Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”Aidan tersenyum tipis. “Masih ingat?”“Gimana mau lupa?” Remi tertawa kecil.Namun tawa itu perlahan menghilang. Mereka sama-sama tahu ada sesuatu yang belum selesai.“Gila,” ujar Remi akhirnya. “Sepuluh tahun.”Aidan mengangguk. “Lama.”“Banget.”Remi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku dulu sering mikir... aku salah apa?”Aidan menoleh.“Waktu kamu tiba-tiba menjauh, aku pikir mungkin aku pernah melakukan sesuatu.”Remi tertawa hambar.“Aku bahkan sempat mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah kulaku

  • Kontrak 2M Sang Mantan   33. Reuni

    Mobil memasuki kawasan Four Seasons Ubud ketika langit mulai gelap. Dari kejauhan, hotel itu terlihat seperti istana yang tersembunyi di antara pepohonan hijau. Lampu-lampu keemasan menyala di sepanjang jalan masuk, memantulkan cahaya lembut di permukaan kolam dan taman.Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Pembukaan hotel Paus. Tempat berkumpulnya teman-teman lama. Kesempatan untuk tertawa setelah perjalanan panjang.Namun sejak tadi Aidan justru lebih banyak diam. Tangannya masih berada di setir, sementara pikirannya kembali pada percakapan mereka di perjalanan.Tentang Eden. Tentang masa lalu. Tentang kesalahannya sendiri.Ia masih ingat bagaimana rasanya sepuluh tahun lalu.Hanya satu pelukan antara Zira dan Remi cukup untuk menyalakan kecemburuan yang tidak bisa ia kendalikan. Ia melihat kedekatan mereka. Ia melihat cara Remi memperlakukan Zira. Dan bukannya bertanya, Aidan memilih menyimpulkan sendiri.Ia meragukan sahabat dan wanita yang dicintainya. Bahkan ket

  • Kontrak 2M Sang Mantan   14. Saingan yang berat

    Zira memasang earphone di telinga, memutar musik lewat ponselnya. Ia Menoleh sekilas ke arah Aidan. Sambil mengangkat alis, ia berkata, "ngomong apa?"Aidan menghela napas, merasa sia-sia telah menyatakan keinginannya. Ia hanya bisa menggeleng lalu berkata, "ah, bukan apa-apa."Zira mengangkat bahu, l

  • Kontrak 2M Sang Mantan   6. Selalu Ada Alasan Bersamamu

    Zira tersenyum lebar ketika tiba di taman parkour. "Wow!" Matanya berbinar-binar melihat beberapa orang melompat dan berlari dari satu rintangan ke rintangan lainnya, tubuh mereka seolah melayang di udara."Look!" David menunjuk satu rintangan di mana ada sebuah bangunan yang lebih tinggi dibanding

  • Kontrak 2M Sang Mantan   2. Kamu tetaplah sama

    "Jika pihak kedua memutuskan kontrak secara sepihak maka harus mengganti denda sebesar 2M." Zira terbelalak dengan mata membola sempurna setelah membaca sanksi pembatalan kontrak. "Konyol. Ini namanya pemerasan," gumamnya kesal sekaligus tidak percaya.Aidan kembali ke meja makan dengan membawa du

  • Kontrak 2M Sang Mantan   1. Haruskah aku senang bertemu denganmu?

    Dengan tas punggung kecil berwarna krem, Zira berjalan dalam pesawat sambil melihat nomor bangku. Ia tersenyum tipis saat berhasil menemukan tempat duduknya, tapi tidak lama kemudian senyumnya pudar berganti dengan wajah masam. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi ia sangat mengenali pri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status